The Dark Love

The Dark Love
262. Penyerangan 2


__ADS_3

Saat keterbingungan menimpa Raider dan kelima anak buahnya, tiba-tiba suara seseorang yang sangat familiar masuk kedalam indra pendengaran keenam orang yang saat ini tengah di kepung itu. Bukan, suara itu bukan suara milik Digo maupun milik perempuan yang sudah menyamar sebagai istri Bimo, melainkan suara seseorang yang selama ini berada di dekatnya.


"Bagaimana? Apakah anda terkejut tuan Raider?" Raider yang namanya dipanggil pun ia menolehkan kepalanya dan untuk kesekian kalinya ia terkejut ketika melihat si pemilik suara itu adalah Naka, laki-laki yang ia percayai menjadi salah satu tangan kanannya untuk menjalankan perusahaannya kini justru berdiri tak jauh darinya berbaur menjadi satu dengan anak buah Digo. Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak seharusnya orang yang ia percayai bergabung dengan orang yang ia jadikan musuh. Harusnya Naka membantunya melawan mereka bukan malah ikut mengibarkan bendera perang kepadanya? Apakah selama ini ia sudah teledor dalam memilih seseorang yang ia percayai?


"Sial!" umpat Raider. Ia benar-benar sadar sekarang jika ada seorang penghianat di sekitarnya dan itu adalah Naka. Ahhhh tapi sepertinya bukan hanya Naka saja melainkan ada beberapa anak buahnya dan ada satu perempuan juga yang sangat ia kenali ternyata juga ikut bergabung dengan para penghianat itu dan orang itu adalah Stevie. Ia tak menyangka jika perempuan yang selalu menurut akan perintahnya ternyata juga seorang penghianat.


Naka terlihat melangkahkan kakinya, mengambil posisi didepan para anak buah Digo, seolah-olah dirinyalah yang saat ini akan menjadi pemimpin pasukan untuk menyerang lawan.


Naka tersenyum miring kala melihat wajah Raider merah padam, ia tau betul jika laki-laki itu tengah menahan gejolak amarahnya.


"Kenapa wajah anda merah padam seperti itu tuan? Apakah anda takut? Ahhhh saya rasa memang begitu. Bagaimana tidak takut coba jika anda dan kelima anak buah anda yang bodoh itu harus melawan puluhan orang yang menginginkan kematian anda," ucap Naka dengan kedua tangannya bersedekap dada.


Raider hanya diam membisu tak membalas sedikitpun ucapan yang terlontar dari bibir Naka tadi. Ia hanya terus menatap tajam laki-laki yang menjadi penghianat baginya itu sekaligus mencari cara agar ia bisa segera memberikan sinyal kepada para anak buahnya di luar sana untuk membantunya melakukan penyerangan.

__ADS_1


Tapi seolah-olah Naka bisa membaca isi pikiran Raider, ia berkata, "Ada apa tuan? Kenapa anda tampak gelisah seperti itu? Apa kegelisahan anda ini dikarenakan memikirkan anak buah anda di luar sana?"


Naka semakin mendekatkan dirinya kearah Raider dan saat dirinya sudah berhadapan langsung dengan laki-laki yang dulunya menjadi bosnya itu, ia mencondongkan tubuhnya sampai wajahnya kini berada di samping telinga Raider. Kemudian ia berbisik, "Tenang saja tuan, seluruh anak buah anda yang sudah anda perintahkan untuk mengepung mansion ini sudah berhasil saya dan yang lainnya musnahkan. Jadi bersiaplah setelah ini anda akan menyusul mereka semua."


Ucapan Naka itu berhasil membuat kedua tangan Raider mengepal erat. Pantas saja saat ia memberikan perintah kepada seluruh anak buahnya untuk segera menyerang, tak ada jawaban sama sekali dari salah satu anak buahnya itu bahkan sampai saat ini ia tak ada pergerakan dari mereka. Dan rasa percayanya Raider dengan ucapan Naka tadi diperkuat dengan matanya yang melihat beberapa orang yang ikut di kubu Naka yang artinya sebelum mereka kesini, mereka sudah menghabisi anak buahnya yang asli.


Karena rasa amarah yang sudah tak terbendung lagi, akhirnya tangan Raider yang tadi sempat ia turunkan kini ia angkat kembali. Sehingga pistol yang berada di genggaman tangannya saat ini menodong kearah Naka. Tapi bukannya takut Naka justru tersenyum dengan kedua tangannya ia angkat keatas.


"Wow, sungguh reaksi yang luar biasa tuan. Tapi mari kita buktikan, peluru anda yang akan mengenai kepala saya terlebih dahulu atau peluru mereka semua yang akan menembus tubuh anda?" ucap Naka dengan melirik kearah para anak buah Digo yang saat Raider menodongkan pistolnya ke arah Naka, mereka dengan cepat menodongkan senjata mereka kearah Raider.


"Heh! Apa kamu meremehkan saya, Naka? Apa kamu lupa siapa saya?" tanya Raider dengan kaki yang ia langkahkan mendekati Naka. Naka tentunya hanya berdiam diri di posisinya saat ini.


"Oh tentu saja tidak. Anda adalah seorang pengusaha yang terkenal dengan kelicikannya," ucap Naka mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Benar sekali. Maka kelicikan itu akan saya gunakan disini. Jadi bersiaplah, kamu, tuhanmu bahkan mereka semua akan mati sekarang juga!" ujar Raider menunjuk kearah semua anak buah Digo yang mengepungnya dengan kobaran api amarah yang menyala di matanya.


"Oh ya? Jika memang begitu, mari kita buktikan," balas Naka dan hanya selang beberapa detik saja terdengar suara mobil serta motor yang saling bersaut-sautan.


Raider yang mendengar suara kendaraan itu, ia tersenyum miring terlebih ia melihat perubahan raut wajah Naka yang semula penuh kepercayaan diri jika ia akan menang berubah menjadi raut wajah penuh amarah. Sebenarnya Naka tidak marah, hanya saja ia merasa kecolongan karena ternyata diamnya Raider tadi untuk mengundang para anak buahnya yang lain untuk bergabung dengan laki-laki itu. Sehingga jumlah dua kubu itu sekarang sama.


"Mari kita buktikan Naka, siapa yang akan keluar dari area mansion ini dengan sebuah kemenangan. Dan saya pastikan jika saya dan anak buah saya lah yang akan menang," ucap Raider sembari menarik pelatuk pistolnya, bersiap mengeluarkan peluru yang ada di dalam senjata api itu.


Tapi sayang, saat peluru itu sudah keluar, tendangan kuat ia rasakan dari arah samping sehingga peluru tadi tidak mengenai kepala Naka melainkan mengenai pagar tembok yang melindungi mansion itu.


Untung saja Raider tidak tersungkur, namun rasa sakit di pinggangnya akibat tendangan tadi cukup terasa menyakitkan. Dan ketika ia melihat orang yang baru saja menendangnya itu, ia kembali di buat geram karena dia adalah Stevie.


Raider yang sudah tak bisa menahan diri untuk memusnahkan semua orang di kubu Digo pun ia berteriak, "SERANG! Bunuh mereka semua!"

__ADS_1


Teriakan keras yang keluar dari bibir Raider itu tentunya membuat semua anak buahnya berbondong-bondong memberikan serangan kepada anak buah Digo yang saat ini juga tengah melawan balik mereka. Tak hanya para anak buah saja yang saat ini tengah saling membunuh satu sama lain melainkan Naka serta Raider pun juga saling berusaha melumpuhkan satu sama lain.


Suara tembakan dan suara erangan dari para orang-orang yang sudah terluka tak bisa di elakkan lagi. Namun semua kebisingan itu tak membuat Digo muncul juga. Laki-laki itu justru tengah menikmati teh hangatnya bersama istri tercinta. Tapi tenang saja Digo tetap memantau keadaan di luar sana melalui rekaman CCTV yang terpampang jelas di hadapannya.


__ADS_2