The Dark Love

The Dark Love
200. Henry Berubah


__ADS_3

Benar yang dikatakan oleh dokter yang memeriksa Monik tadi jika perempuan itu sadar setelah satu jam dalam pengaruh obat bius. Terlihat Monik mengerjabkan matanya, menyesuaikan cahaya masuk kedalam retinanya. Saat mata itu terbuka, Monik langsung menyadari jika dirinya sudah berpindah tempat bukan lagi di ruang pengguguran kandungan melainkan di sebuah ruang inap rumah sakit.


Sebelum Monik mengedarkan pandangannya, Henry yang melihat perempuan itu telah sadar pun dirinya kini berjalan mendekati Monik. Pergerakan dari Henry tadi membuat Digo dan Sheilla yang ada di dalam ruangan tersebut mengalihkan pandangannya kearah tujuan Henry. Saat mereka tau jika tujuan Henry adalah Monik, dua orang itu saling pandang satu sama lain seperti tengah berkomunikasi lewat tatapan mata itu sebelum mereka menganggukkan kepala masing-masing sebelum keduanya berdiri dari posisi duduknya dan bergegas keluar dari dalam ruang inap Monik itu. Tujuan mereka keluar dari ruangan tersebut adalah memberikan ruang khusus untuk Henry dan Monik untuk saling berbicara satu sama lain yang tentunya akan mengacu ke masalah mereka.


Henry yang telah sampai disamping Monik, ia langsung mendudukkan tubuhnya di kursi samping brankar Monik. Dan dengan helaan nafas ia kini berucap, "Bagaimana keadaanmu sekarang?"


Pertanyaan dari seseorang yang suaranya sangat ia kenali membuat tubuh Monik menegang. Sumpah demi apapun ia benar-benar belum siap luar dalam jika harus bertemu dengan Henry yang ia yakini laki-laki itu telah tau keadaan dirinya yang berbadan dua. Ya, ia yakin jika niatnya untuk mengugurkan kandungan itu telah gagal total karena kehadiran seseorang yang belum ia ketahui jika orang yang mengacaukan rencananya itu adalah laki-laki yang sekarang duduk disampingnya.


Henry yang tak kunjung mendengar jawaban dari Monik bahkan perempuan itu tak meliriknya sedikitpun, ia kini menghela nafas sebelum tangannya bergerak, mengambil tangan Monik untuk ia genggam. Aksi dari Henry tadi lagi-lagi membuat Monik tersentak kaget. Dan dengan cepat ia menolehkan kepalanya kearah Henry.


"Tu---tuan," ucap Monik dengan gagap sembari mencoba untuk menarik tangannya dari genggaman Henry. Namun semakin ia berusaha untuk melepaskan tangannya, tangannya itu justru semakin di genggam erat oleh laki-laki itu.


"Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa ada yang sakit?" Henry mengabaikan panggilan dari Monik itu dan justru ia bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Sa---saya baik-baik saja tuan. Sa---saya tidak merasakan sakit apapun," jawab Monik.


"Apa kamu yakin?" Monik menganggukkan kepalanya. Dimana hal itu membuat Henry tampak menghela nafas lega.


"Syukurlah. Kalau begitu makan dulu ya. Sedari kemarin perut kamu tidak di isi sama sekali kan?" Monik tampak terdiam dengan sikap dan perilaku Henry yang sangat berbeda dari biasanya. Memang mereka sangat akrab tapi tak hayal, seakrab-akrabnya dirinya dengan Henry, laki-laki itu masih saja memperlihatkan sisi dinding tak tersentuhnya. Namun kali ini sifat yang dimiliki oleh laki-laki itu hilang seketika dan tergantikan dengan suara yang sangat lembut dan perhatian yang luar biasa laki-laki itu tunjukkan ke Monik.


Henry yang tau jika dirinya di tatapan penuh tanya oleh Monik, ia mengabaikan tatapan tersebut. Dirinya memilih untuk membantu Monik duduk dari posisinya yang tadi terbaring. Dimana setelah ia memastikan jika Monik sudah duduk dengan nyaman, barulah dirinya meraih piring berisi makanan.


Dengan telaten Henry menyendokkan makanan lalu menyodorkannya ke arah bibir Monik.


Henry tersenyum kala satu suapan berhasil masuk kedalam mulut Monik. Namun senyumannya itu luntur seketika saat ia menangkap raut wajah Monik yang ingin memuntahkan makanan tersebut. Henry dengan segera mengambil tisu dan tanpa perduli jika tangannya nanti akan terkena muntahan Monik, ia menyodorkan kedua telapak tangannya yang sudah ia lapisi tisu tadi ke hadapan Monik, seakan-akan tangannya itu tempat untuk membuang muntahan Monik.


"Muntahkan saja makanannya disini." Monik tampak menggelengkan kepalanya, ia benar-benar segan untuk melakukan hal menjijikan itu kepada tuannya sendiri.

__ADS_1


Dimana penolakan dari Monik itu membuat Henry kini berdecak sebelum ia kembali berucap, "Jangan membantah Monik. Ini perintah!"


Saat itu juga, Monik yang memang sudah tidak betah untuk mengeluarkan isi didalam perutnya itu ia melakukan apa yang Henry tadi perintahkah. Ia hanya memuntahkan makanan yang baru ia kunyah itu. Perutnya memang sangat mual tapi entah kenapa sudah tidak bisa mengeluarkan isi didalamnya walaupun hanya cairan saja. Dan hal tersebut justru membuat Monik merasa tersiksa saja.


"Udah?" tanya Henry kala melihat Monik sudah menjauhkan wajahnya dari telapak tangan Henry dan sudah bersandar di tumpukan bantal dibelakangnya itu.


Monik menganggukkan kepalanya guna menjawab pertanyaan dari Henry tadi. Henry yang melihat anggukan kepala dari perempuan tersebut ia bergegas untuk menuju ke dalam kamar mandi, membuang muntahan Monik sekaligus membersihkan tangannya. Dan setelahnya barulah ia kembali dan duduk di tempatnya semua tak lupa tangan laki-laki itu kembali menggenggam tangan Monik, memberikan elusan lembut di sana.


"Kenapa tadi muntah hmm? Perutnya mual ya?" tanya Henry dengan menatap lekat tepat di manik mata Monik. Dimana hal tersebut membuat Monik langsung mendudukkan kepalanya, menghindari tatapan lembut dari Henry tadi yang membuat jantungnya berdisko didalam sana.


"Iya. Tapi hanya sedikit tidak parah seperti kemarin," jawab Monik tanpa menatap wajah Henry.


Henry tampak menganggukkan kepalanya dan tanpa Monik duga sama sekali, tangan laki-laki itu kini bergerak menuju ke atas perutnya yang masih rata itu, mememberikan usapan lembut disana.

__ADS_1


"Hay anak Papa, jangan nakal didalam perut Mama ya. Kasihan Mama kalau kamu nakal. Jadi Papa mohon kerjasamanya ya nak, agar Mama ataupun kamu yang ada didalam sini sehat semua," ucap Henry tepat dihadapan perut Monik itu.


Monik yang mendengar penuturan dari Henry, ia benar-benar sangat terkejut. Apa yang barusan ia dengar itu adalah nyata? Henry tidak marah sama sekali setelah laki-laki tau jika dia hamil keturunannya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan penuh dengan keheranan atas apa yang Henry lakukan kepada Monik. Bahkan sesekali terselip pikiran negatif di otaknya itu walaupun Henry sudah menunjukan jika laki-laki itu tak masalah jika dirinya tengah mengandung anaknya. Dimana pikiran negatif itu mengacu jika Henry mungkin akan tetap membunuhnya tapi menunggu saat janin itu lahir di dunia ini, atau kalau tidak mereka berdua di biarkan untuk hidup namun saat janin itu lahir keduanya akan di pisahkan satu sama lain dengan jarak yang cukup jauh sehingga sampai kapanpun mereka tidak bisa untuk saling bertemu lagi. Begitulah otak Monik yang masih tidak percaya jika Henry akan menerima kehamilannya itu secepat ini.


__ADS_2