The Dark Love

The Dark Love
58. Kemurkaan Digo


__ADS_3

"Siapa yang menyuruh anda masuk?!" geram Digo yang berhasil membuyarkan lamunan Vina tadi.


Dan sebelum Vina membalas ucapannya tadi, Digo lebih dulu bersuara kembali.


"Keluar sekarang!" perintah Digo dengan tatapan mata yang kian menajam.


"Tidak. Aku tidak mau keluar dari sini. Tangan kamu perlu di obati secepatnya Digo. Kamu jangan keras kepala dong!" ucap Vina yang membuat Digo kini tersenyum miring lalu ia kini beranjak dari tempatnya tadi untuk mendekati Vina.


"Anda tidak buta bukan?! Jadi anda bisa lihat sendiri jika didalam ruangan ini sudah ada seseorang yang lebih profesional untuk mengobati luka saya. Dan menjauhlah dari kamar saya sekarang juga!" usir Digo saat dirinya sudah berada di depan Vina walaupun masih berada di jarak dua meter dari perempuan itu.


Bik Nah yang baru sampai itu pun ia dengan cepat menarik tangan Vina dan mencoba untuk membawa perempuan itu keluar dari kamar tuannya.


"Nona lebih baik nona turuti apa yang diperintahkan oleh tuan tadi," ucap bik Nah.


"Ayo Nona, akan saya antar nona ke kamar nona lagi," sambung bik Nah.


"Tidak! Aku tidak mau keluar dari sini. Sebelum aku mengobati luka ditangan Digo itu," ujar Vina sembari menghentak tangannya hingga cekalan bik Nah tadi terlepas.


"Nona tolong jangan memberontak. Di sini juga sudah ada dokter Diana yang akan mengobati luka tuan nanti. Jadi lebih baik nona keluar dengan saya," ucap bik Nah yang ingin meraih tangan Vina kembali. Namun Vina justru menjauh dari jangkauannya dan malah mendekati Digo.


"Tidak. Aku tidak ingin pergi ataupun menjauh dari sini. Dokter ini juga belum tentu becus menyembuhkan luka Digo ini. Jadi biarkan aku saja yang mengobatinya," ujar Vina yang masih kekeuh untuk tetap mengobati luka Digo.


Dan ucapan dari Vina tadi membuat Diana langsung memelototkan matanya.


"Sepertinya apa yang kamu ucapkan tadi benar kalau aku tidak akan becus menyembuhkan luka Digo." Vina menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan dari Diana tadi.


"Tapi aku sangat becus jika harus merobek mulut kamu, mencincang lidah kamu dan merusak wajah kamu itu," sambung Diana dengan menatap kearah Vina dengan tatapan permusuhan.


"Bagaimana, apa kamu mau mencoba keahlianku itu?" tantang Diana yang membuat Vina tampak bergidik ngeri.

__ADS_1


"Sudah Di. Jangan membuang-buang waktumu lagi. Cepat periksa Sheilla sekarang juga," ucap Digo yang membuat Diana maupun Vina menatap kearahnya tak percaya. Yang mereka lihat Digo lah yang terluka. Tapi kenapa laki-laki itu justru menyuruh dokter Diana untuk memeriksa Sheilla. Sebegitu pentingkah perempuan itu di hidup Digo? Hingga laki-laki itu dengan suka rela menahan rasa sakit yang tengah ia rasakan dan lebih mendahulukan Sheilla yang entah kenapa perempuan itu terbaring di atas ranjang itu.


"Jangan diam saja Diana! cepat kerjakan perkejaanmu itu!" sentak Digo saat tak ada pergerakan sama sekali dari Dokter pribadinya itu. Diana yang sudah mendapatkan sentakan pun ia langsung bergegas mendekati Sheilla yang masih menutup matanya.


"Dan untuk anda segera lah keluar sebelum saya memerintahkan anak buah saya untuk menyeret anda keluar dari kamar ini sekaligus keluar dari rumah saya!" perintah Digo sekali lagi. Namun lagi-lagi ia langsung mendapat gelengan kepala dari Vina.


"Aku sudah bilang tidak ya tidak. Keras kepala banget sih kamu!" ucap Vina dengan meninggikan suaranya. Dan hal tersebut berhasil memancing emosi Digo hingga kabut amarah kini menyelimuti mata Digo kala laki-laki itu mengingat apa yang telah perempuan dihadapannya itu perbuat kepada Sheilla tadi. Hingga tanpa sadar tangannya kini bergerak kearah leher Vina dan mencekik leher jenjang itu kemudian ia mendorong tubuh Vina sampai membentur kearah pintu ruangan tersebut.


Brakkk!!!


"Astaga tuan!" teriak bik Nah histeris.


Diana yang tadi fokus memeriksa keadaan Sheilla itu pun ia terperanjat kaget dengan suara keras itu. Dan karena dia penasaran akan apa yang terjadi dibelakang tubuhnya, Diana menolehkan kepalanya kearah Digo dan Vina yang berhasil membuat dirinya kini membuka matanya sempurna.


"Astaga. Digo. Hentikan!" teriak Diana ketakutan saat melihat tubuh Vina sudah terangkat keatas.


Namun sayang teriakan dari Diana dan bik Nah itu tak diindahkan oleh Digo sedikitpun. Laki-laki itu terus saja mencekik leher Vina yang terus memberontak agar cekikan di lehernya segera lepas.


"Benar apa yang dikatakan oleh dokter Diana. Dia bisa mati tuan. Ayo lepaskan tangan tuan sekarang juga!" timpal bik Nah yang sudah memegang lengan Digo berniat untuk membantu Vina melepaskan cengkraman tangan Digo dari leher perempuan itu. Namun sayang seribu sayang, niatannya tadi tak membuahkan hasil sedikitpun karena bik Nah kalah tenaga dan kalah tinggi dari Digo.


Sedangkan Henry yang baru selesai membersihkan darah yang keluar dari hidungnya, keningnya di buat berkerut saat mendengar teriakan histeris dari Diana dan bik Nah yang saling bersautan. Dan hal tersebut membuat Henry dengan cepat keluar dari dalam kamar mandi dan saat ia melihat aksi Digo itu ia tak kalah terkejut dengan Diana dan bik Nah tadi.


"Astaga. Ya Tuhan, si setan kembali," gumam Henry dan dengan cepat ia berlari menuju kearah Digo.


"Digo, hentikan!" ucap Henry saat dia telah sampai di samping sahabatnya itu. Bahkan tangannya kini bergerak untuk melepaskan cekikan tadi. Namun bukannya terlepas cekikan itu justru semakin kuat.


"Bik Nah. Panggil para bodyguard untuk kesini!" perintah Digo karena tidak mungkin dirinya menghentikan aksi Digo ini seorang diri.


Bik Nah yang sudah menangis melihat kekejaman tuannya itu pun ia dengan cepat berlari menuju lantai utama untuk meminta bantuan kepada para bodyguard dirumah tersebut seperti yang diperintahkan oleh Henry tadi.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain, Sheilla perlahan membuka matanya. Dan hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang terus berdenyut apalagi saat mendengar suara teriakkan orang-orang yang masuk kedalam indra pendengarannya yang semakin membuat kepalanya ingin pecah saja.


"Arkkhhhhhhh! stttt sakit!" teriakan kesakitan dari Sheilla tadi membuat Digo yang sedari tadi menatap kearah Vina, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kearah seseorang dibelakang Diana.


Disana ia bisa melihat tubuh Sheilla yang meringkuk dengan tangan yang menjambak rambut panjangnya. Dan hal tersebut membuat hati Digo begitu teriris, sangat sakit rasanya. Hingga ia kini melepaskan cengkraman tangannya dari leher Vina kemudian ia berlari kearah Sheilla berada, meninggalkan Vina yang sudah tak sadarkan diri akibat cekikan dan ia sempat membanting tubuh perempuan itu sebelum dirinya melepaskan cekikannya tadi.


Dan setelah dia sampai, ia langsung memeluk tubuh Sheilla yang meringkuk merasakan kesakitan di kepalanya. Sedangkan Diana dan Henry yang melihat hal tersebut tampak terdiam dengan pikiran masing-masing sebelum Henry berjalan mendekati Diana dan menarik lengan dokter perempuan itu untuk menjauh dari Digo dan Sheilla.


"Kamu periksa perempuan itu dulu. Aku takut dia sudah tak bernyawa akibat Digo," ucap Henry sedikit berbisik kepada Diana. Diana mengalihkan pandangannya kearah Vina yang masih tergeletak ditempatnya tadi.


"Apa aku harus memeriksa dia disana?" Tanya Diana.


"Ya, memangnya mau dimana lagi?"


"Kamu tidak berniat untuk membawa dia ke sofa itu atau kalau tidak ya ke salah satu kamar sini?" Dengan cepat Henry menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau mengotori tanganku untuk menggendong dia dan memindahkan dia ke tempat yang lebih nyaman," ujar Henry yang membuat Diana memutar bola matanya malas.


"Jika kamu memang benci sama dia, setidaknya punya rasa simpati sedikit saja. Sama sepertiku ini. Aku juga tidak suka dengan dia karena baru bertemu saja dia sudah angkuh sekali. Tapi aku masih memiliki rasa simpati hingga aku mau memeriksa kondisi dia. Jadi kamu perlu meniru aku," ucap Diana.


"Ya ya ya terserah kamu. Dan hentikan omelan kamu itu dan segara lah periksa dia. Jika dia sudah mati aku bisa langsung menyuruh anak buahku untuk menyiapkan pemakaman untuk dia. Supaya dia segera dimakamkan sekarang juga tanpa harus menunggu hari berikutnya," ujar Henry yang membuat Diana langsung memukul lengan Henry cukup keras hingga membuat laki-laki itu berdesis.


"Sialan kamu. Orang masih bernafas gitu dikira sudah mati." Henry mengerutkan keningnya.


"Darimana kamu tau jika dia masih bernafas? Kamu saja masih berdiri disini," ucap Henry penasaran pasalnya sedari tadi Diana berdiri disampingnya dan belum menyentuh Vina sedikitpun.


"Kamu tidak lihat pergerakan dari perutnya itu? Yang artinya dia masih hidup, bodoh," ujar Diana yang membuat Henry menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Aku bukan bodoh hanya saja tak memperhatikan pergerakan perut dia karena itu tidak penting untukku," timpal Henry tak ingin kalah.

__ADS_1


"Terserah kamu. Tapi cepatlah bawa dia keluar dari kamar ini sebelum laki-laki itu marah kembali dan itu akan sangat-sangat mengerikan buatku. Terserah kamu mau membawa dia keluar dari kamar ini dengan cara apapun. Aku tidak peduli karena yang aku pedulikan sekarang adalah nyawaku sendiri jika harus berlama-lama disini. Dan tolong sampaikan ke Digo kalau kondisi perempuan yang ada diperlukannya itu baik-baik saja dan mungkin ada trauma dimasa lalunya tapi aku belum tau trauma apa yang sedang dia alami ini. Dan untuk luka di tangan dia, aku akan memanggil Dokter Shofie kesini untuk mengobatinya. Karena aku sudah tidak berani menyentuh dia lagi takut jika aku menjadi korban dia. Aku juga tidak mau suka lagi sama dia. Dia benar-benar orang yang sangat mengerikan jika melihat kemurkaan dia secara langsung seperti tadi," ujar Diana panjang lebar.


Bahkan rasa sukanya kepada Digo yang sengaja ia sembunyikan itu kini hilang begitu saja saat melihat langsung keberingasan laki-laki itu karena ia hanya sering mendengar ucapan tentang keberingasan Digo melalui mulut orang lain dan dengan bodohnya tak percaya dengan orang-orang itu. Tapi setelah ia melihatnya secara langsung hari ini juga, ia baru percaya jika laki-laki yang ia sukai itu sangat membahayakan. Bahkan ia tadi sempat berpikir bagaimana jika dia nanti menjalin hubungan dengan laki-laki itu dan dia tidak sengaja membuat kesalahan, ia yakini tubuhnya pasti akan dijadikan samsak hidup oleh laki-laki itu. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Diana merinding semua, bagaimana jika dia mengalaminya secara langsung, pasti dia sudah mati mengenaskan ditangan laki-laki itu.


__ADS_2