The Dark Love

The Dark Love
106. Berakting


__ADS_3

Mata Henry dan Monik seketika melotot melihat pemandangan yang sangat vulgar di dalam kamar tersebut sebelum akhirnya Henry menutup kembali pintu itu.


"Sialan," umpatnya dengan mengusap wajahnya yang tampak memerah sebelum pandangannya beralih menatap Monik yang tampak tak berkutik di tempatnya. Tampaknya perempuan itu tengah shock berat gara-gara melihat adegan itu. Padahal jika di pikir-pikir ia sudah melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan oleh Vina tadi.


"Monik, hey." Henry menyentuh bahu Monik yang membuat perempuan itu tersadar dari keterbengongannya.


"Ya---ya tuan," ucap Monik gugup.


"Lebih baik kamu menunggu saya di lantai bawah saja. Saya mau menyelesaikan sedikit urusan disini yang berkaitan dengan mereka berdua." Monik yang sebenarnya penasaran urusan apa yang akan dilakukan oleh Henry. Bahkan ia sekarang berpikir negatif tentang urusan yang Henry maksud itu adalah ikut bergabung dengan dua orang didalam sana untuk memuaskan Vina. Namun sesaat setelahnya ia menggelengkan kepalanya untuk menghalau pikiran negatifnya tadi.


"Baiklah, saya tunggu tuan di bawah," ujar Monik lalu setelahnya ia berjalan menuju tangga.


Henry yang melihat Monik sudah turun pun ia kembali membuka pintu kamar tersebut sedikit yang hanya bisa dilalui oleh tangannya dengan telinga yang berusaha ia tulikan agar tak mendengar suara-suara laknat yang bisa membangkitkan pusakanya yang ada di bawah sana. Dan setelah dirinya menempelkan sesuatu di tembok kamar itu, ia menutup kembali pintu tersebut. Kemudian ia segara membuka ponselnya dimana ponselnya itu langsung terhubung ke benda yang baru saja ia tempelkan itu. Dan benda itu apa lagi kalau bukan kamera perekam.


"Sialan," umpat Henry. Ia hanya ingin memastikan jika kameranya itu bekerja dengan baik justru ia lagi-lagi harus melihat adegan dimana membuat dirinya mengingat akan kejadian satu minggu yang lalu.


"Sialan sialan sialan. Henry fokus jangan sampai kamu terpancing. Ayo otak, jangan melakukan kilas memori," geram Henry kala otaknya itu terus memutar setiap adegan panas yang ia lakukan seminggu yang lalu. Bahkan agar ia bisa meredam bayang-bayang itu, Henry sampai memukul dan menjambak rambutnya sendiri.


Sedangkan disisi lain, Monik tampak gelisah. Karena gara-gara ia melihat adegan yang terjadi beberapa menit yang lalu membuat dirinya tersadar dan langsung kepikiran dengan sesuatu.


"Apa tuan Henry waktu itu menggunakan pengaman?" gumamnya khawatir.

__ADS_1


"Jika tidak menggunakan pengaman, apa tuan Henry mengeluarkannya didalam?"


"Jika memang didalam, bagaimana kalau aku hamil? Apakah tuan Henry akan bertanggungjawab atau malah menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku suatu saat nanti?" sambungnya. Ia benar-benar khawatir dan takut jika hal itu terjadi.


"Aku yakin tuan Henry pasti tidak akan bertanggungjawab karena yang menginginkan lebih dulu adalah aku bukan dia. Ya Tuhan, aku sekarang hanya berharap jika memang tuan Henry mengeluarkannya didalam, bibit dia lemah semua dan berakhir bibit-bibit itu tidak akan berkembang di rahimku. Aamiin," ucap Monik penuh dengan harapan.


"Monik." Panggilan seseorang yang sudah berada di belakangnya membuat Monik langsung menolehkan kepalanya kearah sumber suara.


"Ya---ya tuan," ucap Monik dengan takut.


"Ya Tuhan apa tuan Henry tadi mendengar ucapanku? Arkhhhh semoga saja tidak," batin Monik.


"Urusan saya sudah selesai dan kita pulang sekarang," ujar Henry yang diangguki oleh Monik. Dan setelahnya dengan menundukkan kepalanya, Monik keluar lebih dulu daripada Henry.


...****************...


Di pagi harinya tepatnya pada pukul 10 pagi, Monik dan Henry bersiap menuju ke lokasi terakhir Vina berada yaitu di rumah terpencil itu


Mereka akan melakukan sandiwara lagi kali ini dengan berpura-pura jika Vina diculik. Bahkan untuk melancarkan peran mereka, Monik tadi pagi sudah heboh di Maison tersebut dengan mengabarkan jika Vina menghilang. Dan jangan harap respon semua orang akan panik dan langsung mencari perempuan itu. Karena mereka semua tampak bodoamat apalagi Digo yang justru tersenyum mendengar kabar itu bahkan laki-laki itu sempat berkata, "Syukur Alhamdulillah perempuan gila itu tau diri juga dan memilih pergi. Kalau bisa dia tidak kembali lagi alias mati."


Dan hal itu membuat Henry dan Monik yang tengah memerankan perannya diam-diam mereka berdecak atas respon Digo tadi. Namun mereka berdua tetap melanjutkan aksinya itu dan berakhirlah mereka kali ini bersiap untuk pergi dengan alasan mencari keberadaan Vina.

__ADS_1


"Sudah siap?" tanya Henry kala Monik sudah berdiri dihadapannya. Monik menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu. Kita berangkat sekarang," ujar Henry sembari berdiri dari posisi duduknya itu dan segara menuju ke luar mansion tersebut diikuti oleh Monik di belakang.


Sedangkan disisi lain, Vina tampak menangis sesenggukan dengan posisi dia masih di dalam kamar yang tadi malam ia gunakan untuk menyalurkan napsunya. Walaupun ia tak melihat ada orang lain yang ada di kamar tersebut, ia percaya jika tadi malam dirinya melakukan hal yang menjijikkan dilihat dari keadaannya saat ini dan rasa sakit yang ia rasakan di daerah sensitifnya itu.


"Kenapa kamu melakukan hal itu Vina?! Hal yang tidak seharusnya kamu lakukan saat ini!" ucap Vina yang benar-benar sangat shock dengan apa yang ia lakukan tadi malam.


"Kamu wanita menjijikkan, wanita murahan yang sudah menyerahkan mahkotamu ke orang yang entah siapa itu. Arkhhhh kenapa semua ini bisa terjadi kenapa?! Dan dimana laki-laki itu sekarang? Aku benar-benar sangat ingin membunuhnya yang sudah berani menyentuhku. Laki-laki sialan, laki-laki brengsek! Arkkhhhhhhh!" teriak Vina.


"Kamu sudah tidak suci lagi Vina, kamu sekarang kotor, hiks," sambung Vina dengan menjambak rambutnya frustrasi.


Dan ditengah-tengah ke frustasinya itu, ia mendengar suara seseorang di dalam rumah tersebut.


"Nona Vina, kamu di dalam kan?" teriakan orang itu membuat Vina kini menegakkan kepalanya dan langsung menoleh kearah kamar yang sekarang tengah di gedor-gedor dari depan. Dan ia tau siapa pemilik suara itu.


"Monik," gumamnya.


"Monik tolong aku. Aku ada didalam!" teriak Vina membalas suara Monik tadi.


"Ya ampun nona Vina. Tunggu sebentar biar pintu ini saya dan tuan Henry dobrak dulu," ucap Monik yang tentunya berbohong, karena mereka tidak akan capek-capek melakukan hal tersebut dikarenakan Henry membawa kunci cadangan kamar tersebut. Sehingga saat Monik membuka kunci, Henry bertugas untuk menendang pintu kamar itu agar meyakinkan Vina kalau pintu itu benar-benar tengah mereka dobrak.

__ADS_1


Dan saat Monik sudah berhasil membuka kunci itu, dan saat Henry ingin masuk, Monik langsung memberikan tatapan tajam ke laki-laki itu.


"Biar saya saja yang masuk. Tuan tetap disini saja. Dan jangan mengintip. Jika sampai tuan mengintip saya colok mata tuan pakai garpu," ujar Monik sebelum dirinya masuk kedalam kamar tersebut meninggalkan Henry yang tampak melongo sekaligus takut hanya dengan melihat tatapan tajam dan ancaman dari Monik tadi.


__ADS_2