
Vina yang sebenarnya sangat takut dengan aksi Sheilla tadi, ia berdehem mencoba untuk tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tak terlihat seperti seseorang yang tengah ketakutan. Dan dengan memberanikan diri, ia memegang pergelangan Sheilla kemudian menjauhkan tangan tersebut dari wajahnya.
"Saya tidak merasa gatal sama sekali Sheilla. Dan terimakasih atas tawaran yang kamu berikan itu. Tapi sayangnya saya tidak butuh bantuanmu. Jika memang tubuh saya gatal, saya bisa menggaruknya sendiri," ucap Vina.
"Hmmm baiklah kalau begitu. Tapi kalau Nona tidak bisa menggaruknya sendiri, saya masih mau membantu Nona kok jadi tenang saja," ujar Sheilla sembari melipat kembali pisau yang tadi ia pegang itu lalu memasukkannya kembali ke dalam saku pakaian maidnya.
"Hentikan ucapanmu yang tak ada faedahnya sama sekali itu Sheilla. Dan lebih baik kamu membuatkan aku segelas susu," perintah Vina.
"Kalau anda mau susu buatlah sendiri! Anda punya kaki dan tangan yang masih sempurna kan? Jadi gunakan anggota badan anda itu selagi masih ada dan berfungsi dengan baik," timpal Digo yang tak terima jika kekasihnya di suruh-suruh oleh orang lain. Apalagi orang yang menyuruhnya itu adalah Vina, si perempuan tak tau malu.
Vina yang mendengar penuturan dari Digo pun ia menolehkan kepalanya kearah Digo.
"Tapi kan dia maid disini Digo. Sudah seharusnya bukan dia melayani apa yang di mau tuannya," balas Vina.
"Sudah saya tegaskan berkali-kali yang berhak atas semua di mansion ini adalah saya bukan orang lain terutama Anda! Anda disini hanya menumpang untuk berteduh, makan dan tidur saja dan selebihnya yang masih menjadi tuan di mansion ini adalah saya satu-satunya," ujar Digo dengan tatapan tajamnya.
"Tapi kan---"
"Sudah-sudah. Saya akan membuatkan minuman sesuai keinginan Nona Vina," ucap Sheilla.
"Hon---" Untuk yang kesekian kalinya Digo di buat bungkam hanya karena tatapan mata dari Sheilla saja.
"Tunggu sebentar ya Nona. Susu yang Nona inginkan akan segara saya buat," ucap Sheilla sebelum perempuan itu berjalan menuju ke dalam dapur. Tapi sebelum dirinya masuk kedalam dapur, ia sempat menolehkan kepalanya kearah Digo dengan bibir yang bergerak seperti tengah berucap, "Kamu akan segera melihat pembalasan saya atas apa yang dia dulu lakukan kepada saya. Jadi harap tunggu sebentar." Dan diakhiri dengan senyuman manisnya kearah Digo tak lupa ia meninggalkan sebuah wink kepada kekasihnya itu sebelum dirinya benar-benar masuk kedalam dapur untuk membuatkan minuman seperti yang diinginkan oleh Vina tadi.
Sedangkan Digo yang tadi sempat menggerutu kini laki-laki itu tengah senyum-senyum sendiri saat ia paham susunan kata dari pergerakan bibir kekasihnya itu ditambah dengan kedipan genit dari Sheilla yang membuat hatinya membuncah tak karuan.
Vina yang melihat senyuman dari Digo pun ia ikut tersenyum tanpa tau alasan Digo tersenyum saat ini.
"Kalau kamu senyum seperti itu tingkat ketampananmu bertambah Digo. Jadi tetaplah tersenyum karena aku suka melihat senyumanmu itu," ujar Vina dengan bertopang dagu.
__ADS_1
Dan hal tersebut membuat Digo langsung melunturkan senyumannya dan laki-laki itu memilih berpindah tempat ke kursi bagian ujung lainnya. Meninggalkan Vina yang tengah menghela nafas.
Saat Vina sudah beranjak dari kursinya dan ingin berpindah tempat mengikuti Digo, bertepatan dengan itu pula Sheilla muncul dari dalam dapur dan dengan langkah yang sengaja perempuan itu percepatan, saat Sheilla sudah berada di dekat Vina, ia dengan sengaja mengguyur satu gelas besar berisi tepung yang ia larutkan bersama satu butir telur busuk yang entah dimana ia dapatkan dan jangan lupakan dua bahan tadi ia campur menjadi satu dengan air mendidih. Ya, mendidih karena air itu baru saja ia angkat dari kompor beberapa detik yang lalu.
Dan air yang bukan berisi susu putih itu berhasil mendarat di wajah Vina bagian kanan dan juga lengan kanan perempuan tersebut.
"Awssss panas!" pekik Vina saat merasakan panasnya air itu yang menyentuh kulitnya terutama diarea wajahnya. Dan teriakan dari Vina tadi membuat semua maid serta anak buah Digo berdatangan hingga memenuhi ruang dapur tersebut.
"Astaga Nona! Maafkan saya. Saya tidak sengaja karena saya tadi terpeleset potongan timun itu," alasan Sheilla sembari mendekati Vina.
Dan saat tangan Sheilla baru menyentuh wajah Vina yang tampak memerah itu, Vina langsung menyentak tangan Sheilla.
"Alasan. Kamu sengaja kan mau melukaiku dengan menyiram air panas itu ke wajahku. Kamu iri kan atas kecantikan yang aku miliki diwajahku ini! Kamu juga iri kan karena berkat kecantikanku ini Digo mau berdekatan denganku. Kamu iri dengan semua yang aku punya kan, Sheilla!" teriak Vina yang langsung dijawab gelengan dengan air mata buaya Sheilla.
"Hiks, tidak Nona. Saya benar-benar tidak sengaja tadi. Saya juga tidak iri dengan semua yang Nona punya," ucap Sheilla.
"Digo! Hiks kamu tadi lihat kan apa yang sebenarnya terjadi. Kamu juga tau kan kalau dia tadi sengaja melakukan hal itu kepadaku?" sambung Vina dengan menolehkan kepalanya kearah Digo yang masih berdiam diri di tempat duduknya menyaksikan drama yang tengah tercipta itu.
"Digo, kenapa kamu diam saja? Jawab Digo kalau kamu lihat sendiri apa yang tengah dia lakukan kepadaku tadi!" pinta Vina dengan menggoyang-goyangkan lengan Digo sebelum tangannya itu di tepis kasar oleh Digo.
"Jauhkan tangan anda dari tubuh saya, Nona. Karena saya tidak mau baju mahal yang saya kenakan saat ini terkontaminasi dengan bau busuk anda itu," ujar Digo kemudian ia berdiri dari duduknya dan mendekati Sheilla yang masih memasang wajah sedihnya dan air mata buayanya itu.
"Tuan, saya benar-benar tidak sengaja tadi. Saya hiks tidak sengaja menginjak potongan timun itu yang membuat saya hampir terpeleset yang justru berakhir susu yang berada di tangan saya mengguyur sebagian tubuh Nona Vina. Hiks. Saya benar-benar tidak sengaja tuan," ujar Sheilla.
"Ikut saya," ucap Digo yang dia tujukan kepada Sheilla.
"Tapi tuan, saya tidak salah," balas Sheilla.
"Ikut saya, Sheilla!" tegas Digo yang sepertinya mengikuti permainan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Hiks, ba---baik tuan," ucap Sheilla dengan menundukkan kepalanya. Dan sebelum Digo mulai melangkahkan kakinya menjauh dari ruang dapur tersebut. Ia menatap Vina yang diam-diam tengah tersenyum sendiri. Dan senyuman itu segara ia hilangkan dan mimik wajahnya ia ubah kembali ke tampilan sedihnya.
"Dan untuk Anda. Segera kembali ke kamar anda untuk membersihkan tubuh anda itu," ujar Digo.
"Bik Nah!" panggil Digo yang membuat bik Nah yang menjadi salah satu penonton tadi langsung menghampirinya.
"Ya tuan?"
"Panggil dokter Diana atau dokter Shofie untuk memeriksa keadaan dia," perintah Digo.
"Baik tuan. Akan segera saya laksanakan," ujar bik Nah.
Dan setelah mendengar persetujuan dari bik Nah, Digo mulai melangkahkan kakinya diikuti oleh Sheilla di belakangnya.
Namun saat Sheilla melewati Monik, ia menghentikan langkahnya yang membuat Monik mengerutkan keningnya.
"Thank atas pinjaman pisau lipatmu ini," ucap Sheilla dengan menyerahkan pisau lipat itu ketangan Monik yang langsung di terima oleh perempuan tersebut. Dan saat Sheilla ingin melangkahkan kakinya menyusul Digo yang sudah lumayan jauh didepannya, cekalan di lengannya yang dilakukan oleh Monik membuat dirinya mengurungkan niatnya tadi.
"Drama kamu hari ini perlu aku acungi jempol, Sheilla. Good job," bisik Monik yang bisa membaca akting yang diperankan oleh Sheilla itu.
"Ternyata kamu bisa membacanya. Tapi btw terimakasih atas pujiannya," ucap Sheilla dengan senyuman yang hanya bisa di lihat oleh Monik saja.
"Lain kali lakukan drama ini lagi untuk menyerang perempuan gila itu. Dan sekarang lebih baik kamu segera menghampiri tuan Digo. Beliau sudah menunggu kamu sedari tadi," ujar Monik yang membuat Sheilla mengedarkan pandangannya hingga matanya kini menangkap sosok Digo yang tengah berdiri di depan lift yang baru pertama kali Sheilla sadari jika ada lift lain di rumah itu selain lift utama. Dan lift itu cukup tersembunyi.
"Samperin sana gih. Takut nanti doi ngamuk kalau harus nunggu lama kehadiran sang kekasih," ucap Monik sekaligus menggoda Sheilla. Sheilla yang mendengar ucapan dari Monik itu ia cukup terkejut. Darimana Monik tau tentang hubungan dirinya dengan Digo? Apa dia tadi melihat dan mendengar pembicaraan antara dirinya, Digo dan bik Nah yang membahas tentang hubungannya? Haishhh Sheilla benar-benar ingin tau darimana Monik tau tentang hal itu. Tapi setelah ia melihat wajah kesal Digo, ia memilih memendam pertanyaan yang akan ia lontarkan untuk Monik tadi.
"Ya sudah aku ke tuan Digo dulu. Sekali lagi thank atas pinjaman pisau itu yang benar-benar sangat bermanfaat," ucap Sheilla yang hanya diangguki oleh Monik walaupun perempuan itu masih loading tentang pisau kesayangannya itu yang tiba-tiba berada ditangan Sheilla.
Sedangkan Sheilla, perempuan itu kini sudah melangkah kakinya menjauh dari Monik dan mendekati Digo yang sedari tadi menunggunya.
__ADS_1