
Kepergian dari Jesi tadi tentunya tak luput dari pandangan Sheilla yang sedari tadi mengintip pergerakan perempuan itu. Dan seperti yang ia duga, jika memang Jesi menginginkan Raider.
"Memang filingku ini tidak pernah salah. Tapi jika di lihat-lihat mereka berdua sangat cocok sekali. Yang laki-laki punya otak mesum ehhh yang perempuan kurang belaian. Cocok sekali bukan. Dan untuk kalian selamat bersenang-senang sebelum kesenangan itu berakhir dengan kebangkrutan Raider dan kehancuran perusahaan ini," ujar Sheilla dengan tersenyum miring.
Kemudian setelahnya ia bergegas keluar. Tentunya dengan pakaian yang sebelumnya ia gunakan karena pada kenyataannya ia tadi tidak mengganti pakaiannya dengan lingerie yang ia bawa. Hanya melapisi pakaiannya itu dengan handuk kimono yang saat ini sudah ia lepas dari tubuhnya dan ia taruh di dalam kamar mandi tersebut. Untuk pakaian yang di berikan oleh Jesi tadi, Sheilla akan membawanya agar Jesi tidak mencurigainya.
Dengan menoleh kearah kanan dan kiri memastikan jika kondisi di sekiranya aman terutama ke pintu ruang kerja Raider yang masih tertutup, Sheilla bergegas berlari menuju ke lift.
Sesampainya di lantai satu kantor tersebut, Sheilla kembali berlari menuju tempat parkir mobil milik sang suami.
Digo yang melihat istrinya sudah keluar, helaan nafas lega ia keluarkan. Yakinlah, Digo yang sedari tadi menunggu Sheilla, dirinya di buat hampir gila kala otaknya itu terus berperang dengan pikiran-pikiran negatifnya. Ingin sekali ia ikut masuk tapi ia tak ingin menghancurkan rencana Sheilla.
Sheilla masuk kedalam mobil tersebut dan duduk tepat di samping Digo dengan nafas tak beraturan.
Digo yang peka akan kondisi sang istri, ia meriah botol air mineral kemudian menyodorkannya ke hadapan Sheilla sembari berkata, "Minumlah."
Sheilla menatap kearah Digo sebelum tatapan matanya beralih kearah botol air mineral yang tutupnya sudah di buka lebih dulu oleh Digo. Dengan senyum yang mengembang Sheilla menefima, minuman tersebut lalu menenggaknya hingga tuntas.
"Mau lagi?" tawar Digo dengan menyodorkan satu botol air mineral lagi.
Sheilla menggelengkan kepalanya, "Tidak. Satu sudah cukup. Terimakasih."
__ADS_1
Digo tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
Setelah Digo menaruh kembali satu botol minum tadi, ia langsung merentangkan kedua tangannya yang tentunya membuat Sheilla mengerutkan keningnya, tak paham dengan maksud yang di kodekan oleh Digo.
"Apa?" tanya Sheilla.
Digo mengerucutkan bibirnya.
"Hug me!" rengek Digo seperti anak kecil tak lupa laki-laki yang selalu tampil garang itu tetap mempertahankan kerucutkan di bibirnya. Hal tersebut tentunya membuat Sheilla terkekeh kecil sebelum ia berpindah tempat ke pangkuan Digo. Lalu setelahnya ia memeluk tubuh suaminya itu dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang milik Digo.
Digo yang merasa sangat rindu walaupun hanya berpisah beberapa jam dengan sang istri, ia membalas pelukan Sheilla tak kalah erat.
Pertanyaan penuh dengan kekhawatiran itu membuat Sheilla kini menengadahkan kepalanya, melihat wajah Digo dari bawah. Tangannya pun tak tinggal diam, mengelus rahang kokoh milih Digo yang otomatis membuat laki-laki tersebut memejamkan matanya menikmati sentuhan dari Sheilla.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja seperti yang kamu lihat sekarang ini. Aku melakukan semuanya dengan cara halus jadi tidak perlu pakai kekerasan aku harus melemahkan Raider dan mensabotase perusahaan dia," ujar Sheilla.
Digo kini membuka matanya.
"Cara halus apa yang kamu lakukan? Jangan bilang---" Kekehan Sheilla menghentikan ucapan Digo.
"Mungkin apa yang ada di otakmu sekarang tentang apa yang aku lakukan tadi benar adanya. Tapi tidak semuanya benar. Aku memang melakukan cara halus dengan menggoda dia dengan cara bersikap bodoh dan hanya iya-iya saja. Tapi kamu tenang saja, istrimu ini masih bisa menjaga kehormatan yang hanya milik kamu," ucap Sheilla lalu setelahnya ia melanjutkan cerita yang ia alami tadi. Tentunya setiap cerita mendapat respon berbeda dari Digo.
__ADS_1
Contohnya sekarang, laki-laki yang tadi ingin sekali marah kepadanya kini justru tersenyum sebelum kedua tangannya bergerak, mengapit kedua pipi Sheilla sehingga membuat bibir mungil sang istri manyun ke depan.
Dan dengan mengecupi bibir Sheilla, Digo berkata, "Cerdik dan licik juga istriku ini."
Sheilla memutar bola matanya malas sebelum dirinya memukul lengan Digo agar laki-laki itu menjauhkan tangannya dari kedua pipinya.
Setelah tangan kekar itu menjauh Sheilla mendengus kesal kala merasakan bibirnya yang kebas karena sebelum Digo melepaskan tangannya, laki-laki tersebut cosplay jadi vacum cleaner. Tapi tak urung Sheilla juga membalas ucapan Digo tadi.
"Dari dulu kalau aku ini cerdik dan licik. Kamunya saja yang baru sadar."
Digo tersenyum sebelum dirinya kembali memeluk tubuh Sheilla.
"Baiklah-baiklah, maafkan aku yang baru menyadarinya. Tapi sayang, terimakasih karena kamu sudah mau membantuku untuk menyelesaikan masalah ini dengan dia," ujar Digo.
"Sama-sama karena semua itu bentuk dari pengabdianku sebagai istrimu. Aku akan melakukan semuanya ketika kamu meminta bantuan dari ku. Dan selamat kamu menang lagi," ucap Sheilla.
"Bukan aku yang menang tapi kamu. Jika tidak ada kamu belum tentu rencana ini akan berjalan lancar tanpa ada pertumpahan darah. Terimakasih sayang, terimakasih." Digo menyematkan beberapa kali kecupan di puncak kepala Sheilla.
"Sama-sama kesayangannya. Tapi sebaiknya kita pergi dulu deh dari sini. Takutnya salah satu anak buah Raider menyadari keberadaan kita." Digo melepaskan pelukannya kemudian ia menganggukkan kepalanya. Bukan karena ia takut jika sewaktu-waktu anak buah Raider mengetahui persembunyian mereka, ia hanya takut saat mereka menyerang, target utama mereka bukan dirinya melainkan Sheilla. Walaupun Sheilla bisa bela diri dan memainkan senjata, tapi tenaga seorang perempuan tak bisa dibandingkan dengan tenaga seorang laki-laki, apalagi dalam jumlah yang lebih dari satu yang sudah bisa di pastikan Sheilla akan kalah jika hal itu terjadi. Ia tak ingin istrinya itu terluka. Sehingga demi keselamatan Sheilla, ia mensetujui usulan Sheilla tadi untuk segara pergi dari tempat persembunyiannya saat ini, kala Sheilla sudah berpindah tempat ke kursi samping kemudian dan memastikan jika istrinya itu sudah aman barulah Digo menjalankan mobilnya, meninggalkan area perkantoran miliki Raider.
Sedangkan Raider yang sudah berada di satu ruangan dengan Jesi. Tentunya dengan pengaruh aroma pembangkit napsu itu mereka berdua melakukan hal yang mungkin hanya diinginkan oleh Jesi saja pasalnya saat mereka melakukannya, Raider menganggap jika Jesi ini adalah Sarah alias Sheilla. Terbukti saat Jesi baru masuk tadi, Raider memanggilnya dengan nama Sarah. Tapi Jesi mana peduli, ia justru mengikuti arah Permainan Raider dengan berpura-pura sebagai Sarah hanya agar semua keinginannya terpenuhi.
__ADS_1