
Digo dan Sheilla kini mereka berdua telah masuk kedalam kamar mereka, dimana setibanya keduanya di dalam kamar itu membuat Digo kini angkat suara.
"Sayang, kamu apa-apaan sih. Kenapa kamu tadi bilang seperti itu? Mana kamu minta ke mereka agar bersikap biasa saja dengan kamu padahal mereka tau jika status kamu ini sudah resemi menjadi istriku yang artinya harus mereka hormati juga dong. Kalau kamu menyuruh mereka bersikap seperti keinginanmu itu yang ada mereka nanti malah akan menginjak-injak kamu sebagai nyonya mereka. Mereka pasti akan bersikap semena-mena di mansion ini nantinya sayang karena kamu membebaskan mereka. Aku tidak mau semua itu terjadi sayang. Aku mau kamu di hormati di mansion ini," protes Digo yang membuat Sheilla menghela nafasnya.
"Aku tau mereka, Dear."
"Apa yang telah kamu ketahui dari mereka sayang? Kamu saja baru tinggal bersama mereka belum ada satu tahun yang mana tingkah dan perilaku dari semua pekerja di mansion ini hanya kamu ketahui 2% saja dan 98% lainnya kamu belum tau sifat mereka yang asli bagaimana. Belum tentu yang mereka perlihatkan kepadamu ini adalah wajah asli dari mereka. Karena aku yang sudah tinggal bertahun-tahun dengan mereka saja, aku belum tau karakter dan sifat dari mereka semua. Jadi kamu salah kalau kamu bilang sudah tau mereka," balas Digo.
"Tapi aku yakin mereka tidak akan melakukan tentang kekhawatiranmu itu, Dear. Percayalah." Digo menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak akan pernah percaya akan hal ini. Tapi jika kamu masih ngotot dan ingin melakukan apa yang kamu inginkan tadi, terserah. Lakukan saja semaumu. Tapi kalau kamu menganggapku sebagai suami, turuti apa yang aku minta ini karena aku melakukannya juga untuk kebaikanmu," ucap Digo yang tak ingin memperpanjang pertengkaran antara dirinya dan Sheilla itu. Ia sudah pasrah dengan keputusan Sheilla walaupun rasa takut di dirinya sangat besar.
Setelah mengucapkan perkataannya tadi, Digo bergegas masuk kedalam kamar mandi. Niatannya tadi jika dia telah sampai di mansionnya ingin langsung rebahan dengan bermanja-manja bersama Sheilla harus pupus karena otaknya saat ini harus segara ia dinginkan setelah menghadapi keras kepalanya Sheilla tadi.
Dimana kepergian dari Digo itu tak luput dari pandangan Sheilla. Perempuan itu terus menatap Digo hingga laki-laki itu menghilang di balik pintu kamar mandi tersebut.
"Apakah dia sekarang tengah marah kepadaku?" tanya Sheilla pada dirinya sendiri. Entah setelah ia mendengar ucapan dari Digo itu membuat hatinya merasa bersalah karena tak menuruti perintah yang di berikan oleh sang suami itu.
"Sepetinya memang dia marah denganku." Sheilla kini menghela nafasnya sembari duduk di pinggir ranjang dengan mata yang masih fokus kearah pintu kamar mandi itu. Menunggu Digo keluar dari sana, dan saat suaminya itu nanti sudah keluar, ia akan membicarakan hal ini baik-baik kepada Digo. Dan mungkin ia juga akan berubah pikiran karena setelah dipikir-pikir lagi, perkataan dari Digo tadi ada benarnya juga. Karena banyak manusia yang memiliki wajah banyak yang tidak bisa di tebak.
Sheilla terus menunggu keluarnya Digo dari dalam kamar mandi tersebut sampai 30 menit telah berlalu. Dan 5 menit setelahnya laki-laki yang ia tunggu itu akhirnya menampakkan dirinya kembali.
__ADS_1
Sheilla yang melihat Digo yang sudah fresh dengan handuk kimono yang menutupi tubuh polosnya itu, ia kini melangkahkan kakinya dengan lebar mendekati Digo yang tampak cuek kepadanya.
"Dear," panggil Sheilla kala dirinya baru sampai di depan Digo, tapi laki-laki itu justru berjalan menuju ke walk in closed di dalam kamar tersebut.
Dan sebelum ia masuk kedalam ruangan tersebut, ia menghentikan langkahnya sembari berkata, "Jika ingin mengobrol bersihkan dulu tubuhmu," ucapnya tanpa menolehkan kepalanya kearah Sheilla. Lalu kemudian barulah ia benar-benar masuk kedalam walk in closed itu.
Dimana ucapan dari Digo itu membuat Sheilla berdecak namun tak urung ia segara melakukan apa yang di perintahkan oleh sang suami.
Sheilla membersihkan tubuhnya dengan kilat yang hanya membutuhkan waktu 15 menit saja ia sudah selesai dengan ritualnya tersebut.
Digo mengerutkan keningnya kala melihat Sheilla yang biasanya mandi 1 jam lamanya telah keluar dengan rambut yang tampak basah dan handuk kimono.
"Dear," panggil Sheilla yang sudah berdiri disamping Digo.
"Ganti baju dulu." Sheilla mencebikkan bibirnya. Ia tak bisa menunda untuk memberitahu Digo jika ia setuju dengan keputusan sang suami sekaligus ia juga tak tahan jika harus melihat Digo terus mencueki dirinya.
Hingga keengganannya untuk berganti baju terlebih dahulu itu membuat otak cerdiknya itu memiliki sebuah ide. Dimana ide itu membuat Sheilla tersenyum samar sebelum dirinya melakukan apa yang ada di otaknya saat ini.
Dimana idenya tersebut adalah dengan dirinya duduk di pangkuan Digo yang tengah duduk manis di atas ranjang dengan ponsel yang berada di tangannya.
Digo yang melihat aksi Sheilla itu ia tampak terkejut. Namun Sheilla tak peduli dengan ekspresi wajah terkejut dari Digo itu dan ia memilih untuk menyandarkan kepalanya di dada bidang Digo sebelum dirinya angkat suara.
__ADS_1
"Dear, maafkan aku yang tidak mematuhi ucapanmu tadi. Maafkan aku yang masih egois ini padahal setelah aku pikir-pikir apa yang kamu katakan itu benar adanya. Kamu saja yang sudah bertahun-tahun hidup dengan mereka tidak tau sifat asli semua orang di mansion ini seperti apa. Apalagi aku yang hanya baru beberapa bulan saja, pasti ada yang cuma pura-pura baik kepadaku. Jadi setelah aku pikir-pikir, aku mensetujui dengan apa yang kamu ucapkan tadi untuk tetap memberikan batasan antara atasan dan pekerja" ucap Sheilla sembari menegakkan tubuhnya. Lalu ia menangkup kedua pipi Digo.
"Jadi maafkan aku ya, Dear. Kamu mau kan memaafkanku?" tanya Sheilla dengan jari jempolnya yang usil mengusap lembut bibir Digo.
Dimana hal itu membuat napsu Digo muncul. Apalagi jika dia sekarang menundukkan kepalanya ke bawah, ia yakin ia bisa melihat tubuh polos Sheilla saat itu juga karena istrinya itu tidak mengikat tali handuk kimononya itu dengan benar.
"Dear," panggil Sheilla kala sedari tadi tak mendapat balasan dari Digo.
Dimana hal tersebut membuat Digo tersadar dari lamunan mesumnya tersebut.
"Ya kenapa?" tanyanya.
"Maafin aku," ulang Sheilla.
"Ahhhh ya. Aku sudah memaafkan kamu. Tapi bisakah kamu sekarang turun dari pangkuanku sayang?" Sheilla mengerutkan keningnya. Namun setelah ia merasa sesuatu yang tengah ia duduki itu tampak mengeras, ia tersenyum. Bahkan dengan inisiatifnya sendiri ia menurunkan handuk kimononya yang menutupi pundaknya tersebut yang membuat Digo semakin uring-uringan sendiri.
"Kalau aku tidak mau gimana?" tantang Sheilla.
"Kalau kamu tidak mau turun berarti kamu siap kehilangan mahkotamu saat ini juga," ujar Digo masih mati-matian menahan napsunya karena sejahat-jahatnya dia, ia tak akan memaksa Sheilla melakukan hubungan badan dengannya jika istrinya itu belum siap melakukannya.
Namun diluar tebakan Digo, Sheilla justru menjawab, "Siapa takut."
__ADS_1