The Dark Love

The Dark Love
30. Melumpuhkan Lawan


__ADS_3

Digo dan para anak buahnya kini sudah mengepung markas sementara milik Yoga. Dengan langkah pelan tapi pasti tak lupa mata yang selalu waspada untuk memastikan tidak ada anak buah Yoga yang menyadari penyerangannya itu. Digo menatap Henry untuk memberikan titah kepada tangan kanannya itu untuk segera bergerak masuk kedalam rumah tersebut. Henry menganggukkan kepalanya, lalu setelahnya ia menolehkan kepalanya kearah puluhan laki-laki yang berada tak jauh di belakang mereka. Ia menggerakkan tangannya di udara sebagai tanda jika penyerangan sudah dimulai. Para anak buahnya yang melihat tanda tersebut, mereka langsung siap menodongkan pistol yang mereka bawa kearah depan saat melihat kedua Bos mereka kini telah berdiri di depan pintu utama markas tersebut.


"Buka!" perintah Digo kepada Henry dengan suara yang ia kecilkan.


Tanpa bantahan, Henry langsung saja menendang pintu markas tersebut dan hanya butuh sekali tendangan saja pintu itu telah terbuka lebar. Dan terbukanya pintu tersebut, membuat beberapa laki-laki yang ada di dalam alias anak buah Yoga terbangun dari tidur mereka. Dan dengan serempak anak buah Yoga yang berjumlah sekitar 10 orang bergerak cepat untuk mengambil pistol yang berada diatas meja tak jauh dari mereka.


Dor Dorr Dorr!


Bunyi tembakan berkali-kali terdengar memenuhi markas dan sekitarnya. Dan hal tersebut membuat semua orang yang ada di dalam markas muncul dengan senjata ditangan mereka masing-masing. Sedangkan untuk warga sekitar yang melihat keributan tersebut sudah berhasil diamankan oleh anak buah Digo.


Seluruh anak buah Yoga membelalakkan matanya saat 10 temannya yang bertugas berjaga di ruang depan sudah mati mengenaskan. Sedangkan Digo yang melihat keterkejutan mereka, ia tersenyum miring sebelum dirinya berjalan mendekati anak buah Yoga yang langsung menodongkan senjata mereka kearah Digo. Tak tinggal diam, seluruh anak buah Digo juga menodongkan pistol kearah anak buah Yoga. Berjaga-jaga jika mereka berniat untuk menyakiti bos mereka, maka detik itu juga mereka akan membalas perbuatan anak buah Yoga tanpa ampun.


Tapi berbeda dengan Digo, ia sama sekali tak takut dengan banyaknya senjata yang siap menghujam tubuhnya nanti. Ia justru terus berjalan dan berhenti tepat di jarak satu meter dengan salah satu anak buah Yoga yang ia yakini orang itu yang sementara waktu akan memberikan perintah kepada teman-temannya.


"Katakan dimana bos kalian?!" ucap Digo dengan suara tegas. Diam, semua orang yang ada disana diam tak ada yang menjawab pertanyaan dari Digo tadi.


"Jawab atau akan saya musnahkan kalian semua!" Tatapan tajam Digo menghunus satu-persatu orang-orang di hadapannya itu. Namun sayang, mereka tak gentar sama sekali padahal mereka tau mereka kini tengah berhadapan dengan si raja mafia.


Dor!


Satu tembakan dari Digo berhasil membuat satu anak buah Yoga kembali meregang nyawanya.

__ADS_1


"Jangan coba-coba kalian memberitahu kekacauan ini kepada bos kalian karena saya tidak akan pernah mengizinkan hal itu terjadi," ujar Digo dengan menurunkan tangan yang membawa pistol tersebut. Namun turunnya tangan itu menyimpan sebuah kode jika seluruh anak buahnya diperbolehkan untuk memulai aksinya.


Dan beberapa detik setelah itu terdengar suara tembakan demi tembakan yang dilayangkan oleh anak buah Digo untuk menyerang anak buah Yoga. Sedangkan Digo yang percaya dengan anak buahnya yang tak mungkin salah sasaran, dengan santainya ia berjalan memasuki markas itu lebih dalam lagi diikuti oleh Henry yang siap melindungi tubuhnya dari musuh.


"Yoga tidak ada di markas. Kalian cari keberadaan dia sekarang!" perintah Digo melalui alat komunikasi yang berada di telinganya.


Disisi lain, anak buah Digo yang menerima perintah dari sang bos pun ia menganggukkan kepalanya walaupun Digo tak melihatnya.


"Kumpul semua!" teriak salah satu laki-laki yang menerima perintah langsung dari Digo tadi.


Dan tak berselang lama seluruh orang yang menjaga di sekitar goa tadi berkumpul menjadi satu, menunggu apa yang akan dikatakan oleh temannya itu.


Kembali lagi dengan Digo. Ia sudah memastikan seluruh ruangan yang ada di dalam markas tersebut. Dan benar saja tebakannya tadi jika Yoga sudah tak ada disana. Tapi tunggu, ada satu ruang rahasia yang ternyata belum ia periksa.


"Lapor bos. Semua musuh telah berhasil kita musnahkan," ucap salah satu anak buahnya. Digo yang tadi fokus dengan satu pintu tak jauh dari pandangannya itu, kini ia mengalihkan pandangannya kearah para anak buahnya yang sepertinya masih utuh dan tak ada yang luka sama sekali. Walaupun ada bercak darah di tubuh mereka, tapi ia yakin jika darah itu bukan dari tubuh anak buahnya melainkan darah dari musuh mereka.


"Good Job. Karena berhubung disini kita tidak menemukan keberadaan Yoga. Kita bergerak menuju ujung goa atau jalan pintas untuk keluar dari rumah ini. Saya tadi sudah menemukan pintu menuju goa itu. Dan pintu itu berada di ujung sana. Kita bergerak sekarang dan segera mencari keberadaan Yoga," ujar Digo memberikan peringatan kepada anak buahnya. Dan tanpa bantahan sedikitpun, mereka semua tak terkecuali dengan Digo dan Henry kini bergerak menuju ke ujung rumah yang tadi sempat di tunjuk oleh Digo.


Tapi saat semua anak buahnya sudah masuk kedalam pintu yang menghubungkan goa dan rumah tersebut. Digo dan Henry justru tengah bersembunyi dibalik tembok tanpa mengikuti anak buahnya yang sudah berjalan jauh menelusuri goa tersebut.


Senyum miring Digo dan Henry terbit saat melihat satu pintu rahasia yang muncul di balik lukisan yang sangat mereka curigai tadi terbuka dan memunculkan dua laki-laki keluar dari balik pintu tersebut.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan mendekati ruang depan rumah tersebut. Dan tanpa mereka berdua ketahui jika pergerakannya diikuti oleh Digo dan Henry yang berjalan mengendap-endap dan berakhir bersembunyi kembali di balik tembok saat mereka berdua telah sampai di ruang depan.


"Arkhhhh sialan. Dia cepat sekali menghabisi mereka semua!" geramnya dengan tangan yang terkepal kuat.


Satu laki-laki yang tadi sempat shock melihat semua anak buah bosnya tergeletak tak bernyawa pun kini ia mendekatkan tubuhnya kearah sang bos dan menepuk bahunya beberapa kali.


"Sepertinya kali ini kita harus meminta bantuan Bos. Jangan sampai kita kalah dan semua rencana kita akan terungkap sebelum waktunya," ujar satu laki-laki lainnya.


"Ya, yang kamu katakan tadi benar. Kita harus meminta bantuan sekaligus memberitahu keadaan kita ke bos besar. Jangan sampai kita tertangkap dan Digo tau jika kita melakukan hal ini masih ada hubungannya dengan Yura," ucap laki-laki tersebut yang tak lain adalah Yoga.


Dan ucapan Yoga tadi berhasil membuat Digo menggenggam erat pistol di tangannya. Ia tak percaya jika ternyata Yoga melakukan hal ini ada kaitannya dengan Yura. Apa mungkin keluarga laki-laki itu dulu juga menjadi dalang atas kematian Yola? Jika memang benar, jangan harap Yoga berhasil kabur darinya.


"Habisi mereka berdua sekarang juga," ucap Digo yang diangguki oleh Henry. Dengan diam-diam Henry menyodorkan kedua pistolnya kearah mereka berdua, namun sebelum ia menarik pelatuk pistol tersebut, tangan Digo justru memegang kedua ujung pistol tersebut.


"Jangan habisi mereka, lumpuhkan saja mereka berdua karena kita masih harus menggali informasi mengenai seseorang di belakang mereka dan mencari tau keterkaitan mereka dengan Yura," ucapnya. Lalu setelahnya ia menjauhkan tangannya dari pistol Henry yang berati laki-laki itu diizinkan untuk segara melaksanakan tugasnya.


Henry kini kembali memfokuskan pandangannya kepada objek yang akan ia lumpuhkan. Kemudian ia menarik pelatuk kedua pistolnya dan...


Dorrr!! Dorrr!! Dorrr!! Dorrr!!


Empat tembakan berhasil mengenai kaki kedua orang tersebut yang langsung membuat mereka berdua ambruk kelantai dengan erangan yang keluar dari bibir Yoga ataupun tangan kanan laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2