The Dark Love

The Dark Love
183. Rencana Kabur


__ADS_3

Selama resepsi pernikahan itu terlaksana, mood sepasang suami-istri baru itu benar-benar hancur. Dan jangan tanya alasannya apa, kalau bukan karena hukuman yang di berikan oleh kedua orangtua mereka tadi yang benar-benar tak bisa mereka negosiasi dengan berbagai cara apapun.


Dimana karena hal tersebut keduanya terus mengerucutkan bibirnya namun sesekali mereka akan memperlihatkan senyum palsunya kala ada tamu yang mendekati dirinya.


"Sayang, aku benar-benar tidak terima dengan hukuman dari Mama sama Bunda tadi. Kamu sendiri juga tau kan kalau aku gak akan bisa tidur kalau tidak ada kamu disampingku. Aku tidak apa-apa jika memang malam ini hak aku belum aku dapatkan tapi aku tidak bisa jika harus jauh dari kamu. Ahhhh sayang, aku mau malam ini kita tidur satu kamar," rengek Digo dengan menyandarkan kepalanya di bahu sang istri dengan lemah, letih, lesu dan lunglai.


Sheilla yang paham akan apa yang dirasakan oleh suaminya itu, ia memberikan usapan lembut di kepala Digo.


"Sebenarnya bukan cuma kamu saja yang tidak mau kalau kita harus pisah kamar tapi aku pun juga tidak terima. Tapi apa yang harus kita lakukan agar kita terbebas dari hukuman Mama sama Bunda? Kita tidak bisa diam-diam untuk keluar dari kamar saat mereka sudah tidur nanti karena aku yakin pasti pintu kamar akan mereka kunci dan kuncinya akan mereka sembunyikan. Kita juga tidak bisa lompat dari jendela karena kamar Mama sama Bunda berada di lantai 7. Dimana saat kita berdua nekat untuk lompat yang ada nyawa kita menjadi taruhannya," ucap Sheilla.


"Tapi malam ini aku mau tidur dengan kamu titik," kekeuh Digo.


"Iya aku tau. Tapi bagaimana caranya?"


Digo tampak terdiam, memikirkan ide agar dirinya dan sang istri bisa bebas dari hukuman yang sangat berat itu bagi keduanya.


Beberapa saat setelahnya, sepertinya Digo telah menemukan sebuah ide karena laki-laki itu kembali menegakkan kepalanya dan dengan mata berbinar ia mengungkapkan ide yang ia dapatkan, "Gimana kalau kita nanti diam-diam kembali ke Paris."


"Ke Paris?" Digo menganggukkan kepala.


"Kamu yakin Dear?" sambung Sheilla.

__ADS_1


"Yakin 100% karena hanya di negara itu kita akan aman dari hukuman Mama sama Bunda. Atau kalau tidak kita ke negara lain saja sekalian untuk honeymoon," ujar Digo memberikan pilihan kepada sang istri.


"Hmmmm kalau aku disuruh pilih lebih baik kita kembali ke Paris saja. Di negara itu kita juga bisa honeymoon. Tapi yang menjadi masalah adalah nenek. Apa beliau nanti tidak bersedih ketika kita tinggal lagi dan berada di Paris lama?" tanya Sheilla yang sebenarnya sangat berat jika harus meninggalkan sang nenek di negara kelahirannya itu.


"Hmmm entahlah. Mungkin nenek akan sedih tapi mau bagaimana lagi karena kemungkin kita nantinya juga akan menetap di negara itu untuk sementara waktu karena pekerjaanku semuanya ada disana. Dan kita juga tidak mungkin LDR-an. Atau begini, kita memang diam-diam pergi agar tidak ketahuan oleh Mama dan Bunda tapi kita minta izin dulu ke nenek. Kalau nenek oke, aku akan menghubungi salah satu anak buahku untuk membelikan kita tiket pesawat untuk penerbangan malam ini dan untuk mempersiapkan semua barang-barang kita yang berada di rumah nenek dan setelah selesai acara ini kita bisa diam-diam keluar dari hotel ini," ujar Digo.


"Tapi kalau nenek tidak mau kita tinggal?"


"Hmmm kalau nenek tidak mau kita tinggal, kita bawa saja nenek ke Paris."


"Nenek tidak berani naik pesawat, Dear."


"Haishhhh kalau begitu pikir saja nanti. Dan lebih baik kita sekarang menghampiri nenek untuk membicarakan hal ini kepada beliau karena kebetulan saat ini para tamu tengah dipersilahkan untuk menyantap hidangan mereka. Bagaimana? Apa kamu setuju sayang?"


Dan setalahnya, keduanya kini berdiri dari posisi duduknya. Dimana pergerakan dari keduanya membuat Mama Ciara dan Franda menatap kearah Digo ataupun Sheilla.


"Mau kemana kalian?" tanya Mama Ciara dengan galaknya.


Digo dan Sheilla yang tadi tampak terkejut itu, mereka menolehkan kepalanya kearah Mama Ciara. Dengan helaan nafas kasar, sebelum Digo membalas ucapan dari Mama Ciara.


"Ya ampun Ma, biasa aja kali kalau mau tanya tuh. Kita berdua juga mau mencicipi makanan para tamu Ma, kita berdua kan juga lapar. Sekalian kita juga akan menyapa tamu yang sudah meluangkan waktu berharga mereka hanya untuk datang ke pesta pernikahanku ini. Jadi bolehkan kalau kita turun panggung untuk mencicipi sedikit makanan dan menyapa para tamu?"

__ADS_1


"Kamu yakin hanya akan melakukan dua itu saja? Kalian tidak berniat untuk kabur dari hukuman Bunda dan Mama Ciara?" Digo dan Sheilla tampak terkejut hingga saking terkejutnya, mereka berdua cosplay jadi batu.


Sebelum beberapa detik setelahnya, Digo tersadar terlebih dahulu dari keterkejutannya tadi. Dan dengan berdehem untuk sedikit mengurangi detak jantung di hatinya itu, ia mulai membalas ucapan yang di lontarkan oleh Franda tadi.


"Ishhhh Bunda mah suudzon mulu jadi orang. Mana ada kita berdua kabur di saat kita adalah sang pemilik acara. Jadi Bunda tidak perlu khawatir kalau kita kabur oke? Ya sudah kalau begitu kita berdua turun panggung dulu mau cari makanan. Apa Bunda sana Mama mau nitip buat diambilkan sesuatu di bawah?" tanya Digo dengan suara yang sangat lembut. Dimana suaranya itu sangat jarang ia keluarkan.


Mama Ciara dan Franda tampak saling pandang satu sama lain sebelum keduanya kini menggedikkan bahunya.


"Tidak usah, kita nanti bisa ambil sendiri," ujar Mama Ciara yang diangguki oleh Digo.


"Ya sudah, Al sama Sheilla turun ya Ma, Bun." Mama Ciara dan Franda tampak menganggukkan kepalanya sebagai balasan dari ucapan Digo tadi.


Digo yang melihat anggukkan kepala dari dua wanita paruh baya itu, ia menarik pelan lengan sang istri yang sedari tadi hanya terdiam kaku di tempatnya dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.


"Sayang, are you oke?" tanya Digo khawatir dengan memberikan usapan lembut di punggung Sheilla.


Sheilla yang tampaknya baru tersadar dari keterbengongannya itu, ia mengerjabkan matanya. Lalu setelahnya ia menatap kearah sekitarnya dan berakhir matanya menatap kearah Digo berada.


"Kamu kenapa?" tanya Digo.


"Kita tidak ketahuan oleh Mama atau Bunda kan?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Digo tadi, Sheilla justru bertanya kembali. Dan hal tersebut membuat Digo kini menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Jadi kamu sampai keringat dingin seperti ini gara-gara takut rencana kita ketahuan sama Mama dan Bunda?" Sheilla menganggukkan kepalanya.


"Kamu tenang saja ya. Rencana kita aman. Dan sekarang kita cari nenek saja yuk," ujar Digo dan dengan tangan yang melingkar posesif di pinggang Sheilla, ia membawa istrinya itu untuk mencari keberadaan sang nenek yang entah berada dimana sekarang.


__ADS_2