The Dark Love

The Dark Love
79. Membawa Sheilla ke Kantor


__ADS_3

Karena Digo tak ingin mengulang kejadian waktu itu, dimana Sheilla dekat-dekat dengan anak buahnya, maka mulai hari ini ia mengajak Sheilla ke kantornya. Walaupun tadi ada perdebatan sengit antara Sheilla yang tak mau ikut ke kantor Digo dengan alasan ia akan merasa canggung dengan para karyawan Digo karena disana ia tak akan mengerjakan sesuatu. Dan Digo yang kekeuh mengajak Sheilla dengan berbagai alasan takut Sheilla di lukai dan diganggu oleh Vina, di goda oleh para anak buahnya dan masih banyak lagi alasan yang membuat dirinya tak tega meninggalkan Sheilla di rumah.


Tapi setelah perdebatan sengit itu, akhirnya Digo lah pemenangnya. Dan kini mereka berdua telah sampai di kantor Digo dimana saat laki-laki itu baru sampai dan memasuki area lobi, sudah banyak karyawan yang datang mendekati Digo lalu menyapa laki-laki tersebut.


Digo yang mendapat sapaan itu pun ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa tersenyum sedikitpun. Dan justru ia semakin mengeratkan genggaman tangannya yang tengah menggandeng tangan Sheilla. Dan apa yang dilakukan oleh Digo itu membuat para karyawannya mengalihkan pandangannya kearah dua tangan yang saling bertautan itu. Tak sedikit dari mereka menebak-nebak siapa perempuan di samping bos mereka? Dan tak sedikit pula para karyawan itu tengah berbisik-bisik membicarakan Sheilla mulai dari hal yang baik sampai ke hal yang buruk sekalipun. Dan hal tersebut benar-benar membuat Sheilla tak nyaman sama sekali.


Digo yang menyadari keresahan di diri Sheilla pun ia menghentikan langkahnya lalu menolehkan kepalanya kearah sang kekasih.


"Kenapa hmmm?" tanya Digo sembari menyelipkan rambut Sheilla yang menutupi sebagian wajah cantik perempuan itu ke belakang telinga Sheilla. Dan hal tersebut membuat beberapa karyawati Digo memekik tertahan saat menyaksikan adegan romantis yang baru kali ini mereka lihat dari seorang Digo. Si laki-laki dingin dan tak tersentuh itu.


Sedangkan Sheilla yang mendapat perlakuan seperti itu dari Digo pun ia kini menegakkan kembali kepalanya yang sedari tadi ia tundukkan itu.


"Kenapa?" tanya ulang Digo yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Sheilla.


"Kamu yakin?" Sheilla mengangguk kepalanya.


"Kalau begitu, jangan menundukkan kepalamu lagi. Kamu mengerti, Honey?" Ucap Digo yang lagi-lagi dijawab dengan anggukan kepala saja oleh Sheilla.


"Good girl." Digo mengusap kepala Sheilla yang semakin membuat para kaum hawa semakin sulit untuk bernafas. Dan tanpa memperdulikan tatapan iri para karyawati, Digo kembali menggenggam tangan Sheilla dan membawa tubuh sang kekasih masuk kedalam lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dimana lantai itu adalah tempat ruang kerja Digo berada.

__ADS_1


Sedangkan Henry yang sedari tadi berada di belakang sepasang kekasih baru itu, ia hanya bisa menghela nafas dengan sesekali ia mengelus dadanya sendiri.


"Beginikah rasanya menjadi obat nyamuk di tengah-tengah orang yang tengah jatuh cinta? Iri banget tolong! Aku juga mau romantis-romantisan seperti mereka berdua. Ya Tuhan tolong kasihanilah hamba ini, berikan hamba seorang kekasih ya Tuhan biar hamba bisa mempraktekkan apa yang telah hamba lihat didepan mata hamba ini. Biar hamba juga tidak memiliki rasa iri dengki. Hamba juga mau rasain yang namanya jatuh cinta. Capek juga kalau terus-terusan jomblo gini. Hiks nasib," batin Henry meronta-ronta mengasihani dirinya sendiri yang jomblo abadi.


Sedangkan disisi lain, tepatnya di negara Indonesia, terlihat ada seorang laki-laki tengah duduk di suatu kursi yang berada di balkon kamarnya ditemani dengan sebatang rokok yang menyala. Ia menatap langit yang masih menggelap itu karena jam baru menunjukkan pukul 4 pagi.


Dan keterbengongannya itu tersadarkan dengan adanya sebuah tangan yang tiba-tiba mengelus pundaknya dan saat ia menolehkan kepalanya ia langsung tersenyum kearah orang tersebut.


"Duduk sini," ucapnya sembari menepuk pahanya agar seorang perempuan yang berdiri disampingnya itu segara duduk di pangkuannya. Tapi sebelumnya ia sudah mematikan rokok yang menemaninya di pagi buta ini.


Perempuan tersebut tersenyum lalu ia mendudukkan tubuhnya dipangkuan laki-laki tersebut.


"Apa kamu sedang memikirkan dia lagi?" tanya perempuan tersebut yang merupakan istri dari laki-laki itu.


"Ya, dan matamu ini benar-benar membuatku semakin rindu dengan dia," ujar laki-laki tersebut sembari mengelus kelopak mata istrinya yang membuat perempuan itu otomatis menutup mata.


"Sayang," panggil laki-laki tersebut yang membuat sang istri kembali membuka matanya.


"Ya?"

__ADS_1


"Apa dia bahagia disana?" Perempuan tersebut tersenyum lalu ia menangkup kedua pipi sang suami agar tatapan suaminya itu kembali kearahnya bukan malah menatap kosong kedepan.


"Jika kamu tanya seperti itu maka aku akan menjawab ya. Dia pasti bahagia disana," ucap perempuan tersebut.


"Kenapa kamu sangat yakin jika dia disana bahagia sedangkan dia hanya sendiri dan tak ada yang mengenal dia?"


"Karena dia sudah berada di tempat yang tepat, sayang," jawab sang istri dengan mantap.


"Tapi kalau ternyata dia tidak bahagia bagaimana?" tanya sang suami yang membuat istrinya itu menghela nafas panjang. Selalu saja seperti ini jika sang suami mengingat seseorang yang sangat berarti bagi mereka. Selalu tak yakin jika seseorang itu kini baik-baik saja disana. Namun walaupun begitu perempuan itu memilih untuk bersabar dan selalu meyakinkan suaminya kalau seseorang itu akan selalu baik-baik saja.


"Sayang, kamu percaya denganku kan?" tanya sang istri yang diangguki oleh laki-laki tersebut.


"Jika kamu benar-benar percaya padaku maka kamu juga harus percaya dengan perkataanku ini. Kamu harus percaya jika dia, orang yang tengah kita rindukan itu sekarang dalam keadaan yang sangat bahagia, lebih bahagia dibanding saat dia bersama dengan kita dulu," ucap sang istri.


"Jadi kamu jangan takut jika dia tidak akan bahagia disana. Dia pasti sangat-sangat bahagia. Percaya lah," sambungnya yang membuat laki-laki tersebut kini menghela nafas berat sebelum ia memeluk erat tubuh sang istri yang berada di pangkuannya itu.


"Baiklah aku akan percaya perkataanmu itu," ujar sang suami di sela pelukannya.


"Syukurlah kalau kamu sudah mau percaya sama aku. Kalau begitu, kita masuk saja yuk kedalam. Dan untuk sedikit mengobati kerinduan kita kepada dia, kita ke kamar dia sekarang juga yuk," ajak perempuan tersebut sembari melepaskan pelukan dari suaminya tadi. Kemudian ia segara berdiri dari duduknya lalu tangannya kini menarik kecil tangan sang suami.

__ADS_1


Sedangkan laki-laki itu, ia kini terkekeh saat melihat tingkah istrinya yang sama persis dengan seseorang yang tengah ia rindukan itu. Sebelum akhirnya ia berdiri dari duduknya.


"Baik lah kita ke kamar dia sekarang juga," ucapnya lalu setelahnya sepasang suami istri itu masuk kembali kedalam kamar mereka sebelum mereka menuju ke arah kamar seseorang yang selalu menjadi tempat mereka melepas rindu.


__ADS_2