
"Beautiful Aster?" beo Digo membaca tulisan yang berada di pistol tersebut. Dimana perkataannya itu terdengar sampai bilik kamar mandi yang berada di sebelahnya itu.
"Apa ada orang yang ada di bilik sebelah?" tanya anak buah Bian itu yang membuat Digo tersadar dari lamunannya.
"Ahhhh ya. Disini ada orang dan apa celana yang jatuh ini punyamu?" tanya Digo berpura tidak tau pemilik celana yang masih tergeletak diatas lantai kamar mandi yang ia tempati saat ini.
"Iya celana itu memang milikku, bisakah kamu membantuku untuk mengulurkan celana, itu dari atas sini?"
"Biar aku coba," ucap Digo yang kini mengambil celana yang terjatuh tadi lalu setelahnya ia memasukkan pistol yang berada di genggamannya tadi ke tempat semula ia mengambilnya tadi. Lalu setelahnya barulah ia menjulurkan celana tersebut ke bilik tempat anak buah Bian berada.
Dimana sesaat setelah ia menjulurkan celana tadi, anak buah Bian langsung menerimanya.
"Terimakasih atas bantuanmu. Aku tidak tau apa yang akan aku lakukan jika kamu tidak membantuku tadi," ucapan anak buah Bian yang sepertinya tidak menyadari jika orang yang berada di bilik sampingnya itu adalah Digo.
"Ya sama-sama. Lain kali pastikan jangan sampai celanamu itu terjatuh lagi."
"Siap. Aku pasti akan memastikannya nanti," balas anak buah Bian itu. Dan setelah ucapan balasan itu Digo dengar, ia memilih untuk segera keluar dari dalam bilik kamar mandi tersebut dengan otaknya yang kini tengah bekerja keras.
"Beautiful Aster," gumam Digo di sela-sela dirinya berjalan menuju ke arah dapur kembali.
Dimana saat dirinya telah sampai di ruangan itu, ia mengambil cemilan yang ia letakkan di atas meja makan sebelum dirinya kini melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang tamu dengan merubah ekspresi wajahnya yang semula penuh tanda tanya kini berganti ekspresi seperti biasanya.
Dan saat dirinya telah sampai di ruang tamu, ia bisa melihat Sheilla, Franda dan Bian masih asik ngobrol bersama sampai ketiganya tidak menyadari dia yang sudah kembali. Tapi Digo tidak terlalu memperdulikan hal itu. Ia justru langsung duduk di sofa yang sebelumnya ia duduki dan dengan memakan cemilannya itu, Digo terus memperhatikan gerak-gerik dari Bian maupun Franda.
__ADS_1
Hingga tatapan matanya itu kini beralih ke arah mata kaki Bian yang terlihat ada sebuah tatto kecil di sana. Digo yang penasaran dengan gambar tatto tersebut, ia memutuskan untuk berpindah tempat ke sofa yang berada di samping Bian.
Saat dirinya sudah berpindah tempat dan duduk di sofa yang masih kosong di sebelah Bian dengan tatapan mata yang terus tertuju dan penglihatannya semakin dia pertajam, ia baru bisa melihat dengan jelas gambar tatto yang berada di mata kaki Bian. Dimana saat ia mengetahuinya ia sempat terkejut namun sesaat setelahnya ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku pasti salah melihat gambar tatto Uncle Bian," batin Digo yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat itu.
Bahkan saking tidak percayanya dia, ia sempat mengerjab-ngerjabkan matanya bahkan ia sampai mengucek matanya itu sebelum ia melihat dan memastikan kembali apa yang ia lihat sebelumnya. Tapi ternyata apa yang ia lihat saat ini masih sama dengan yang ia lihat sebelumnya. Dimana ia melihat gambar tatto itu berbentuk bunga aster dengan warna ungu yang terlihat sangat cantik walaupun gambar tatto tersebut berukuran kecil.
"Apakah aku salah lihat lagi? Tidak, aku sudah melihatnya berkali-kali tapi apa yang aku lihat itu sama. Jadi tidak mungkin aku salah lihat berkali-kali. Tapi kalau aku tidak salah lihat, kenapa Uncel Bian memilih gambar bunga aster untuk ia jadikan tatto? Kenapa tidak bunga lain saja atau kalau tidak dalam bentuk lain yang lebih menyeramkan dari bentuk bunga? Apa bunga aster ini melambangkan sesuatu yang sangat spesial untuk Uncle Bian? Pasalnya dia memilih tatto bunga aster untuk tubuhnya dan senjata yang di pegang oleh anak buahnya ada kata aster yang terukir di senjata mereka. Tapi tunggu sebentar---"
Digo kini menyipitkan matanya saat dia merasa tak asing dengan bentuk bunga yang ada di dalam tatto Bian tersebut.
"Sepertinya aku pernah melihat gambar bunga aster di tatto Uncel Bian itu," ucap Digo masih dengan kata hatinya
"Lho sejak kapan kamu duduk disini?" tanya Bian tampak terkejut dengan kehadiran Digo itu.
Dan ucapan dari Bian tersebut membuat Digo mencebikkan bibirnya.
"Sudah dari tadi. Hanya saja kalian yang terlalu keasikan saling bercanda gurau sampai tidak menyadari kehadiran Al," ucap Digo.
"Tapi tak apa kalian tidak menyadari keberadaanku, karena justru hal itu membuat diriku lebih leluasa untuk mencari bukti akan kecurigaan dari anak buahku itu," sambung Digo didalam hatinya.
"Ya ampun ternyata sudah lama ya. Maaf ya kita baru menyadari keberadaanmu," timpal Franda yang membuat Digo kini menghela nafas dan dengan terpaksa ia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Oh ya kalian berdua sudah sarapan belum tadi sebelum berangkat ke sini?" tanya Franda.
"Belum. Kan niat kita kesini kan mau cari makanan gratis," jawab Digo diakhiri dengan ia melahap makanan ringannya itu.
"Ya sudah kalau begitu, bagaimana kalau Bunda dan Sheilla yang memasak makanan untuk kita berempat? Karena kebetulan Bunda dan Papa juga belum sarapan tadi. Sebenarnya sudah sih tapi hanya minum susu sama roti saja dan Bunda sekarang sudah lapar lagi. Papa pasti juga sudah lapar kan?" tanya Franda yang ia tujukan kepada suaminya itu
"Ya, aku juga sudah sangat lapar," jawab Bian.
"Ya sudah kalau begitu kita berdua memasak dulu. Kamu mau kan Sheilla bantu bunda masak?" tanya Franda dengan mengelus lembut kepala Sheilla.
Sheilla yang mendapat pertanyaan dari Franda pun ia tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja Sheilla mau dong Bun." Franda yang mendengar jawaban dari Sheilla pun ia langsung berdiri dari duduknya lalu setelahnya ia mengulurkan tangannya ke hadapan Sheilla. Dimana uluran tangannya tadi dibalas oleh Sheilla sembari gadis itu kini ikut berdiri duduknya.
Dan dengan tangan yang saling bergandengan, Franda berucap.
"Kalian para laki-laki cukup duduk manis disini. Jangan mengganggu kita saat lagi memasak. Awas aja kalau sampai kalian berani mengganggu kita, kita berdua tidak akan segan-segan untuk meracuni makanan yang akan kalian makan nanti," ancam Franda yang sepertinya tahu otak dibalik dua laki-laki yang akan manja sekali dengan pasangannya itu.
"Yuk sayang, kita ke dapur sekarang juga," ajak Franda dengan menolehkan kepalanya kearah Sheilla.
"Let's go Bun," balas Sheilla excited.
Dan setelah mendengar persetujuan dari Sheila tadi kedua perempuan itu kini mulai melangkahkan kakinya menuju ke ruang dapur meninggalkan Digo dan Bian yang menatap kepergian pasangan mereka masing-masing dengan berdecak dan mencebikkan bibir mereka.
__ADS_1