
Sheilla terus menemani Monik hingga perempuan itu kini sudah tertidur setelah sedari tadi mual dan muntah tak berhenti.
Sheilla yang melihat jika Monik sudah menutup matanya pun, ia menghela nafas panjang dengan tangan yang kini bergerak untuk menaikkan selimut sampai dada Monik.
"Segeralah sembuh," ucap Sheilla dengan memberikan usapan lembut di kepala Monik sebelum dirinya segera pergi dari dalam kamar perempuan tersebut.
Dimana saat pintu kamar sudah di tutup rapat oleh Sheilla, mata Monik kembali terbuka. Ia tadi bukan tidur sungguhan melainkan hanya pura-pura tidur saja.
Dan dengan perasaan yang sangat resah, ia langsung mendudukkan tubuhnya dan dengan bersandar di sandaran ranjang, Monik meraih ponselnya, mencari note pribadinya.
Monik menggigit bibir bawahnya kala ia telah membaca note pribadinya tersebut untuk memeriksa tanggal terakhir kali ia datang bulan.
"Terakhir kali aku datang bulan pada tanggal 1 Oktober dan sekarang sudah tanggal 3 Desember. Astaga, berarti aku sudah telat 2 bulan. Kenapa aku tidak menyadari akan hal itu? Dan jangan-jangan apa yang terjadi denganku ini bukan karena penyakitku kambuh melainkan---" Monik sengaja menggantung ucapannya dengan mata yang terbuka lebar. Sebelum dirinya kini menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak. Tidak mungkin, aku hanya melakukannya satu kali jadi tidak mungkin jika aku saat ini tengah mengandung," ucap Monik.
"Tapi jika aku tidak sedang mengandung, kenapa aku bisa telat datang bulan selama 2 bulan. Ya Tuhan." Monik menjambak rambutnya frustasi padahal belum tentu yang ada di dalam pikirannya saat ini sebuah kenyataan. Tapi sudah membuat dirinya pusing 7 keliling.
__ADS_1
"Apa aku harus mengecek untuk memastikan semuanya?" tanya Monik ke dirinya sendiri.
"Ya, aku harus mengeceknya." Setelah berpikir beberapa kali, akhirnya Monik memutuskan untuk mengeceknya.
Dan karena dirinya tak memiliki benda yang namanya testpack itu, Monik memutuskan untuk keluar mencarinya sendiri. Namun bukannya ia keluar lewat pintu depan, ia justru keluar lewat pintu belakang. Setibanya ia di pintu belakang itu, dirinya menghela nafas lega kala tak ada satu pun anak buah Digo ataupun anak buah Henry yang menjaga pintu tersebut sehingga ia bisa keluar dari area mansion tersebut dengan aman.
Monik memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke apotek yang hanya menempuh 15 menit perjalanan.
Dengan ragu, Monik menatap beberapa alat testpack dihadapannya tersebut. Ia bingung ingin menggunakan alat tersebut dengan merk apa? Dan karena keterbingungannya tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk membeli satu buah testpack di semua merk yang ada di apotek tersebut.
Setelah membayar testpack berjumlah 10 itu, ia bergegas kembali ke mansion. Dimana ia kembali masuk lewat pintu belakang yang masih tak ada penjaganya sama sekali.
"Kamu darimana saja sih Nik? Bibik dari tadi cariin kamu lho," ucap bik Nah.
Monik memutar tubuhnya dengan menampilkan senyumannya itu.
"Kata nyonya Sheilla, kamu muntah-muntah terus ya dari tadi? Kamu sakit?" tanya bik Nah yang baru tau keadaan Monik karena sedari tadi ia disibukkan dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Hehehe iya tadi bik. Tapi kalau sekarang sudah tidak muntah lagi kok setelah Monik minum obat magh tadi. Jadi bik Nah jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Tapi berhubung tubuhku masih lemas, aku tidak bisa bekerja hari ini. Aku tadi juga sudah minta izin ke tuan Digo dan Nyonya Sheilla untuk meliburkan diri hari ini dari semua pekerjaanku dan mereka mengizinkannya," ucap Monik yang tentunya sedikit berbohong tentang ia telah meminum obat magh tersebut. Karena setelah ia menerima obat itu dari salah satu anak buah Digo, ia sama sekali belum meminumnya.
"Ya sudah kalau begitu, tak apa jika kamu hari ini meliburkan diri kamu. Biar pekerjaanmu nanti bibik handle. Dan kamu istirahatlah supaya cepat sembuh." Monik tersenyum kala mendapat elusan di kepalanya dari bik Nah.
"Baik bik. Kalau begitu Monik masuk dulu ya. Bibik semangat kerjanya," ujar Monik yang diangguki oleh bik Nah. Dimana anggukan itu membuat Monik kini masuk kedalam kamarnya dan sebelum pintu kamarnya benar-benar ia tutup, ia menyempatkan diri untuk melambaikan tangannya kearah bik Nah yang dibalas wanita paruh baya itu dengan senyumannya.
Setelah pintu kamarnya ia tutup dan kunci, Monik berlari kecil menuju ke kamar mandi. Ia akan memastikan semuanya hari ini juga.
Dengan harap-harap cemas Monik menunggu hasil dari ke sepuluh testpack yang ia beli tadi.
"Aku mohon, hasilnya negatif." Kata-kata itu yang sedari tadi keluar dari bibir Monik.
Hingga setelah beberapa menit telah berlalu, Monik menghela nafas berkali-kali dan dengan jantung yang berdebar, ia melihat 10 testpack yang ia jejer diatas wastafel itu. Dimana saat ia melihat hasil testpack tersebut, ia melongo tak percaya dengan tangan yang ia gunakan untuk menutup mulutnya yang terbuka lebar itu. Bahkan matanya kini berkaca-kaca, kakinya bergetar hebat sebelum tubuhnya luruh kebawah bertepatan dengan air matanya yang jatuh membasahi pipinya.
"I---ini tidak mungkin. Semua benda itu pasti rusak. Ini tidak mungkin," ucap Monik yang tak percaya jika hasil dari ke sepuluh testpack yang ia beli itu semuanya menyatakan jika dirinya positif hamil.
Dimana tingkat kepusingannya yang tadi ia rasakan semakin menjadi-jadi. Hingga tangannya kembali ia gunakan untuk menjambak rambutnya dengan memukul-mukul pelan kepalanya tersebut.
__ADS_1
Isak tangis masih terdengar di ruang kamar mandi itu. Dimana tangis itu bukan tangis bahagia melainkan tangisan akan penyesalan, ketakutan serta kebingungan yang tengah melanda Monik. Monik menyesal dengan apa yang telah dirinya perbuat dulu sampai kejadian ini harus ia alami. Ia bingung antara ingin mempertahankan atau melenyapkan bayi yang sekarang ada didalam rahimnya tersebut. Monik pun juga takut jika ia mempertahankan bayi itu dan Henry tau masalah tersebut, laki-laki itu tidak akan menganggap bayi tersebut sebagai anaknya karena Monik sangat yakin bayi yang ada didalam rahimnya saat ini adalah benih dari Henry karena ia hanya melakukannya dengan laki-laki tersebut, bahkan lebih parahnya lagi jika Henry tau, pasti laki-laki itu bukan hanya membunuh bayi tersebut melainkan Monik juga. Tapi jika Monik memutuskan untuk mengugurkan bayi itu, ia takut jika dirinya mendapatkan karma juga dosa yang sangat besar nantinya.
Dan karena hal tersebut, membuat Monik kini benar-benar dilema. Ia tak menginginkan bayi itu tapi ia ragu untuk membunuhnya.