
Pintu kamar mandi yang berada di ruang istirahat Raider kini telah di buka oleh Sheilla. Tentunya pergerakan pintu itu tak luput dari pandangan Raider yang sedari tadi senyum-senyum sendiri dengan pikirannya yang sudah mulai kemana-mana ditambah ia juga sudah terpengaruh dengan aroma pembangkit napsu itu. Tapi senyum Raider seketika hilang. Bayangan akan tubuh indah Sheilla terpampang di hadapannya harus sirna karena perempuan itu saat ini malah memakai kimono handuk.
"Kenapa kamu memakai handuk segala? Kenapa tidak langsung memperlihatkan lekuk tubuh kamu saat memakai lingerie?" tanya Raider yang sudah mulai tak bisa mengontrol dirinya. Jujur saja walaupun Sheilla masih melapisi tubuhnya itu dengan kain tebal, masih bisa mengundang napsunya walaupun ia sedikit kecewa karena apa yang di lakukan oleh Sheilla tak sesuai dengan bayangannya.
Sedangkan Sheilla yang ditanya seperti itu, ia justru tersenyum sembari melangkahkan kakinya kearah saklar lampu yang berada di sisi pintu.
"Bukannya melakukan hubungan badan akan lebih seru jika dalam keadaan gelap?" ujar Sheilla yang kembali membuat Raider tersenyum.
"Ohhh ternyata kamu suka yang gelap-gelapan ya. Apa kamu juga sedikit malu kalau saya melihat secara jelas lekuk tubuh kamu?" Sheilla berlagak mendudukkan kepalanya tapi tak urung ia menganggukkan kepalanya juga.
"Baiklah kalau begitu lakukan saja. Buat diri kamu nyaman yang terpenting kamu bisa memuaskan saya hari ini," ujar Raider.
"Beneran?" Raider menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau tuan setuju. Saya akan mematikan lampunya dulu. Tapi tuan juga harus menutup mata tuan juga. Karena setelah ini saya akan mendekati tuan dan akan melakukan apa yang tuan inginkan," ujar Sheilla. Tanpa berlama-lama lagi Raider langsung menuruti apa yang di mau oleh Sheilla. Laki-laki itu menutup kedua matanya menggunakan kedua tangannya. Sedangkan Sheilla, ia langsung mematikan lampu di ruangan tersebut. Lalu setelahnya ia berjalan mendekati Raider. Saat dia sudah sampai di samping Raider, ia berkata, "Sepertinya kalau tuan hanya menutup mata tuan dengan tangan saja, tuan bisa mengintip yang mengakibatkan saya merasa tidak nyaman nantinya. Jadi bagaimana kalau mata tuan, saya tutup dengan sapu tangan ini?"
Sheilla memperlihatkan sebuah sapu tangan di tangan kanannya. Ya walaupun lampu di ruangan tersebut sudah padam, tapi masih ada sedikit cahaya yang membuat ruangan itu menjadi remang-remang.
__ADS_1
"Apakah harus saya memakai sapu tangan itu untuk menutup mata saya?" Sheilla menganggukkan kepalanya.
"Iya karena saya benar-benar malu tuan. Jadi tuan mau ya memakai sapu tangan ini. Tuan tenang saja, selama permainan nanti saya yang akan memimpin. Tuan cukup tiduran saja dan menikmati. Gimana?" tanya Sheilla.
"Kamu yakin?"
"Tentu saja."
"Baiklah kalau begitu lakukan saja," ujar Raider yang diangguki antusias oleh Sheilla. Dan setelahnya perempuan itu membantu menutup mata Raider dengan selalu menghindari Raider yang berusaha untuk menyentuh tubuhnya.
"Sudah selesai. Sekarang tuan berbaring saja. Dan kita akan memulainya," ujar Sheilla membantu laki-laki tersebut untuk berbaring di atas ranjang. Tentunya Raider hanya bisa menuruti apa yang di perintahkan oleh Sheilla. Sehingga posisi dia saat ini sudah tiduran. Dimana saat itu, Sheilla berlagak ingin naik keatas ranjang namun dengan sengaja ia menghentikan aksinya itu.
"Tentu saja tuan. Tapi tunggu sebentar, sepertinya ada yang ketinggalan. Tuan punya alat pengaman kan? Saya takut saat kita berbuat seperti ini tanpa pengaman yang mengakibatkan saya mengandung nanti bisa membuat Bomi curiga. Pasalnya dia sudah tidak menyentuh saya selama 2 bulan lebih karena terlalu sibuk bekerja," ujar Sheilla.
"Baiklah. Ambil saja di laci nakas di sebelah kanan saya," ucap Raider.
"Baik tuan." Sheilla membuka laci tersebut hingga ia sempat tercengang kala melihat banyaknya alat pengaman disana. Dan sudah bisa di tebak jika Raider ini memang laki-laki hidung belang yang suka celup sana, celup sini.
__ADS_1
"Bagaimana? Ada kan?" Pertanyaan dari Raider tadi menyadarkan Sheilla dari keterbengongannya. Dan dengan cepat perempuan itu menolehkan kepalanya kearah Raider, tapi tangannya bergerak memasukkan alat pengaman itu ke tasnya hingga tak tersisa. Lalu barulah ia menutup kembali laci itu sembari berkata, "Tidak ada tuan. Saya sudah mengintip dengan dibantu flash ponsel juga tetap tidak menemukan alat itu. Apa tuan punya persediaan yang lain?"
Raider menghela nafas panjang sebelum ia menjawab, "Ada, saya simpan di laci bagian bawah di meja kerja saya. Jadi kamu tunggu disini saja. Saya---"
Saat Raider ingin membuka penutup matanya dengan cepat Sheilla menghentikannya.
"Tidak perlu tuan. Tuan tetap disini saja biar saya yang ambil. Dan tuan tenang saja kok, saya tidak akan kabur dari tuan. Jadi tuan tetap diam disini, tanpa membuka penutup mata sebelum kita selesai melakukan hubungan. Oke tuan?" Lagi-lagi Raider menghela nafas panjang.
"Baiklah ambil saja. Tapi jika sampai kamu kabur, saya tidak akan segan-segan untuk membunuhmu," ancam Raider.
"Saya masih sayang nyawa saya tuan jadi tuan tenang saja," ujar Sheilla.
"Kalau begitu saya ke meja kerja tuan dulu. Jangan kemana-mana. Oke dan jangan buka penutup kepalanya. Saya hanya sebentar saja."
"Baiklah-baiklah. Terserah kamu. Jangan banyak bicara lagi sekarang pergilah!" ujar Raider yang sudah tidak bisa menahan lagi napsunya.
Sedangkan Sheilla yang diusir pun, ia tersenyum penuh arti. Dan tak menunggu lama, Sheilla berlari menuju ke pintu keluar ruangan tersebut, membuka kunci pintu itu kemudian ia keluar tak lupa menutup pintu lagi.
__ADS_1
Dan dengan langkah kaki yang mendekati meja kerja Raider, Sheilla berucap, "Dasar laki-laki bodoh. Bisa-bisanya dia percaya begitu saja denganku. Tanpa curiga sedikitpun. Ck Ck Ck, baru kali ini aku menemukan laki-laki sebodoh dia. Dan siapa juga yang mau melakukan hubungan dengan dia. Mimpinya terlalu ketinggian. Dan siap-siap saja, setelah ini kamu akan menemukan sebuah kehancuran."
Setelah mengucapkan sepatah kata itu, dengan tatapan mata mengarah ke pintu ruang pribadi milik Raider, tangan Sheilla bergerak, menancapkan flashdisk ke laptop Raider dengan sesekali matanya bergerak aktif menatap ke layar laptop ataupun ke arah pintu utama ruang kerja Raider dan ruang pribadi laki-laki itu. Takutnya ada yang menangkap basah dirinya saat tengah beraksi.