
Dihari berikutnya sebelum semua orang yang ada mansion tersebut bangun dari tidur mereka, Mama Ciara dan Papa Devano telah sampai di mansion itu setelah menempuh perjalanan jauh selama berjam-jam itu.
Dengan menekan bel mansion tersebut berkali-kali akhirnya pintu utama mansion tersebut terbuka juga.
"Dimana Al berada?" tanya Mama Ciara yang sudah siap memarahi Digo karena ulah anaknya itu.
Bik Nah yang membuka pintu mansion tersebut dengan mata sayunya, mata itu kini terbuka lebar saat tau orang yang tengah bertamu pagi-pagi buta seperti ini adalah kedua orangtua tuannya itu.
"Ahhhh tuan Digo hmmmm anu---"
"Ck, katakan saja bik Nah. Dimana dia berada?" tuntut Mama Ciara tak sabaran dan hal tersebut membuat bik Nah kini menggigit bibir bawahnya.
"Arkhhhh lama," ujar Mama Ciara sebelum dirinya beranjak dari depan bik Nah tadi, ia berniat untuk mencari keberadaan putranya itu sendiri.
Sedangkan Papa Devano, ia hanya bisa menghela nafas panjang.
"Bik, bisa bantu saya bawa koper ini ke kamar? Soalnya saya akan menyusul istri saya dulu takut dia ngamuk nanti," ujar Papa Devano sembari menyerahkan dua koper ditangannya itu kepada bik Nah yang langsung di terima oleh wanita paruh baya itu. Sebelum dirinya berlari kecil menyusul kepergian sang istri.
Dan kepergian dua orang tadi membuat bik Nah gelisah, ia takut mereka berdua nanti akan melihat Sheilla dan Digo berada didalam satu kamar yang sama yang akan membuat mereka berdua berpikir yang macam-macam dan ia juga takut Sheilla lah yang akan di tuduh oleh keduanya.
__ADS_1
"Ya Tuhan tolong lindungi Sheilla. Semoga saja Sheilla malam ini tidur bersama dengan Nona Kiya bukan dengan tuan Digo," ucap bik Nah benar-benar khawatir dengan nasib Sheilla jika mereka benar-benar mengetahui hal itu.
Disisi lain, Mama Ciara kini telah sampai di kamar lama milik Digo dan tanpa permisi terlebih dahulu, ia langsung membuka pintu kamar Digo itu dimana ia justru menemukan jika kamar itu tengah kosong.
"Dimana anak nakal itu berada?" gumam Mama Ciara sebelum dirinya mengayunkan kakinya menuju ke kamar di sebelah kamar lama Digo itu. Ia pikir Digo tengah bersembunyi saat ini karena takut ketahuan dan di marahi habis-habisan olehnya.
Tapi lagi-lagi saat dirinya membuka pintu kamar itu, ia tak menemukan orang yang ia cari. Hingga membuat dirinya sebal sebelum dirinya berlari kecil menuju ke arah lift dimana didalam lift itu masih ada Papa Devano yang baru saja berniat untuk keluar dari lift itu. Namun ia urungkan dan memilih untuk tetap berdiri di dalam lift tersebut sampai sang istri masuk.
"Apa Al tidak ada di kamarnya?" tanya Papa Devano dengan hati-hati takut jika dirinya akan dijadikan pelampiasan amarah dari istrinya itu.
"Tidak," jawab Mama Ciara benar-benar ketus dengan tangan yang kini menekan tombol angka tiga. Sedangkan Papa Devano, ia hanya menganggukkan kepalanya untuk menimpali ucapan dari sang istri tadi. Dan setelahnya mereka berdua hanya saling diam saja. Hingga pintu lift itu terbuka kembali. Dan tanpa mengajak suaminya, Mama Ciara lagi-lagi berlari dimana tujuannya sekarang adalah mengecek setiap kamar yang ada di lantai tiga mansion tersebut diikuti oleh Papa Devano di belakangnya.
Satu persatu ruangan itu ia buka hingga tersisa satu kamar lagi yang belum ia periksa. Harusnya ada dua kamar sih, tapi mereka berdua tau jika kamar yang satunya itu adalah kamar Kiya yang di buat khusus untuk gadis itu dari Digo jika dirinya menginap di mansion itu. Jadi sudah tidak mungkin jika kamar Kiya sekarang tengah di tempati oleh Digo dan kekasihnya yang katanya ingin melahirkan itu.
"Ya Tuhan. Alsheyrez!" teriak Mama Ciara yang membuat Papa Devano langsung menutup kedua telinganya. Sedangkan Digo dan Sheilla yang tadi tertidur nyenyak harus terbangun dari mimpi indah mereka. Tak hanya dua orang itu saja yang terbangun dari tidurnya, melainkan Kiya yang berada di kamar sebrang pun ia terkejut bukan main dan dengan cepat ia berlari keluar dari kamarnya.
"Lho ehhhh emak sama bapak udah nyampe tenyata. Huh pantas saja tadi aku dengar suara teriakan maut dari si emak-emak rempong itu. Ahhhh tapi tak apa pasti sebentar lagi Abang kena omel Mama. Lihat ah kayaknya seru tuh," ucap Kiya dan tanpa memperdulikan penampilannya yang acak-acakan ia berjalan mendekati kamar Digo.
Sedangkan Digo dan Sheilla yang tadi sempat terkejut, Digo kembali di kejutkan saat melihat kedua orangtuanya berdiri di ambang pintu kamar itu dengan aura marah yang melekat di tubuh Mamanya itu.
__ADS_1
Sheilla yang masih mengumpulkan nyawanya, ia menolehkan kepalanya kearah pintu kamar tersebut dimana saat dirinya memperlihatkan wajahnya, Mama Ciara dan Papa Devano terdiam bahkan aura kemarahannya tadi perlahan memudar.
Sheilla yang tak tau siapa orang yang tengah menatapnya itu, ia kembali menolehkan kepala kearah kekasihnya.
"Mereka siapa?" tanya Sheilla yang membuat Digo menatapnya.
"Meraka orangtuaku," jawab Digo.
"Oh orangtuamu," ucap Sheilla dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun beberapa saat setelahnya, ia langsung melebarkan matanya, rasa kantuk yang tadi masih melanda dirinya kini hilang begitu saja.
"Apa mereka orangtuamu?" tanya Sheilla yang diangguki oleh Digo. Dan hal tersebut membuat Sheilla dengan cepat ia segara beranjak dari atas ranjang tersebut hingga tak sengaja kakinya tersandung selimut yang ia gunakan tadi sampai membuatnya terjatuh.
Brukkk!
"Sheilla!" teriak Digo.
"Awas Yura!" teriak Mama Ciara dan Papa Devano secara serempak yang membuat Digo yang kini membantu Sheilla bangkit dari posisi terjatuhnya, menolehkan kepalanya kearah kedua orangtuanya itu. Tak hanya Digo saja yang refleks menatap kearah sepasang suami-istri tersebut kala mendengar nama yang baru saja keluar dari bibir keduanya, melainkan Kiya dan Sheilla pun juga turut menatapnya.
Bahkan Kiya yang tadi berada di luar kamar pun, ia kini mendekati kedua orangtuanya itu bahkan ia sekarang berdiri didepan Papa Devano dan Mama Ciara.
__ADS_1
"Ma, Pa, Kiya tadi tidak salah dengar kan?" tanya Kiya yang membuat Papa Devano dan Mama Ciara saling pandang dengan tatapan yang sangat berbeda.
"Calon Kakak ipar itu namanya Sheilla, Ma, Pa, bukan Yura," ujar Kiya kembali. Ia benar-benar tak ingin membuat Abangnya itu bersedih saat laki-laki itu mendengar nama sahabat masa kecilnya itu kembali apalagi sampai membuat hubungan Digo dan Sheilla renggang. Duhhhh bisa gawat dan tentunya Kiya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.