
Digo dan Sheilla telah selesai memilih dan mencoba pakaian yang akan mereka kenakan saat acara akad dan resepsinya nanti. Bahkan keduanya juga sudah membeli sepasang cincin pernikahan untuk mereka. Dan kini keduanya tengah berada di jalan menuju ke tempat yang penuh dengan kenangan, dimana tempat itu adalah tempat pertama kali pertemanan keduanya terjalin.
"Apakah tempatnya masih lama?" tanya Sheilla tak sabaran.
"Sebentar lagi akan sampai," jawab Digo dengan senyumannya.
"Ishhhh kenapa dari tadi kamu bilang sebentar lagi sebentar lagi tapi kita gak sampai-sampai juga. Ck," ujar Sheilla dengan berdecak kesal yang membuat Digo kini terkekeh kepadanya.
"Kalau sekarang emang kurang sebentar lagi sayang. Tinggal kita masuk ke gang itu saja. Kamu juga gak sabaran banget jadi orang," tutur Digo sembari membelokkan mobilnya masuk ke gang kecil dimana di gang tersebut keduanya sudah di suguhkan dengan pemandangan sebuah hutan lebat.
"Kamu yakin disini sayang?" tanya Sheilla dengan takut.
"Ya. Kan kamu sendiri dulu yang milih tempatnya di tengah-tengah hutan seperti ini. Dan sekarang kita sudah sampai," ujar Digo sebelum dirinya turun dari dalam mobilnya. Tak lupa setelahnya ia membukakan pintu mobil untuk calon istrinya itu.
Sheilla yang sudah keluar dari dalam mobil, ia mengedarkan pandangannya mencari dimana letak rumah pohon tersebut yang sama sekali tak ia lihat saat ini.
"Lah katanya kita sudah sampai. Tapi kok aku gak lihat rumah pohon itu?" ucap Sheilla.
"Kita memang sudah sampai sayang tapi untuk melihat rumah pohonnya kita harus ke jalan sempit itu yang hanya bisa di lalui dengan berjalan kaki," kata Digo lalu dengan menggandeng tangan calon istrinya tersebut ia mulai melangkahkan kakinya dimana hal tersebut membuat Sheilla mau tak mau mengikuti langkah kaki Digo.
Dan hanya menempuh waktu 10 menit, akhirnya mereka telah sampai di tempat penuh kenangan tersebut yang membuat Sheilla berdecak kagum dengan keindahan alam yang ada di sekitar rumah pohon tersebut.
"Wahhhhh indah banget. Kayaknya aku bakal betah seharian ada disini." Digo tersenyum kala mendengar ucapan dari kekasihnya tersebut.
"Pemandangannya akan lebih indah lagi kalau kita lihat dari rumah pohon. Jadi ayo kita naik keatas sekarang." Sheilla menganggukkan kepala. Ia juga sudah tidak sabar melihat isi yang berada di dalam rumah pohon tersebut.
__ADS_1
Lagi-lagi Sheilla di buat berdecak kala melihat isi dari rumah pohon yang terlihat seperti rumah betulan karena ada satu ranjang berukuran cukup jika di gunakan untuk berdua, sofa, meja, dan perlengkapan dapur.
"Rumah pohon ini aku renovasi biar lebih kokoh lagi dan biar bisa buat kita istirahat saat kita kesini. Jadinya aku bentuk rumah pohon ini seperti rumah pada umumnya yang tidak akan ambruk kalau suatu saat kita punya baby banyak dan mereka lari-larian disini," ujar Digo. Ya walaupun diawal dirinya merenovasi rumah pohon itu bukan dengan tujuan yang ia katakan tadi tapi dengan alasan supaya rumah pohon itu tidak akan rusak di makan waktu.
Sheilla mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mata yang menatap kesegala sisi rumah pohon tersebut hingga ia kini melihat ada begitu banyak polaroid yang terpasang di sisi ranjang.
Sheilla yang penasaran pun ia berjalan mendekati foto tersebut. Dan sesampainya ia di depan foto itu, ia tersenyum melihat kekonyolan dari dirinya juga Digo dulu.
Hingga tatapannya itu teralihkan kala ia merasa ada sebuah tangan yang melingkar indah di pinggangnya.
"Lucu kan saat kita masih kecil dulu," ucap Digo dengan menaruh dagunya di pundak sang kekasih.
"Benar sekali. Kita terlihat lucu dan konyol."
"Oh ya dan kamu tau, bando yang kamu pakai di foto ini adalah barang yang pertama kali aku berikan ke kamu." Digo menujuk kearah salah satu foto tersebut.
"Ya dan mungkin bando itu sudah hilang sekarang," ucap Digo yang entah kenapa ia merasa bersedih hati.
Sheilla kini melepaskan pelukan Digo tadi lalu setelahnya ia memutar tubuhnya agar bisa berhadapan langsung dengan kekasihnya tersebut kemudian ia menangkup kedua pipi Digo.
"Kata siapa bando itu hilang? Aku pernah melihat bando itu di kotak milikku yang disembunyikan oleh nenek waktu aku mengurung diri di kamar Nenek." Sheilla menggigit bibir bawahnya.
Sedangkan Digo, ia memincingkan alisnya.
"Kotak?" beo Digo.
__ADS_1
"Hmmm begini, Dear. Aku akan jujur sama kamu kali ini, kalau aku waktu itu sebenarnya menemukan satu buah kotak besar dimana didalam kotak itu terdapat pakaian, pernak pernik anak kecil, album juga satu benda," ucap Sheilla dengan tangan yang bergerak untuk mengambil kotak kecil. Dimana saat ia mendapatkan kotak kecil itu dari dalam tas kecil yang ia bawa, ia langsung membuka kotak tersebut dimana terdapat kalung yang sama persis dengan kalung milik Digo.
"Ini?" beo Digo sembari mengambil kalung tersebut dari kotaknya.
"Ya. Kalung itu adalah kalung couple kita. Dan selain aku menemukan kalung tersebut aku juga menemukan sebuah foto masa kecilku dengan Bunda dan Papa. Aku saat menemukan foto itu aku juga sempat terkejut. Tapi karena aku belum percaya 100% aku tidak berani bilang sama kamu dan terpaksa harus berbohong dan semuanya terbongkar dihari dimana kita berkunjung ke rumah Bunda dan Papa terakhir kalinya hingga membuat sebagian ingatanku kembali. Jadi aku mohon maafkan aku karena sudah membohongimu," ucap Sheilla.
Dimana hal tersebut membuat Digo kini menghela nafas sebelum ia meraih tubuh Sheilla untuk ia peluk.
"Aku memaafkanmu. Tapi jangan pernah berbohong lagi untuk lain kali. Kamu mengerti sayang?"
"Iya aku mengerti. Terimakasih sayang." Digo menganggukkan kepalanya.
Lalu setelahnya, ia melepaskan pelukannya.
"Hadap belakang," titah Digo.
"Mau apa?"
"Udah nurut aja," ujar Digo yang membuat Sheilla hanya bisa pasrah saja dan kini dirinya memutar tubuhnya hingga membelakangi tubuh Digo.
Digo yang sudah melihat Sheilla memunggunginya pun ia segera memasangkan kalung yang berada ditangannya.
Dimana hal tersebut membuat Sheilla tersenyum.
Dan setelah Digo selesai memasangkan kalung tersebut, lagi-lagi ia memeluk tubuh Sheilla dari belakang.
__ADS_1
"Kalung ini sudah menyatu di leher kita masing-masing. Dimana itu menandakan jika kita sudah bersama kembali. Dan aku mohon jangan pernah pergi lagi dariku jika kamu tidak mau melihatku hancur untuk kedua kalinya. Tetaplah bersamaku sampai akhir hayatku, Ayura Gearge Fabian atau Arsheilla Anastasya. Aku sangat-sangat mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini," ucap Digo yang berhasil membuat hati Sheilla tersentuh dibuatnya.
"Aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi. Dan aku juga sangat-sangat mencintaimu Alsheyres Devra Rodriguez," balas Sheilla dengan memberikan elusan di punggung tangan Digo yang berada di perutnya itu.