
Di hari berikutnya, seperti yang dikatakan oleh Digo sebelumnya jika mereka berdua akan kembali berkunjung ke rumah Bian dan Franda. Dan mereka berdua kini telah berada di jalan menuju rumah tersebut. Tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka berdua karena keduanya telah fokus dengan pikiran mereka masing-masing.
Hingga mobil yang dikendarai oleh Digo kini telah berhenti kala telah sampai di rumah mewah milik Bian dan Franda itu.
Dan dengan berjalan beriringan, keduanya kini melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama rumah tersebut.
Dan sesampainya mereka berdua di depan rumah itu, kedua orang yang menjaga rumah tersebut langsung membukakan pintu rumah itu untuk kedua orang yang mereka kenali.
"Terimakasih," ucap Sheilla yang ia tunjukkan kepada dua anak buah Bian tadi. Dimana ucapannya itu dibalas dengan anggukkan oleh keduanya.
Dimana anggukan kepala dua anak buah Bian tersebut membuat Digo dan Sheilla melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah tersebut.
"Aunty, Al dan Sheilla datang," teriak Digo menggema di seluruh rumah tersebut. Dimana teriakannya tersebut membuat wanita paruh baya itu berlari dari taman belakang menuju ke sumber suara.
"Ya ampun dua anakku datang lagi," heboh Franda yang membuat Sheilla juga Digo tersenyum kearahnya.
Dan sesampainya Franda didepan kedua orang tersebut, Digo langsung menyalami tangan Franda begitu juga dengan Sheilla.
"Duduk dulu nak," ucap Franda sembari menggiring Digo dan Sheilla menuju ke sofa diruang tamu tersebut.
Dan baru ketiganya mendudukkan tubuhnya di sofa tersebut, Franda kembali berteriak.
"Mbak! Tolong buatkan minuman untuk kedua anakku ini! Jangan lupa ambilkan makanan juga untuk mereka juga!" teriakan cetar membahana dari Franda itu, membuat salah satu art di rumah tersebut yang mendengarnya langsung berlari menuju ke dapur melakukan apa yang di perintahkan oleh Franda tadi.
Sedangkan Franda, ia tak melunturkan senyumannya. Sepertinya wanita paruh baya itu sangat senang mendapatkan tamu itu.
Mereka bertiga terus saling diam sampai makanan dan minumannya yang tadi sempat dibuat kini sudah sampai di atas meja depan dua orang tadi.
"Silahkan di minum, tuan, nona," ucap art yang membawa minuman serta cemilan itu.
"Terimakasih bik," balas Digo maupun Sheilla yang diangguki oleh art tadi sebelum art tersebut pergi dari hadapan ketiga orang yang berada di ruang tamu tersebut.
__ADS_1
"Ayo-ayo dimakan atau di minum," ujar Franda yang diangguki oleh Sheilla namun berbeda dengan Digo yang membalas ucapan Franda itu.
"Nanti dulu lah, Aunty. Al mau menyelesaikan urusan Al sama Uncle. Uncle ada di rumah kan?" tanya Digo.
"Yahhhh Uncle kamu baru saja pergi tadi ke kantor. Ada meeting penting katanya tadi. Kalian juga sih kenapa kesini gak kasih tau Aunty atau Uncle dulu. Kalau kita tau kalian mau kesini lagi kan Uncel tidak akan pergi ke kantor tadi dan Aunty bisa menyiapkan makanan hasil tangan Aunty sendiri. Dan untuk kamu Al, ada urusan apa sih kamu sama Unclemu itu?" tanya Franda penasaran.
"Biasa, urusan pekerjaan," jawab Digo yang diangguki oleh Franda.
"Urusan pekerjaan ya. Hmmm kalau begitu tunggu saja sampai Uncel kamu pulang dulu. Mungkin Uncelmu itu pulang nanti siang," balas Franda.
"Harusnya sih memang lebih baik menunggu Uncle sampai pulang. Tapi Al kan juga harus kerja dulu Aunty. Dan kalau Al mau kerja di sini, Al gak bawa laptop untuk mengerjakan pekerjaan Al," ucap Digo yang sepertinya ada misi terselubung dalam ucapannya itu.
"Hmmmm benar juga. Tapi tunggu dulu, bagaimana kalau kamu pakai laptop punya Aunty saja. Laptop Aunty ada di kamar, kamu ambil saja sendiri sana." Ucapan dari Franda tadi membuat Digo menghela nafas, ia kira wanita paruh baya tersebut menyuruh dirinya untuk memakai laptop atau komputer milik Bian yang otomatis akan membuat Digo nantinya akan masuk kedalam ruang kerja laki-laki itu yang sejak kemarin di curiga oleh Digo. Tapi ternyata tebakkannya itu tidak menjadi kenyataan.
Namun walaupun begitu, ia harus memutar otaknya agar ia tetap bisa masuk kedalam ruang kerja Bian itu.
"Tapi Al harus punya tempat untuk mengerjakan pekerjaan Al ini Aunty. Al harus punya ruangan sendiri," ujar Digo.
"Baiklah kalau gitu Al mau pakai kamar tamu yang ada di lantai dua," pinta Digo.
Sheilla yang mendengar permintaan Digo itu ia memukul pelan paha kekasihnya itu yang membuat Digo menatap kearahnya.
"Kamu apa-apaan sih yang sopan ih. Ini di rumah orang soalnya. Untung-untung kamu dipinjami laptop sama Bunda. Dan jangan ngelunjak mau pinjam kamar segala," ucap Sheilla dengan suara lirih berharap Franda tidak mendengar suaranya itu.
Ia tau saat Digo bekerja ia harus berada didalam ruangan tersendiri saat berada di tempat lain selain kantornya dengan alasan dia tidak mau fokus kerjanya itu terbagi atau malah buyar.
Sedangkan Franda yang masih bisa mendengar suara Sheilla pun ia tersenyum dan sebelum Digo membalas ucapan dari Sheilla tadi, ia lebih dulu angkat suara.
"Al kalau ada disini sudah biasa seperti itu Sheilla. Jadi kamu jangan heran dia masuk kedalam ruangan manapun di rumah ini karena Bunda dan Papa sudah mengizinkan dia untuk melakukan apapun yang dia mau di rumah ini dan kita berdua juga sudah menyuruh dia untuk menganggap rumah ini seperti rumahnya sendiri. Dan ini juga berlaku buat kamu mulai sekarang Sheilla, lakukan apapun yang kamu mau dan anggap rumah ini seperti rumahmu sendiri," balas Franda dan saat ia melihat Sheilla ingin menimpali ucapan darinya tadi, Franda lagi-lagi mencegahnya.
"Eitssss tidak ada penolakan sama sekali. Dan kamu Al, kalau kamu bekerja terlebih dulu, segeralah bekerja sana. Biar Sheilla sama aunty dulu," ucap Franda yang diangguki oleh Digo. Lalu setelahnya laki-laki itu berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Aku kerja dulu. Kamu sama Aunty," kata Digo yang ia tujukan kepada kekasihnya itu dimana Sheilla kini menghela nafasnya sebelum ia menganggukkan kepalanya.
Digo yang melihat anggukkan kepala Sheilla, ia memberikan kecupan di puncak kepala kekasihnya itu sebelum tatapan matanya beralih menatap kearah Franda.
"Izin masuk kamar pribadi Aunty. Dan izin menempati kamar tamu diatas." Franda menganggukkan kepalanya.
"Tempat kunci kamu tau sendiri kan?"
"Ya Al tau."
"Ya sudah kalau begitu jangan manja dan ambil sendiri," ucap Franda yang membuat Digo kini mencebikkan bibirnya.
"Tanpa disuruh sekalipun Al juga akan ambil sendiri," ucap Digo lalu setelahnya ia melengos pergi begitu saja menuju ke tempat kunci yang berada di sebelah ruang keluarga di lemari kaca yang tertempel di tembok itu.
Digo yang sudah sampai di depan lemari itu ia ingin membuka pintu lemari tersebut namun tak bisa.
"Haishhhh. Aunty lemarinya dikunci!" teriak Digo yang membuat Franda memutar bola matanya malas.
"Mbok Lu!" teriak Franda dan tak berselang lama ada salah satu wanita paruh baya menghampirinya.
"Ya nyonya?"
"Tolong bantu Al untuk ambil kunci di lemari," ucap Franda.
"Baik nyonya." Mbok Lu langsung berlari kecil menuju kearah Digo yang masih berdiri di depan lemari kaca tersebut.
"Tuan muda. Ini kuncinya," ucap Mbok Lu sembari menyerahkan kunci lemari kaca tersebut dimana langsung diterima oleh Digo.
"Terimakasih ya Mbok. Nanti aku akan kembalikan kalau sudah selesai," ujar Digo.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Mari tuan muda." Dengan senyumannya juga dengan anggukan kepala Digo membalas ucapan dari Mbok Lu tadi.
__ADS_1
Dan setelah Digo melihat wanita paruh baya itu pergi dari sisinya. Ia mulai membuka pintu lemari tersebut. Dimana saat sudah terbuka, bukannya ia hanya mengambil satu kunci kamar tamu yang ingin ia tempati tadi dan juga kunci cadangan kamar pribadi Franda dan Bian, melainkan ia juga mengambil satu lagi kunci yang merupakan kunci cadangan dari ruang kerja Bian. Dan dengan senyuman di bibirnya ia menyimpan satu kunci yang merupakan kunci ruang kerja Bian itu kedalam saku celananya sebelum dirinya mengunci kembali pintu lemari tersebut dan bergegas menuju ke lantai dua di rumah itu.