
Digo akhirnya melepaskan ciumannya itu dari bibir Sheilla saat dirinya melihat jika kekasihnya itu mulai kehabisan oksigen di tubuhnya. Dan dengan posisi yang masih mengukung tubuh Sheilla, Digo mulai angkat suara saat Sheilla ingin protes dan mengomel lagi kepadanya.
"Jika kamu masih mau marah-marah seperti tadi dan menuduhku yang tidak-tidak tanpa tau kebenarannya, siap-siap saja kamu akan aku cium 24 jam dalam 7 hari." Ucapan dari Digo itu berhasil membuat Sheilla langsung mengatupkan mulutnya kembali.
"Dan aku akan meluruskan apa yang sudah di ucapkan oleh Wisma sialan itu. Dan jangan memutus ucapanku sebelum aku selesai berbicara," ucap Digo yang hanya di balas Sheilla dengan memutar bola matanya malas. Dan hal itu membuat Digo mendelik tak suka.
"Sop mata manusia sepertinya enak sayang," ujar Digo yang membuat Sheilla berdecak sebal karena ia tau sindiran dari laki-laki itu adalah untuknya.
"Baiklah, aku akan mulai meluruskan tentang kesalahpahaman ini. Dengar baik-baik. Aku akui memang aku mengenal seorang perempuan cantik, imut, lucu dan menyebalkan itu dan perempuan itu bernama Yura. Anak kecil yang benar-benar tangguh karena di usianya yang waktu itu baru 9 tahun dia sudah melewati banyak hal yang benar-benar sangat membahayakan. Dia sahabat kecilku, sahabat perempuan satu-satunya yang aku punya. Lucu jika aku memutar lagi kilas bayangan waktu kita berdua bersama dulu. Banyak hal yang dia ajarkan kepadaku. Dan dia salah satu orang atau mungkin dia satu-satunya orang yang merubahku menjadi seseorang penuh dengan kehangatan waktu itu, orang yang selalu tersenyum dan orang yang menjadi alasanku untuk tersenyum. Tapi dia juga orang yang sudah membuatku menjadi seperti yang kamu lihat beberapa bulan yang lalu, laki-laki dingin dan kejam, tidak ada senyum ataupun kehangatan pada diriku sebelum akhirnya aku menemukanmu yang berhasil membuatku berubah kembali ke sosok diriku dulu saat bersama dengan Yura."
Digo tampak menghela nafas saat merasakan sesak di dadanya kala mengenang kembali sosok sahabat kecilnya itu.
"Jika kamu tanya, kenapa aku sering bercerita tentang Yura kepada Wisma karena waktu itu aku berpikir tidak akan ada orang yang bisa menggantikan Yura di hatiku. Aku akui jika Yura ternyata sudah berhasil merebut hatiku dan membuatku merasakan yang namanya cinta monyet waktu itu. Tapi ternyata pikiranku itu salah setelah aku bertemu denganmu, sayang. Perempuan yang membuatku kembali merasakan jatuh cinta, perempuan yang sudah merubah hidupku menjadi berwarna. Dan jika kamu tanya dimana Yura sekarang berada, maka akan aku jawab jika dia sekarang sudah berada di surga," ujar Digo yang membuat Sheilla tampak terkejut.
"Di surga? Apa maksudmu jika dia---"
"Ya, dia sudah meninggal beberapa bulan setelah kita bersahabat. Diusia dia yang baru berusia 9 tahun," ucap Digo yang berusaha menahan air matanya.
Sheilla yang melihat mata kekasihnya yang tengah berkaca-kaca pun ia dengan sekali sentakan melepas cengkraman di pergelangan tangannya itu saat laki-laki tersebut mulai melemah dan setelahnya ia meraih tubuh Digo dan memeluk kekasihnya itu.
__ADS_1
Digo yang mendapat pelukan dan ia sadar jika posisinya menindih Sheilla pun dengan cepat ia merubah posisi mereka berdua sehingga Sheilla lah yang saat ini berada di atas tubuhnya.
Sheilla yang sempat terkejut dan ingin beranjak dari atas tubuh Digo, pergerakannya itu ia urungkan saat Digo memeluk tubuhnya dengan sangat erat dan dia hanya bisa pasrah saja dengan tangan yang kini bergerak untuk mengelus lengan kekasihnya itu sebelum dirinya kini melayangkan sebuah pertanyaan kepada Digo.
"Jika boleh tau, Yura meninggalnya karena apa?"
"Kecelakaan. Dan itu semua karena kesalahanku. Aku teledor dalam menjaga dia. Jika saja waktu itu aku tidak teledor, dia pasti masih ada di dunia ini sekarang," sesal Digo yang diam-diam air matanya sudah menetes begitu saja.
"Jangan menyalakan dirimu sendiri. Apa yang sudah terjadi kepada sahabat kecilmu itu memang sudah menjadi takdirnya. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri karena aku yakin Yura pasti tidak akan suka kamu terus menerus menyalakan diri kamu seperti ini. Jadi stop, oke," ucap Sheilla yang sudah tidak marah lagi kepada Digo dan ia sekarang justru ikut merasakan kesedihan yang tengah Digo rasakan saat ini.
"Tapi aku masih penasaran kenapa kamu berkata jika dia melalui banyak hal bahaya? Memangnya hal apa saja yang telah dia lalui itu?" tanya Sheilla benar-benar kepo akan sahabat masa kecil kekasihnya itu dengan tangan yang kini bergerak untuk menghapus air mata Digo.
"Kalau gitu aku akan menceritakan semua tentang kehebatan dia. Tapi janji jangan cemburu nanti," ujar Digo yang lagi-lagi diangguki oleh Sheilla.
"Janji dulu dong." Digo menyodorkan jari kelingkingnya kearah Sheilla.
"Ishhhh iya-iya. Aku janji tidak akan cemburu," ucap Sheilla sembari mengaitkan jari kelingkingnya itu ke jari kelingking Digo.
"Udah kan janjinya. Kalau udah, cepat ceritakan semuanya tentang Yura. Aku benar-benar penasaran hal apa saja yang sudah dia lalui," tutur Sheilla yang membuat Digo kini terkekeh dengan tangan yang kini bergerak untuk mengacak rambut kekasihnya itu sebelum dirinya mengubah posisi mereka saat ini menjadi terduduk dengan tubuh Digo yang bersandar di kepala ranjang tersebut. Sedangkan tubuh Sheilla berada di pangkuannya.
__ADS_1
Dan dengan memeluk erat tubuh kekasihnya itu juga menyandarkan kepalanya di bahu Sheilla, ia mulai menceritakan semuanya tentang Yura. Mulai pertemuan pertama Digo dengan sahabat kecilnya itu hingga sampai kejadian dimana hal yang paling menyakitkan terjadi di hidup Digo yaitu dengan meninggalnya Yura, sosok gadis kecil yang sempat mewarnai dan merubah hidupnya.
Sheilla yang mendengar cerita tentang Yura, ia terus menyimaknya dengan tenang bahkan tak urung air matanya pun menetes, menangisi penderita Yura.
"Hiks kenapa sad banget sih perjalanan hidup Yura. Hiks," ucap Sheilla dengan sesenggukan.
"Lho kok kamu malah nangis sih, sayang. Kalau kamu nangis gini lebih baik aku tidak akan menceritakan semuanya tentang Yura," ujar Digo dengan mengusap air mata Sheilla.
"Cerita Yura benar-benar sad, jadi tidak bisa jika aku tidak menangis. Jadi kamu melihat dia terakhir kalinya saat ulang tahunmu?" tanya Sheilla yang diangguki oleh Digo.
"Ya, dan kamu mau lihat barang yang terakhir kali Yura berikan kepadaku dan barang itu menjadi kado terakhir dari dia?" tawar Digo.
"Memangnya boleh?" tanya Sheilla dengan menolehkan kepala kearah Digo.
Digo yang gemas dengan kekasihnya itu pun ia mencubit gemas hidung Sheilla yang memerah itu.
"Tentu saja. Tapi kita harus ke kamar dulu. Karena barang itu ada di sana," ujar Digo yang membuat Sheilla langsung turun dari pangkuan Digo kemudian ia berlari menuju ke kamar mereka berdua yang berada di lantai 3 mansion tersebut meninggalkan Digo yang kini tersenyum melihatnya.
"Tingkah Yura sangat sama persis dengan tingkahmu, Sheilla. Menyebalkan tapi juga membuat hatiku menjadi hangat," gumam Digo sebelum dirinya mulai melangkahkan kakinya mengikuti perginya Sheilla.
__ADS_1