
Dipagi harinya seperti yang dijanjikan oleh Digo kemarin jika hari ini adalah hari keberangkatan digo dan Sheilla ke negara kelahiran mereka. Tentunya tidak dengan kedua orangtua Digo dan Kiya yang masih ingin berlibur di negara Paris, Prancis itu. Tapi tidak dengan Franda dan Bian yang ikut pulang dihari yang sama dengan Sheilla juga Digo.
"Hati-hati kalian semua. Jika sudah sampai jangan lupa kabarin ya!" teriak Mama Ciara sembari melambaikan tangannya kearah keempat orang yang sudah berjalan meninggalkan Mama Ciara, Papa Devano dan Kiya yang masih cemberut itu.
"Siap. Nanti aku kabari kalau sudah sampai. Bye Ciara sampai bertemu lagi di Indonesia saat kamu pulang nanti!" Balas Franda dengan teriakan pula bahkan ia sempat melompat-lompat seperti anak kecil yang akan berpisah dengan temannya. Bahkan ia tak peduli jika dirinya tengah menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya.
"Sumpah demi apapun, dia bukan istriku," gumam Bian yang berada disamping Digo sembari menutup wajahnya dengan menggunakan satu tangannya.
Digo yang tadi sempat mendengar perkataan dari Bian pun ia terkekeh sebelum dirinya bersuara.
"Aunty," panggil Digo yang membuat aksi melompat-lompat Franda tadi terhenti.
"Ya? Kenapa Al?" tanya Franda.
"Al tadi sempat mendengar jika Uncle bian berkata kalau aunty itu bukan istrinya." Bian yang mendengar ucapan dari Digo itu ia memelototkan matanya.
"Apa?" kaget Franda sebelum ia memberikan tatapan tajamnya kepada sang suami. Bahkan tangannya kini sudah berkacak pinggang.
"Anuuu sayang. Kamu salah paham. Aku tidak pernah mengatakan hal itu. Dan mungkin Al salah dengar kali."
"Al tidak salah dengar Tante. Tante percaya deh sama Al. Lagian Uncle ngapain sih gak ngakuin aunty Franda yang cantik nan imut ini. Apa jangan-jangan Uncle mau cari pengganti aunty Franda lagi dengan perempuan bule disini. Wahhhhh Uncle parah banget," ucap Digo yang semakin membuat Franda panas mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu!" erang Franda dengan menunjuk kearah Bian yang membuat laki-laki itu menelan salivanya dengan susah payah.
"Sialan kamu Al! Seneng banget kalau lihat Uncle tersiksa!" gumam Bian dengan berancang-ancang untuk kabur.
"Sini kamu! Perlu dikasih pelajaran biar kamu tidak jelalatan lagi!" ucap Franda yang tangannya kini bergerak untuk menjewer telinga sang suami tapi pergerakannya itu kalah cepat dari Bian yang sekarang tengah berlari terbirit-birit menjauhi istrinya itu.
Franda yang tak mau kalah dan ingin sekali memberikan pelajaran kepada sang suami, ia ikut berlari mengejar Bian. Dan aksi kejar-kejaran dari dua orang itu, membuat Digo dan Sheilla terkekeh melihatnya.
"Untung saja pesawat yang akan kita tumpangi itu pesawat pribadi milik mereka jadi mau mereka berlari-larian sepuasnya terserah mereka," ucap Digo yang diangguki setuju oleh Sheilla dengan tatapan mata yang terus terfokus dengan aksi kejar-kejaran sepasang suami itu itu jangan lupakan senyumannya terus terlihat di wajah cantik Sheilla itu.
...****************...
Singkat cerita, setelah menempuh berjam-jam perjalanan akhirnya keempat orang tersebut kini telah sampai di negara Indonesia, negara kebanggaan mereka.
"Ehhhh gak bareng saja?" tanya Bian.
"Tidak Uncle karena kita berdua akan langsung menuju ke rumah Sheilla," jawab Digo.
"Ohhhh begitu, ya sudah tidak apa-apa. Tapi orang suruhan Devano sudah menjemput kalian kan?"
"Uncle tenang saja, orang yang menjemput kita sudah ada kok. Kalau begitu kita pamit dulu, Aunty, Uncle." Digo menyalami Bian dan Franda secara bergantian, diikuti oleh Sheilla.
__ADS_1
"Iya. Kalian hati-hati ya. Dan kamu Al, jangan lupa bawa Sheilla ke rumah Aunty sama Uncle. Kita tunggu kalian berkunjung ke sana," ucap Franda.
"Tentu. Nanti Al akan ajak Sheilla main ke rumah Aunty sama Uncle. Kalau sekarang Al sama Sheilla pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati," ucap Franda dan Bian serempak yang diangguki oleh Digo dan Sheilla.
Disisi lain, tepatnya di negara Belanda, Henry dan anak buah Digo lainnya masih saja memantau pergerakan dari pengusaha tersebut.
"Bagaimana? Apakah kalian ada yang melihat aktivitas dari laki-laki itu yang kalian anggap mencurigakan?" tanya Henry dengan menatap 10 anak buah Digo yang berdiri dihadapannya. Dan ucapannya tadi dijawab dengan gelengan kepala oleh 10 anak buah Digo itu.
"Tidak ada?" tanya Henry heran.
"Tidak ada, tuan. Laki-laki itu saya rasa aman dan tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian pembebasan Yoga beberapa hari yang lalu itu. Kita juga tau sendirian bukan, jika kita selain mengerahkan penyusup untuk masuk kedalam lingkaran rumah serta kantornya dia, kita juga memasang CCTV di hampir setiap sudut rumah dia dan kantor dia. Bahkan kita juga menempelkan sebuah Chip ke mobil dia. Kita juga sudah meng hack ponselnya, tapi kita tidak menemukan apapun untuk mendukung kecurigaan kita kepada dia," ucap salah satu dari anak buah Digo itu.
Henry yang mendengar ucapan dari anak buah Digo pun ia kini terdiam dan membenarkan ucapan dari anak buah Digo itu. Karena memang dia tidak mendapatkan apapun atas penyelidik mereka selama 1 Minggu lebih ini.
"Sepertinya apa yang kamu katakan tadi benar. Tapi jika bukan dari mantan musuh Digo yang melakukannya, lalu siapa? Dan kenapa mereka bisa tau titik-titik dimana mansion Digo yang dijaga ketat dan tidak," ucap Henry benar-benar penasaran. Bisa-bisanya orang itu tau celah mereka untuk masuk kedalam mansion tersebut tanpa harus melawan banyaknya anak buah Digo yang lainnya.
"Saya juga tidak tau siapa dalang dibalik masalah ini. Tapi saya curiga jika dalang dari pembebasan Yoga beberapa hari yang lalu adalah orang yang sangat dekat dengan tuan Digo sendiri. Orang yang tentunya tau seluk beluk semua yang ada di mansion tuan Digo," ucap anak buah Digo yang membuat Henry mengerutkan keningnya.
"Orang terdekat Digo?" tanya Henry yang diangguki oleh anak buah Digo itu.
__ADS_1
"Kalau begitu siapa yang kamu curigai? Jika kamu menjawab orang yang kamu curigai itu adalah saya, saya tidak akan segan-segan merobek mulut kamu itu. Enak saja saya yang sudah bersama dengan Digo dari TK masak kamu curigai," ujar Henry. Ia tak terima kesetiannya kepada Digo harus tercoreng gara-gara satu orang yang mencurigai dirinya menusuk Digo dari belakang. Sorry to say, permainan itu tidak level untuk Henry.
"Bukan tuan Henry yang saya curiga melainkan orang lain, orang yang sebelum Yoga kabur, dia datang bertamu ke mansion tuan Digo," ujar anak buah Digo yang membuat Henry kini terdiam.