
Digo yang melihat keterdiaman dari Sheilla pun dengan gemas ia menenggelamkan wajahnya dibelahan dada Sheilla.
"Aws," rintih Sheilla saat ia merasa gigitan di buah dadanya. Dan tentunya itu karena ulah Digo.
Digo yang mendengar rintihan itu dengan cepat ia kembali menatap wajah Sheilla dari bawah.
"Sakit apa enak? Jika enak kita teruskan saja yuk program baby-nya," ucap Digo, sepertinya laki-laki itu memang sudah tak kuat menahan hasratnya.
Sheilla membelalakkan matanya dan dengan refleks tangannya menepuk pipi Digo lumayan keras yang membuat Digo kini mendudukkan tubuhnya dengan memegangi pipinya yang sekarang terlihat memerah.
"She. Kenapa kamu malah menampar saya?" ucap Digo dengan raut wajah datarnya.
Sheilla yang baru sadar akan perbuatannya pun dengan cepat ia ikut duduk dihadapan Digo.
"Maaf tuan, tangan saya tadi refleks," ujar Sheilla.
"Apakah sakit tuan?" tanya Sheilla yang sempat melihat bekas tangannya yang tercetak jelas di pipi putih Digo itu. Dan saat tangannya bergerak menuju ke pipi Digo, laki-laki itu lebih dulu menjauhkan tubuhnya dari Sheilla bahkan ia sudah turun dari atas ranjang.
"Kamu pikir saja sendiri jika ditampar itu sakit atau tidak," ujar Digo dengan ketus lalu setelah mengucapkan hal tersebut Digo berjalan menuju kearah kamar mandi.
"Tu---tuan saya tidak sengaja tadi. Dan biarkan saya lihat dan saya obati," ucap Sheilla sembari turun dari ranjang tersebut dan berlari menghampiri Digo yang hampir masuk kedalam kamar mandi. Ia benar-benar merasa bersalah telah menampar wajah tampan tuannya itu.
Sheilla kini menghentikan langkahnya tepat didepan Digo dan tanpa ia sadari jika tubuh bagian atas tak terbalut apapun sama seperti tadi. Dan hal tersebut membuat Digo yang hampir menghilangkan hasratnya, hasrat untuk menyentuh Sheilla kembali muncul saat melihat dua buah dada Sheilla yang di biarkan tanpa penutup apapun itu.
"Minggir," ucap Digo dengan mengalihkan pandangannya dari Sheilla.
__ADS_1
"Tidak. Saya tidak akan minggir sebelum saya lihat pipi tuan," ujar Sheilla dan lagi-lagi saat tangannya terulur, Digo lebih dulu memundurkan tubuhnya.
"Saya bilang minggir ya minggir Sheilla!" ucap Digo. Sumpah demi apapun Digo sekarang tengah disiksa oleh napsunya dan dengan pusakanya yang sudah meronta-ronta dibawah sana.
"Tidak, saya tidak mau!" kekeuh Sheilla yang semakin membuat Digo frustasi.
"She, minggir!" Sheilla dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak akan minggir!" ucap Sheilla penuh dengan penekanan.
"Kamu tidak ingin minggir?" ujar Digo sembari melangkahkan kakinya, mengikis jarak antara dirinya dan Sheilla.
Sheilla yang sebenarnya takut dengan Digo pun ia memberanikan diri untuk tetap berdiri tegak di tempatnya saat ini, tak bergerak sama sekali. Dan jangan lupakan tatapannya terus tertuju ke wajah Digo. Begitu pula sebaliknya Digo juga kini menatap wajah Sheilla.
Hingga tubuh keduanya saling menempel satu sama lain, bahkan tangan Digo sudah melingkar indah di pinggang Sheilla.
Sheilla yang paham maksud dari ucapan Digo pun ia kini mengerjabkan matanya. Lalu setelahnya, Sheilla langsung mendorong tubuh Digo hingga mereka berdua saling berjauhan.
"Tuan mesum!" teriak Sheilla.
"Saya tidak peduli Sheilla. Kalau kamu tidak mau bertanggungjawab menidurkan dia lagi. Maka cepatlah minggir dari depan kamar mandi itu," ujar Digo yang sudah kalang kabut.
"Saya tidak melakukan apa-apa. Kenapa saya yang harus bertanggungjawab? Tuan sendiri yang membuat adik tuan bangun bukan saya," tegas Sheilla tak mau disalahkan.
"Tapi dia begini juga karena lihat tubuh kamu yang masih bertelanjang dada seperti itu. Astaga Sheilla. Kamu benar-benar membuat saya frustasi. Cepat minggir sebelum saya makan kamu saat ini juga," ujar Digo dengan mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
Sheilla yang mendengar ucapan dari Digo dengan cepat ia mendudukkan tubuhnya dan disitulah dia baru sadar dengan penampilannya saat ini yang membuat wajahnya memerah padam lalu dengan cepat ia menyilangkan kedua tangannya didepan dada untuk menutup asetnya yang sialnya sudah dilihat dan di nikmati oleh Digo tadi. Dan tanpa mengucapakan sepatah katapun Sheilla menggeser tubuhnya agar tak menghalangi jalan Digo kembali yang langsung membuat Digo kini melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi itu. Namun saat dirinya berada disamping tubuh Sheilla, sempat-sempatnya ia menghentikan langkahnya lalu melirik kearah buah dada Sheilla yang sedikit menyembul itu.
"Tidak perlu kamu tutupi buah dadamu itu She karena saya sudah melihatnya dan sudah menikmatinya walaupun belum saya hisap. Tapi nanti malam saya pastikan itu terjadi," ujar Digo kemudian ia segara masuk kedalam kamar mandi tersebut tak lupa ia juga segara mengunci pintunya.
Sedangkan Sheilla, wajahnya semakin dibuat memerah dengan ucapan Digo itu.
"Sialan. Digo sialan! Mesum!" umpat Sheilla dengan suara lirihnya.
"Saya dengar apa yang kamu katakan, Sheilla!" teriak Digo dari dalam kamar mandi yang membuat Sheilla terkejut bukan main.
"Bukannya aku tadi bersuara tidak terlalu keras? Kenapa dia bisa mendengarnya?" gumam Sheilla.
"Karena telinga saya cukup sensitif jika ada orang yang mengumpat di belakang saya!" timpal Digo kembali sembari membuka pintu kamar mandi tersebut lalu menyembulkan kepalanya agar bisa melihat wajah Sheilla.
Lagi-lagi Sheilla dibuat terkejut dengan aksi Digo itu dan dengan cepat ia kembali menyilangkan kedua tangannya yang tadi sempat ia jauhkan dari didepan dadanya itu.
"Sepertinya membuat baby di kamar mandi tidak buruk juga? Kamu mau mencobanya? Adik saya sudah benar-benar siap untuk menabur benih kedalaman rahim kamu," ujar Digo.
"Atau kamu mau melihat adik saya dulu sebagai perkenalan sebelum dia melakukan tugasnya nanti? Ahhhh sepertinya memang kamu harus melihatnya dulu. Baiklah akan saya perlihatkan khusus untuk kamu," ujar Digo dan dengan gerak cepat Digo membuka pintu kamar mandi yang otomatis membuat Sheilla langsung memutar tubuhnya lalu menutup kedua matanya.
"Mesum!" teriak Sheilla. Digo yang berniat untuk mengerjai Sheilla pun ia terkekeh mendengar teriakan tadi. Dan tanpa Sheilla ketahui jika Digo sekarang memakai handuk di pinggangnya yang menutupi aset berharganya itu bukan bertelanjang bulat seperti yang ada di pikiran perempuan itu.
"Jika sampai tuan melangkahkan kaki mendekat kesini, akan saya pastikan jika---" ucap Sheilla waspada karena ia mendengar langkah kaki yang mendekati dirinya. Tapi sayangnya belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, tangan Digo sudah melingkar di pinggang polosnya itu.
"Jika apa hmm?" ucap Digo.
__ADS_1
"Apakah saya salah kalau mesum dengan kekasih sekaligus calon istri saya sendiri?" sambung Digo sembari menggigit telinga Sheilla.
"Perlu kamu tahu Sheilla. Apa yang saya lakukan hari ini hanyalah sebagian dari pemanasan sebelum berhubungan. Dan jika kamu masih berani berdekatan dengan laki-laki lain, saya pastikan kamu akan mendapatkan pengalaman lebih dari yang saya berikan hari ini dan saat itu juga saya jamin benih saya akan masuk kedalam rahim kamu," bisik Digo sebelum akhirnya ia melepaskan pelukannya tadi lalu segera kembali masuk kedalam kamar mandi untuk menenangkan adiknya yang ia biarkan meronta-ronta sedari tadi.