The Dark Love

The Dark Love
85. Memulai Rencana


__ADS_3

Sedangkan disisi lain, tepatnya didalam mansion Digo. Vina dibuat uring-uringan sedari tadi pagi saat ia tau jika Sheilla ternyata ikut ke kantor Digo.


"Sialan sialan sialan. Harusnya yang ikut ke kantor itu aku bukan perempuan murahan itu. Apa bagusnya sih perempuan itu hingga membuat Digo harus terpesona kepada dia. Padahal jika dibandingkan denganku, aku jauh lebih unggul dari dia. Aku lebih cantik, bodyku pun juga lebih berisi dari dia, pintar? tentu saja aku lebih pintar dari dia yang hanya seorang maid itu. Aku juga seorang artis dan model ternama yang membuatku menjadi kaya seperti saat ini dengan usahaku sendiri tanpa campur tangan dari siapapun. Sedangkan perempuan itu dengan kemampuannya menggoda para laki-laki kaya, merangkak ke atas ranjang para laki-laki itu, hingga akhirnya dia bisa kaya mendadak dengan cara yang begitu menjijikkan. Tapi kenapa Digo justru memilihnya? Dia juga mendapatkan apa yang seharusnya tidak perempuan itu dapatkan! Kenapa dia tidak memilihku saja, kenapa?!" teriak Vina yang berada didalam kamarnya.


"Arkkhhhhhhh aku harus mempercepat rencanaku untuk menyingkirkan perempuan itu dari sisi Digo. Aku sudah tidak boleh menundanya lagi, jika tidak mau kalau Digo benar-benar jatuh cinta lebih dalam lagi dengan perempuan itu. Ya aku harus memulainya sekarang juga." sambung Vina. Dan setelah mengucapkan hal tersebut tangan Vina bergerak membuka laci nakas yang selalu ia kunci itu. Dimana di laci tersebut adalah tempat ia menaruh benda pipih, salah satu benda yang selamat dari peristiwa dibandara itu.


Jari jemari Vina bergerak dengan lincah di atas layar ponselnya itu untuk mencari salah satu nomor seorang kenalannya yang kebetulan juga tengah berada di negara tersebut. Saat ia sudah menemukan nomor yang ia cari, dia langsung meneleponnya.


Dan tak perlu menunggu lama, sambungan telepon tersebut kini telah terhubung.


📞 : "Halo. Kenapa?" Tanya orang tersebut dari seberang.


"Aku perlu bantuanmu," ucap Vina lalu ia menceritakan keluh kesah serta rencana yang sudah berada di pikirannya itu kepada seseorang yang berada di sebrang telepon tersebut.


📞 : "Kamu yakin ingin melakukan rencana yang kamu katakan itu?" tanya orang tersebut untuk memastikan.


"Ya tentu saja. Jika aku tidak ingin melakukannya untuk apa aku membicarakannya sama kamu?"

__ADS_1


📞 : "Tapi apa kamu sudah memikirkan konsekuensi yang akan kamu dapat jika rencanamu itu gagal atau ketahuan terlebih dahulu dengan salah satu orang yang ada di mansion tempatmu tinggal saat ini?" tanya orang tersebut yang entah kenapa dirinya yang takut padahal yang akan melakukan rencana Vina itu adalah perempuan itu sendiri dan dia hanya akan membantunya sedikit saja.


"Urusan konsekuensi yang akan aku dapat karena gagal melakukan rencanaku, itu urusan belakangan. Untuk apa juga di pikirkan sekarang jika aku saja belum melakukan apapun? Toh aku yakin rencanaku itu akan berjalan mulus," ucap Vina dengan penuh percaya diri. Dan hal tersebut membuat seseorang di sebrang sana memutar bola matanya malas.


📞 : "Jika kamu memang yakin kalau rencanamu itu akan berjalan mulus. Ya sudah terserah kamu. Toh aku tadi juga cuma mengingatkan kamu agar mempersiapkan diri jika rencanamu itu gagal dan berakhir akan berimbas kepadamu nanti," ucapnya.


"Haishhhh sudahlah jangan banyak bicara lagi. Aku sudah sangat pusing mendengar ocehanmu itu. Dan katakan saja kamu mau membantuku atau tidak? Aku perlu jawabannya sekarang!" ucap Vina tak sabaran.


📞 : "Baiklah akan aku bantu kamu. Nanti aku akan carikan apa yang kamu mau itu. Dan nanti akan aku kirim ke alamat tempat kamu berada saat ini," ucap orang tersebut yang membuat Vina kini bisa menghela nafas lega.


"Nah begini kek dari tadi. Kalau kayak gini dari awal kan aku tidak harus mendengarkan ocehanmu yang tak penting itu. Tapi kamu jangan tulis nama penerima itu dengan namaku tapi dengan nama Sheilla. Kamu paham kan?" tanya Vina.


"Jika begitu aku tutup dulu teleponnya takut ada seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam kamar ini nanti," ucap Vina.


📞 : "Hmmmm dan aku akan mengatakan sesuatu kepadamu, kamu harus tetap hati-hati disana karena kamu sekarang tengah berada di kandang harimau yang kapan saja bisa membinasakanmu. Dan suka atau tidak suka aku akan mengatakan konsekuensi yang akan kamu terima saat kamu ketahuan melakukan rencana itu. Jadi kamu bisa berpikir ulang untuk melakukan rencana itu nanti. Mereka akan langsung mengeksekusi mati kamu saat itu juga atau mereka akan membunuhmu secara perlahan karena laki-laki yang tengah kamu kagumi saat ini bukanlah orang biasa," kata orang tersebut yang membuat Vina justru berdecak malas.


"Ya ya ya aku juga tau dia bukan orang biasa karena dia adalah seorang CEO sekaligus pemilik perusahaan terbesar di Prancis," ucap Vina yang membuat seseorang di sebarang sana hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


📞 : "Dia lebih dari itu Vina. Dia benar-benar laki-laki bahaya. Kamu harus hati-hati!" peringatan itu terus terlontar dari bibir orang tersebut saat mereka berdua saling bertelepon. Dan hal tersebut membuat Vian penasaran. Apa yang dimaksud oleh orang tersebut? Orang yang tak bisa seperti apa Digo itu? Benar-benar sangat membingungkan bagi Vina. Tapi disisi lain Vina yakin se-bahayanya Digo, laki-laki itu tidak akan pernah bisa menyakitinya.


"Baiklah-baiklah aku akan berhati-hati. Ya sudah, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Dan aku tunggu barang itu sampai ketanganku. Bye," ucap Vina sebelum ia memutus sambungan telepon tersebut secara sepihak.


Vina kini merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan posisi telentang. Ia tersenyum devil saat hari pembalasan Sheilla sudah ada di depan matanya.


Sedangkan Sheilla yang masih berada di dalam ruangan khusus istirahat untuk Digo pun kini perlahan mata yang tadinya tertutup rapat kini terbuka. Ia sedikit meregangkan otot-otot di tubuhnya. Tapi tunggu dulu, sepetinya ada sesuatu yang aneh di samping kanan tempat tidurnya saat ini. Karena penasaran Sheilla langsung menolehkan kepalanya kearah kanannya.


Mata Sheilla terbuka lebar saat ia melihat hamburan kelopak bunga mawar dengan berbagai warna di atas ranjangnya itu. Jangan lupakan bentuk dari kumpulan kelopak bunga itu membuat bentuk love.


Sheilla kini mendudukkan tubuhnya dengan mata yang terus tertuju kearah hamburan bunga tersebut hingga tak sengaja matanya melihat ada buket bunga kecil yang berada di atas nakas samping ranjang tersebut. Dan di dalam buket bunga itu terselip sebuah kertas yang membuat Sheilla penasaran hingga tangan Sheilla kini meriah buket tersebut lalu mengambil secarik kertas tadi kemudian ia membacanya.


"Ikuti cokelat-cokelat yang ada di lantai!"


Sheilla mengerutkan keningnya namun tak urung matanya kini tertuju kearah lantai. Dan benar saja dilantai itu terdapat beberapa coklat yang berjejer rapi hingga sampai di luar ruangan tersebut.


"Siapa yang melakukan ini semua sih? Masa iya Digo mau melakukan hal seromantis ini. Tapikan kemungkinan memang Digo yang melakukannya karena aku yakin tidak ada yang berani masuk kedalam sini selain dia sendiri. Tapi untuk apa dia melakukan semua ini?" ucap Sheilla bertanya-tanya.

__ADS_1


"Dan apakah aku harus mengikuti cokelat-cokelat itu?" tanya Sheilla pada dirinya sendiri. Ia bingung akan mengikuti cokelat-cokelat itu atau tidak. Disisi lain ia ingin sekali mengikutinya. Tapi di sisi lainnya, ia tak ingin mengikutinya karena ia ingat jika dirinya tengah marah kepada Digo tadi. Haishhhhh Sheilla benar-benar bingung sekarang.


__ADS_2