The Dark Love

The Dark Love
222. Pengintaian 2


__ADS_3

Sheilla dan Digo berjalan biasa kala mereka berdua telah berada di lantai utama mansion tersebut, untuk mengantisipasi saja jika sang penghianat itu sudah keluar dari ruang CCTV tidak mencurigai keduanya yang telah mengetahui penghianatan yang telah dia lakukan, tapi tak urung mata mereka terus bergerak aktif melihat kesekitarnya yang masih ramai dengan para maid dan anak buahnya yang tengah berkumpul.


Mereka semua yang melihat ada dua tuan rumah pun tampak menghentikan percakapan mereka tadi lalu menundukkan tubuh mereka sebagai rasa hormat mereka ke Digo dan Sheilla yang dibalas dengan anggukan saja oleh Digo sedangkan Sheilla, ia membalasnya dengan sebuah senyuman sebelum keduanya melanjutkan langkah mereka menuju ke ruang CCTV, meninggalkan para maid dan para bodyguard tadi yang tengah menatap kepergian mereka berdua dengan pertanyaan-pertanyaan di otak mereka. Tapi berhubung mereka tak boleh terlalu kepo dengan urusan tuan mereka, alhasil mereka mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu dan memilih untuk kembali mengobrol seperti sebelumnya.


Sheilla dan Digo kini telah sampai di depan ruang CCTV. Digo sempat menatap sang istri, melihat apakah istrinya itu sudah siap jika sewaktu-waktu penghianat itu melawan mereka? Sheilla yang paham akan tatapan suaminya itu pun ia menganggukkan kepalanya sebagai isyarat jika dirinya sudah siap untuk melawan penghianat tersebut.


Anggukan Sheilla tadi membuat Digo langsung menendang pintu ruang CCTV tersebut dengan cukup keras hingga ruangan tersebut terbuka lebar. Namun saat pintu itu terbuka, keduanya hanya melihat dua penjaga CCTV yang telah duduk di kursi mereka.


Digo sempat menggeram kala dirinya kalah cepat dengan penghianat tadi yang ternyata sudah pergi dari ruang CCTV itu sebelum dirinya berhasil menangkap orang tersebut. Tapi Digo harus tetap memastikan apakah penghianat itu sudah benar-benar pergi atau tidak. Jadi dia kini mengitari ruangan tersebut dengan pistol yang ia todongan ke arah depannya. Sedangkan Sheilla, perempuan itu kini berjalan mendekati dua anak buah Digo yang sudah terkapar itu lalu memeriksa denyut nadi mereka yang untungnya masih ada. Mungkin penghianat itu hanya memberikan obat bius kepada dua penjaga CCTV tersebut bukan obat mati, pikir Sheilla.


Sheilla yang sudah memastikan dua penjaga itu dalam keadaan masih bernyawa, ia kini mengalihkan pandangannya kearah sang suami sembari berucap, "Gimana?"


Digo berdecak kala ia tak menemukan penghianat itu didalam ruangan tersebut yang tentunya sudah bisa ia pastikan jika orang itu kini tengah berkeliaran di dalam mansion ini.

__ADS_1


"Tidak ada disini. Kita coba cari di dalam mansion," ujar Digo yang diangguki oleh Sheilla.


Keduanya kini keluar dari dalam ruang CCTV tersebut tak lupa Digo menutup kembali pintu tersebut agar tak menimbulkan kecurigaan orang lain nantinya.


"Dear, sebaiknya kita berpencar saja. Mansion ini sangat luas, kalau kita tidak berpencar yang ada kita tidak akan ketemu sama di penghianat itu," ujar Sheilla.


"Tidak. Aku tidak akan membiarkan dirimu jauh dariku. Situasinya saat ini sedang tidak aman sayang. Walaupun aku tidak tau nyawa siapa yang diinginkan oleh penghianat itu. Aku tidak mau kamu kenapa-napa, aku akan menjagamu walaupun nyawaku sendiri yang menjadi taruhannya. Karena kalau kita berpencar, terus ternyata kamu yang menemukan penghianat itu yang ada kamu nanti akan terluka, sayang. Jadi aku tidak memberikan izinku ke kamu untuk menjauh dariku sedikitpun. Kamu harus tetap disampingku, aku tidak mau tau. Jika kamu masih tidak mau, lebih baik kamu ke kamar saja dan jangan ikut untuk mencari di penghianat itu," ujar Digo panjang lebar agar Sheilla mengerti jika Digo benar-benar tak ingin istrinya itu terluka.


Sheilla tampak menghela nafas. Jika dia tak mengalah, pasti keduanya akan berdebat yang berujung mereka tidak akan pernah mengetahui siapa si penghianat itu.


"Dear, apa kamu ingat wajah penghianat itu?" tanya Sheilla dengan suara lirihnya tapi matanya terus menatap ke sekeliling.


"Bagaimana aku mau ingat wajah dia sayang, orang saat aku mau meng-zoom wajah dia tadi rekaman CCTV sudah di sabotase oleh dia," balas Digo dengan bisikkan pula.

__ADS_1


"Ck, kalau gitu gimana kita bisa mengetahui penghianat itu? Karena aku juga tadi tidak melihat wajah dia. Kita juga sudah gagal menangkap basah dia didalam ruang CCTV tadi."


"Kamu tenang saja. Kita pasti akan menemukan siapa penghianat itu sekarang juga. Kita lihat gerak-gerik mereka dari lantai dua. Disana kita bisa melihat semua aktivitas yang tengah mereka lakukan di lantai ini," usul Digo dan tak menunggu lama, Sheilla langsung mensetujui usulannya tersebut.


Keduanya kini berjalan dengan santai bahkan saling mengobrol satu sama lain dengan tujuan ke lantai dua di mansion tersebut.


Dimana pergerakan dari dua orang tadi membuat seseorang yang tadi tengah membantu para maid dan para rekannya, menatap diam-diam kepergian dua orang tadi dengan senyum miring di bibirnya.


Dan saat dirinya sudah tak melihat sepasang suami-istri itu, ia menatap kesekitarnya, memastikan tak ada satu orangpun yang curiga dengannya. Lalu setelahnya ia berjalan menjauh dari kesibukan itu.


Tapi tanpa ia ketahui ada dua pasang mata yang sangat jelas melihat kepergian dirinya.


"Kita ikuti dia," ucap Digo kepada sang istri. Yap, seperti yang mereka rencanakan tadi, keduanya memperlihatkan gerak-gerik semua orang yang ada di lantai bawah dari lantai dua di mansion itu. Dimana saat Digo melihat salah satu orang yang menjauh, orang itu selayaknya harus mereka curigai.

__ADS_1


Sepasang suami-istri itu berlari kecil menuruni anak tangga di sana dan bergegas mengikuti laki-laki tadi secara diam-diam. mereka berdua tak peduli dengan tatapan bingung semua orang yang melihatnya dan tatapan penuh tanda tanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan dua majikannya tersebut sempai keduanya harus mondar-mandir tak jelas seperti saat ini? Ingin sekali mereka bertanya seperti itu kepada Sheilla ataupun ke Digo tapi mereka tak berani melakukannya, bik Nah pun juga sama, wanita paruh baya itu hanya mengerutkan keningnya sesaat sebelum dirinya memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya tadi. Tanpa mau ambil pusing karena terlalu kepo dengan urusan kedua majikannya tersebut. Bik Nah pun juga sempat mengajak semua orang yang masih memperlihatkan gerak-gerik Sheilla dan Digo tadi untuk kembali fokus ke pekerjaan mereka yang disetujui oleh semua orang walaupun masih ada beberapa pertanyaan di otak mereka yang mungkin tidak akan mendapatkan jawaban.


__ADS_2