
Suara tembakan yang terdengar nyaring itu terdengar sampai di lantai dua. Dimana di lantai itu Digo tadi dibawa oleh Henry dan para anak buahnya.
Semua orang yang baru meletakkan tubuh Digo di atas ranjang, mereka tampak terdiam membeku di tempat saat suara tembakan tadi mereka dengar.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Henry penasaran. Lalu setelahnya ia keluar dari dalam kamarnya yang tengah dipakai oleh Digo. Sedangkan para anak buahnya, mereka mengikuti kepergian dirinya karena mereka juga tengah penasaran dengan suara dan asal dari suara tembakan itu, tidak mungkin kan kalau suara tembakan tersebut berasal dari dalam mansion ini? Tapi kalau suara itu berasal dari luar kenapa suaranya begitu jelas terdengar? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang memutar di otak Henry maupun anak buahnya.
Namun baru saja mereka semua keluar dari dalam kamar, bertepatan dengan itu pula Sheilla dan bik Nah lagi menuju kearah mereka berdua. Tampaknya kedua perempuan itu juga sempat shock mendengar suara tembakan itu. Bahkan Sheilla yang baru sampai, ia langsung berucap tanpa mengatur deru nafasnya itu.
"Henry! Cepat selamatkan Monik, Henry! Monik dalam bahaya sekarang!" ucap Sheilla dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya.
Henry yang tadi sempat mengerutkan keningnya kala hanya melihat dua perempuan itu tanpa ia lihat ada Monik bersama mereka, kerutan dan pertanyaan di otaknya tentang Monik dengan seketika di jawab oleh Sheilla saat istri dari sahabatnya itu berucap seperti tadi. Bahkan mata yang sedikit sipit itu kini terbuka lebar dengan detak jantung yang terpacu sangat cepat.
Henry tak menimpali ucapan dari Sheilla tadi. Ia langsung berlari menuju ke lantai bawah lewat anak tangga di mansion tersebut. Henry tak sendiri pergi dari depan kamar laki-laki itu melainkan para anak buahnya serta anak buah Digo menyusul kepergian dirinya. Tanpa bertanya untuk kedua kalinya kepada Sheilla ataupun bik Nah, mereka semua tau apa yang akan mereka lakukan saat ini.
Dan kepergian dari mereka semua tak luput dari pandangan bik Nah dan Sheilla. Rasa khawatir yang sedari tadi mereka rasakan setelah melihat aksi Digo, rasa itu semakin bertambah saja saat mereka mendengar suara tembakan dan suara itu berasal dari lantai satu mansion tersebut. Dimana Monik masih berada di lantai itu.
__ADS_1
"Bik Nah, ini gimana?" tanya Sheilla bingung sendiri. Ingin sekali ia membantu Monik, menolong sahabatnya itu yang mungkin menjadi target kedua dari si penghianat tersebut. Namun ia tak mungkin meninggalkan suaminya berada didalam kamar sendirian apalagi kondisi Digo belum ia pastikan baik-baik saja atau tidak.
Bik Nah yang memang pintar menyembunyikan rasa khawatirnya pun tangannya kini terulur berniat mengelus punggung Sheilla. Tapi belum juga tangannya tersebut menyentuh punggung Sheilla, sebuah cekalan ia rasakan di lengan tangannya itu. Dimana hal tersebut membuat bik Nah menolehkan kepalanya kearah seseorang dibelakang dirinya dan Sheilla.
Rasa terkejut tak bisa bik Nah sembunyikan, namun saat bik Nah ingin angkat suara, orang yang mencekal tangannya tadi memberikan sebuah kode agar bik Nah diam.
Bik Nah yang mendapat kode itu pun ia menganggukkan kepalanya dan perlahan dirinya sedikit menyingkirkan tubuhnya dari samping Sheilla setelah cekalan di lengannya terlepas.
Sedangkan Sheilla yang tak kunjung mendapatkan jawaban pun ia berniat kembali bersuara namun baru saja bibirnya terbuka, ia dikejutkan dengan dua buah tangan yang melingkar indah di tubuhnya.
"Al," ucap Sheilla masih tak percaya dengan apa yang di lihat tadi. Dimana panggilan yang terlontar dari bibir Sheilla membuat Digo tersenyum sebelum laki-laki itu kini mencium kening sang istri.
"Kamu jangan bertanya kenapa aku bisa baik-baik saja seperti ini. Karena saat ini bukanlah saat yang tepat untuk kamu bertanya-tanya karena ada hal yang lebih penting yang harus kita segera selesaikan saat ini juga. Dan lebih baik kamu juga bik Nah berdiam diri di dalam kamar Henry terlebih dahulu. Aku akan membantu mereka yang ada di bawah," ucap Digo sembari melepaskan pelukannya.
Sheilla yang mendengar ucapan dari Digo pun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, ia tak ingin Digo ikut terjun untuk melawan si penghianat itu. Sheilla tak ingin Digo kenapa-napa.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu. Jika kamu mau gabung ke bawah maka aku akan ikut," ucap Sheilla kekeuh.
Digo tampak menghela nafasnya. Jika Sheilla sudah berkata seperti itu maka dia tidak bisa menolak kemauan istrinya tersebut.
"Ya sudah kalau begitu ikut saja. Dan untuk bik Nah lebih baik bibik masuk kedalam. Saya tidak bisa menjaga dua orang sekaligus jika memang nanti terjadi sesuatu kepada kalian," ujar Digo yang ia tujukan kepada bik Nah.
Tanpa menolak sedikitpun, bik Nah langsung mensetujui apa yang di perintahkan oleh Digo tadi. Ia segera masuk kedalam kamar Henry dan setelahnya ia menutup rapat pintu tersebut dengan ramalan doa untuk keselamatan para tuan dan nyonyanya.
Sedangkan Digo yang melihat pintu kamar di belakangnya itu tertutup rapat, ia mengalihkan pandangannya kearah Sheilla, kemudian tangannya bergerak, menggenggam tangan Sheilla sebelum mereka berdua mulai melangkahkan kakinya.
Bukan, Digo bukan mengajak Sheilla untuk turun langsung dan bergabung dengan semua orang yang ada di lantai bawah, melainkan Digo membawa Sheilla menuju ke pembatas anak tangga yang sebelumnya mereka gunakan untuk mengawasi gerak-gerik Bomi. Dimana hal tersebut membuat Sheilla mengerutkan keningnya namun tak urung dirinya bisa menghela nafas lega saat melihat Monik tidak kenapa-napa, perempuan itu tampak berdiri tegak di samping Henry dengan pistol yang sudah berada di genggaman tangannya. Sheilla tak melihat ada sebuah luka di tubuh perempuan itu yang artinya Monik benar-benar dalam keadaan baik-baik saja. Tapi tak urung aura mematikan dari sepasang pengantin baru itu bisa Sheilla rasakan.
"Syukurlah Monik dalam keadaan baik-baik saja. Tapi kenapa kita malah ada disini bukannya bergabung dengan semua orang dibawah sana, Dear. Katanya kamu mau menyelesaikan masalah ini. Kalau kita disini yang ada masalah itu tidak kunjung terselesaikan. Dan kenapa semua orang di lantai bawah hanya mondar-mandir dengan langkah pelan?" tanya Sheilla tak paham dengan trik yang tengah semua orang lakukan di mansion ini.
"Mereka tengah mencari keberadaan Bomi. Dan sepertinya Bomi yang tau jika persembunyiannya tadi sempat di ketahui oleh Rivan, maka laki-laki itu sekarang berpindah tempat persembunyian. Kalau kamu tanya kenapa kita tidak ikut gabung dengan mereka maka akan aku jawab, pengawasan dari sini lebih gampang dari pada mengawasi di lantai yang sama dengan di penghianat itu. Lagian dari sini kita bisa lihat setiap sudut di lantai satu yang memudahkan kita untuk menemukan si penghianat itu," jelas Digo dengan tatapan matanya yang menyorot setiap sudut di lantai satu mansion tersebut. Sedangkan Sheilla yang sudah paham pun ia menganggukkan kepala sebelum ia ikut mengawasi pergerakan di lantai satu tersebut.
__ADS_1