The Dark Love

The Dark Love
78. Membohongi Vina


__ADS_3

Paginya Digo dan Sheilla tengah berjalan beriringan menuju ke kamar mereka yang berada di lantai dua. Memang tadi malam mereka berdua telah menempati kamar Digo yang ada dilantai tiga, tapi berhubung pindahan mereka secara dadakan dan tidak direncanakan alhasil semua barang-barang mereka berdua termasuk pakaian ganti pun masih ada di kamar lantai dua. Dan mau tak mau keduanya kini harus kembali ke kamar itu untuk bersiap diri sebelum memulai aktivitas mereka hari ini.


Tapi hampir saja mereka berdua sampai di depan pintu kamar, suara dan derap kaki seseorang yang mendekati mereka membuat keduanya menolehkan kepalanya ke sumber suara yang menciptakan kegaduhan itu.


"Digo!" Digo dan Sheilla, dua orang itu sama-sama memutar bola matanya malas saat pagi mereka harus disambut dengan melihat wajah Vina yang tampak memerah sebelah itu.


"Digo, kamu semalam kemana sih? Kenapa tidak menemaniku saat aku di periksa oleh dokter Diana? Dan setelah dokter Diana pulang, aku cari kamu di kamar kamu, ternyata kamu tidak ada. Kamu semalam dimana? Ahhhh aku tau kamu semalam pasti tengah menghukum dia kan atas apa yang telah dia lakukan kepadaku?" tanya Vina dengan melirik kearah Sheilla yang menatapnya dengan wajah datar.


Sedangkan Digo yang tak kalah menunjukkan ekspresi wajah datarnya pun ia menjawab, "Ya, tadi malam saya menghukum Sheilla."


Vina tersenyum kala mendengar jika Digo telah menghukum Sheilla.


"Wahhhhh apakah hukuman yang kamu berikan kepada dia seru?" tanya Vina.


"Ya. Sangat seru sekali," jawab Digo dengan malas.


"Kalau seru boleh dong aku tau hukuman apa yang kamu berikan ke dia," ucap Vina penasaran hukuman apa yang Digo berikan kepada Sheilla.


"Anda mau tau?" Vina menganggukkan kepalanya dengan semangat.

__ADS_1


Dan hal tersebut membuat Digo melirik kearah Sheilla sebelum tangannya kini bergetak meraih pinggang Sheilla, mendekatkan tubuh kekasihnya itu ke tubuhnya.


"Hukuman yang saya berikan kepada dia hanya sekedar bercocok tanam bersama, membuat benih-benih yang saya miliki tertanam dan berkembang di rahimnya yang nantinya akan menghasilkan baby yang akan menjadi anak kita berdua," ucap Digo yang membuat Vina tampak terkejut tapi dengan cepat perempuan itu menggelengkan kepalanya.


"Karangan cerita kamu bagus juga Digo. Aku hampir saja percaya tadi hahahaha," tutur Vina dengan diakhiri tawa renyahnya.


"Maaf tapi apa yang saya katakan tadi bukan hanya karangan cerita yang saya buat-buat saja, melainkan menang sebuah kenyataan. Jika hukuman yang saya berikan kepada Sheilla adalah menjadi ibu sekaligus calon istri saya," jawab Digo yang membuat tawa Vina dengan seketika luntur.


"Tidak. Itu tidak mungkin. Aku tetap tidak percaya dengan omonganmu itu selama itu tidak ada bukti nyata didepan mataku sekarang juga," ujar Vina dengan gelengan kepala.


"Anda mau bukti?"


Digo tersenyum miring sebelum dirinya kini mengalihkan pandangannya kearah Sheilla yang ternyata tengah melihatnya juga. Dan saat tatapan mata keduanya saling bertemu, sebuah senyuman terlihat menghiasi wajah sepasang kekasih itu.


Tangan Digo kini bergerak, menyibak rambut Sheilla yang menutupi leher kekasihnya itu. Dan saat itulah mata Vina terbuka lebar dengan kedua tangan berada di depan mulutnya yang tengah menganga lebar.


"Anda bisa melihat kissmark ini kan Nona? Tanda ini saya yang membuatnya tadi malam," ucap Digo. Untung saja dia tadi malam membuat tanda itu lagi di leher Sheilla secara diam-diam saat kekasihnya itu telah terlelap. Ya walaupun pada akhirnya ia terkena amukan dari Sheilla tadi, setelah perempuan itu tahu jika lehernya dan dadanya banyak tanda kepemilikan yang Digo buat itu. Tapi lihatlah tanda itu sekarang sangat berguna untuk membohongi Vina.


"Ini, ini tidak mungkin. Aku pasti tengah bermimpi saat ini," ujar Vina yang justru membuat Sheilla kini berjalan mendekati dirinya hingga...

__ADS_1


Plakkkk!


Sheilla melayangkan sebuah tamparan yang mendarat tepat di pipi Vina yang kemarin terkena siraman air panas darinya. Hingga pipinya yang tadi sudah terlihat memerah kini tambah merah lagi gara-gara mendapat tamparan dari Sheilla itu.


"Awsss," ringis Vina dengan memegang pipinya yang terasa panas.


"Saya rasa kamu sedang tidak bermimpi nona," ucap Sheilla tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Kamu!" geram Vina dan saat perempuan itu ingin membalas perbuatan Sheilla tadi, pergerakannya kalah cepat dengan Digo yang sudah lebih dulu menarik tubuh Sheilla kedalam dekapan laki-laki tersebut. Dan karena hal tersebut, tangan Vina bukannya menampar pipi Sheilla, justru tangan itu hanya menampar angin saja.


"Saya rasa anda sudah tak ada hal lain lagi yang ingin anda sampaikan kepada saya, Nona. Dan karena saya tidak mau membuang waktu saya lebih lama lagi, saya permisi," ucap Digo. kemudian ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya dengan tangan kanan yang masih memeluk pinggang Sheilla dengan posesif.


Sedangkan Sheilla, perempuan itu yang sudah menjauh dari Vina pun ia kini menyempatkan dirinya untuk menolehkan kepalanya kearah Vina yang tengah menatap datar kearahnya dengan satu tangan yang masih memegang pipinya dan satu tangan lagi yang terlihat tengah terkepal erat, menandakan jika perempuan itu tengah menahan emosinya.


Sheilla tersenyum saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan Vina sebelum ia menjulurkan lidahnya, mengejek Vina yang kalah telak darinya. Bahkan sebelum dirinya digiring masuk kedalam kamar Digo, Sheilla menyempatkan diri untuk mengacungkan jari tengahnya. Dan hal tersebut membuat Vina semakin dibuat kebakaran jenggot.


"Sialan kamu, Sheilla. Jangan karena kamu sekarang sudah berhasil mendapatkan bibit dari Digo, kamu bisa bersikap seperti ini denganku. Apa kamu pikir kamu ini sudah menang dariku, Sheilla? Tidak, kamu belum menang sama sekali. Dan aku akan pastikan jika kamu bisa mendapatkan bibit dari Digo, maka aku juga harus mendapatkannya. Tapi jika aku tidak bisa mendapatkan apa yang sudah kamu dapatkan dari Digo itu, maka aku tidak akan membiarkan bibit itu tumbuh selama 9 bulan di rahimmu. Aku tidak akan membiarkan dia lahir di dunia ini dengan keadaan masih bernyawa. Aku pastikan saat aku tau kamu sedang hamil anak Digo, saat itu juga aku akan membuat kamu keguguran. Dan saat hal itu terjadi, aku yakin kamu akan sangat terpukul kehilangan dia belum lagi kamu juga akan mendapatkan kemurkaan dari Digo karena laki-laki itu akan menganggap kamu tidak becus menjaga calon anaknya. Dan saat itu pula mental kamu akan diuji, bahkan kalau bisa saat itu juga kamu akan menjadi orang gila karena telah kehilangan bayimu serta Digo secara bersamaan. Hahahaha," gumam Vina diakhiri dengan tawa renyahnya.


"Dan saat itu pula aku akan datang ke dalam pelukan Digo, menggantikan posisi yang memang tak pantas untukmu. Jadi mari kita tunggu hari kehancuranmu itu Sheilla," sambung Vina dengan menatap kearah pintu kamar Digo yang sudah tertutup rapat itu dengan senyuman miring di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2