The Dark Love

The Dark Love
155. Ketakutan Digo


__ADS_3

Saat Digo tengah disibukkan dengan pikirannya itu, Sheilla yang baru selesai memeriksa keadaan nenek yang ternyata tengah tidur siang di kamarnya pun, perempuan itu kini berjalan menuju ke kamar dirinya dan Digo itu dengan membawa sebuah baskom yang berisi air hangat.


Dan dengan susah payah, ia membuka pintu kamar tersebut.


Dimana saat dirinya berhasil membuka pintu itu, ia melihat Digo yang tengah terduduk di atas ranjang sembari bersandar di kepala ranjang itu dengan tatapan mata yang melamun.


Sheilla yang melihat kekasihnya tengah terbengong pun dengan langkah besar, ia mendekati kekasihnya itu.


"Dear," ucap Sheilla yang masih belum juga menyadarkan Digo dari keterbengongannya itu.


Dan hal tersebut membuat Sheilla khawatir. Dan setelah dirinya menaruh baskom berisi air hangat tadi di atas nakas, tangan Sheilla kini terulur untuk memegang bahu kekasihnya itu.


"Dear," panggil Sheilla kembali yang untungnya kali ini membuat Digo tersadar dari lamunannya itu.


"Eh, iya sayang ada apa?" tanya Digo yang sempat terkejut akan kehadiran kekasihnya itu. Dan pertanyaan dari Digo tersebut membuat Sheilla kini menggelengkan kepalanya.


"Seharusnya aku yang tanya pertanyaan itu ke kamu. Kamu ada apa hmmm? Kenapa sampai bengong seperti tadi sampai kamu tidak sadar kalau aku sudah berada disini dan kamu juga tidak mendengar aku yang tadi memanggilmu? Ada apa? Katakan, akan aku dengar keluh kesahmu itu," ucap Sheilla dengan mendudukkan tubuhnya diatas ranjang tepat disamping Digo itu.

__ADS_1


Dimana baru saja bokongnya itu mendarat diatas kasur, Digo langsung merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Sheilla menjadi bantalannya.


Sheilla tampak tersenyum saat Digo melihatnya dari bawah sana.


"Ceritakan semuanya," ujar Sheilla dengan punggung tangan yang ia letakkan di dahi kekasihnya itu yang ternyata masih panas seperti tadi. Lalu setelahnya tangannya itu bergerak untuk mengompres kening Digo yang masih menatapnya itu sebelum laki-laki tersebut mulai angkat suara.


"Jika aku cerita, apa kamu mau mendengarkannya baik-baik?" tanya Digo yang sebenarnya ragu untuk membicarakan hal tentang Bian kepada Sheilla.


"Tentu saja. Aku kan kekasihmu yang tentunya akan senang hati jika kamu menceritakan keluh-kesahmu itu kepadaku. Jadi lakukanlah," ucap Sheilla dengan menaruh sapu tangannya yang sudah basah itu ke kening Digo yang kini tengah menutup matanya saat merasakan kompresan yang diberikan oleh kekasihnya itu.


"Aku sebenarnya tengah memikirkan bagaimana caranya kita punya baby sekarang," ucap Digo dengan membuka matanya kembali.


"Aku tadi tanya serius lho, Dear. Jadi tolong jangan bercanda dulu," ucap Sheilla yang tiba-tiba merasa kesal karena dia tadi sudah memasang telinganya baik-baik tapi ternyata kata yang keluar dari bibir kekasihnya itu ia anggap sebagai lelucon saja.


"Aku juga menjawabnya dengan serius sayang. Sumpah demi apapun aku menginginkan baby dari hubungan kita ini. Karena aku takut cita-citaku ingin menjadi seorang ayah ini tidak akan terkabul nantinya. Aku takut sebelum aku menikahimu, aku sudah tidak ada di dunia ini. Dimana saat aku mati berarti cita-citaku menjadi seorang ayah dari anak-anak kita akan musnah begitu saja," ucap Digo dengan tatapan nanar melihat tepat di manik mata Sheilla. Jujur saja selain pikirannya yang terus tertuju kearah Bian, ia juga memikirkan ketakutannya itu. Ia benar-benar takut tidak bisa memiliki keturunan sebelum dirinya meninggal. Dan ia memutuskan untuk tidak mengatakan apapun tentang yang ia temukan di rumah Bian dan Franda, juga tentang kecurigaannya tadi kepada Bian.


Sheilla yang melihat keseriusan Digo itu, ia langsung menepuk bibir Digo dengan gemas.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan sih. Tidak baik mengatakan hal yang buruk seperti itu. Kamu akan terus hidup disisiku sampai kita menikah dan menua nanti. Kita juga akan memiliki banyak baby nantinya dan cita-citamu itu akan segera terkabul. Jadi jangan mengatakan tentang kematian yang masih menjadi rahasia sang pencipta lagi. Berkata itu yang baik-baik karena perkataan kita ini adalah doa," omel Sheilla tak suka dengan ucapan Digo tadi.


"Tapi kan aku hanya berandai-andai saja sayang. Ya walaupun takdir itu adalah rahasia sang ilahi tapi tidak ada salahnya kan kalau kita mengingat akan kematian." Sheilla tampak berdecak saat Digo masih bisa membalas ucapannya itu.


"Memang tidak salah. Tapi jangan langsung berpikir yang negatif seolah-olah kamu akan mati besok. Nauzubillah. Ihhhh sudahlah jangan membahas itu lagi. Dan sekarang lebih baik kamu berucap untuk selalu di lindungi oleh Tuhan, di berikan kesehatan dan diberikan umur panjang," ujar Sheilla yang membuat Digo kini menghela nafasnya.


"Baiklah-baiklah. Tapi aku memang menginginkan baby sekarang. Jadi ayo menikah sayang," ajak Digo dengan entengnya.


"Kalau kamu mau menikahiku minta restu sama nenek sana. Tapi jangan sekarang beliau masih tidur," ucap Sheilla.


"Jika nenek memberikan restunya, apa kamu siap menikah denganku?" Sheilla tersenyum lalu menganggukkan kepala. Ia rasa dirinya memang sudah siap untuk menjadi pendamping kekasihnya itu agar ia bisa memberikan baby kepada Digo seperti yang laki-laki itu cita-citakan. Karena setelah mendengar ucapan dari Digo tadi mengenai kematian, ia justru memutar perkataan Digo tadi untuknya sendiri. Ia takut justru dirinyalah yang akan meninggalkan kekasihnya itu terlebih dahulu sebelum dirinya memberikan apa yang Digo inginkan. Dan mungkin jika dirinya memang sudah di takdirkan untuk meninggalkan Digo terlebih dahulu, dia meminta kepada sang pencipta untuk mencabut nyawanya setelah dirinya memberikan keturunan kepada Digo. Dimana saat hal itu terjadi ia akan meninggalkan dunia ini dengan tentang.


Sedangkan Digo yang melihat anggukkan kepala dari Sheilla pun ia dengan excited mendudukkan tubuhnya hingga membuat sapu tangan yang tadinya menempel di keningnya terlepas.


"Benarkah?" tanya Digo memastikan.


"Tentu saja, Dear. Dan jika kita sudah mendapatkan restu itu besok atau lusa kita akan menyiapkan berkas-berkas pernikahan kita," ucap Sheilla yang semakin membuat Digo kegirangan dengan senyum yang merekah di bibirnya itu. Dan dengan cepat ia memeluk tubuh kekasihnya tersebut.

__ADS_1


"Aku yakin nenek akan memberikan restunya kepada kita, sayang. Dan secepatnya kita akan menikah dan membangun rumah tangga yang penuh dengan kebahagiaan nanti," ujar Digo. Dimana perkataannya tadi justru membuat Sheilla meneteskan air matanya. Tapi sebelum air matanya itu menetes dan mengenai bahu Digo, ia langsung menghapus air matanya tersebut agar Digo tidak mengetahui jika dirinya tengah menangis saat ini. Dan dengan menahan air matanya mati-matian Sheilla membalas ucapan dari Digo tadi.


"Aamiin Dear, aamiin," balas Sheilla dengan membalas pelukan hangat dari Digo itu dengan erat.


__ADS_2