The Dark Love

The Dark Love
148. Bertamu ke Rumah Uncle Bian


__ADS_3

Dihari selanjutnya, Digo dan Sheilla memutuskan untuk memulai mencari tahu dan berniat untuk membuktikan tentang kecurigaan anak buah Digo kemarin kepada Bian. Dan di hari itu juga mereka berdua juga akan memenuhi janji mereka untuk bertemu dan melihat hasil pemeriksaan nenek kemarin ke rumah sakit tentunya.


Dan dengan berjalan beriringan keduanya menghampiri nenek Sheilla yang tengah duduk di taman belakang rumah tersebut.


"Nek," panggil Digo dan Sheilla secara kompak yang membuat nenek menolehkan kepalanya kearah dua cucunya itu dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Ehhhh ada cucu nenek. Sini nak, duduk sini," ucap nenek Sheilla itu yang diangguki oleh dua orang tersebut sebelum mereka berdua mulai mendudukkan tubuhnya di kursi samping wanita tua itu.


"Ada apa?" tanya nenek.


"Begini nek, hari ini kita berdua mau izin ke nenek untuk pergi ke rumah uncelnya Digo. Mungkin setengah hari atau kalau tidak ya secepatnya kita akan pulang. Bagaimana? Apa nenek mengizinkan kita pergi hari ini?" tanya Digo.


"Rumah uncle kamu ada dimana? Apa rumahnya jauh? Dan benar kan kalian mau kembali lagi kesini bukan untuk langsung pergi menjauh dari nenek?" tanya nenek Sheilla yang benar-benar takut kejadian Shinta akan terulang kembali.


"Rumah unclenya Digo tidak jauh dari sini nek, hanya sekitar 10 menitan kalau kita jalan kaki ke rumah unclenya Digo itu. Jadi nenek tenang saja ya, kita juga akan kembali lagi kesini kok," jawab Digo dengan menggenggam tangan wanita tua itu.


"Benarkah?" Sheilla dan Digo dengan serentak menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu nenek akan mengizinkan kailan untuk pergi hari ini. Tapi ingat, kalian harus pulang ke rumah ini nanti," ujar nenek mewanti-wanti kedua cucunya itu.


"Iya nek, iya. Kita berangkat sekarang ya nek. Kalau ada apa-apa suruh bik Suri untuk menghubungi Sheilla," ucap Sheilla.


"Iya nak. Nanti kalau ada sesuatu nenek akan menghubungimu." Sheilla tersenyum untuk menanggapi ucapan dari neneknya itu sebelum ia meraih tangan yang sudah berkeriput itu untuk ia cium. Begitu juga dengan Digo, setelah Sheilla selesai mencium punggung tangan neneknya, Digo juga melakukan hal yang sama. Dan setelahnya mereka baru berdiri dari duduknya.


"Kita berangkat nek, assalamualaikum," pamit Sheilla dan Digo yang diangguki oleh wanita tua tersebut.


"Hati-hati ya kalian dijalan," ucap nenek.


"Iya nek," balas Sheilla sebelum mereka berdua kini mulai melangkahkan kakinya menjauh dari sang nenek yang tengah menatap kepergian mereka berdua sampai keduanya tak bisa ia lihat lagi.

__ADS_1


"Awasi ketat nenek jangan sampai beliau kenapa-napa! Jangan biarkan orang asing apalagi Shinta masuk kesini!" perintah Digo kala dirinya dan sang kekasih telah keluar dari rumah tersebut dan berjumpa dengan dua anak buah Digo yang laki-laki itu tugaskan untuk menjaga rumah nenek itu selain dua satpam di depan.


"Siap laksanakan tuan!" ucap kedua anak buah Digo yang menjaga tepat di samping pintu utama rumah tersebut yang ucapannya diangguki oleh Digo. Kemudian barulah mereka berdua berjalan masuk kedalam mobil pribadi Digo.


Mobil yang ditumpangi oleh keduanya kini berjalan membelah jalanan ibukota, dimana tujuan utama mereka kali ini adalah menuju ke rumah sakit terlebih dahulu. Dimana hanya membutuhkan waktu setengah jam akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit itu.


Keduanya yang tak mau membuang-buang waktu pun mereka segara menuju ke arah ruangan dokter yang menangani nenek kemarin.


Tok tok tok!!!


Sheilla mengetuk pintu ruangan dokter tersebut kala mereka telah sampai di depan ruang kerja dokter itu.


"Masuk!" teriakan dari dalam ruangan itu membuat Sheilla langsung memutar kenop pintu itu.


Dan saat pintu itu terbuka lebar, ia bisa melihat Dokter yang menangani nenek kemarin tengah tersenyum kearah Digo dan Sheilla.


"Jadi ini hasil dari pemeriksaan kemarin. Saya sudah mengecek semuanya. Nenek tidak memiliki penyakit serius di dalam diri beliau. Tapi beliau memiliki penyakit lambung dan saya harap mulai saat ini tuan dan juga nyonya untuk memperhatikan pola makan nenek. Jangan sampai penyakit lambung nenek ini kambuh nantinya karena telat makan," ujar dokter tersebut.


"Baik Dok. Akan saya pastikan pola makan nenek mulai sekarang. Dan saya ucapkan terimakasih," ucap Sheilla yang diangguki oleh dokter tersebut tak ketinggalan senyuman di bibirnya.


"Dan apa ada hal lain yang ingin dokter sampaikan?"


"Sudah hanya itu saja yang ingin saya sampaikan. Karena untuk keseluruhan dari kesehatan nenek, semuanya baik-baik saja kecuali pada lambungnya itu," jawab dokter tersebut.


"Baik. Kalau begitu kita pamit undur diri dok. Terimakasih," ucap Sheilla sembari berdiri dari posisi duduknya itu diikuti oleh Digo yang juga segera berdiri. Dan setelah keduanya bersalaman dengan dokter itu, barulah mereka berdua keluar dari ruangan dokter tersebut dengan helaan nafas lega karena nenek tidak memiliki penyakit berbahaya.


"Kita langsung kerumah uncle Bian sekarang," ucap Digo yang membuat Sheilla mengalihkan pandangannya yang tadinya melihat kearah kertas yang ada di tangannya, kini beralih ke wajah Digo.


"Baiklah. Ayo," ujar Sheilla sembari tangannya memasukkan kertas tadi ke dalam tas kecilnya.

__ADS_1


Dan dengan langkah lebar, mereka berdua melanjutkan perjalannya.


Beberapa saat setelahnya, mereka akhirnya sampai di rumah Bian yang berada di sebelah rumah milik keluarga Digo.


Dimana sesampainya mereka tak sengaja bertepatan dengan Franda yang keluar dari rumah tersebut.


"Ya ampun, anak-anakku kesini!" teriak Franda dengan heboh sebelum dirinya berlari menuju kearah Digo dan Sheilla yang baru saja keluar dari mobil tersebut.


Hughhh!


Tubuh Franda kini mendarat di pelukan Sheilla yang membuat gadis tersebut hampir saja terjatuh ke belakang jika Digo tidak menahan tubuhnya.


"Ya ampun Sheilla. Bunda kangen tau sama Sheilla," ujar Franda yang justru membuat Digo mencebikkan bibirnya.


"Baru juga kemarin bertemu, sudah rindu saja. Dan sekarang saat aunty sudah kenal Sheilla, Al jadi di lupakan," tutur Digo.


Franda yang mendengar ucapan dari Digo itu, ia melirik sinis kearah laki-laki itu.


"Biarin dong, suka-suka aunty. Wlekkk." Franda menjulurkan lidahnya kearah Digo yang membuat Digo memutar bola matanya malas.


"Ohhh ya Sheilla. Kita masuk yuk," ajak Franda kala dirinya sudah melepaskan pelukannya tadi.


"Cuma Sheilla saja ini yang diajak masuk, Al tidak?" tanya Digo yang sepertinya cemburu karena tidak lagi di perhatikan oleh Franda itu.


"Kamu mah tanpa aunty minta untuk masuk pun kamu akan nyelonong begitu saja seperti biasanya," jawab Franda.


"Jadi ayo Sheilla. Kita masuk sekarang." Franda menggandeng tangan Sheilla dan membawanya masuk kedalam rumahnya itu.


Digo yang di tinggal oleh dua perempuan itu, ia berdecak sebal sebelum dirinya memilih untuk mengikuti langkah kaki mereka yang tengah bercakap-cakap disela langkah kaki mereka tanpa mempedulikan Digo yang mengintil dibelakang mereka.

__ADS_1


__ADS_2