The Dark Love

The Dark Love
196. Mencari Keberadaan Monik


__ADS_3

"Kamu dapat alat testpack itu dari kamar mandi Monik?" tanya Digo untuk memastikan. Dimana pertanyannya itu dijawab anggukkan kepala oleh Sheilla.


"Kamu tidak bohong kan, She?" Tanya Henry.


"Untuk apa aku bohong Henry? Itu memang aku temukan di sana. Aku tidak sengaja menemukannya saat aku mencari Monik di dalam kamar dia karena aku tidak menemukan dia di atas ranjang dan sekitarnya, aku kira dia lagi di kamar mandi tapi taunya disana juga tidak ada dan aku malah menemukan benda itu. Tapi kalian tenang dulu, testpack itu memang di temukan di kamar mandi Monik tapi kita harus memastikan lagi jika benda itu benar-benar milik dia atau bukan. Dan kita bisa mendapatkan jawaban itu jika kita bertanya langsung dengan Monik. Jadi lebih baik kita cari Monik sekarang juga," ujar Sheilla. Ia benar-benar takut dua laki-laki itu akan marah ke Monik nanti tanpa tau kebenaran yang sesungguhnya. Sheilla pun juga tidak yakin jika benda itu milik Monik. Ia sedari tadi masih berpikir positif jika testpack itu mungkin milik orang lain.


"Benar apa katamu, sayang. Kita sekarang harus cari Mon---" belum sempat Digo menyelesaikan ucapannya, perkataanya itu terhenti kala melihat Henry yang tiba-tiba berlari menjauh dari mereka berdua dengan tangan yang menggenggam erat testpack tersebut.


"Lho lho lho Henry mau kemana?!" teriak Sheilla. Namun sayang teriakannya itu tak di gubris oleh Henry sama sekali.


"Dear, Henry---"


"Kita susul dia," ujar Digo dan dengan menggandeng tangan Sheilla, ia berlari kecil mengikuti kepergian Henry yang ternyata menuju ke ruang CCTV.


"Cari posisi Monik sekarang juga!" perintah Henry kala dirinya sudah berada di belakang dua petugas CCTV tersebut.

__ADS_1


Dan tanpa membantah, dua petugas itu tangannya bergerak lincah untuk memperlihatkan semua rekaman CCTV yang tersebar di penjuru manison itu di beberapa layar monitor di ruangan tersebut.


Henry melihat satu persatu rekaman CCTV tersebut namun ia tak menemukan keberadaan Monik.


"Aku tadi kan sudah bilang kalau aku sudah mencari Monik di hampir seluruh manison ini kecuali di ruang para maid yang otomatis jika kamu mencari Monik di rekaman CCTV sekalipun kamu tidak akan pernah menemukannya." Henry menolehkan kepalanya kearah Sheilla yang baru masuk kedalam ruangan tersebut.


Entah karena perasaannya yang tiba-tiba tidak karuan ini membuat dirinya lupa dengan perkataan Sheilla sebelumnya.


"Dan harusnya tujuan kamu ke ruangan ini bukan untuk mencari posisi Monik karena aku yakin Monik hari ini tidak lagi berada disini tapi di luar mansion ini. Tapi tujuan kamu kesini tuh harusnya mencari tahu posisi Monik sebelumnya. Setidaknya suruh salah satu dari mereka untuk memutar CCTV yang mengarah ke kamar Monik mulai dari tadi pagi atau kalau bisa mulai tadi malam. Karena dari situ kita akan tahu kapan Monik keluar dari kamarnya dan barulah kita lihat pergerakannya dari beberapa CCTV yang mengarah ke pergerakan dirinya," sambung Sheilla.


"Baik tuan," balas dua penjaga tersebut sebelum salah satu dari mereka mulai menjalankan perintah dari Digo tadi.


Sedangkan Digo dan Sheilla, kedua lebih mendekatkan diri mereka ke arah Henry.


"Henry, aku mohon jika memang nanti testpack itu milik Monik. Jangan sampai kamu melukai dia dan jangan sampai kamu mengusir dia. Ini juga berlaku buat kamu, Dear. Karena mau bagaimana pun dia, kita harus tetap merangkul dia untuk menguatkan dia menghadapi masalahnya. Aku yakin kalian sudah menganggap Monik sebagai anggota keluarga kalian sendiri karena Monik sudah bekerja dengan kalian yang aku yakini bukan dalam waktu 1 atau 2 tahun tapi lebih," pesan Sheilla karena dirinya benar-benar takut dua laki-laki itu akan melukai Monik nanti.

__ADS_1


"Aku tidak akan marah ke dia, Sayang karena sebentarnya kita tinggal di negara ini sudah tidak menjadi masalah lagi jika hamil di luar nikah. Toh itu juga hak Monik. Tapi mungkin aku hanya ingin bertanya ke dia tentang kronologi kenapa semuanya bisa terjadi. Takutnya dia melakukan hal itu dengan paksaan dari pihak laki-laki. Jika sampai dengan paksaan aku tidak akan segan-segan buat nyeret laki-laki itu dan kalau perlu potong alat kelaminnya sampai tak tersisa lagi di hadapan Monik secara langsung," ucap Digo. Tak tau saja jika laki-laki yang telah membuat Monik mengandung sekarang tengah berada di dekat mereka yang sekarang tengah fokus menatap pergerakan Monik yang sudah tertangkap kamera CCTV itu tanpa memperdulikan percakapan diantara sepasang suami-istri disampingnya tersebut.


"Arkhhhh Shitt!" umpat Henry tiba-tiba sebelum laki-laki itu berlari keluar dari ruang CCTV tadi.


Keempat orang yang mendengar umpatan itu, mereka tampak terkejut. Bahkan tatapan mata Digo dan Sheilla kini saling bertemu dengan pikiran yang tengah menebak-nebak ada apa dengan Henry? Tidak seperti biasanya laki-laki itu bersikap emosional saat tau salah satu maid di mansion ini tengah mendapat masalah dan sekarang entah tak tau lagi ada dimana. Dan hal itu benar-benar membuat Digo dan Sheilla bingung sendiri. Tapi keduanya tetap mengikuti kepergian Henry tadi yang ternyata tengah menemui kepala anak buahnya.


"Kerahkan semuanya dan segaralah bergerak sekarang. Cari titik dimana Monik berada! Jika kalian menemukan Monik sebelum saya, bawa Monik ke mansion ini dalam keadaan apapun! Kamu mengerti?!" Henry bersuara cukup lantang hingga menimbulkan beberapa orang yang berada di mansion tersebut mengalihkan perhatian mereka ke Henry.


"Siap laksanakan tuan," jawab kepala anak buah Henry.


Kepala anak buah Henry bergegas pergi dari hadapan Henry untuk menjalankan perintah dari tuannya tadi. Sedangkan Henry sendiri, ia juga bergegas pergi menuju ke mobil pribadinya. Ia sudah tidak mempedulika meeting penting yang akan di laksanakan hari ini karena sumpah demi apapun hatinya tiba-tiba merasa tidak enak dan juga khawatir terjadi apa-apa dengan Monik. Walaupun begitu, ia tetap tak tau apa yang mendasari dia memiliki perasaan seperti ini kerena kali ini adalah pengalaman pertama untuknya.


Digo dan Sheilla yang sudah ketinggalan jauh dari mobil Henry, mereka berdua kini dengan kompak menghela nafas.


"Kita mau gimana? Ikut Henry cari Monik atau kamu langsung ke kantor karena ada meeting?" tanya Sheilla.

__ADS_1


"Urusan keluarga lebih penting, sayang," jawab Digo yang diangguki setuju oleh Sheilla yang diam-diam tersenyum bangga ke suaminya.


__ADS_2