
Digo mengakhiri rekaman CCTV itu kemudian ia melempar tablet tadi kearah sofa yang tak jauh darinya.
"Apa yang ingin kamu jelasan atas kebohongan yang telah kamu katakan tadi Sheilla?" suara dinding Digo semakin membuat Sheilla tak bisa berkutik sedikitpun.
"Katakan!" bentak Digo yang sudah kelewat kecewa bercampur emosi.
"Ma---maafkan saya tuan," ucap Sheilla.
"Maaf maaf maaf terus yang bisa kamu lakukan! Kamu tau Sheilla tidak semua kesalahan bisa terhapus dengan kata maaf saja," ujar Digo dengan tatapan tajam yang menghunus Sheilla.
"Kamu tau sendiri kalau saya paling tidak suka jika ada yang berbohong dengan saya. Tapi kamu justru melakukan hal itu. Dan saya benar-benar kecewa dengan kamu, Sheilla," sambung Digo.
"Tuan, saya tidak bermaksud untuk membohongi tuan," ujar Sheilla dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak bermaksud membohongi saya, omong kosong apa itu, Sheilla?! Saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri jika ucapan yang kamu berikan kepada saya beberapa menit yang lalu sangat jauh dari fakta yang saya lihat. Dan saya lebih percaya dengan apa yang saya lihat daripada yang saya dengar. Jadi alasan apa lagi yang ingin kamu gunakan untuk menyangkal kebohongan yang sudah kamu ciptakan ini? Dan apa selain satu kebohongan ini, ada kebohongan lain yang kamu sembunyikan dari saya Sheilla? Katakan!" bentak Digo yang membuat Sheilla memejamkan matanya bahkan air mata yang sedari tadi ia tahan kini telah keluar membasahi pipinya.
"Saya tidak butuh air mata kamu itu. Jadi hentikan aksi menangismu itu karena saya tidak akan luluh hanya karena melihat kamu menangis. Jadi katakan kebohongan apa yang sudah kamu lakukan kepada saya selain ini?" Sheilla menggelengkan kepalanya.
"Saya ti---tidak memiliki kebohongan lain tuan. Maaf," ucap Sheilla benar-benar menyesal karena sudah berbohong dan membuat Digo kecewa padanya.
"Cihhh, mana mau seorang pembohong mengatakan kesalahannya," ujar Digo.
__ADS_1
"Tapi saya bukan seorang pembohong tuan. Saya memang---"
"Bukan seorang pembohong katamu? Jadi yang kamu lakukan ini apa jika bukan berbohong Sheilla!" Sheilla kembali terdiam dengan sesekali ia menghapus air matanya.
Digo mengusap wajahnya dengan kasar. Sebelum dirinya kembali angkat suara dengan intonasi yang tak tinggi seperti sebelumnya.
"Sudahlah. Keluar kamu dari kamar saya. Saya tidak bisa memaafkan seorang pembohong seperti kamu ini. Kecuali kamu bisa membalas perbuatan perempuan itu. Jika kamu tidak bisa maka jangan harap kata maafmu tadi saya balas. Dan untuk kamar kamu, saya akan minta bik Nah untuk menyiapkannya," ucap Digo yang membuat kepala Sheilla menegak.
"A---apa yang tuan maksud? Saya sudah tidak tidur disini lagi? Perjanjian kita sudah tuan hentikan?" tanya Sheilla yang diangguki oleh Digo.
"Ya, perjanjian kita saya hentikan sampai disini. Kamu sekarang sudah bebas tidur di kasur sendiri dan tidak perlu takut jika tubuh kamu akan saya jadikan sebagai sarana ke mesuman saya," ujar Digo yang enggan melihat wajah Sheilla dan laki-laki itu memilih untuk menatap lurus ke depan.
Sedangkan Sheilla, dadanya terasa begitu sesak. Ada rasa tak rela jika dirinya keluar dari kamar Digo, kamar yang memiliki harum khas milik laki-laki itu. Padahal harusnya ia sangat senang bukan? karena dirinya tidak perlu was-was lagi jika Digo sewaktu-waktu menerkamnya. Tapi kenapa hatinya sekarang tidak merasa senang sama sekali. Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi dengan Sheilla sekarang ini? Apakah dia benar-benar sudah terikat dengan pesona Digo hingga berjauhan saja ia tak bisa?
Digo menghela nafas panjang sebelum dirinya kembali angkat suara.
"Kenapa tidak keluar? Kamu masih tau kan pintu keluarnya dimana? Apa perlu saya antar?" ucap Digo walaupun tak ada nada tinggi lagi di ucapannya itu tapi masih terkesan datar nan dingin. Sama seperti nada suara saat Sheilla dan Digo bertemu untuk pertama kalinya dulu.
Sheilla menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu tuan. Saya masih ingat pintu keluar kamar ini. Jadi tuan tidak perlu repot-repot mengantar saya, permisi," ujar Sheilla sembari menghapus air matanya sebelum dirinya berdiri dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut meninggalkan Digo yang menatap nanar punggungnya.
__ADS_1
Dan saat pintu kamar tersebut tertutup yang berarti tubuh Sheilla sudah tak terlihat lagi di pandangan Digo, laki-laki itu merebahkan tubuhnya disandaran sofa disana dengan menjambak rambutnya frustasi.
"Kenapa kamu melakukan ini Sheilla? Kamu tahu jika saya paling tidak suka dengan orang yang berbohong. Tapi kamu, kamu--- Arkkhhhhhhh sialan!" umpat Digo dengan memukul meja kaca yang berada dihadapannya hingga membuat meja kaca itu pecah begitu saja saking kerasnya Digo memukulnya tadi.
Ia tak peduli jika tangannya kini sudah mengeluarkan darah segar dan tak sedikit pecahan kaca yang menempel di punggung tangannya.
Sedangkan Sheilla yang sebenarnya masih berdiri di depan pintu kamar Digo yang sengaja tak ia tutup rapat pun kini ia menutup mulutnya saat melihat aksi Digo tadi. Tubuhnya bahkan sudah bergetar hebat saat melihat darah yang keluar dari tangan Digo. Hingga sebuah bayangan melintas di pikirannya dimana bayang itu memperlihatkan seseorang yang tengah berlumur darah dengan keadaan yang sangat memprihatikan.
"Arkkhhhhhhh!" jerit Sheilla saat kepalanya terasa begitu menyakitkan. Sakit yang baru pertama kali ia rasakan.
Digo yang mendengar jeritan itu, ia menolehkan kepalanya kearah pintu kamarnya.
"Sheilla." Satu nama yang tiba-tiba terlintas di otaknya setelah ia mendengar jeritan tadi. Dan dengan kata hati yang menggerakkannya, Digo kini berjalan dengan langkah lebarnya mendekati pintu kamarnya.
Dan saat pintu kamar itu terbuka, mata Digo terbuka lebar saat melihat tubuh Sheilla sudah tergeletak tepat di depan pintu kamarnya.
"Astaga, Sheilla," ucap Digo dan dengan cepat ia mendekati tubuh Sheilla. Lalu tanpa memperdulikan punggung tangan kanannya masih mengeluarkan darah segar, Digo membopong tubuh Sheilla kedalam kamarnya.
"Heyyy Sheilla. Bangun please," ucap Digo setelah ia meletakkan tubuh Sheilla diatas ranjangnya dengan sesekali ia menepuk-nepuk pipi perempuan itu yang sama sekali tak memberikan respon apapun kepadanya.
"Sheilla. Bangunlah jangan membuat saya khawatir," ucap Digo kembali namun masih saja ucapannya itu tak mendapat respon dari Sheilla.
__ADS_1
"Sheilla. Bangun!" Digo dibuat kalang kabut saat ini karena Sheilla tak kunjung sadar dari pingsannya.
"Arkhhhh sialan!" umpatnya dan dengan berlari ia keluar dari dalam kamarnya menuju ke lantai utama rumah tersebut untuk mencari Henry yang akan ia mintai bantuan untuk memanggilkan seorang dokter. Padahal jika dipikir-pikir, ia tak perlu repot-repot untuk turun langsung mencari Henry karena ia memiliki ponsel yang bisa ia gunakan untuk menghubungi tangan kanannya itu atau malah mengubungi dokter pribadinya langsung. Tapi karena terlalu khawatir, Digo sampai lupa akan benda tersebut dan berakhir tenaganya lah yang harus ia peras untuk menuruni puluhan anak tangga di mansionnya itu.