
Henry berdehem sesaat untuk menyadarkan Digo kalau didalam kamarnya bukan hanya ada dirinya dan Sheilla saja melainkan ada Henry dan Shofie juga.
"Ehemmm, maaf bos menganggu waktu romantis anda. Tapi luka yang ada di tangan anda juga perlu segera diobati jika tidak tangan anda akan infeksi," ujar Henry yang justru membuat Digo menghela nafas. Laki-laki itu sepertinya tak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh Sheilla. Namun benar apa yang dikatakan Henry, lukanya harus segera di obati jika ia tak mau luka itu nantinya akan berakibat fatal.
Dan alhasil dengan berat hati Digo menarik tubuhnya untuk menjauh dari tubuh Sheilla yang tampak tenang dengan mata yang tertutup. Lalu setelah dirinya berdiri disamping ranjang, tangannya bergerak untuk membenarkan selimut ke tubuh Sheilla hingga sampai batas dada perempuan itu. Kemudian setelahnya, ia melangkahkan kakinya menuju kearah sofa yang ada di kamar tersebut.
"Henry, panggil bik Nah untuk membersihkan pecahan kaca ini," ujar Digo yang diangguki oleh Henry. Dan setelah mendapat perintah itu, Henry bergegas menghampiri bik Nah yang sepertinya masih ada di kamar sebelah bersama dengan Diana yang tengah memeriksa Vina.
"Apakah aku juga harus duduk disitu?" tanya Shofie sembari menatap pecahan kaca di sekitar area sofa yang kini Digo duduki.
"Bukannya kamu memakai alas kaki. Jadi pecahan kaca ini tidak akan bisa mengenai kaki kamu selagi kamu tidak melepaskan alas kaki kamu itu. Jadi cepatlah kesini dan mulai obati tangan saya," ujar Digo tak terbantahkan.
Shofie tampak melangkahkan kakinya cukup pelan. Walaupun memang dirinya memakai alas kaki tapi tetap saja Shofie takut jika kaca itu menembus sepatu yang tengah ia kenakan saat ini.
Hingga beberapa saat akhirnya Shofie bisa bernafas lega saat dirinya bisa melewati serpihan kaca yang dimana-mana itu dengan selamat. Lalu tanpa menunggu waktu lama lagi, ia segara mendudukkan tubuhnya disamping Digo kemudian ia segara mengobati luka Digo dengan sesekali ia mencabut serpihan kaca yang tertancap di tangan laki-laki itu. Dan jika orang lain yang mengalami hal ini, mereka pasti akan merintih kesakitan bahkan meraung-raung, tapi berbeda dengan Digo, laki-laki itu justru diam saja tak mendesis kesakitan sedikitpun dengan tatapan yang terus menatap kearah Sheilla berada.
__ADS_1
Hingga sampai akhir pengobatan itu selesai Digo masih bertahan dengan posisinya tadi.
"Sepertinya kamu sudah mendapatkan tambatan hati," celetuk Shofie sembari membersihkan peralatan yang ia pakai tadi.
Digo menolehkan kepalanya kearah Shofie dengan kerutan di dahinya.
"Maksud kamu?" tanya Digo. Entah pura-pura tak paham atau memang tidak paham dengan ucapan Shofie tadi.
"Kamu suka kan dengan nona Sheilla?" tanya Shofie kepo.
"Aku hanya menebak saja. Jika memang kamu menyukainya ya segera resmikan hubungan kalian sebelum nona Sheilla di rebut oleh anak buahmu sendiri yang berakhir kamu akan patah hati. Dan aku sepertinya tidak bicara omong kosong seperti yang kamu katakan tadi. Karena orang jatuh cinta itu bisa dilihat dari tatapan matanya. Jika contohnya nih ya, kamu melihat bik Nah atau aku, tatapan mata kamu akan biasa saja, masih ada tatapan dingin yang tersirat di mata kamu. Tapi berbeda saat kamu melihat nona Sheilla, tatapan mata kamu akan berubah menjadi lebih teduh tak ada ketegasan dan sifat dingin sama sekali seperti kamu melihatku ataupun melihat bik Nah dan yang lainnya. Tak hanya itu saja sebenarnya yang membuat aku bisa percaya jika kamu tengah menaruh hati kepada nona Sheilla dengan dilihat dari tingkah laku kamu yang sangat tak pernah kamu lakukan kepada orang lain apalagi kepada maid kamu sendiri. Sikap kamu benar-benar sangat lembut kepada nona Sheilla, kamu juga bersedia menenangkan dia saat dia tengah kesakitan seperti tadi dan kamu sampai tak memperdulikan luka kamu sendiri yang sebenarnya lebih parah dari sakit nona Sheilla," ucap Shofie dengan helaan nafas panjang sebelum dirinya melanjutkan ucapannya itu.
"Dan kamu tidak lupa bukan kalau aku tadi lihat kamu peluk dan mencium kening nona Sheilla. Dan dari situlah kamu memperjelas tebakanku tenang perasaanmu kepada Nona Sheilla. Tapi mungkin kamu tidak menyadari hal itu jadi kamu menganggap apa yang aku katakan tadi hanyalah omong kosong semata. Lagian kamu dari lahir sampai sekarang tidak pernah jatuh cinta jadi ya tidak heran juga kalau kamu tidak menyadari akan hal ini," sambung Shofie menyelesaikan ucapannya yang sempat ia putus tadi. Dan hal tersebut justru membuat Digo terkekeh.
"Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Shofie heran.
__ADS_1
"Karena perkataan kamu itu sangat lucu Shofie. Mana ada saya jatuh cinta dengan dia. Dan perlu kamu tau, saya memberikan perhatian kepada dia itu hanya semata-mata karena saya memiliki rasa simpati yang tinggi dan dia seperti ini juga gara-gara saya. Jadi tidak perlu berspekulasi jika saya memiliki rasa kepada dia karena perlu saya tekankan lagi bahwa saya melakukan hal itu karena saya miliki rasa simpati dan harus bertanggungjawab atas apa yang telah saya perbuat kepada dia," ucap Digo yang membuat Shofie mendengus kesal. Entah kenapa dia tak suka mendengar sangkalan dari Digo itu. Padahal sudah bisa dilihat secara langsung jika memang laki-laki itu memiliki perasaan lebih kepada Sheilla dari apa yang dia katakan tadi, tapi masih saja dia mengelak. Dan hal ini membuat Shofie ingin sekali membenturkan kepala laki-laki itu ke tembok supaya dia sadar atas apa yang tengah Digo rasakan saat ini.
"Terserah kamu lah. Percuma saja aku berbicara mengenai masalah percintaan seperti ini, sedangkan kamu saja tidak memiliki pengalaman apapun dalam bidang itu. Tapi ingat kataku baik-baik, jangan sampai kamu terlambat menyadari jika kamu memang suka dengan Nona Sheilla sampai nona Sheilla memiliki kekasih lain. Karena perlu kamu tau, beberapa anak buahmu sekarang tengah mengincar nona Sheilla untuk dijadikan pasangan mereka. Dan ingat, jika salah satu anak buahmu itu lebih gesit dari pada kamu untuk mendapatkan nona Sheilla, kamu jangan marah dan jangan sampai membunuh anak buahmu sendiri. Karena itu salah kamu sendiri yang sangat lambat untuk menyadari perasaan kamu sendiri," tutur Shofie dengan menekankan kata suka sembari berdiri dari duduknya saat semua peralatan yang ia gunakan untuk mengobati luka Digo tadi telah masuk kedalam tas khususnya itu.
"Sudahlah tugasku disini sudah selesai. Aku kembali ke rumah sakit dulu. Dan ingat jangan terlambat menyadari jika kamu benar-benar suka dengan Nona Sheilla sebelum kamu menyesal nanti. Bye," sambung Shofie lalu setelahnya ia mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu yang untungnya pintu tersebut tak tertutup.
Dan saat tubuh Shofie telah menghilang dari balik pintu itu, Digo tampak terdiam dengan tatapan yang menuju kearah Sheilla.
"Tidak mungkin bukan jika aku suka dia yang merupakan mantan orang yang ingin membunuhku?" gumam Digo yang sebenarnya penasaran dengan perasaan dirinya sendiri.
"Ahhhh tidak, tidak mungkin aku menyukai dia. Aku memberikan perhatian kepada dia semata-mata karena aku memiliki rasa simpati yang tinggi dan perkara dia tidur di kamar ini karena dia harus memenuhi hukumannya itu. Tidak lebih dari itu. Dan tebakan dari Shofie tadi sangat salah besar. Dia hanya omong kosong saja," sambungnya sembari menggelengkan kepalanya, menghalau pikirannya yang terus terbayang dengan ucapan dari Shofie tadi.
...****************...
Wahhhhh sebelum jam 12 udah 50 like nihhh ya. Kalian emang the best. Maka dari itu aku kasih doubel up lagi nih hari ini. Jangan lupa kasih VOTE, KOMEN, HADIAHNYA juga ya. Dan jangan lupa eps ini harus tembus 50 like lagi. Biar aku tambah semangat kasih kalian eps baru lagi. See you next eps bye 👋
__ADS_1