The Dark Love

The Dark Love
34. Khawatir


__ADS_3

Karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 6 sore yang berarti dijam itu pula saatnya para maid istirahat dari kegiatan melelahkan mereka. Tak berbeda dengan Sheilla yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur panjangnya setelah ia membersihkan tubuhnya tadi di kamar yang pertama kali ia tempati di rumah tersebut. Ya, karena selama Digo tak ada dirumah tersebut ia tak lagi menempati kamar yang hanya bisa diakses oleh Digo dan juga Henry saja. Toh masa hukumannya juga sudah selesai bukan, karena ini sudah lewat satu minggu setelah kejadian itu.


Dan dengan membawa kotak P3K ditangannya, Sheilla mendudukkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Ia akan mengobati luka ditangannya yang tadi terkena cengkramannya sendiri yang ternyata cukup parah itu. Karena bukan hanya saat ia melihat Yoga saja ia melakukan hal tersebut melainkan saat tadi ia termenung di samping kolam tanpa sadar ia mengulangi perbuatannya tadi. Dan perlu diketahui saja, Sheilla memang akan melukai dirinya saat ia merasa takut dengan suatu hal apalagi yang membuat dirinya sampai trauma dengan alasan untuk mengalihkan rasa takutnya.


Saat dirinya ingin mulai mengobati luka di pergelangan tangannya, pergerakannya terhenti saat bik Nah ikut duduk disampingnya dengan pakaian santainya. Perlu kalian ketahui Digo memang sangat membebaskan para maid dirumah itu untuk menikmati fasilitas di rumahnya tepatnya hanya di lantai satu ruang tersebut. Dengan syarat mereka tidak melewati batas mereka, contohnya masuk ke kamar orang lain apalagi menjelajahi ruangan yang berada di lantai tiga dan dua di rumah tersebut.


"Kenapa bisa luka?" tanya bik Nah sembari melihat kearah lengan Sheilla.


"Hehehe tidak sengaja kecakar sendiri tadi bik saat mandi," ujar Sheila yang membuat bik Nah menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan gadis disampingnya itu.


Dan setelah itu tak ada percakapan lagi diantara dua orang tersebut karena Sheilla sudah kembali fokus mengobati tangannya sedangkan bik Nah fokus ke siaran televisi dihadapannya. Hingga saat siaran televisi beralih menyiarkan sebuah berita di negara tersebut membuat bik Nah langsung membelalakkan matanya.


"Astaga!" teriak bik Nah dengan suara cukup kencang yang membuat Sheilla menolehkan kepalanya kearah bik Nah. Bahkan beberapa maid berlari tergopoh-gopoh menuju kearah wanita paruh baya tersebut.


"Ada apa bik?" tanya Sheilla ikut panik saat melihat raut wajah bik Nah yang berubah menjadi sendu sekaligus khawatir.


"Berita di tv itu." Bik Nah menunjuk kearah layar digital didepannya.


"Kenapa beritanya bik?" tanya salah satu maid yang sudah ikut berkumpul di ruangan tersebut.


"Satu jam yang lalu tuan Digo menghubungi saya jika beliau sudah sampai di bandara. Dan bandara itu yang sekarang berada di berita. Saya takut tuan Digo menjadi salah satu korban dari penembakan di bandara itu. Ya Tuhan lindungilah tuan Digo dimana pun beliau berada," ucap bik Nah yang membuat Sheilla mematung di tempatnya. Matanya terus menatap lurus kearah televisi yang memperlihatkan situasi terkini bandara tersebut. Bahkan beberapa mayat yang sudah tertutup kain turut masuk ke sorotan kamera wartawan.


"Bik Nah tenang dulu. Coba bik Nah telepon tuan. Siapa tau sebelum kejadian tuan sudah pergi dari bandara itu dan mungkin sekarang tuan tengah istirahat dimana gitu," usul satu maid yang lainnya. Bik Nah menganggukkan kepalanya lalu dengan cepat ia meraih ponselnya yang berada di atas meja di depannya untuk menghubungi Digo yang sedang ia khawatirkan.

__ADS_1


Satu kali panggilan itu terhubung namun tak diangkat oleh sang pemilik ponsel itu. Bik nah tak pantang menyerah, ia kembali menghubungi nomor Digo namun untuk kali ini tampaknya ponsel milik Digo sudah tak aktif lagi. Dan hal tersebut membuat bik Nah semakin panik.


"Ponselnya sekarang sudah tidak aktif," ucap bik Nah.


"Coba sekali lagi bik." Bik Nah menganggukkan kepalanya lalu ia segara mengubungi nomor Digo kembali. Namun hasilnya masih sama seperti sebelumnya.


"Tidak aktif. Hiks saya takut tuan Digo kenapa-napa. Kalau beliau kenapa-napa saya harus bilang ke tuan besar dan nyonya bagaimana?" Air mata bik Nah keluar dengan deras. Ia tak bisa kehilangan sosok laki-laki yang sudah sejak umur 8 tahun ia rawat itu. Ia sudah menganggap Digo sebagai anaknya sendiri, jika sampai laki-laki itu kenapa-napa ia akan menyalahkan dirinya sendiri yang tak becus menjaga putra satu-satunya penerus keluarga Rodriguez.


Sheilla yang sedari tadi terdiam, perlahan air matanya pun juga menetes dalam diam. Hatinya rasanya seakan di hantam ribuan beton, sesak sekali mendengar berita tersebut. Sheilla menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Dia pasti baik-baik saja," gumam Sheilla terus menggelengkan kepalanya.


"Aku harus kesana sekarang. Aku harus memastikan jika dia benar-benar baik-baik saja. Ya aku harus kesana," ucap Sheilla. Dan tanpa memperdulikan orang-orang disekitarnya ia berlari keluar rumah mewah itu.


Sheilla tak memperdulikan teriakan bik Nah dan beberapa maid yang lainnya. Ia terus berlari hingga langkahnya berhasil keluar dari pintu utama rumah tersebut. Namun saat dirinya ingin kembali berlari menuju pintu gerbang, 5 bodyguard menghadang jalannya.


"Please. Kalian menyingkir lah dari hadapan saya!" ucap Sheilla dengan berusaha untuk mencari celah agar ia bisa lolos dari hadangan kelima orang tersebut.


"Maaf Nona. Anda tidak di izinkan keluar dari rumah ini," ucap salah satu bodyguard tersebut.


"Saya tidak akan kabur. Saya hanya akan melihat situasi di bandara saat ini. Apa kalian tidak tau jika bos kalian sedang terjebak di bandara yang sekarang situasinya sangat membahayakan?" teriak Sheilla dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.


"Kita tau Nona. Rekan kita juga sudah berangkat kesana. Tapi untuk nona kita tidak bisa mengizinkan anda pergi ataupun melangkahkan kaki anda keluar dari area rumah ini walaupun sejengkal saja." Ucapan dari bodyguard tersebut membuat Sheilla mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Please saya mohon izinkan saya keluar. Jika kalian tidak percaya sama saya, kalian bisa mengikuti saya kesana!" ujar Sheilla.


"Tidak bisa Nona. Anda harus tetap disini." Sheilla memejamkan matanya sesaat. Ia tak ada niatan apapun selain memastikan jika Digo baik-baik saja di bandara itu. Tapi kenapa mereka malah mencegahnya?


Bik Nah kini memeluk tubuh Sheilla saat wanita paruh baya tadi baru sampai di tempat gadis tersebut. Dan hal tersebut semakin membuat Sheilla menangis tersedu-sedu.


"Bik, tolong bantu Sheilla buat kasih pengertian ke mereka. Sheilla hanya ingin melihat keadaan dia secara langsung bik dan setalah memastikan dia baik-baik saja, Sheilla akan kembali kesini. Sheilla tidak akan kabur, bik. Hiks," ucap Sheilla didalam pelukan bik Nah.


Bik Nah yang merasakan kekhawatiran yang sama seperti Sheilla pun ia mengelus lembut punggung gadis tersebut.


"Sheilla tenang ya. Tuan Digo pasti baik-baik saja. Percaya sama bibik," ujar bik Nah mencoba menenangkan gadis tersebut walaupun dirinya sendiri masih sangat resah dengan kabar yang baru saja ia dengar itu.


"Tapi jika dia kenapa-napa---"


"Stttt tidak boleh bicara seperti itu. Dia baik-baik saja. Sheilla percaya kan sama bibik?" Bik Nah menangkup kedua pipi gadis tersebut, menatap lekat mata indah Sheilla.


Sheilla dengan ragu menganggukkan kepalanya. Lalu kemudian ia memeluk kembali tubuh perempuan paruh baya itu cukup lama hingga tak ada isak tangis yang terdengar dari bibir Sheilla kembali.


"Kita tunggu kedatangan dia didalam saja ya," ucap bik Nah sembari menghapus sisa air mata Sheilla. Lalu setelahnya ia menggandeng tangan gadis tersebut kembali masuk kedalam rumah mewah tersebut.


...****************...


Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN dan HADIAHNYA ya sayang-sayangku. Love you sekebon. See you next eps bye 👋

__ADS_1


__ADS_2