The Dark Love

The Dark Love
118. Dua Lambang


__ADS_3

"Kerahkan semua anak buahmu untuk menelusuri kota ini!" perintah Digo kepada Henry.


"Jika salah satu anak buahmu menemukan dia dalam keadaan hidup ataupun mati tetap bawa dia kehadapan saya!" sambungnya yang diangguki oleh Henry sebelum laki-laki itu berlari keluar dari penjara bawah tanah itu untuk segera menjalankan intrupsi yang di berikan oleh Digo tadi.


Dan setelah kepergian dari Henry tadi, Digo menatap anak buahnya yang masih bersama dengannya di ruangan gelap dan pengap itu.


"Untuk kalian semua, berkemaslah karena hari ini juga kalian saya tugaskan untuk mengawasi pengusaha itu," ujar Digo kepada 20 anak buahnya yang sekarang berada di hadapannya itu.


"Siap, laksanakan tuan!" teriak mereka semua secara serempak.


"Bergerak sekarang!" perintah Digo yang langsung membuat semua anak buahnya itu berbondong-bondong keluar dari penjara bawah tanah itu.


Sedangkan Digo, ia masih terdiam tak berkutik di tempatnya berdiri saat ini dengan mata yang tertuju ke satu objek yang berada di pojok ruangan tersebut. Dan dengan pergerakan tangan yang begitu cepat dan tak terbaca, Digo mengambil pistol yang berada di balik jaketnya hingga...


Dorrr!


Satu kali tembakan yang Digo berikan membuat objek yang ia lihat itu langsung ambruk ke lantai dingin disana. Dimana objek tersebut merupakan seseorang yang Digo yakini bukan salah satu anak buahnya ataupun anak buah Henry.


Dengan langkah lebar, Digo berjalan mendekati orang tersebut yang sudah tak bernyawa karena tembakan dari Digo tadi berhasil menembus jantungnya.


Digo berjongkok dengan tangan yang kini bergerak untuk membalikkan badannya orang tersebut.


"Sudah aku duga," gumam Digo kala ia melihat wajah orang yang tak bernyawa itu sangat asing untuknya.


Tak hanya memeriksa bagian wajah saja, Digo menggeledah tubuh seorang laki-laki tersebut. Dan ia berhasil menemukan satu pistol dan satu belati dengan lambang yang berbeda.

__ADS_1


Dimana di dalam belati itu lagi-lagi tertulis huruf AXT sedangkan lambang yang berada di pistol itu berbentuk bunga Aster yang belum pernah Digo tau siapa pemilik lambang itu.


"Dua lambang yang berbeda yang dia bawa. Apakah ketua dari dua lambang ini tengah bekerja sama?" gumam Digo.


"Atau jangan-jangan dalang yang sebenarnya adalah seseorang dari balik lambang bunga aster ini yang dengan licik bersembunyi di balik pengusaha dari Belanda itu? Yang otomatis dia tidak akan terkena imbasnya nanti," curiga Digo.


"Aku harus segara cari tau siapa dalang dibalik lambang bunga aster ini," sambung Digo sembari berdiri dari posisi berjongkoknya tadi. Dan setelah ia mamastikan jika hanya ada satu orang penyusup, ia bergegas keluar dari penjara bawah tanah itu dan tanpa perasaan ia menarik tangan mayat tadi, ia seret hingga sampai di depan pintu lorong penjara bawah tanah tersebut dimana disana sudah ada beberapa anak buahnya juga Henry yang tampak terkejut melihat Digo membawa seorang mayat ditangannya.


"Kubur mayat ini dengan layak," ucap Digo setelah dirinya menaruh mayat tadi tanpa perasaan.


Seluruh anak buahnya yang berada di hadapannya, langsung bergerak melakukan apa yang sudah di perintahkan oleh tuannya tadi.


"Dan kamu, Henry. Ikut saya," ujar Digo. Dan setelah mengucapkan hal tersebut tanpa menunggu persetujuan dari Henry, ia berjalan terlebih dahulu menuju ke ruang kerjanya yang terletak di lantai 3 mansion tersebut.


Henry yang hanya bisa menurut saja pun ia mengikuti langkah Digo sampai akhirnya mereka berdua kini telah masuk kedalam ruang kerja Digo.


"Penyusup," jawab Digo dengan santai. Tapi ia justru mendapat respon tak terduga dari sahabatnya itu.


"What? Apa? Penyusup? Sejak kapan di mansion ini ada penyusup? Sialan kalau begitu kita ke colongan dong. Arkhhhh sialan sialan sialan," ujar Henry yang tampak marah setelah mendengar ucapan dari Digo tadi.


"Saya yakin penyusup yang baru saja saya bunuh itu bukanlah penyusup yang tinggal di mansion ini karena saya tidak mengenali wajah dia. Besar kemungkinan jika dia salah satu kawanan yang membantu membebaskan Yoga tadi. Tapi karena kita bergerak dengan cepat jadi saat kawanannya yang lain sudah keluar, dia terjebak di dalam penjara bawah tanah itu sendirian. Dan saat saya tadi menggeledah barang-barang yang ia bawa, saya mendapatkan dua senjata ini." Digo menaruh dua senjata tadi diatas meja dan menggesernya hingga dua benda itu kini berada di hadapan Henry yang langsung diambil Henry untuk dia amati.


"Didalam dua senjata itu terdapat dua lambang yang berbeda. Yang satu adalah lambang yang sama yaitu AXT, dan kita tau siapa pemilik dari lambang itu. Tapi apa kamu tau siapa pemilik lambang bunga aster itu? Karena saya belum pernah melihat lambang itu sebelumnya," ujar Digo.


"Aku juga baru melihat lambang ini. Apa mungkin lambang ini lambang resmi milik Yoga kali?" kata Henry.

__ADS_1


"Tidak, lambang itu bukan milik Yoga karena Yoga tidak pernah memiliki lambang apapun. Saya sudah mencari tau semuanya tentang Yoga. Jadi tidak mungkin lambang itu baru Yoga buat setelah dirinya kita tangkap," ujar Digo.


"Benar juga apa katamu. Ya sudah kalau begitu biar aku cari tahu tentang lambang ini." Digo menganggukkan kepalanya.


"Lakukan segera dan setelah kamu mendapatkan informasi mengenai dalang di balik lambang bunga aster itu, kita langsung bergerak untuk mengawasi dia. Dan jika benar dia dalang yang bekerjasama dengan Yoga, bantai semua jangan meninggalkan seorang pun dari komplotan mereka," perintah Digo yang diangguki oleh Henry sebelum laki-laki itu berdiri dari duduknya dan keluar dari ruang kerja Digo itu untuk melakukan tugas yang di berikan oleh Digo tadi kepadanya.


Sedangkan Digo, ia juga ikut keluar dari dalam ruangan tersebut dan ia memilih untuk segara menemui Sheilla, memastikan jika keadaan kekasihnya itu baik-baik saja.


Sheilla yang berada didalam kamar bersama Monik pun ia tampak khawatir memikirkan Digo yang tak kunjung kembali itu.


"Monik, apakah kondisi di luar sangat mencekam?" tanya Sheilla yang tak berani menatap area luar dari balik jendela kamarnya itu.


"Aku juga tidak tau pastinya. Hanya saja para anak buah tuan Digo masih berlalu lalang bahkan aku tadi juga melihat ada satu orang lagi yang di bawa keluar dari mansion ini dengan kondisi yang sangat memprihatikan," ujar Monik.


"Ya Tuhan. Kalau memang seperti itu keadaan di luar benar-benar sangat mencekam Monik. Terus bagaimana dengan Digo disana? Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Sheilla yang benar-benar sangat mengkhawatirkan kekasihnya.


Monik yang melihat hal tersebut pun ia berjalan mendekati Sheilla lalu mengelus pundak kekasih tuannya itu.


"Tuan Digo itu orang hebat. Jadi tidak mungkin dia akan terluka sedikitpun. Percayalah," ucap Monik berusaha menenangkan Sheilla.


Dan baru saja bibir Monik terkatup, pintu di kamar tersebut terbuka yang membuat dua perempuan itu menolehkan kepalanya.


"Digo," ucap Sheilla saat melihat Digo dalam keadaan baik-baik saja bahkan laki-laki itu tengah tersenyum kearahnya dengan tangan yang kini ia rentangkan, bertanda jika ia meminta di peluk oleh kekasihnya itu.


Sheilla yang paham akan kode itu pun ia berlari menuju kearah Digo dan memeluk tubuh Digo dengan sangat erat.

__ADS_1


Sedangkan Monik, ia memilih untuk segara keluar dari dalam kamar itu.


__ADS_2