
Digo dan Henry kini mereka berdua keluar dari persembunyiannya setelah kedua musuh mereka bisa mereka lumpuhkan. Dan keberadaan mereka berdua membuat Yoga dan tangan kanannya menghentikan erangannya dan menoleh kearah Digo yang sudah berdiri tegak di hadapan keduanya.
"Sangat seru bermain denganmu, Yoga," ucap Digo. Lalu tak berselang lama seluruh anak buahnya yang ia suruh untuk menelusuri goa tadi dan yang ia suruh untuk mencari Yoga di area hutan telah bergabung dengan Digo dan Henry.
Ya, sebenarnya titah dari Digo tadi hanya permainan triknya saja. Karena saat dirinya melangkahkan kakinya lebih dalam ke markas sementara milik Yoga tadi tak sengaja ia melihat dua siluet seseorang masuk kedalam ruang rahasia. Dan agar mereka keluar dengan sendirinya, alhasil Digo melakukan triknya tersebut. Lalu untuk anak buahnya yang membawa rombongan kearah hutan tadi sebenarnya ia juga mengikuti permainan tersebut karena ada beberapa penyusup di gerombolan itu. Yang kemungkinan saling berkomunikasi memberikan informasi kondisi di luar. Makanya Yoga dan anak buahnya tidak bisa kabur. Dan untuk para penyusup tadi, telah dibunuh oleh anak buah Digo saat mereka sudah berada di tengah hutan. Permainan trik dari mereka benar-benar sangat pintar dan licik.
Yoga menatap nyalang kearah Digo dengan tangan yang bergerak pelan mengambil sebuah pistol tak jauh dari tubuhnya saat ini. Dan...
Dorrr!
"Arkhhhh!" erangan itu bukan berasal dari bibir Digo, melainkan dari bibir Yoga karena salah satu anak buah Digo yang menyadari pergerakan dari Yoga tadi langsung bergerak sebelum laki-laki itu melakukan aksinya dan melukai bosnya.
Digo memejamkan matanya saat darah segar dari tangan Yoga hampir mengenai tubuhnya. Ia berdecak saat melihat sepatu mahalnya lah yang terkena darah dari musuhnya itu.
"Sialan," desis Digo.
__ADS_1
"Kalian segera seret mereka bawa kemarkas. Dan sebagian dari kalian urus semua berkas untuk dua orang ini agar kita besok pagi sudah bisa membawa mereka berdua pulang!" titah Digo.
"Siap bos, laksanakan!" seru semua anak buahnya. Dan tanpa hitungan menit mereka semua bergerak menjalankan tugas mereka masing-masing.
"Tisu." Henry menyodorkan beberapa helai tisu yang ia ambil dari meja tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi kearah Digo. Digo melirik sekilas tisu tersebut. Tapi tak urung tangannya kini bergerak untuk mengambil tisu tersebut. Kemudian ia berjongkok lalu membersihkan darah di sepatu yang tengah ia kenakan saat ini.
"Ck, ini tidak bisa di hilangkan. Sialan!" geram Digo. Tidak tau saja jika sepatu yang tengah ia pakai saat ini adalah sepatu pemberian adiknya. Jika saja sepatu itu bukan pemberian dari Kiya mungkin dari tadi ia sudah melepasnya dan membuang ke tempat sampah.
"Ya udah sih. Nanti sampai rumah tinggal nyuruh bik Nah atau maid baru kamu itu buat cuci sepatu ini. Jangan di pikir terlalu berat hanya masalah sepele seperti ini. Dan lebih baik sekarang kita pulang ke markas. Karena aku harus kembali menjalankan tugasku untuk mengurus berkas-berkas kita agar kita bisa segera kembali ke rumah," ujar Henry yang sebenarnya jengah dengan tingkah Digo. Laki-laki itu kalau masalah peperangan ia sangat santai sekali untuk menghadapinya. Sedangkan untuk masalah keluarga seperti masalah sepatu pemberian Kiya yang terkena darah dan akan hilang jika di cuci, laki-laki itu justru memikirkannya secara mendalam. Dasar Digo aneh, batin Henry.
Henry yang melihat kepergian Digo, ia mencebikkan bibirnya.
"Dasar manusia aneh. Tidak Kiya, tidak juga abangnya sama saja. Heran aku sama keturunan Mama Ciara dan Papa Devano. Bisa-bisanya memiliki anak seperti mereka," gumam Henry sembari mengikuti langkah Digo menuju ke arah mobil yang sudah menjemput mereka.
Tapi sayangnya, saat Henry ingin masuk kedalam mobil tadi. Tangannya mengambang di udara saat mobil itu lebih dulu melesat pergi meninggalkan dirinya yang tengah melongo menatap kepergian mobil tersebut.
__ADS_1
"Lah kok aku ditinggal!" teriak Henry sembari berlari, berharap ia bisa menyusul laju mobil tadi dan menghentikannya. Namun sayang, bukannya ia bisa menghentikan mobil itu, ia justru kelelahan sendiri dibuatnya.
Henry terhenti di pinggir jalan yang begitu sepi dengan kedua lututnya yang ia jadikan tumpuan kedua tangannya. Mengatur nafas sembari sesekali menyeka keringatnya.
"Sialan emang tuh anak satu. Kesalnya sama siapa yang jadi sasarannya tetap saja aku. Untung uang gaji yang dia berikan besar, kalau tidak udah keluar dari dulu aku dari kerjaan sialan ini. Huftt," ucap Henry.
Untuk beberapa saat Henry tak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri untuk mengatur nafasnya. Dan setelah dirasa nafasnya sudah berhembus teratur, ia mengedarkan pandangannya kearah sekelilingnya. Tak ada satupun alat transportasi yang lewat di jalanan itu.
"Jadi aku pulangnya jalan kaki ini? Oh astaga. Tadi berangkat sudah jalan kaki sekarang pulang pun juga sama. Nasib-nasib." Henry terus menggerutu di sepanjang jalanan yang ia lewati. Tak jarang ia sesekali meluapkan emosinya dengan menendang batu yang ia temui atau mencabik-cabik daun yang tak sengaja ia lihat. Jika seperti ini apapun yang ia lihat tampak bersalah dimatanya. Semut yang tak tau apa-apa pun terkena semburan maut dari Henry.
...****************...
Disisi lain tepatnya di rumah mewah milik Digo yang berada di Prancis, seorang gadis cantik tengah menatap indahnya rembulan di malam ini. Entah kenapa sejak tadi siang pikirannya terus saja memikirkan satu nama yang beberapa hari lalu telah meninggalkan dirinya. Nama yang seharusnya ia hindari. Namun justru nama itu yang kini telah memenuhi pikirannya. Tak hanya pikirannya saja yang dibuat terus terngiang-ngiang akan nama seseorang tadi, melainkan perasaannya dibuat tidak nyaman sama sekali. Resah, gundah dan khawatir membaur menjadi satu di hatinya. Dan hal itu membuat dirinya seharian ini tak bisa tenang melakukan pekerjaannya. Bahkan tadi ia sempat memecahkan beberapa perabotan di rumah mewah itu yang ia yakini jika harganya sangat fantastis. Buktinya dirinya tadi dimarahin oleh bik Nah habis-habisani. Dan ia yakin jika Digo nanti sudah pulang dan tau kesalahannya itu, laki-laki yang sebenarnya menjadi alasannya tak konsen bekerja akan menghukum dirinya.
Ya, nama yang selalu memenuhi otaknya hari ini adalah nama Digo. Laki-laki yang menyekapnya di rumah itu.
__ADS_1
"Tuhan. Kenapa perasaanku menjadi seperti ini kepada dia? Aku mohon tuhan jangan jatuhkan hatiku ke dia karena aku tidak pantas untuknya," gumam Sheilla diakhiri dengan ia menutup matanya dan menghela nafas berkali-kali untuk menenangkan hatinya yang masih saja terasa tak tenang memikirkan keadaan Digo yang berada di negara sebrang.