
Sheilla kini bisa bernafas lega setelah ayam kecap yang ia masak dengan tangannya sendiri sudah tersaji di temani dengan nasi didalam piring cantik yang sudah tertata di atas nampan. Dan tanpa menunggu lama lagi sebelum si tuan rumah akan murka kembali karena menunggu dirinya kelamaan, Sheilla bergegas menuju ke kamar Digo setelah ia melepas apron yang ia gunakan sebelumnya.
Sheilla mengetuk pintu hitam itu setelah dirinya sampai di depan kamar Digo dan saat Digo menyuruh dirinya masuk, Sheilla membuka pintu kamar tersebut dan ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Digo yang ternyata masih berada di tempatnya semula, dan hanya pakaian yang ia kenakan saja yang berubah, selebihnya masih sama persis seperti yang Sheilla lihat sebelumnya.
Sheilla melangkahkan kakinya mendekati Digo dan tanpa di minta pun Sheilla langsung duduk disamping Digo yang hanya meliriknya sekilas.
"Tuan masakannya sudah jadi," ucap Sheilla padahal tanpa ia beritahu pun Digo sudah tahu.
"Saya sudah tau Sheilla. Jika masakannya belum jadi kamu juga tidak akan disini dan masih sibuk di dapur," ujar Digo yang membuat Sheilla menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia kan tadi hanya basa-basi saja.
"Ya maaf," ucap Sheilla tak enak.
"Kamu tidak capek mengucapkan kata maaf? Saya yang dengar saja capek. Sudahlah jangan buang-buang waktu lagi. Buruan suapin saya!" perintah Digo.
Sheilla yang mendapat perintah pun ia segera menyendokkan makanan yang ia bawa tadi lalu mengarahkan ke bibir Digo dan tanpa menunggu lama, laki-laki itu menerima suapannya. Namun beberapa detik setelahnya Digo berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan makanan yang berada di mulutnya.
Sheilla yang melihat hal tersebut ia panik seketika dan bergegas menyusul Digo.
"Tuan, tuan kenapa? Apa makanannya tidak enak? Kalau tidak enak biar saya buatkan yang baru dan akan saya jamin jika rasanya jauh lebih enak dari masakan yang saya masak sekarang," ujar Sheilla di ambang pintu kamar mandi karena Digo sudah berdiri di depannya. Terlihat wajahnya tampak ketakutan, takut jika Digo akan marah kepadanya gara-gara masakannya tak cocok dengan selera tuan rumah.
"Kamu ini kalau mau nyuapin orang tuh dipastikan dulu makanannya udah dingin apa belum. Bukan masih panas langsung disuruh makan," semprot Digo kemudian ia melengos kembali ke sofa yang ia tempati sebelumnya.
"Ya Allah salah lagi," gumam Sheilla lalu ia mengikuti Digo dan duduk kembali ke tempatnya.
"Cepat suapi saya lagi. Perut saya sudah lapar. Jangan lupa buat niup dan pastikan makanan itu sudah tidak terlalu panas lagi." Sheilla hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar perintah dari Digo.
Dan kali ini ia akan memastikan jika ia tak akan melakukan kesalahan lagi yang membuat Digo murka kembali. Ia meniup makanan tadi dan setelah dipastikan mulai dingin, Sheilla mulai menyuapi Digo dengan telaten dan butuh kesabaran.
__ADS_1
Dan tak berselang lama akhirnya makanan itu telah habis tak tersisa.
"Silahkan di minum tuan." Sheilla menyodorkan segelas air putih dan langsung diterima oleh laki-laki itu dan meminumnya hingga tuntas.
Untuk beberapa saat setelahnya tak ada yang bersuara. Sheilla yang sebelumnya berniat untuk kembali ke dapur untuk menaruh piring dan gelas yang kotor, pergerakannya justru ditahan oleh Digo yang menyuruhnya untuk tetap disini menemani laki-laki itu menyelesaikan pekerjaannya sebelum nanti dia akan mengatakan hukuman untuk Sheilla. Dan Sheilla hanya bisa pasrah begitu saja karena jika dia memberontak jangan ditanya lagi pasti nyawanya yang menjadi taruhannya.
Satu jam, dua jam hingga kini jam di dinding kamar Digo menunjukkan pukul 11 malam, pekerjaan Digo tak kunjung selesai padahal Sheilla sudah beberapa kali menguap dengan mata yang sudah mulai berat. Namun ia harus memaksakan dirinya untuk tetap tersadar daripada hukumannya nanti ditambah oleh Digo.
"Kalau ngantuk tidur saja. Tapi ganti baju dulu. Baju kamu ada di lemari pojok sebelah kanan di ruangan itu," ujar Digo dengan menunjuk kearah salah satu pintu kaca yang terletak di kamar tersebut. Sheila yakin jika ruangan tersebut adalah walk in closed.
Namun otak Sheilla yang tadinya sempat loading sesaat, tiba-tiba ia di buat bingung oleh ucapan Digo sebelumnya.
"Sebentar," ujar Sheilla.
"Maksud tuan baju saya juga ada di dalam sana?" tanya Sheilla untuk memastikan jika pendengarannya tadi tak salah menangkap suara Digo.
Digo menganggukkan kepalanya tanpa melirik kearah Sheilla yang kini tengah menjatuhkan dagunya, melongo tak percaya.
"Jangan banyak tanya Sheilla segara ganti baju kamu sana. Sebelum saya yang akan menggantikan baju kamu." Sheilla otomatis menyilangkan kedua tangannya di depan dada saat Digo mengatakan hal tersebut.
"Ishhhh tuan jangan mesum ya. Kalau tuan mesum saya colok matanya nanti." Digo kini menolehkan kepalanya kearah Sheilla yang sudah menggeser tubuhnya agar menjauh dari Digo.
"Kamu mau colok mata saya? Mimpi!" ujar Digo.
"Sudah lah Sheilla, saya lagi tidak ingin ribut dengan kamu. Buruan ganti baju sekarang!" perintah Digo dengan tegas yang membuat Sheilla kini mencebikkan bibirnya namun tak urung perempuan itu kini beranjak menuju kearah walk in closed milik Digo.
Digo yang melihat perempuan itu telah masuk kedalam ruangan tersebut, ia tersenyum miring. Dan dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, ia mulai menghitung didalam hatinya. Hingga saat hitungan ketiga, Sheilla membuka kembali pintu walk in closed tersebut namun hanya menyembulkan kepalanya saja.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Digo saat Sheilla hanya menatapnya.
"Tuan. Pakai saya kok begini semua," ujar Sheilla sembari memperlihatkan satu set pakaian yang masih tergantung di gantungan baju.
"Terus?" tanya Digo dengan bersedekap dada.
"Ya kalau saya pakai pakaian ini yang ada saya kedinginan nanti kalau tidur tuan. Lagian ini pakaian apa sih kok tipis banget kayak saringan tahu mana warnanya merah merona lagi," ucap Sheilla.
"Kamu tidak tau pakaian itu apa?" tanya Digo heran. Padahal ia tadi menebak pasti Sheilla saat melihat satu lemari yang memang ia khusus kan untuk perempuan itu penuh dengan lingerie, perempuan itu akan langsung mencak-mencak dan mengomeli dirinya. Tapi ternyata perempuan itu tidak tau pakaian tersebut apa.
Sheilla dengan polosnya menggelengkan yang membuat Digo kini menepuk keningnya sesaat.
"Kalau kamu mau tau, cari di mbah google. Nama pakaian itu lingerie, cari kegunaannya untuk apa," ujar Digo.
"Tapi saya tidak punya hp tuan. Mana bisa saya mencari tau tentang pakaian ini." Digo mendengus sebal, ia baru sadar jika perempuan itu datang kesini hanya membawa tubuh saja tanpa ada barang berharga yang ia bawa.
"Haishhhhh ya sudah abaikan saja. Cari tau besok tentang pakaian itu. Kamu malam ini pakai baju tidur saya." Sheilla hanya menganggukkan kepala, patuh. Dan tanpa mengatakan apapun ia bergegas mengganti pakaiannya.
Hingga beberapa menit ia telah membuka kembali pintu walk in closed itu dengan pakaian kebesaran milik Digo.
Digo yang melihat penampilan Sheilla, ia tidak mati-matian menahan agar dirinya tak mengurung perempuan itu di kamarnya. Ehhh tapi tunggu ia melupakan hukumannya yang akan ia berikan kepada Sheilla. Dan hukuman itu berupa...
"Selama satu minggu kamu akan tidur disini." Ya, hukuman Sheilla kali ini adalah tidur di kamar Digo. Dan hal tersebut membuat Sheilla yang hampir melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut terhenti. Dan dengan tampang cengo bahkan baju yang sebelumnya ia gunakan telah jatuh kelantai, ia memutar tubuhnya menatap kearah Digo yang berlagak biasa saja setelah mengucapkan hal yang jauh sangat mematikan untuk Sheilla.
"Bentar tuan sepertinya telinga saya rusak." Sheilla menepuk-nepuk sesaat kedua telinganya dan hal itu tak luput dari penglihatan Digo yang kini tengah memincingkan alisnya.
"Nah seperti sekarang sudah normal kembali. Jadi boleh di ulang lagi perkataan tuan sebelumnya." Digo memutar bola matanya malas. Namun ia tetap saja akan mengulang ucapannya tadi.
__ADS_1
"Kamu akan tidur di kamar ini selama satu minggu dan itu merupakan hukuman untuk kamu," ujar Digo yang masih sangat santai. Namun sesaat setelahnya ia harus menutup kedua telinganya saat suara cetar membahana keluar dari bibir ranum Sheilla.
"APA?" teriak Sheilla yang benar-benar shock dengan perkataan Digo yang sangat tak masuk akal itu.