
Bertepatan dengan selesainya Sheilla makan, Digo kini masuk kedalam kamar itu kembali dengan membawa sebuah paper bag ditangannya.
"Sudah selesai makannya?" tanya Digo sembari melirik kearah piring yang sudah bersih tak ada sisa sedikitpun. Namun keningnya mengkerut saat melihat gelas susu yang isinya masih utuh.
Sedangkan Sheilla, ia menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan dari Digo tadi.
"Kenapa susunya tidak diminum?" tanya Digo heran. Ia masih setia berdiri di depan Sheilla.
"Hmmm itu anuu tuan, saya tidak suka susu," jawab Sheilla dengan jujur sembari ia menundukkan kepalanya dengan tangan yang sibuk memainkan baju yang tengah ia pakai untuk menghilangkan kegelisahan di hatinya.
"Jadi kalau pagi kamu minumnya apa selain air putih?" tanya Digo penasaran.
"Coklat panas," ujar Sheilla yang membuat kepala Digo mengangguk.
"Baiklah, abaikan susu itu. Dan lebih baik kamu ganti baju kamu itu dengan baju ini," ucap Digo sembari mengulurkan paper bag tadi kepada Sheilla.
Sheilla menatap sekilas paper bag tersebut sebelum dirinya menerima paper bag tadi dan tanpa sepatah kata lagi, ia segera bergegas menuju ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya sebelum Digo berkata seperti yang ia katakan sebelumnya.
Tak menunggu waktu lama akhirnya Sheilla telah keluar dengan penampilan barunya. Sebuah dress berwarna biru laut dibawah lutut melekat cantik di tubuhnya.
"Tuan, saya sudah selesai," ucap Sheilla saat dirinya sudah berada di hadapan Digo yang sepertinya tak sadar jika ia telah selesai mengganti bajunya.
Digo yang sedari tadi melihat ponsel di genggaman tangannya, matanya kini beralih kearah Sheilla. Satu kata yang menggambarkan Sheilla dimata Digo yaitu cantik. Walaupun Sheilla tak memakai riasan apapun karena memang ia tak memiliki skincare dan alat makeup, tapi wajahnya benar-benar sangat cantik dengan bibir yang berwarna merah jambu alami.
Sheilla yang melihat Digo tak berkedip menatap dirinya pun ia merasa risih. Kemudian ia memberanikan dirinya untuk melambaikan tangannya dihadapan Digo.
__ADS_1
"Tuan. Sa---saya sudah selesai," ulang Sheilla yang berhasil membuat Digo tersadar.
"Baiklah. Kita akan berangkat sekarang. Tapi jangan lupa bawa piring dan gelas itu dan taruh semua itu didapur. Saya tunggu kamu di mobil," ujar Digo lalu setelahnya laki-laki itu keluar lebih dulu diikuti Sheilla yang dengan cepat mengangkat sebuah nampan yang berisi dua gelas yang satu masih berisi susu tanpa berkurang sedikitpun dan satu piring yang sudah kosong. Lalu setelahnya ia bergegas keluar sebelum Digo menutup pintu kamar itu yang otomatis ia akan terkunci didalamnya jika hal itu terjadi.
Digo yang sudah memastikan jika Sheilla keluar dari dalam kamar, laki-laki itu menutup pintunya dengan rapat. Lalu setelahnya ia kembali melangkahkan kakinya mendahului Sheilla.
Dan pergerakan dari keduanya itu tak lepas dari sepasang mata seorang perempuan yang sedari tadi berdiri didepan satu pintu kamar lainnya dilantai tersebut.
"Bukannya perempuan itu yang tadi malam dikamar ini? Apa hubungan dia dengan Digo? Kenapa dia bisa keluar dari kamar laki-laki itu dengan Digo yang membukakan pintu untuknya? Apa perempuan itu pacar Digo atau calon istri laki-laki itu?" gumam perempuan tersebut penasaran.
"Apa aku harus cari tau tentang hubungan mereka?" Gumamnya lagi dengan berpikir keras menimbang ide yang akan ia lakukan.
"Ahhhh sepertinya memang aku harus mencari tahu. Ya aku harus cari tahu tentang mereka," sambungnya kemudian ia beranjak dari tempatnya berdiri tadi, saat ia sudah tak melihat Digo maupun Sheilla di lantai itu.
Perempuan tersebut bergegas keluar dari lift yang ia gunakan setelah pintu itu terbuka lebar. Ia menoleh kearah sekelilingnya hanya untuk mencari keberadaan Sheilla dan Digo. Namun setelah ia mengintari seluruh ruangan yang berada di rumah tersebut ia tak menemukan keberadaan keduanya. Dan hal tersebut membuat dirinya berdecak sebal.
"Ehhhh kamu sini!" panggil perempuan tersebut saat matanya tak sengaja menangkap seorang maid yang akan melintasi dirinya.
"Saya Nona?"
"Ck, iya kamu. Memang siapa lagi. Buruan sini!" Maid tadi langsung mendekati perempuan tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya maid tersebut dengan begitu sopan.
"Tidak, Tidak ada. Aku tidak lagi butuh bantuanmu. Aku hanya mau bertanya kemana Digo berada sekarang, karena aku tadi lihat laki-laki itu turun kelantai ini tapi aku cari dia dimana-mana aku tidak bisa menemukannya," ujar perempuan tersebut.
__ADS_1
"Ohhh nona mencari tuan Digo?" Perempuan itu memutar bola matanya sebelum ia menganggukkan kepalanya dengan malas.
"Saya tadi lihat tuan Digo keluar dari rumah ini dengan Sheilla. Mungkin mereka akan pergi. Tapi saya tidak tau mereka berdua akan pergi kemana karena itu bukan urusan saya," ujar maid tersebut.
"Sheilla?"
"Iya Sheilla. Sepertinya Nona melihat perempuan yang tadi berada di belakang tuan Digo memakai dress warna biru laut. Dan perempuan itu adalah Sheilla," jelas maid tersebut.
"Ohhhh jadi nama perempuan tadi adalah Sheilla. Tapi tunggu kenapa maid ini memanggil nama perempuan itu tidak memakai embel-embel nona ataupun nyonya jika memang Digo dan perempuan itu memiliki hubungan asmara?" batin perempuan tersebut.
"Jika sudah tidak ada keperluan lagi, saya pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaan saya. Permisi nona," ucap perempuan itu. Dan saat dirinya ingin mengundurkan diri meninggal perempuan tadi, lengannya lebih dulu dicegah oleh perempuan itu.
"Tunggu dulu," ucap perempuan tersebut sembari melepaskan cekalan di lengan maid tadi.
"Ya nona?"
"Saya mau tanya siapa Sheilla itu sebenarnya? Apa dia memiliki hubungan khusus dengan tuanmu seperti tengah menjalin sebuah hubungan asmara gitu?" Ucap perempuan tadi yang memulai aksinya.
"Saya tidak tau hubungan apa yang tengah terjadi dengan mereka karena itu bukan urusan saya nona. Saya disini hanya bekerja dan tidak elit jika saya harus tau mengenai hubungan asmara tuan saya. Sudah ya nona, waktu saya sudah terlalu lama saya buang dengan percuma. Permisi," tutur maid tadi yang sepertinya sudah muak jika harus berlama-lama berbicara dengan perempuan didepannya itu. Lalu dengan cepat ia bergegas menjauh dari perempuan tersebut yang tengah menatapnya dengan tatapan permusuhan.
"Wahhhhh jadi kamu menganggap berbicara denganku hanya membuang waktumu begitu saja. Sialan yang ada waktuku yang terbuang sia-sia karena bertanya kepadamu!" teriak perempuan tersebut dengan emosi yang memuncak. Baru kali ini harga dirinya diinjak-injak oleh perempuan sialan yang bernama maid itu.
"Sialan sialan sialan. Kepala maid dirumah ini benar-benar tidak becus mendidik anak buahnya sehingga semua maid disini tak memiliki sopan santun sedikitpun. Benar-benar sialan," ucap perempuan itu penuh dengan umpatan yang ia tujukan kepada para maid di rumah ini dan kepala maid yang tak lain dan tak bukan adalah bik Nah yang tidak tau apa-apa namun terkena getahnya.
...****************...
__ADS_1
Huwaaaaa terimakasih semuanya yang sudah memberikan aku 50 like di eps sebelumnya. Maka dari itu bersenang-senanglah kalian karena aku up lagi hari ini. Senang gak? yang pastinya senang dong. Kalau senang yokkn bisa yokkk 60 like sebelum jam 2 pagi🤠Jangan lupa untuk VOTE, Kasih HADIAH juga komen ya.
Ahhhh btw aku udah pernah nyebutin nama perempuan ini belum ya. Aku lupa dan aku cari-cari dari tadi belum nemu juga. Takutnya aku tadi pas baca ulang kelewatan baca namanya. Jadi tolong kasih tau aku ya di kolom komentar. Terimakasih semuanya. see you next eps bye 👋