The Dark Love

The Dark Love
186. Pencarian Sia-Sia


__ADS_3

Keempat orang tadi terus mencari keberadaan Digo dan Sheilla. Namun dimanapun mereka mencari keberadaan mereka berdua di sekitar hotel tersebut, mereka berempat tidak akan pernah menemukan Digo maupun Sheilla hingga waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi.


"Sudahlah, kita harus mencari keberadaan mereka kemana lagi? Ini sudah hampir dini hari, apa kalian tidak merasa capek dan mengantuk?" tanya Papa Devano.


"Kamu diam saja, bisa kan? Kalau kamu capek dan mengantuk, kembali ke kamar duluan sana. Jangan berisik disini," balas Mama Ciara dengan memberikan tatapan mautnya. Dimana hal tersebut membuat Papa Devano dan Bian hanya bisa menghela nafas panjang. Padahal ingin sekali mereka berdua benar-benar kembali ke kamar mereka masing-masing untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah tersebut. Namun mereka berdua tidak bisa meninggalkan istri-istri tercintanya itu masih berkeliaran di luar sendirian. Mereka takut jika istri kesayangannya di culik oleh laki-laki yang lebih tampan dan kaya dari mereka berdua.


Dan karena jawaban yang di berikan oleh Mama Ciara tadi, membuat dua laki-laki paruh baya itu tak lagi bersuara. Papa Devano dan Bian hanya mengikuti kemana langkah Mama Ciara dan Franda pergi.


"Ishhhh mereka berdua kemana sih? Kenapa nomor mereka tidak ada yang aktif? Jangan-jangan mereka tengah diculik lagi."


Papa Devano dan Bian mereka berdua memutar bola matanya malas.


"Mana bisa mereka di culik. Kalaupun ada orang yang berniat menculik mereka, penculik itu pasti sudah mati lebih dulu di tangan mereka berdua sebelum penculik itu menyentuh kulit Sheilla ataupun Al seujung kuku sekalipun," timpal Bian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Franda dan Mama Ciara. Dan hal tersebut membuat Bian langsung mengatupkan bibirnya.


"Kamu sih sudah di bilang jangan bicara masih nekat untuk buka mulut, kan jadi kena tatapan tajam dari dua singa yang tengah lapar," bisik Papa Devano.


"Tapi aku kan tadi hanya bicara sesuai fakta. Tidak mungkin Al ataupun Sheilla di culik. Kamu sendiri kan tau seberapa bahayanya tuh dua anak," balas Bian.


"Iya aku juga tau. Tapi sebaiknya kita tetap tutup mulut. Biarkan saja mereka menebak-nebak dimana mereka berdua sekarang berada. Dan firasatku mengatakan jika Sheilla dan Al sekarang tengah dalam perjalanan menuju ke Paris." Bian memincingkan alisnya.


"Kenapa filing kita sama. Aku juga berpikir seperti itu. Tapi lebih baik aku tanyakan ke salah satu anak buahku yang memang aku tugaskan untuk mengawasi acara ini secara diam-diam." Papa Devano menganggukkan kepalanya. Dimana anggukan kepala tersebut membuat Bian langsung mengambil ponselnya kemudian dengan segera ia menghubungi salah satu anak buahnya untuk menanyakan perihal Digo dan Sheilla.


Dan hanya butuh satu kali Bian mencoba menghubungi anak buahnya itu, telepon darinya itu kini telah diangkat oleh anak buahnya di seberang.


📞 : "Halo, ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya anak buah Bian.


"Tidak ada. Saya hanya ingin bertanya ke kamu dan orang-orang yang tadi saya tugaskan untuk mengawasi situasi dan kondisi acara pernikahan anak saya, apakah kamu atau salah satu dari kalian tau kemana perginya Al dan Sheilla?"


📞 : "Kalau saya tidak tau tuan. Tapi tunggu sebentar, saya tanyakan ke yang lain dulu," ucap anak buah Bian tersebut dan setelah mengucapkan hal tersebut tak ada lagi pembicaraan yang terjadi diantara Bian dan anak buahnya itu. Hanya terdengar suara percakapan yang terjadi antara orang yang Bian telepon itu dengan temannya.


Hingga beberapa saat setelahnya suara anak buah Bian tersebut terdengar cukup keras kembali di telinga Bian.

__ADS_1


📞 : "Halo tuan. Apa tuan masih disana?"


"Ya. Jadi katakan apa ada salah satu dari kalian yang tau dimana perginya Sheilla dan Al?" tanya ulang Bian.


📞 : "Benar tuan. Salah satu dari kita tau kemana perginya nona Sheilla dan tuan Al. Kata Putra, mereka berdua tadi keluar dari dalam gedung hotel dan masuk kesebuah mobil Mercedes Benz dengan nomor plat B 8735 AS. Putra juga tadi sempat mengikuti perginya mereka berdua dimana mereka pergi ke bandara. Tapi kita tidak tau tujuan mereka berdua pergi. Putra tadi juga sempat berniat memberikan informasi ini ke tuan ataupun nyonya tapi belum sempat dia melakukannya, tuan sudah lebih dulu mengubungi saya," jelas anak buah Bian tersebut.


"Baiklah. Kalau begitu terimakasih atas informasinya dan terimakasih atas kerja keras kalian tadi. Istirahatlah," ujar Bian sebelum sambungan telepon itu ia tutup.


"Gimana?" tanya Papa Devano.


"Salah satu anak buahku ada yang tau kemana mereka berdua pergi. Dan kamu tau, Al dan Sheilla pergi ke bandara yang kemungkin filing kita yang mengatakan mereka berdua kembali ke Paris itu benar adanya." Papa Devano tampak menghela nafas lelah.


"Jadi kalau begitu usaha kita yang mencari mereka berdua dari tadi bahkan sampai mengelilingi gedung hotel ini sia-sia dong?" Bian menganggukkan kepalanya.


"Terus kalau begini apa yang harus kita lakukan dengan dua wanita itu? Tidak mungkin kan kalau kita membiarkan mereka berdua terus mencari keberadaan Sheilla maupun Al padahal mereka berdua tidak ada disini. Tapi aku juga tidak berani memberitahu mereka berdua, takut kena hantam," ujar Papa Devano dengan bergidik negeri saat membayangkan jika pipinya terkena amukan dari sang istri nanti jika dirinya berani menggangunya.


"Aku pun juga tidak berani memberitahu mereka. Tapi kita harus melakukannya jika kita tidak mau begadang malam ini hanya untuk mencari orang yang sudah tidak ada di negara ini," timpal Bian.


Namun bukannya Bian langsung berjalan setelah mendapat dorongan tadi, laki-laki itu justru menghentikan langkahnya dan justru mendorong balik tubuh Papa Devano.


"Enak saja. Kamu lah yang bicara sama mereka," ucap Bian.


"Gak gak gak. Kamu yang bicara," balas Papa Devano.


"Tidak. Harus kamu yang melakukannya."


"Aku tidak mau. Kamu saja."


"Kamu!"


"Kamu!"

__ADS_1


Dua laki-laki paruh baya itu saling berdebat sembari saling mendorong satu sama lain. Hingga...


Brukk!


Karena dorongan cukup keras yang dilakukan oleh Bian membuat Papa Devano terhuyung kedepan. Dan tanpa mereka sadari dorongan itu membuat tubuh Papa Devano menabrak tubuh Mama Ciara hingga keduanya terjatuh ke lantai dingin di depan gedung hotel tersebut.


"Aduhhh! Minggir!" teriak Mama Ciara dengan mendorong tubuh Papa Devano yang menimpa tubuhnya.


"Kamu ini apa-apaan sih. Sakit tau," omel Mama Ciara kala dirinya telah berdiri dari posisi terjatuhnya tadi.


"Maaf-maaf sayang. Ini semua gara-gara Bian tuh. Dia tadi yang dorong aku sampai kita berdua jatuh. Jadi salahkan saja Bian jangan menyalakan aku," ucap Papa Devano.


"Ehhh enak saja main lempar batu sembunyi tangan. Yang main dorong duluan kan kamu. Aku ya balas lah apa yang kamu lakukan ke aku tadi. Jadi yang tetap salah adalah kamu," balas Bian tak mau kalah.


"Tapi---"


"Stop! Hentikan!" teriak Mama Ciara dan Franda secara bersamaan. Dimana ucapan mereka berdua mampu membuat Papa Devano dan Bian akhirnya mengatupkan bibirnya kembali.


"Kalian ini seperti anak kecil saja. Apa kalian tidak sadar jika umur kalian ini sudah tidak muda lagi. Dimana di umur kalian ini harusnya berpikir dan bertingkah dewasa bukan malah kayak bocil umur 5 tahun. Ya Tuhan. Dan lebih baik kalian berdua sekarang kembali ke kamar. Jangan ikut kita cari Al dan Sheilla," ujar Franda.


"Tidak mau. Aku---" Belum sempat Bian menyelesaikan ucapannya, Franda lebih dulu memutusnya.


"Masuk ke kamar!" perintah Franda tak terbantahkan. Dimana hal tersebut membuat Bian mengerucutkan bibirnya.


"Kamu juga, Dev. Balik ke kamar sana. Kalau ikut dengan kita yang ada kamu hanya rusuh saja," ucap Mama Ciara yang tak berani Papa Devano bantah.


"Pergi sekarang!" ujar Mama Ciara dan Franda dengan serempak yang membuat Bian dan Papa Devano langsung memutar tubuh mereka dan melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung hotel tersebut. Namun sebelum mereka berdua benar-benar masuk, Bian dan Devano saling pandang satu sama lain sebelum, "Kalian sebaiknya juga kembali ke kamar karena pencarian kalian akan sia-sia. Pasalnya Al dan Sheilla sudah tidak ada di negara ini lagi! Mereka sudah kabur ke negara lain!" teriak Papa Devano dan Bian.


"Apa?!" balas Mama Ciara dan Franda secara serempak.


Dimana hal tersebut justru membuat Papa Devano dan Bian langsung berlari menuju ke kamar mereka masing-masing, takut terkena omelan untuk yang kesekian kalinya dari para istri mereka itu.

__ADS_1


__ADS_2