
Kehadiran dua perempuan itu membuat Digo dan Henry yang tadinya masih saling bercakap-cakap mengalihkan pandangan mereka kearah datangnya Sheilla dan Monik. Dua laki-laki itu di buat penasaran kenapa Sheilla harus memapah Monik seperti saat ini? Apa yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu kini berada di pikiran kedua laki-laki tersebut. Hingga saat Monik dan Sheilla telah duduk, Digo angkat suara.
"Apa yang terjadi? Kenapa Monik kelihatan lemas dan pucat seperti itu?" tanya Digo.
"Monik lagi sakit. Magh dia kambuh," jawab Sheilla yang diangguki oleh Digo.
"Udah periksa ke rumah sakit?" Kini giliran Henry yang bersuara. Dimana pertanyannya itu dijawab dengan gelengan kepala oleh Monik.
"Kenapa?" tanya Henry kembali.
"Saya tidak suka bau obat-obatan," jawab Monik dengan kepala yang terus menunduk.
Henry tampak menghela nafas, sebelum kembali berucap, "Setelah sarapan saya antar kamu ke rumah sakit."
Monik yang mendengar perkataan dari Henry tadi ia menegakkan kepalanya dengan mata yang menatap lurus kearah Henry. Tak hanya Monik saja yang mengalihkan pandangannya kearah Henry, melainkan Sheilla dan Digo turut menatap laki-laki itu. Apalagi Digo yang tau betul sifat Henry yang tak mau ikut campur urusan orang lain, mau orang itu sakit sekali pun ia biasanya tidak perduli terlebih saat waktu-waktu akan berangkat ke kantor seperti ini, ia lebih tak perduli lagi. Tapi respon dari Henry saat tau Monik sakit dan belum memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit membuat Digo kini memincingkan alisnya.
Namun dirinya dan Sheilla hanya diam saja, melihat kelanjutan dari interaksi keduanya.
"Tidak usah repot-repot tuan. Sakit saya ini tidak terlalu parah kok. Kalau saya sudah minum obat magh pasti langsung sembuh. Jadi tuan tidak perlu repot-repot untuk mengantar saya ke rumah sakit," tolak Monik.
"Tapi---" belum sempat Henry melanjutkan ucapannya itu, suara dering ponselnya membuat dirinya terpaksa harus memutusnya ucapannya itu. Dan dengan berdecak, ia meraih ponselnya yang tadinya ia taruh diatas meja makan. Kemudian ia berdiri, menjauh untuk mengangkat telepon dari kliennya tersebut.
"Kamu yakin tidak perlu ke rumah sakit, Monik?" tanya Digo.
"Tidak perlu tuan. Saya hanya perlu obat magh saja dan istirahat sebentar. Jadi saya minta izin ke tuan jika hari ini saya akan istirahat terlebih dahulu dan tidak bekerja." Digo menganggukkan kepalanya.
"Istirahatlah jika kamu mau istirahat. Sembuhkan dulu badanmu, kalau memang sudah benar-benar sembuh bisa kembali bekerja. Jika tidak, jangan kamu paksa. Dan obat magh kamu itu, kamu punya kan?"
__ADS_1
"Dia tadi bilang kalau obatnya sudah habis. Makanya aku sekarang mau minta tolong ke kamu untuk menyuruh salah satu anak buahmu disini agar membelikan obat magh untuk Monik." Bukan Monik yang menjawab pertanyaan dari Digo tadi, melainkan Sheilla.
"Oh begitu ya. Oke, akan aku suruh salah satu anak buahku untuk membelikannya untuk Monik." Setelah mengucapkan hal tersebut, Digo bergegas untuk mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada salah satu anak buahnya tersebut.
"Saya sudah menyuruh salah satu anak buah saya untuk membelikan kamu obat magh," ucap Digo sembari meletakkan kembali ponselnya.
"Terimakasih banyak tuan," ucap Monik.
"Tidak perlu berterimakasih karena itu seharusnya sudah menjadi tanggungjawab saya kepada semua orang yang ada dimansion ini. Dan jika kamu perlu sesuatu yang mengharuskan kamu untuk keluar tapi keadaanmu atau pekerjaanmu tidak bisa ditinggalkan, jangan segan-segan untuk menyuruh salah satu anak buah saya untuk membantumu. Saya rasa mereka akan melakukannya dengan senang hati," ujar Digo.
"Baik tuan. Sekali lagi terimakasih." Digo menghela nafas namun sesaat setelahnya ia menganggukkan kepalanya untuk membalas ucapan terimakasih dari Monik tadi.
Dan bertepatan dengan ucapan terimakasih dari Monik tadi, Henry telah kembali dengan wajah masamnya yang membuat Digo mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" tanya Digo penasaran.
"Nik, untuk pagi ini saya tidak bisa mengantar kamu ke rumah sakit. Tapi nanti sore akan saya pastikan kita berdua ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan kamu," ujar Henry. Kemudian setelahnya ia menyambar jas kantornya juga tas kerjanya.
"Aku berangkat dulu. Dan kamu cepatnya pergi ke kantor," ucap Henry. Dimana perkataannya yang terakhir tadi ia tujukan ke Digo yang sudah tak masuk ke kantor berhari-hari yang tentunya membuat pekerjaan Henry double.
Dan setelah mengucapkan hal tersebut, Henry bergegas untuk pergi dari hadapan ketiga orang yang saat ini tengah menatap kepergiannya itu.
"Henry hari ini sedikit sensi ya," ucap Sheilla.
"Hmmm. Sudahlah biarkan saja dia. Dan lebih baik sekarang kita sarapan saja." Sheilla menganggukkan kepalanya. Kemudian ia segera mengambilkan makanan untuk suaminya sebelum dirinya sendiri.
"Monik, mau aku ambilkan?" tawar Sheilla.
__ADS_1
"Ahhh tidak perlu nyonya. Saya ambil sendiri saja," ucap Monik yang diangguki oleh Sheilla.
Monik mendudukkan tubuhnya kala dirinya telah mengambil makanan yang ia inginkan.
"Makan yang banyak," ucap Digo dan Sheilla saat melihat piring Monik yang hanya terisi sedikit makanan itu.
"Hmmm ini saja dulu, tuan dan nyonya takutnya tidak habis nanti."
"Ya sudah kalau begitu makanlah," ucap Sheilla yang diangguki oleh Monik.
Monik kini menyuapkan satu sendok makanan kedalam mulutnya. Ia mengunyah sangat pelan karena perutnya kembali terasa sangat mual. Dan saat makanan itu baru saja ia telah, ia sudah tidak bisa menahan keinginannya untuk memuntahkan makanan tadi hingga ia sekarang berlari menuju ke kamar mandi.
Dimana hal tersebut membuat Digo menatap punggung Monik sebelum ia menatap kearah istrinya yang tengah menghela nafas.
"Monik kenapa?" tanya Digo kepada sang istri.
"Dia sepertinya mual lagi, Dear. Penyakit magh kan seperti itu." Digo membalas ucapan dari Sheilla tadi dengan kata owh saja.
Sedangkan Sheilla, ia kembali bersuara.
"Dear, kamu tidak apa-apa kan kalau sarapan sendiri?"
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Aku mau lihat Monik, sekaligus mau mengantar dia ke kamarnya kasihan dia mual-mual terus dan pastinya tubuhnya sekarang tengah lemas. Takutnya kalau dia memaksakan diri untuk berjalan sendiri ke kamar dia, dia akan pingsan di tengah jalan nanti," ujar Sheilla yang tak tega dengan keadaan Monik saat ini.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi setelah kamu mengantar Monik ke kamar, kamu harus segara menghabiskan makananmu ini. Jangan karena kamu ingin merawat Monik yang lagi sakit, kamu sampai melupakan kesehatanmu sendiri yang berakhir kamu akan sakit juga," ucap Digo.
__ADS_1
"Iya Dear. Aku pasti akan menjaga kesehatanku kok. Aku pergi dulu." Sheilla menyematkan kecupan di pipi sang suami sebelum dirinya berlari kecil menghampiri Monik berada. Sedangkan Digo, ia hanya bisa menghela nafas sebelum ia melanjutkan acara sarapannya itu sendirian.