The Dark Love

The Dark Love
151. Beautiful Aster


__ADS_3

Digo yang menatap ke sekeliling, ia tak menemukan apapun yang mencurigakan di rumah itu. Tapi lagi-lagi pikirannya masih tertuju ke arah ruang kerja Bian.


"Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Uncle Bian didalam ruang kerjanya?" batin Digo bertanya-tanya dengan tatapan kosong lurus kedepan, dimana ia menatap punggung Bian.


Dan ia tersadar kembali saat suara Franda tiba-tiba menyapa telinganya.


"Al, kamu tidak mau ikut berpelukan bersama kita?" tanya Franda yang berhasil mengalihkan pandangannya itu ke wanita paruh baya tersebut.


"Gak ahhhh. Kalian saja. Al duduk disini. Dan untuk Uncle Bian, buruan selesaikan acara kangen-kangenannya sama Sheilla karena kita mau membahas tentang pekerjaan," ujar Digo yang membuat Bian kini menolehkan kepalanya kearah Digo yang kini sudah duduk di salah satu sofa di ruang tamu tersebut.


"Untuk urusan itu kita bahas lewat telepon saja lah Al. Lagian kamu kesini kan mau main jadi ngapain kita bahas tentang pekerjaan. Lebih baik kalau kita menghabiskan waktu kita untuk saling bercakap-cakap satu sama lain saja. Urusan pekerjaan kesampingkan dulu, karena yang terpenting sekarang adalah kebersamaan. Benar kan Sheilla?" Sheilla yang di mintai persetujuan secara tiba-tiba pun ia hanya bisa membalas ucapan Bian tadi dengan menggedikkan bahunya. Sedangkan Franda yang tak di tanya, dia yang justru menganggukkan kepalanya.


"Nahhhh kan Sheilla saja setuju," ucap Bian yang membuat Digo berdecak.


"Perasaan Sheilla gak balas apa-apa deh. Tapi kenapa Uncle malah mengartikannya sendiri?"


"Ya kan keterdiaman Sheilla tadi sama saja dia menjawab setuju," kekeuh Bian yang kini membuat Digo hanya bisa menghela nafas panjang.


"Haishhhh terserah Uncle sama Aunty sajalah. Puas-puasin tuh ketemu sama Sheilla karena habis ini Sheilla akan Al kurung didalam kamar," ucap Digo yang langsung mendapat pelototan dari kedua orang tadi.

__ADS_1


"Gak akan pernah Aunty biarkan kamu ngurung Sheilla. Kalau sampai hal itu terjadi, Aunty akan menjewer telinga kamu sampai putus sekalian." Digo yang mendengar ancaman dari Franda, ia tampak bergidik ngeri membayangkannya.


"Dan Uncle tidak akan segan-segan melempar tubuhmu itu ke kandang buaya." Kini giliran Bian yang mengancam Digo.


"Ya elah, Al tadi cuma bercanda kali. Kalau pun Al mau kurung Sheilla didalam kamar, Al pasti akan ikut berada didalam yang sama dengan kamar yang ditempati Sheilla. Karena Al sudah ketergantungan dengan Sheilla. Al tidak bisa menjauh dari Sheilla sedetik pun," ujar Digo.


"Ya elah si bucin," ucap Franda dan Bian secara serempak.


"Bucin tanda setia," balas Digo tak mau kalah yang membuat Franda mencebikkan bibirnya sedangkan Bian ia menggelengkan kepalanya.


"Terserah kamu lah Al. Yang penting kita hari ini menghabiskan waktu kita tanpa membahas pekerjaan," ujar Bian dengan ikut mendudukkan tubuhnya disamping Sheilla dimana di sofa yang ditempatinya saat ini adalah sofa yang sama yang ditempati oleh Sheilla juga Franda sekarang.


Dan kepergian dari Digo itu membuat Franda dan Bian hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebelum mereka berdua mulai bertanya-tanya kepada Sheilla mengenai kehidupan gadis itu.


Sedangkan Digo yang sudah sampai di dapur dan sudah mengambil beberapa stok cemilan Franda, saat ia ingin kembali ke ruang tamu, bertepatan dengan hal itu, ia melihat ada salah satu anak buah Bian yang tengah berlari menuju toilet yang berada tak jauh dari dapur itu. Tapi fokus Digo bukan karena wajah anak buah Bian yang sudah memerah itu melainkan fokus Digo berada di senjata berupa pistol yang terletak di pinggang anak buah Bian itu.


"Apa mungkin dengan aku memeriksa senjata yang tengah dibawa oleh anak buah Uncle Bian ini aku bisa mendapatkan sedikit bukti tentang kecurigaan para anak buahku itu?" gumam Digo dengan menimang-nimang.


Sebelum dirinya kini menganggukkan kepalanya sembari dia berkata, "Sepertinya aku memang harus mencuri senjata dia sekarang juga."

__ADS_1


Digo meletakkan beberapa cemilan yang ia bawa tadi keatas meja makan. Lalu setelahnya, barulah dia melangkahkan kakinya dengan lebar sembari matanya yang terus aktif melihat ke sekitarnya, takut ada orang yang melihat aksinya itu yang pastinya orang yang melihat aksinya tadi melaporkan kejadian saat ini kepada Bian. Dimana saat Bian tau semuanya yang ada rencanannya untuk membuktikan kecurigaan dari para anak buahnya itu gagal total.


Digo dengan mengendap-endap masuk kedalam bilik kosong yang berada disamping bilik kamar mandi yang di masuki oleh anak buah Bian tadi.


Digo sangat yakin jika celana yang digunakan oleh anak buah Bian itu, dia taruh di atas sekat kamar mandi itu. Dan benar saja dan mungkin ini adalah sebuah keberuntungan buat Digo, baru saja ia menginjakkan kakinya di bilik kamar mandi itu, ia sudah melihat ada celana yang tersampir disekat kamar mandi, dimana didalam salah saku celana itu terdapat pistol yang ia incar.


Dengan menutup pintu kamar mandi tersebut lalu menguncinya, barulah Digo berusaha untuk meraih pistol tersebut dengan perlahan.


Hingga dengan usaha keras akhirnya Digo berhasil mendapatkan pistol tersebut. Namun sayangnya bertepatan dengan ia mendapatkan pistol tersebut, celana anak buah Bian jatuh di bilik kamar mandi yang ia tempati.


"Astaga, celanaku kemana?" ucap anak buah Bian saat ia tak menemukan celananya di tempat semula. Dimana ucapan dari anak buah Bian itu membuat Digo menggaruk kepalanya.


"Apa aku harus menolong orang itu? Tapi kalau aku nanti berucap yang ada aku ketahuan. Haishhhh sudahlah, masalah menolong orang itu pikir nanti saja lah setelah aku memeriksa pistol ini. Karena aku tidak mau dia curiga saat aku menolong dia untuk memberikan celananya yang jatuh itu dan tidak ada pistol miliknya," batin Digo.


Dan seperti suara hatinya tadi, Digo kini mulai memeriksa pistol yang berada di tangannya saat ini tanpa memperdulikan keresahan yang terjadi di bilik sampingnya itu.


Digo terus mencari dan menelisik pistol tersebut sampai ia menemukan negara dan tahun pistol itu dibuat.


"US, 1875," gumam Digo dan setelahnya ia dengan sangat teliti mencari apakah ada lambang di pistol itu. Tapi tak berselang lama yang ia temukan bukanlah sebuah lambang di pistol tersebut melainkan sebuah tulisan kecil yang berada di lingkaran trigger guard di pistol tersebut sampai membuat Digo harus memfokuskan penglihatannya agar ia bisa melihat tulisan kecil itu. Dimana tulisan itu berbunyi "Beautiful Aster"

__ADS_1


__ADS_2