
Henry yang seharian merasa gelisah dan tidak tenang, sore ini saat dirinya baru sampah di mansion Digo. Laki-laki itu bukan langsung menuju ke kamarnya sendiri melainkan ke kamar Monik.
Tangan Henry kini bergerak untuk mengetuk pintu kamar didepannya itu.
Tok tok tok!!!
"Monik, ini saya. Apa boleh saya masuk?!" teriak Henry.
Dimana ketukan pintu dan teriakan yang dilakukan oleh Henry tadi membuat Monik yang terduduk lemas di pinggir ranjangnya itu, tubuhnya dibuat menegang.
"Monik! Kamu didalam kan?"
Teriakan dari Henry kembali terdengar yang membuat Monik kini panik didalam sana.
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku belum siap bertemu dengan tuan Henry. Dan aku juga tidak mau jika beliau nanti mengantarku ke rumah sakit seperti niatannya tadi pagi. Karena jika aku berhasil dipaksa ke tempat itu semua yang akan aku sembunyikan akan terbongkar sebelum aku menyingkirkan janin ini dari rahimku," gumam Monik panik. Ia pun juga sudah memikirkan matang-matang langkah apa yang akan ia ambil untuk masalahnya ini yaitu dengan menggugurkan kandungannya demi kebaikan bersama.
"Monik!" teriak Henry kembali yang membuat Monik mendesah sebelum akhirnya ia memilih untuk beranjak dari duduknya dan membukakan pintu untuk Henry. Namun sebelum dia membuka pintu kamarnya, ia menyempatkan dirinya untuk memakai lipstik untuk menyamarkan wajah pucatnya itu.
"Mon---" Tangan Henry melayang di udara kala pintu kamar dihadapannya itu telah di buka oleh seseorang yang membuatnya gelisah dan tidak tenang seharian ini.
"Maaf tuan, saya tadi berada di kamar mandi jadi saya tidak mendengar teriakkan tuan. Emmm ada apa ya tuan?" tanya Monik dengan sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa takutnya itu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Henry tanpa memperdulikan permintaan maaf yang tadi sempat terlontar dari bibir Monik.
"Saya baik-baik saja tuan. Jauh lebih baik dari tadi pagi," jawab Monik dengan memperlihatkan senyum palsunya.
__ADS_1
"Kamu yakin?" Monik menganggukkan kepalanya.
Dimana anggukan kepala dari Monik itu membuat Henry kini menghela nafas lega.
"Syukurlah kalau menang begitu." Monik menganggukkan kepalanya lagi. Dan setelahnya tak ada percakapan lagi diantara keduanya, mereka tampak canggung untuk saling mengobrol satu sama lain. Hingga Henry kini bersuara kembali dengan tangan yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kalau begitu. Saya ke kamar saya dulu. Jika kamu ingin pergi ke rumah sakit, bilang saja ke saya. Saya akan mengantar kamu ke sana," ucap Henry.
"Baik tuan. Terimakasih atas perhatian yang telah tuan berikan," balas Monik yang diangguki oleh Henry sebelum laki-laki itu kini bergegas pergi dari hadapan Monik.
Monik yang sudah tidak melihat tubuh Henry lagi, ia kini bisa menghela nafas lega.
Sebelum tangannya kini bergerak untuk mengelus perutnya yang masih rata itu.
Dipagi harinya Sheilla, Digo dan Henry telah berkumpul di ruang makan untuk melakukan sarapan bersama. Namun ada satu hal yang membuat Sheilla menatap kearah sekelilingnya, seakan-akan ia tengah mencari keberadaan seseorang. Dimana hal tersebut membuat Digo dan Henry saling pandang satu sama lain sebelum Digo angkat suara.
"Kamu cari siapa sih sayang?" tanya Digo.
"Monik mana? Dia kan sekarang asisten pribadiku, harusnya dia sarapan dengan kita dong," ujar Sheilla yang membuat Digo menghela nafas panjang.
"Memangnya kamu sudah memberitahu Monik tentang hal itu?" Sheilla tampak terdiam kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Astaga, kalau kamu tidak memberitahu dia ya dari mana dia akan tau jika dia sudah menjadi asisten pribadimu."
"Iya juga ya. Ya sudah deh aku cari dia dulu. Kamu sarapan sama Henry duluan tidak apa-apa kan? Nanti aku susul dengan Monik." Tanpa menunggu jawaban dari Digo, ia bergegas pergi dari hadapan mereka berdua.
__ADS_1
Digo yang melihat kepergian dari istrinya itu ia menghela nafas panjang.
"Kita sarapan dulu saja lah. Pagi ini kita ada meeting kalau kita nungguin mereka berdua yang ada kita telat," ujar Henry yang membuat Digo mengalihkan pandangannya kearahnya. Dimana ucapan dari Henry tadi dibalas dengan anggukan kepala setuju.
Sedangkan disisi lain, Sheilla bergegas menuju ke kamar Monik karena kata bik Nah yang sempat bertemu dengannya, Monik hari ini tidak bisa bekerja lagi karena masih sakit.
Sheilla mengetuk pintu kamar Monik dengan sesekali ia memanggil nama perempuan itu. Namun sudah hampir 5 menit dirinya melakukan hal yang sama, tetap saja tak ada balasan dari dalam kamar itu.
"Apa Monik masih tidur ya?" gumam Sheilla bertanya pada dirinya sendiri.
"Atau jangan-jangan dia pingsan lagi. Aduh aku tidak bisa terus berdiri disini. Aku harus segara memeriksa kamar ini," sambung Sheilla. Dan entah kebetulan atau tidak, saat Sheilla memutar kenop pintu kamar Monik, pintu itu ternyata tidak di kunci oleh sang pemilik kamar.
Tanpa menunggu lama lagi, Sheilla masuk kedalam kamar tersebut, mengedarkan pandangannya keseluruhan sudut ruangan itu namun sejauh mata memandang, ia tak kunjung menemukan keberadaan Monik.
"Lho kok gak ada? Kemana sih dia? Apa didalam kamar mandi ya? Hmmm mungkin, biar aku cek dulu saja deh." Sheilla melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi di kamar tersebut.
Sesampainya dia di depan kamar mandi lagi-lagi tangannya bergerak untuk mengetuk pintu tersebut. Namun tetap saja tak ada jawaban dari Monik jika memang perempuan itu saat ini berada didalam ruangan tersebut.
Sheilla yang sudah capek sendiri karena sedari tadi berteriak dan mengetuk pintu, akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi yang lagi-lagi tak di kunci itu.
"Astaga, disini juga tidak ada. Kemana sih dia?" tanya Sheilla setelah ia memastikan jika kamar mandi itu benar-benar tidak ada seseorang yang ia cari sedari tadi. Bahkan ia sampai masuk kedalam, mencari di setiap sudut kamar mandi itu, siapa tau Monik tengah bersembunyi darinya, pikir Sheilla. Namun tetap saja mau dia mencari Monik di dalam kamarnya atau didalam kamar mandi bahkan di dalam mansion itu, ia tak akan menemukan perempuan itu karena Monik saat ini tidak berada di dalam mansion melainkan tengah dalam perjalanan menuju ke suatu tempat.
Sheilla menghela nafas sebelum ia memutuskan untuk kembali keluar dari dalam kamar mandi tersebut. Namun saat dirinya melewati satu lemari kaca yang terletak didalam kamar mandi itu, ia menghentikan langkahnya. Ia pikir ia harus mencari Monik didalam lemari tersebut.
Sheilla yang masih yakin jika Monik hanya bersembunyi darinya pun ia kini membuka lemari tersebut. Dimana saat pintu itu terbuka, keningnya di buat berkerut kala bukan Monik lah yang ia temukan melainkan sebuah benda pipih berjumlah 10 buah yang tergeletak di lemari tersebut.
__ADS_1