The Dark Love

The Dark Love
84. Dunia Percintaan yang Rumit


__ADS_3

Digo dan Sheilla kini telah sampai kembali kedalam ruang kerja Digo dengan Sheilla yang sudah berhenti menangis namun perempuan tersebut masih cemberut.


"Honey," panggil Digo saat pintu ruang kerja laki-laki tersebut tertutup kembali.


Sheilla yang dipanggil pun ia memang memutar tubuhnya kehadapan Digo. Namun saat Digo ingin mendekati dirinya, ia langsung menggerakkan tangannya untuk meng-stop langkah Digo.


"Jaga jarak," ujar Sheilla.


"Lho kok---"


"Stttt diam!" sentak Sheilla yang membuat Digo langsung menutup bibirnya kembali.


Sheilla yang melihat Digo sudah terdiam pun ia kembali melangkahkan kakinya, namun baru dua langkah saja ia berhenti lalu menatap Digo kembali.


"Kamar," ucap Sheilla.


Digo mengerutkan keningnya. Sheilla yang paham jika kekasihnya itu pasti tidak paham maksudnya pun ia memutar bola matanya malas sebelum dirinya berbicara lagi.


"Di ruangan ini ada kamar khusus buat kamu istirahat kan?" Digo menganggukkan kepalanya. Ia tak berani membuka suaranya, takut jika Sheilla akan semakin marah kepadanya.


"Antarkan saya ke kamar itu. Saya mau istirahat," ucap Sheilla.


Digo yang tak bisa berkutik didepan pawangnya yang lagi marah pun ia hanya bisa pasrah saja dan kini kakinya bergerak menuju ke lemari kaca besar yang ada di dalam ruangan tersebut kemudian ia menyentuh sebuah sidik jari yang berada di samping lemari itu. Hingga lemari itu bergeser dan menampilkan sebuah ruangan di balik lemari tersebut.


Dan tanpa berbicara sepatah katapun, Sheilla langsung berjalan masuk kedalam ruang kamar tersebut diikuti oleh Digo di belakangnya.


"Siapa yang suruh kamu ikut masuk?!" galak Sheilla yang membuat Digo menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Memang tidak ada yang menyuruh dia ikut masuk kedalam kamar itu. Tapi ia tak bisa jika harus menjaga jarak dengan Sheilla.

__ADS_1


"Keluar!" perintah Sheilla.


"Tidak," jawab Digo dengan refleks sebelum kedua tangan laki-laki itu bergerak menutup bibirnya sendiri.


"Siapa yang suruh kamu bicara hah? Keluar sekarang! Jangan mengganggu saya istirahat," ujar Sheilla.


"Tapi---"


"Keluar atau burung kamu akan saya potong saat ini juga," ancam Sheilla yang membuat Digo menelan salivanya dan dengan cepat laki-laki tersebut keluar dari dalam kamar tersebut.


Sheilla yang sudah melihat Digo keluar pun kakinya kini bergerak menuju ke ranjang kamar tersebut. Ia tak peduli jika pintu kamar itu masih terbuka lebar. Karena ia tahu selain Digo tidak ada yang bisa mengakses pintu kamar tersebut.


Sedangkan Digo yang sudah berada di luar kamar tersebut, diam-diam ia mengintip Sheilla yang ternyata sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang tersebut dengan posisi yang membelakangi pintu kamar itu. Dan hal tersebut membuat Digo kini menghela nafas panjang.


"Ternyata cemburunya seorang perempuan begini ya. Rumit, apa-apa salah dan sangat tidak bisa di mengerti," gumam Digo yang masih menatap kearah Sheilla sebelum kakinya kini bergetak menuju kearah meja kerjanya. Mungkin ia akan membiarkan Sheilla istirahat terlebih dahulu tanpa ia ganggu.


"Ya ampun kenapa saya sekarang gampang sekali rindu sama dia? Tidak bisa jauh-jauh dari dia. Padahal jika di pikir-pikir jarak antara meja kerja sama kamar itu cuma beberapa langkah saja tapi entah kenapa pikiran ini selalu saja tak tenang jika tidak melihat langsung dia," gumam Digo tak habis pikir dengan dirinya sendiri.


"Ya Tuhan demi apapun saya rindu dia. Ingin rasanya saya masuk kedalam dan memeluknya sekarang juga. Tapi jika saya sekarang masuk kedalam kamar itu. Apa Sheilla nanti tidak semakin marah dengan saya? Arkkhhhhhhh saya yakin Sheilla pasti marah dan berakhir dia akan terus mendiami saya atau bahkan nanti saat di mansion dia tidak mau satu ranjang dengan saya. Tidak, saya tidak mau jika harus pisah kamar sama Sheilla. Bisa gila saya jika tidur tanpa memeluk Sheilla. Tapi jika saya tidak segera menyalurkan kerinduan saya ini, saya juga tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan saya. Ck," sambung Digo. Ia benar-benar sedang di landa dilema saat ini.


Digo terus berdiri di ambang pintu kamar tersebut sembari menatap tubuh Sheilla yang sepertinya perempuan itu tengah tertidur. Hingga tepukan di bahunya membuat dirinya menolehkan kepalanya kebelakang dimana disana ada Henry.


"Ada masalah?" tanya Henry tepat sasaran. Dan hal tersebut membuat Digo kini menghela nafas lalu setelahnya ia berjalan menuju ke sofa di dalam ruangan tersebut diikuti oleh Henry di belakangnya.


Dan saat keduanya telah duduk di sofa tersebut, tanpa di minta oleh Henry, Digo menceritakan tentang masalahnya dengan Sheilla tadi sedetail-detailnya hingga tiba saat Digo menceritakan tentang dirinya menenangkan Sheilla menggunakan permen tadi, tawa Henry pecah seketika.


"Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Digo tak suka.

__ADS_1


"Hahahaha ya ampun kamu kasih Sheilla permen saat dia menangis?" tanya Henry untuk memastikan. Dan pertanyaannya itu dijawab dengan anggukan kepala oleh Digo.


"Bodoh," celetuk Henry yang membuat Digo mendelik.


"Berani-beraninya kamu ngatain saya bodoh!"


"Saya tidak ngatain kamu bodoh, Al. Tapi kamu memang bodoh. Please lah Al. Sheilla itu bukan anak kecil lagi yang bisa berhenti menangis karena kamu kasih permen," ujar Henry.


"Saya kan juga tidak tau dan seingat saya untuk menenangkan orang menangis memang menggunakan permen. Jadi ya saya berikan apa yang saya tau saja. Tapi ternyata apa yang menurut saya benar itu justru salah besar dan lihatlah Sheilla sekarang justru marah-marah terus sama saya dan berakhir dia ninggalin saya untuk tidur. Saya sekarang harus bagaimana Henry agar bisa membuat dia tidak marah-marah lagi seperti ini? Apa yang harus saya lakukan? Dan sepertinya ucapan kamu tentang saya yang bodoh itu benar. Saya benar-benar bodoh sekali tentang dunia percintaan yang ternyata begitu rumit ini," ucap Digo yang sepertinya dia sadar jika ia benar-benar nol dalam dunia percintaan.


"Syukurlah kalau kamu sekarang sadar," ujar Henry yang diangguki oleh Digo. Ia sekarang tidak akan marah lagi jika dirinya dikatai bodoh oleh orang lain karena memang ia akui jika dirinya memang bodoh.


"Dan saya sepertinya ada ide untuk membuat Sheilla tidak marah-marah lagi sama kamu. Sekaligus ide ini juga bisa kamu gunakan untuk meminta maaf kepada Sheilla nanti," sambung Henry.


"Ide apa itu?"


"Kamu mau tau?" Digo menganggukkan kepalanya dengan antusias.


"Dekatan sini, saya bisikin tentang ide itu," ujar Henry yang langsung membuat Digo berpindah tempat duduk menjadi disamping Henry.


Dan setelah keduanya saling berdekatan, Henry mulai membisikkan ide tersebut.


"Gimana?" tanya Henry setelah dirinya selesai memberitahu idenya tadi kepada Digo.


Digo tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Akan saya coba dan jika idemu itu berhasil membuat Sheilla tidak marah lagi dengan saya, saya akan memberikan kamu bonus," ujar Digo yang membuat bibir Henry otomatis mengembang.

__ADS_1


__ADS_2