The Dark Love

The Dark Love
195. Alat Testpack


__ADS_3

Tangan Sheilla bergerak untuk mengambil salah satu benda pipih yang sangat ia tau benda itu apa. Dimana setelah ia mengambil benda pipih tersebut dan melihat layar digital di benda itu yang terdapat tulisan pregnant, Sheilla menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat itu.


"Mon---Monik hamil?" beo Sheilla.


"Dengan siapa dia melakukannya? Dan apa aku harus memberitahu Digo juga Henry akan hal ini? Tapi bagaimana kalau hal ini sangat privasi baginya? Tapi jika aku tidak memberitahu ke mereka, mereka nanti pasti akan menyuruh Monik tetap bekerja berat. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan." Sheilla yang kebingungan pun ia menggigit jari telunjuknya. Ia ragu untuk memberitahu fakta tersebut ke dua laki-laki yang merupakan tuan di rumah ini karena takut itu privasi untuk Monik.


"Arkhhhh itu nanti saja aku pikirkan. Sekarang aku harus bertemu Monik dulu," ujar Sheilla dan dengan membawa salah satu testpack tersebut, ia keluar dari dalam kamar mandi Monik juga dari kamar perempuan itu.


Dan dengan sesekali bertanya, Sheilla mencari keberadaan Monik didalam mansion tersebut namun semua orang yang ia tanyai pasti menjawab tidak tahu dan hal tersebut hampir membuat dirinya frustasi sendiri.


"Monik kemana sih? Semua orang yang ada disini tidak ada yang tau kemana dia saat ini berada," gumam Sheilla. Namun tak urung ia kembali mencari keberadaan Monik di sekitar mansion tersebut.


Digo dan Henry yang telah selesai dengan sarapan mereka, keduanya di buat penasaran kenapa Sheilla dan Monik belum juga muncul di hadapan keduanya dan bergabung untuk sanrapan.


"Apa yang telah Sheilla dan Monik lakukan sampai kita selesai sarapan mereka belum juga kemari?" tanya Digo.


"Mana aku tahu. Aku saja sedari tadi sama kamu disini. Tapi aku juga penasaran kenapa mereka tidak datang-datang. Dan daripada kita terus bertanya-tanya tanpa ada jawaban yang jelas, lebih baik kita menyusul mereka. Kamu juga kan harus pamit dengan Sheilla untuk pergi ke kantor." Digo mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum dirinya berdiri dari posisi duduknya itu. Dan tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Digo melangkahkan kakinya meninggalkan Henry yang tampak berdecak namun tak urung laki-laki itu ikut melangkahkan kakinya mengikuti Digo pergi.


Namun saat mereka melewati pintu belakang rumah yang terbuka lebar itu, langkah kaki keduanya terhenti saat melihat Sheilla tengah berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke rumah belakang yang terdapat beberapa kamar para maid disana.


"Lah itu Sheilla. Tapi kenapa dia hanya sendiri? Kemana Monik?" tanya Henry penasaran. Dimana ucapannya itu di balas dengan gedikkan bahu oleh Digo. Lalu tanpa mempedulikan Henry yang tengah bertanya-tanya, ia memilih untuk menyusul kepergian Sheilla.


Sedangkan Henry yang lagi-lagi di tinggal oleh Digo, ia berdecak tapi tetap saja ia mengikuti langkah Digo tadi.

__ADS_1


Dengan berlari Digo menyusul Sheilla dan saat dirinya sudah dekat dengan sang istri, ia meraih lengan Sheilla hingga membuat perempuan tersebut terkejut dan otomatis menghentikan langkahnya.


"Astagfirullah, Dear ngagetin aja," ucap Sheilla dengan mengelus dadanya.


"Maaf-maaf sayang. Aku tidak bermaksud untuk mengagetkanmu." Sheilla menganggukkan kepala tanda ia menerima permintaan maaf dari sang suami.


"Oh ya kamu mau kemana sih? Kenapa kelihatannya kamu sangat panik? Dan dimana Monik?" tanya Digo.


"Aku lagi mencari Monik sekarang, Dear. Dia tidak berada di kamarnya dan aku sudah cari dia kemana-mana tapi dia tetap saja tidak bisa aku temukan dan hanya ada satu tempat yang belum aku cari keberadaan Monik yaitu di rumah para maid ini," ucap Sheilla.


"Selama Monik tinggal disini, dia tidak pernah menginjakkan kaki di rumah maid yang ini sayang. Jadi tidak mungkin dia sekarang ada disini," balas Digo.


"Ehhhh begitu ya. Kalau memang dia tidak ada disini jadi sekarang dia ada dimana dong?" tanya Sheilla tanpa tau tatapan Henry saat ini mengarah ke tangannya.


"Apa yang berada di tanganmu itu, Sheilla?" pertanyaan dari Henry tadi membuat Sheilla tersadar akan apa yang telah ia bawa saat ini.


Sedangkan Sheilla, ia langsung menyembunyikan alat testpack itu di belakang tubuhnya.


"Bukan, bukan apa-apa," jawab Sheilla.


"Kalau bukan apa-apa, boleh aku lihat," pinta Digo yang mendapat gelengan kepala oleh Sheilla.


"Ini beneran bukan apa-apa kok. Jadi kalian tidak perlu melihatnya," tolak Sheilla. Namun Henry yang sudah kepo maksimal dengan pergerakan cepat, ia menuju ke belakang Sheilla dan mengambil testpack tersebut dari tangan perempuan tersebut.

__ADS_1


"Henry, apa yang kamu lakukan? Kembalikan sekarang." Sheilla berusaha untuk mengambil testpack tersebut. Tapi sayang, perbedaan tinggi dirinya dan Henry membuat dia kesusahan mencapai alat itu kembali.


Sedangkan Henry, ia berusaha untuk membaca hasil testpack tersebut dengan terus meninggikan alat itu agar tak terjangkau oleh Sheilla.


Dan saat ia berhasil membaca hasil testpack itu, ia bersuara dengan lantang, "Pregnant!"


Digo yang mendengar kata itu ia tampak terkejut dengan perasaan yang tiba-tiba teramat sangat senang. Ia pikir benda itu milik Sheilla, kalau memang milik Sheilla, ia terlalu hebat bisa membuat sang istri hamil hanya dalam waktu dua hari saja.


Sedangkan Sheilla, ia justru tampak lemas kala niatnya untuk menyembunyikan testpack milik Monik itu dari kedua laki-laki tersebut karena takut itu sebuah privasi milik Monik. Namun niatannya itu gagal setelah Henry membaca hasil testpack itu dengan lantang bahkan laki-laki itu sekarang tengah senyum-senyum sendiri, seakan-akan dia tengah menggoda Sheilla yang diduga berhasil hamil, pikir Henry.


"Kamu hamil sayang?" Pertanyaan dari Digo itu membuat Sheilla menatap kearahnya dengan kerucutan di bibirnya.


"Cieee yang mau jadi calon ibu. Kecebongnya Al bar-bar juga ya. Baru dua hari udah masuk aja ke rumahnya," timpal Henry yang membuat Sheilla berdecak kesal. Ia dengan terpaksa harus meluruskan kesalahpahaman ini karena ia tak mau jika dirinya pura-pura mengakui jika testpack itu miliknya, akan membuat Digo kecewa suatu saat nanti jika laki-laki itu tau kedok bohongnya itu. Apalagi saat ia melihat wajah bahagia yang terpancar dari diri sang suami yang membuat dirinya tak tega untuk berbohong kepada laki-laki itu.


Dan dengan helaan nafas Sheilla berkata, "Testpack itu bukan milikku."


Senyum bahagia dari kedua laki-laki di sampingnya tersebut seketika luntur mendengar penuturan dari Sheilla.


"Jangan bercanda kamu, She. Kalau memang benda ini bukan milikmu kenapa ada di tanganmu?" tanya Henry tak percaya dengan pengakuan dari Sheilla tadi.


"Aku tidak bercanda. Aku mengatakan yang sebenarnya."


"Kalau benda itu bukan milikmu, jadi milik siapa?" kini Digo yang bertanya.

__ADS_1


Sheilla menggigit bibir bawahnya sebelum ia angkat suara kembali.


"Testpack itu aku temukan di dalam kamar mandi Monik yang otomatis benda itu milik Monik," jawab Sheilla yang membuat dua laki-laki itu tampak terkejut apalagi dengan Henry yang jantungnya saat ini tengah berdetak kencang kala mendengar penuturan dari Sheilla tadi.


__ADS_2