
"Sial!"
Brak! Brukk! Brak!
"Ada hubungan apa mereka berdua? Kenapa mereka terlihat romantis sampai harus masuk kedalam satu ruangan segala dan ruangan itu adalah sebuah kamar. Apa yang sebenarnya tengah aku lewatkan?! Sampai aku tidak tau hubungan yang terjalin diantara dua orang itu. Arkhhhh sialan!" Erang seorang laki-laki yang sekarang berada di sebuah gudang belakang dimana sangat jarang di kunjungi oleh penghuni mansion. Laki-laki itu melupakan rasa panas yang ada di dalam dirinya kala melihat keromantisan yang terjadi diantara Monik dan Henry dengan membanting, menendang bahkan ia tak segan untuk menghancurkan barang-barang yang ada di dalam gudang itu. Ia cemburu melihatnya, apalagi melihat pujaan hatinya tangannya di genggaman erat seperti tadi. Mengingat adegan itu membuat emosi di dalam diri laki-laki itu terus saja meningkat. Hingga ia kembali membanting bahkan kalau bisa ia akan meruntuhkan gudang itu.
"Apa ini adalah tanda aku benar-benar harus menyerah untuk meluluhkan hati Monik?" gumam laki-laki itu namun sesaat setelahnya ia menggelengkan kepalanya dengan tangan yang kini terkepal erat.
"Tidak. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Monik harus bisa aku tundukkan. Monik harus menjadi milikku bukan milik orang lain. Aku harus merebut Monik dari tangan Henry. Ya, aku harus merebutnya," sambung laki-laki itu penuh dengan tekat.
Tapi beberapa saat setelah ia mengucapkan tekatnya itu, ia meluruhkan tubuhnya hingga dirinya duduk diatas lantai dengan punggung yang ia sandarkan disandarkan tembok.
"Tapi apa yang harus aku lakukan agar aku bisa memiliki Monik. Aku tidak sebanding dengan Henry. Aku tidak bisa melawan dia hanya seorang diri karena jika aku melakukannya aku akan kalah telak. Tapi aku juga tidak mau menyerah begitu saja. Aku benar-benar tidak ikhlas melihat Monik berada di genggaman laki-laki lain," ucap laki-laki tersebut menyadari jika ia tidak memiliki kekuasaan sama sekali yang bisa menandingi Henry dan ia juga sadar jika ia tak sekuat laki-laki yang menjadi tuannya itu. Dan karena hal tersebut, ia menjambak rambutnya dengan air mata yang tiba-tiba menetes.
Ia menangis dalam diam hanya karena seorang perempuan yang sedari dulu sudah berada didalam hatinya namun tak kunjung bisa ia dapatkan sampai saat ini.
__ADS_1
Kerapuhan dari seorang laki-laki didalam gudang itu ternyata secara diam-diam disaksikan oleh salah satu rekannya yang tidak sempat mengikutinya. Rekannya itu tersenyum kala mendengar semua ucapan yang keluar dari bibir laki-laki didalam gudang tersebut. Dan mungkin ia menganggap jika hal ini adalah sebuah peluang baginya, ia berjalan santai memasuki gudang tersebut. Dimana suara pintu terbuka membuat laki-laki yang tadinya tengah menelusupkan wajahnya di lipatan kedua tangannya, kepalanya ia tegakkan kembali dengan tatapan yang kini tertuju kearah rekannya itu yang tengah berjalan mendekati dirinya.
"Sepertinya ada yang tengah galau nih," ucapnya yang terdengar seperti sebuah ejekan di telinga laki-laki tersebut.
"Tidak perlu mengejekku. To the point saja untuk apa kamu kesini?" tanya laki-laki tersebut.
"Ruangan ini bukan ruangan pribadimu. Ruangan ini adalah sebuah gudang yang siapa saja boleh masuk tanpa harus izin dan mengatakan tujuan mereka masuk kedalam sini kepadamu. Jadi kamu tidak perlu tau tujuanku datang kesini itu untuk apa." Laki-laki itu tampak mendengus mendengar balasan dari rekan kerjanya itu. Dan daripada dirinya semakin dibuat emosi dengan rekannya tersebut, ia memilih untuk segara berdiri dari duduknya kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam gudang tersebut. Tapi di tengah jalan, ia terhenti kala suara rekannya kembali terdengar.
"Kamu menginginkan Monik menjadi milik kamu kan? Aku punya caranya." Laki-laki itu dengan cepat memutar tubuhnya hingga menghadap kearah rekannya kembali dengan salah satu alis yang terangkat.
Rekan dari laki-laki itu yang tak mendengar persetujuan darinya pun ia kembali angkat suara.
"Jadi gimana? Apa kamu setuju? Jika tidak, tidak masalah karena aku tidak akan memaksa kamu untuk mensetujuinya. Tapi kamu siap-siap saja jika kamu lama bertindak maka Monik benar-benar akan jatuh ke tangan Henry."
Tangan laki-laki itu kembali terkepal kuat dan dengan pikirannya yang sudah tidak bisa ia ajak kerjasama pun ia menjawab, "Aku setuju dengan syarat yang kamu berikan. Jadi katakan apa cara yang kamu maksud itu!"
__ADS_1
Rekannya tersebut tampak tersenyum sangat tipis sampai tak bisa laki-laki itu lihat.
"Kesini." Laki-laki itu menurut saja. Ia kini mendekati rekannya tersebut. Dimana setelah ia saling berhadapan, rekannya itu mencondongkan tubuhnya tepat di samping telinga laki-laki itu sebelum ia membisikkan cara yang ia rekomendasikan kepada laki-laki tersebut.
Laki-laki itu tampak melebarkan matanya setelah mendengar ide yang di berikan oleh rekannya tersebut.
"Kamu gila?! Ide macam apa itu? Gak, aku tidak bisa melakukannya," tolak laki-laki itu.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau melakukannya. Toh yang rugi disini bukan aku tapi kamu. Dan aku yakin mungkin Henry dan Monik bisa saja menikah dalam waktu secepatnya yang artinya kamu akan kalah telak dengan laki-laki itu," ujar rekannya itu masih memancing agar laki-laki tersebut terpengaruh dengannya dan mensetujui idenya itu.
"Aku lebih baik melihat dia menikah dengan laki-laki lain karena dengan hal itu aku masih bisa melihat dirinya walaupun dari kejauhan dan tidak bisa aku miliki selamanya. Daripada aku menerima dan melaksanakan ide konyolmu itu yang menyuruhku menaruh racun di makanan atau minuman Monik dimana saat itu terjadi mungkin saat itu juga aku tidak bisa melihat Monik lagi. Jadi simpan saja ide gilamu itu karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mensetujuinya," ujar laki-laki itu dengan kepalan tangan yang semakin mengerat. Ia memang berniat untuk memisahkan Monik dengan Henry tapi tidak dengan cara melenyapkan Monik seperti ide yang di berikan oleh rekannya itu.
Dan setelah mengatakan hal tersebut, laki-laki itu beranjak pergi, meninggalkan rekannya yang menatap tajam punggungnya.
"Sialan, kenapa dia sangat sulit untuk di pengaruhi? Kalau seperti ini aku harus kerja sendiri untuk menyingkirkan orang-orang terkuat mansion ini. Arkhhhh, sialan!" ucap orang tersebut yang tak berhasil mendapatkan kawan untuk membantu pekerjaannya yang belum juga ada pergerakan.
__ADS_1