
Dengan langkah riang gembira, Kiya keluar dari lift saat dirinya sudah sampai di lantai dua mansion tersebut. Dan tujuannya yang pertama saat ini adalah kamar lama Digo yang ia kira Kakaknya itu masih menempati kamar tersebut.
Dan dengan senyum yang mengembang, tangannya kini bergerak untuk membuka pintu kamar tersebut. Dimana selain Digo dan Henry, Kiya pun juga bisa membuka pintu kamar Digo yang lama, lebih tepatnya ia bisa membuka semua pintu yang ada di mansion tersebut. Tentunya ia mendapatkannya dengan cara licik dan secara diam-diam tanpa di ketahui oleh Digo.
Dan saat tangannya kini sudah membuka pintu kamar tersebut dan sudah menyalakan lampu, senyumannya luntur seketika dan berganti dengan ekspresi cengonya.
"Lho kok kosong. Kemana Abang? Ya kali dia gak pulang. Apa jangan-jangan dia diusir lagi sama bik Nah karena bang Al nakal? Hmmmm bisa jadi bisa jadi," gumamnya diakhiri dengan gedikkan di bahunya sebelum ia menutup kembali pintu kamar tersebut.
Dan daripada ia memikirkan Digo yang entah dimana sekarang berada, ia memilih menuju ke kamarnya yang kebetulan berada di lantai tiga mansion tersebut.
Saat dirinya telah sampai dan kakinya sudah melangkah menuju ke kamarnya, langkahnya itu ia hentikan saat mata tajamnya itu melihat ada sedikit cahaya yang terpancar dari salah satu kamar di lantai 3 itu.
"Tuhhh kamar emang sengaja lampunya di hidupkan kah? Atau jangan-jangan ada makhluk halus yang nyalain tun lampu. Wahhhhh kalau bener bakal asik nih. Samperin ah siapa tau tuh setan mau main sama aku," ujar Kiya dan dengan meloncat-loncat kegirangan ia menuju ke kamar tersebut. Dimana saat dirinya telah sampai di depan pintu kamar tersebut dengan cepat ia membuka kunci pintu tersebut dengan sidik jarinya dan barulah ia kini membuka pintu tersebut secara perlahan-lahan takut mahluk yang ada di dalam kamar itu kabur, pikir Kiya.
Saat pintu itu berhasil ia buka, betapa terkejutnya dia melihat bukanlah makhluk halus yang ia dapatkan melainkan ia melihat sang Abang dengan seorang perempuan tidur bersama di satu ranjang dengan posisi yang saling berpelukan.
"Omo, Daebak. Ini fenomena yang perlu diabadikan," ucap Kiya dengan lirih sembari tangannya kini bergerak untuk mengambil ponselnya yang berada di tas kecil yang ia bawa.
Dengan senyum penuh arti ia mulai memfoto adegan romantis yang ia lihat itu berkali-kali bahkan ia sampai masuk kedalam kamar itu. Dan berjalan lebih dekat lagi dengan dua sejoli yang tampaknya tak terganggu akan kehadiran dirinya itu.
__ADS_1
"Uwow. Abang aku bisa romantis-romantisan begini ternyata hihihi," gumam Kiya dengan memeriksa hasil jemputannya itu.
"Tapi tunggu, foto yang aku dapatkan ini hanya wajah bang Al aja. Jadi aku harus dapat foto dimana dua wajah nih sejoli kelihatan semua di foto ini. Biar saat aku kasih lihat ke Mama sama Papa gak ada yang menebak-nebak wajah dari kekasih Abangku yang paling jelek sedunia ini," sambung Kiya sebelum tubuhnya ia bungkukkan lalu tangannya kini bergerak untuk menyingkirkan rambut perempuan yang tidur di dekapan Digo itu.
"Wahhhhh pintar juga Abangku cari cewek. Cakep cuyyy. Cocok sih jadi Kakak iparku," cerocos Kiya.
Ia yang tak mau membuang-buang waktunya pun ia kembali melancarkan aksinya untuk memotret kedua sejoli itu dan setelah dirasa foto itu sudah cukup banyak untuk ia laporkan ke orangtuanya, hmmmm lebih tepatnya foto-foto itu ia akan jadikan sebagai ladang untuk memeras kekayaan Digo pun ia kini buru-buru keluar dari kamar tersebut sebelum Digo dan Sheilla bangun dari tidurnya.
Kiya yang berhasil keluar dengan selamat tanpa mengusik tidur dari dua orang itu ia tersenyum penuh kemenangan.
"Lumayan buat nambah cuan," ucap Kiya kemudian setelahnya ia berlari menuju ke kamarnya.
"Sialan. Kenapa anak itu bisa datang kesini disaat aku sudah mau melakukan aksiku dan menggagalkan rencanaku. Arkhhhh sialan!" erang bang Bom dengan tangan yang kini meninju tanaman yang berada di depannya untuk meluapkan rasa kesal di dirinya itu.
"Tapi tunggu, apa dia tadi melihat saat aku memasukkan racun itu ke kotak susu kesukaan Sheilla. Jadi dia tadi dengan sengaja membuatku terkejut dan berakhir aku menyenggol kotak susu itu hingga tumpah?" gumamnya dengan menghentikan acara meninjunya tadi. Namun sesaat setelahnya ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Tidak mungkin dia melihat aku memasukkan racun itu kedalam kotak susu Sheilla. Karena kalau dia tau dan lihat langsung aksiku tadi, dia pasti langsung memarahiku tiada henti dan langsung melaporkan aku ke Digo. Tapi nyatanya sampai saat ini Digo tidak mencariku berarti memang Kiya tidak melihatku tadi. Dan dia mengagetkanku tadi tuh bukan karena alasan dia tau semuanya tapi memang dia jahil saja," ujar bang Bom pada akhirnya. Namun tetap saja rasa kesal yang berada di hatinya masih saja tak kunjung hilang.
Hingga suara dering ponselnya membuat perhatian bang Bom teralihkan.
__ADS_1
Ia menggigit bibir bawahnya kala melihat nama penelepon itu. Namun tak urung tangannya kini bergerak untuk mengangkat telepon dari pemimpinnya itu.
"Halo bos," ucap bang Bom dengan melirik kearah sekitarnya takut ada yang menguping pembicaraannya nanti.
📞 : "Katakan, apakah tugas kamu sudah kamu kerjakan?" tanya sang Bos.
"Emmmm begini Bos, sebenarnya saya hampir saja berhasil menjalankan rencana itu. Tapi sayangnya ada seseorang yang menggagalkan rencana itu," jawab bang Bom yang membuat sang bos di sebrang mengerutkan keningnya.
Tidak mungkin kan jika orang yang menggagalkan rencana mereka itu orang lama yang tinggal di mansion tersebut, terlebih tidak mungkin juga kalau Henry ataupun Digo sendiri yang menggagalkan rencana itu. Karena jika salah satu dari mereka tau tidak mungkin bang Bom akan mengangkat teleponnya yang berarti mungkin bang Bom tengah menjalani hukumannya atau malah sudah mati ditangan salah satu dari dua orang berbahaya itu, pikir sang Bos.
📞 : "Siapa orang yang telah menggagalkan rencana kita?" tanya sang bos dengan penasaran.
"Orang itu adalah adik Digo. Kiya namanya. Dia benar-benar sangat menyebalkan. Dan dia sebelas dua belas berbahayanya seperti Digo. Dia juga sama-sama licik jadi mungkin rencana kita ini akan ditunda lagi Bos. Karena di mansion ini ketambahan satu orang berbahaya yang pastinya akan selalu berada di mansion ini nantinya. Tapi saya janji saat dia nanti sudah kembali ke Indonesia, saya akan pastikan jika rencana kita akan berhasil lalu Sheilla dan Digo akan mati di tangan kita," ujar bang Bom penuh percaya diri.
📞 : "Baiklah, terserah kamu mau melakukan rencana itu kapan asalkan jangan sampai ada yang mengetahui jika kamu itu penyusup dan jangan sampai mereka curiga dengan gerak-gerikmu itu yang berakhir mereka akan menyelidiki kamu yang berujung mereka akan menemukan saya," tutur sang bos.
"Siap laksanakan. Ya sudah kalau gitu saya tutup dulu teleponnya bos. Sebentar lagi sudah waktunya para maid dan bodyguard di mansion ini melakukan tugasnya."
📞 : "Baiklah," ucap bos tersebut, mengakhiri sambungan telepon dari dua orang tersebut.
__ADS_1