
Digo kini telah kembali kedalam kamarnya. Dan pertama kali yang ia lihat saat dirinya memasuki kamar itu adalah tubuh Sheilla yang masih setia menutup matanya.
Digo menghela nafas sebelum dirinya berjalan mendekati Sheilla lalu tubuhnya ia dudukkan di ranjang yang masih kosong.
Ia menatap lekat wajah Sheilla yang begitu tenang, ia belai lembut pipi mulus Sheilla sebelum berakhir ia memberikan kecupan di kening, kedua pipi Sheila dan bibir yang sepertinya sudah menjadi candu untuknya itu.
Dan setelah melakukan hal tersebut, ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan tatapan nanar yang lurus kedepan. Entah kenapa ucapan Shofie dan bik Nah yang ingin menjodohkan Sheilla dengan anaknya itu terus memutar di kepalanya hingga membuat kepala Digo terasa pusing akibat memikirkan hal tersebut.
"Kenapa aku selalu memikirkan hal itu," gumam Digo sembari memijit pangkal hidungnya untuk meredakan rasa berdenyut di kepalanya itu.
Dan tangannya yang ia gunakan untuk memijat pangkal hidungnya itu terhenti saat ia merasakan ada pergerakan di sampingnya. Dan saat ia menolehkan kepalanya, ia bisa melihat Sheilla yang sudah membuka matanya dan kini tengah mengusap wajahnya yang sudah tak sepucat tadi.
"Apa masih sakit?" tanya Digo secara tiba-tiba sembari memegang kedua tangan Sheilla agar menjauh dari wajah cantik perempuan itu.
Sedangkan Sheilla yang baru tersadar pun ia mengerjabkan matanya, dan saat dirinya tau jika ia kini berada di dalam kamar Digo, ia dengan cepat mendudukkan tubuhnya walaupun masih terasa sedikit pusing di kepalanya.
"Hey kenapa malah duduk? Kembali berbaring sekarang juga," ucap Digo yang langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh Sheilla.
"Tidak tuan. Saya sudah tidak kenapa-napa. Dan maaf karena saya sudah lancang tidur disini. Sekali lagi maaf tuan, saya akan segara keluar dari sini," ujar Sheilla dan saat dirinya ingin beranjak dari atas ranjang, niatnya tadi urung saat ada sebuah tangan yang menariknya secara paksa dan berakhir tubuhnya kini berada di pangkuan Digo.
"Tuan apa yang tuan lakukan? Saya memang salah karena telah lancang tidur disini dan masuk kedalam kamar tuan kembali padahal hukuman saya sudah tuan batalkan. Tapi saya---"
"Hukum kamu bertambah menjadi 1 tahun." Sheilla mengerjabkan matanya. Bahkan ia menghentikan aksi memberontaknya tadi agar pelukan Digo terlepas. Dan kini ia memilih untuk menolehkan kepalanya kearah Digo.
"Maksud tuan?" tanya Sheilla.
"Hukuman kamu tidak jadi saya batalkan tapi saya tambah. Kamu mengerti, Sheilla," ujar Digo.
"Lho kenapa seperti itu?" Digo memincingkan matanya.
"Jika kamu tanya kenapa, kamu bisa pikirkan kesalahan apa yang telah kamu buat sehingga hukuman kamu tidak jadi saya batalkan dan malah bertambah," ujar Digo dengan menyandarkan kepalanya di bahu Sheilla karena kebetulan posisi duduk Sheilla miring.
Sedangkan Sheilla, ia menggigit bibir bawahnya dan hal tersebut membuat tangan Digo yang terbebas menyentuh bibir bawahnya itu.
"Jangan sering digigit seperti itu. Nanti bibir kamu bisa berdarah," ujar Digo sembari mengusap bibir merah jambu itu yang membuat Sheilla menahan nafasnya. Sebelum tangannya kini bergerak dan segara menjauhkan tangan Digo dari bibirnya. Namun saat tangannya menyentuh tangan Digo, bukannya bersentuhan langsung dengan kulit tangan laki-laki itu, justru tangannya menyentuh sebuah perban yang terlilit di telapak tangan Digo. Dan hal tersebut mengingatkan Sheilla akan kejadian beberapa waktu yang lalu.
Digo yang melihat tatapan Sheilla tertuju kearah tangannya yang terluka pun dengan cepat ia menjauhkan tangannya itu dari penglihatan Sheilla. Bahkan ia menyembunyikan tangannya dibalik selimut.
__ADS_1
"Tuan---"
"Stttt sudah jangan di ingat lagi. Sekarang lebih baik kamu jelaskan alasan kamu kenapa bisa mengatakan kebohongan kepada saya tadi?" tanya Digo melakukan apa yang di usulkan oleh bik Nah tadi.
Sheilla tampak terdiam sebelum helaan nafas panjang keluar dari hidungnya.
"Saya tidak mau jika tuan marah dengan Nona Vina," ujar Sheilla sembari menundukkan kepalanya.
"Kamu berbohong hanya untuk melindungi perempuan itu?" tanya Digo. Sheilla tampak menganggukkan kepalanya.
"Ck, kenapa kamu sangat bodoh sekali Sheilla? Untuk lain kali kamu jangan melakukan kebohongan apapun hanya untuk melindungi orang lain yang memang benar-benar melakukan kesalahan dan menjadikan kamu sebagai tameng, seolah-olah kamu lah yang salah," geram Digo yang tak habis pikir dengan sifat Sheilla yang kelewat baik itu.
"Maaf tuan," ucap Sheilla benar-benar menyesal.
Digo tampak menghela nafas.
"Saya akan memaafkan kamu, jika kamu bisa membalas perlakuan perempuan itu," ucap Digo yang membuat Sheilla menegakkan kembali kepalanya dan langsung menatap kearah Digo.
"Membalas perlakuan nona Vina?" beo Sheilla kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Apa kamu takut dengan perempuan itu?" Sheilla terdiam yang membuat Digo kini berdecak.
"Ck, apa yang perlu kamu takutkan Sheilla? Kamu dulu mau membunuh saya saja sepertinya kamu tidak memiliki ketakutan sedikitpun. Tapi saat saya suruh kamu membalas perbuatan Vina yang jika dibandingkan dengan saya tidak ada apa-apanya justru kamu malah takut," ujar Digo.
"Tapi kalau kamu tidak mau melakukannya, ya sudah berarti kamu---" ucapan Digo terputus saat Sheilla mulai bersuara.
"Baiklah-baiklah saya akan membalas perlakuan nona Vina. Tapi dengan cara apa saya membalasnya?" tanya Sheilla pada akhirnya.
"Kamu hanya perlu melakukan apa yang dia lakukan kepada kamu tadi," jawab Digo sembari menyembunyikan wajahnya di leher Sheilla.
Sheilla sempat bergidik saat hembusan nafas Digo menerpa leher jenjangnya itu.
"Ja---jadi saya harus membalasnya dengan menumpahkan air panas di tubuhnya?" Digo tersenyum di balik leher Sheilla dan dengan lancangnya dia mencium leher Sheilla yang membuat perempuan tersebut memekik didalam hatinya.
"Good girl," ucap Digo setelah memberikan satu kecupan di leher Sheilla itu.
"Ka---kalau begitu saya harus melakukannya kapan?" tanya Sheilla.
__ADS_1
"Terserah kamu. Tapi kamu harus membalas perbuatan dia tepat di depan saya. Kamu paham Sheilla?" tanya Digo dengan menjauhkan wajahnya dari leher Sheilla dan berganti menatap wajah perempuan tersebut yang kini tampak menganggukkan kepalanya.
Digo yang melihat anggukan dari Sheilla pun dengan entengnya ia mengangkat tubuh Sheilla untuk merubah posisi duduk perempuan itu menjadi berhadapan dengannya.
Dan saat mereka saling berhadapan, tangan Digo bergetak menyentuh mata lentik Sheilla.
"Maafkan saya karena ulah saya mata kamu ini harus mengeluarkan air mata," ucap Digo. Lalu setelahnya tangannya berpindah keatas puncak kepala Sheilla dengan elusan lembut yang ia berikan.
"Dan maafkan saya karena ulah saya, kepala kamu menjadi sakit," ujar Digo kembali dengan menyempatkan satu kecupan di kening Sheilla. Sheilla yang mendapat kecupan itu sempat memejamkan matanya, menikmati kecupan yang di berikan oleh Digo yang benar-benar sangat menenangkan itu.
"Sheilla, maafkan saya atas apa yang telah saya perbuat kepadamu tadi. Saya benar-benar menyesal karena telah membentakmu tadi dan maafkan saya karena sudah membuat kamu sakit," ujar Digo yang benar-benar menyesali perilakunya tadi.
Sheilla menggeleng kepalanya.
"Tidak, tuan tidak memiliki salah apapun kepada saya. Saya bisa memaklumi kemarahan Tuan tadi. Dan mungkin jika saya berada di posisi tuan, saya juga akan melakukan hal yang sama seperti yang tuan lakukan tadi. Jadi saya mohon tuan jangan meminta maaf kepada saya, karena disini yang salah adalah saya bukan tuan," ujar Sheilla dengan mata yang berkaca-kaca. Digo yang melihat hal tersebut ia tersenyum lalu ia mencuri kecupan di bibir Sheilla yang membuat Sheilla melebarkan matanya.
"Tuan ap---hmptttt," belum sempat Sheilla mengomel, Digo lebih dulu membungkam mulut Sheilla dengan bibirnya. Laki-laki itu me****** bibir Sheilla hingga ciuman yang hanya biasa saja kini berubah menjadi ciuman penuh tuntutan. Sheilla yang ikut terbuai dengan permainan Digo pun ia membalas ciuman itu. Mereka berdua saling berciuman sebelum akhirnya Sheilla memutus ciuman tersebut lalu dengan gerakan cepat ia turun dari pangkuan Digo dan segera berbaring di tempatnya tadi. Tak lupa ia menyembunyikan seluruh tubuhnya dibalik selimut tebal tersebut.
Wajahnya sudah benar-benar memerah tanda jika dirinya sangat malu akan aksinya tadi. Sedangkan Digo, laki-laki itu menghela nafas panjang, ia pikir ciuman itu akan berubah menjadi malam panjang untuk mereka berdua, ehhhh. Digo menggelengkan kepalanya, menyingkirkan pikiran kotornya tadi sebelum dirinya ikut berbaring di sebelah Sheilla dengan senyumannya yang mengembang. Bahkan tangannya kini sudah memeluk pinggang Sheilla.
"Terimakasih ciumannya tadi Sheilla, dan ciuman itu saya anggap kalau kamu sudah memberikan maafmu kepada saya. Dan sekarang tidurlah. Good night, Sheilla," bisik Digo tepat di samping telinga Sheilla lalu dengan jahilnya Digo mengigit telinga tersebut.
"Tuan!" Digo terkekeh mendengar jeritan Sheilla tadi.
"Sudah-sudah kita tidur sudah malam dan tidak baik orang yang baru sembuh dari sakitnya harus begadang. Tapi kalau nanti kamu sudah sembuh, boleh sekali-kali kita begadang untuk membuat baby yang nanti akan berkembang di dalam sini," ucap Digo sembari mengelus perut Sheilla dari balik selimut. Dan hal tersebut langsung mendapat sikutan Sheilla.
"Tuan hentikan!" geram Sheilla yang sepertinya sudah tak tahan dengan ucapan mesum dari Digo itu. Sedangkan Digo, laki-laki itu kembali terkekeh sebelum dirinya membalikan tubuh Sheilla hingga mereka saling berhadapan lalu Digo kembali memeluk tubuh perempuan itu sangat erat.
"Baiklah-baiklah saya akan berhenti. Dan tidurlah," ucap Digo.
"Awas saja jika saya sudah mulai memejamkan mata, tuan mulai jahil lagi," ujar Sheilla.
"Tidak akan Sheilla. Jadi tidur sekarang sebelum saya nekat membuat program baby dengan kamu saat ini juga," ancam Digo yang membuat Sheilla memukul dada Digo sebelum perempuan itu membalas pelukan Digo lalu segara memejamkan matanya dan memulai mimpinya.
Sedangkan Digo yang melihat mata Sheilla sudah tertutup rapat dan nafas perempuan itu sudah teratur yang artinya Sheilla sudah tertidur pun ia mengendorkan pelukannya untuk menatap wajah Sheilla yang berada di dadanya itu. Dan hal tersebut lagi-lagi membuat Digo mengulas sebuah senyum sebelum dirinya kembali memeluk tubuh Sheilla.
"Saya tidak tau, perasaan saya saat ini Sheilla. Entah saya menyukai kamu atau tidak. Tapi yang perlu kamu tau saya tidak akan pernah rela jika kamu nantinya bersanding dengan laki-laki lain dan akan menjauh dari saya. Saya tidak akan pernah ikhlas melihat hal itu terjadi. Kamu harus selalu ada di samping saya sampai kapanpun dan saya tidak akan pernah melepaskanmu," gumam Digo sembari menyematkan satu kecupan di puncak kepala Sheilla sebelum dirinya ikut memejamkan matanya.
__ADS_1