The Dark Love

The Dark Love
209. Meyakinkan Monik


__ADS_3

Sheilla yang mendengar gerutuan itu ia tersenyum sebelum dirinya mendudukkan tubuhnya di sofa tepat di samping Monik. Dimana kehadiran dari Sheilla membuat Monik menolehkan kepalanya dengan bibir yang kini semakin mengerucut kedepan.


"Ada apa sih? Kenapa mukamu tidak enak di lihat seperti ini? Dan aku tadi sempat dengar pertengkaran kalian berdua. Ada apa hmmmm? Ingat lho ya kalian besok akan menikah jadi tidak baik jika bertengkar seperti tadi," ucap Sheilla.


Monik yang mendengar ucapan dari Sheilla tadi, ia bukannya langsung mengungkapkan isi hatinya kepada Sheilla, ia justru menubruk tubuh Sheilla, memeluk tubuh perempuan itu dan menyandarkan kepalanya di dada Sheilla. Posisi mereka saat ini terlihat seperti seorang ibu yang tengah menenangkan anaknya saat menangis karena selain Sheilla membalas pelukan dari Monik, ia juga memberikan elusan di kepala wanita itu. Ia membiarkan Monik untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Hingga 5 menit kemudian, wanita itu kini angkat suara tanpa merubah posisinya saat ini yang masih memeluk erat tubuh Sheilla.


"Aku sebal dengan Henry. Tadi dia menuduhku katanya aku ngerjain dia dan sekarang dia marah kepadaku hanya gara-gara aku kasih dia air kran saja. Kamu sendiri tau kan, She kalau air kran di negara ini itu sudah terjamin kebersihannya?" Sheilla menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Monik. Monik yang tadi sempat menengadahkan kepalanya dan melihat anggukkan kepala itu, ia kembali bersuara.


"Nah tapi dia malah bilang kalau dia bakal tidak baik-baik saja setelah minum air kran itu padahal buktinya aku, para maid dan para bodyguard di mansion ini baik-baik saja sampai detik ini. Tidak terjadi masalah yang serius dengan kesehatan kita semua malah sehat sentosa," sambung Monik.


"Tapi apa yang dikatakan oleh Henry tadi benar adanya Monik." Monik kini melepaskan pelukannya tadi hingga ia kini bisa menatap sepenuhnya wajah Sheilla.


"Kamu bela Henry?" Dengan tersenyum Sheilla menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak membela siapa-siapa tapi aku hanya membantu menjelaskan ke kamu saja."


"Kamu disuruh Henry buat jelasin ke aku."


"Tidak. Aku tidak disuruh oleh Henry tapi aku justru di suruh oleh Digo."


"Tuan Digo? Kenapa tuan Digo ikut-ikutan? Mau ikut campur dengan masalahku dan Henry?" Sheilla menghela nafas, susah juga berbicara halus dengan Monik yang lagi dalam mode cerewet dan ingin dimanja seperti ini.

__ADS_1


"Tidak sama sekali. Gini ya Monik, aku ataupun Digo tidak pernah ingin ikut campur urusan kalian berdua tapi aku hanya ingin meluruskan dan semakin menjelaskan apa yang dimaksud oleh Henry tadi." Monik sudah membuka mulutnya berniat untuk memutus ucapan dari Sheilla tadi. Tapi berhubung Sheilla melihat pergerakan bibir wanita itu, ia lebih dulu berucap, "Stop! Jangan memutus pembicaraanku sebelum aku benar-benar selesai mengatakannya."


Monik kembali mengatupkan bibirnya kala mendengar perintah dari Sheilla tadi.


Sedangkan Sheilla, ia melanjutkan ucapannya.


"Perlu kamu tau Monik jika Henry tadi mengatakan yang sebenarnya jika dirinya tidak akan baik-baik saja setelah meminum air kran pemberian darimu tadi. Dia tidak lebay seperti yang kamu tuduhkan, tapi daya tahan tubuhnya memang berbeda dengan daya tahan tubuh kamu ataupun semua orang yang ada di mansion ini. Daya tahan tubuh Henry itu tergolong lemah jadi dia harus memperhatikan makanan serta minuman yang akan masuk ke tubuhnya. Jika sampai sembarangan akan berakibat pada kesehatannya. Jika kamu menganggap perkataanku ini hanya sebuah kebohongan karena kamu menganggap jika aku berpihak kepada Henry, coba kamu tanya saja Digo atau kalau tidak bik Nah yang sudah bekerja disini sangat lama yang otomatis beliau juga tau semua yang terjadi kepada Digo ataupun Henry," ujar Sheilla yang membuat Monik sempat terdiam sesaat sebelum wanita itu kini berdiri lalu melangkahkan kakinya, berniat untuk mencari keberadaan bik Nah.


Sedangkan Sheilla, ia menghela nafas panjang kemudian ia memilih untuk mengikuti kepergian Monik tadi.


"Bik Nah," panggil Monik kala dirinya telah sampai di dapur mansion tersebut.


Wanita paruh baya yang merasa dirinya dipanggil pun ia berjalan mendekati dua perempuan yang kini berdiri di samping meja makan.


"Bik Nah, Monik mau tanya."


"Tanya apaan tuh?"


"Ini soal Henry. Apa dia memiliki kekebalan tubuh atau daya tahan tubuh lemah?" Bik Nah menganggukkan kepalanya.


"Benar sekali. Tuan Henry itu daya tahan tubuhnya memang lemah banget jadinya bibik itu sering hati-hati kalau mengolah makanan," jawab bik Nah. Dimana hal tersebut membuat Monik terdiam seketika.

__ADS_1


Bik Nah yang melihat keterdiaman dari Monik pun ia menatap kearah Sheilla, sembari bertanya, "Monik kenapa?"


"Bibik tenang saja. Dia tidak kenapa-napa kok hanya menyesali perbuatanya saja, mungkin. Dan terimakasih atas informasinya ya bik." Bik Nah yang sebenarnya masih bingung dengan Monik, ia menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan dari Sheilla tadi. Lalu setelahnya ia memilih untuk kembali ke pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


Kepergian dari bik Nah tadi membuat Sheilla kini menepuk pundak Monik untuk menyadarkan perempuan itu kembali.


Dan saat Monik menolehkan kepalanya kearah Sheilla, Sheilla berucap, "Aku harap kamu sudah percaya akan fakta tentang Henry ini. Dan aku sarankan sebelum masalah ini menjadi lebih serius lagi, segera temui Henry dan minta maaf ke dia. Turunkan ego dan gengsi kamu untuk meminta maaf sebelum terlambat dan kamu nanti akan menyesalinya."


Setelah mengucapkan perkataannya itu, Sheilla memilih untuk pergi, menjauh dari Monik yang sepertinya tengah berperang dengan pikiran serta hatinya itu.


Sedangkan disisi lain, Digo yang telah sampai di kamar Henry, ia hanya melihat laki-laki itu yang tengah menghisap rokok, mungkin dengan nikotin itu bisa membuat Henry tenang kembali, pikir Digo.


"Jika sudah tenang, minum obat pencegah diare itu sebelum semuanya terlambat. Ingat besok kamu nikah. Tidak lucu jika saat kamu mengucapakan kata kabul nanti kamu malah pup di tempat. Jadi hentikan menghisap nikotin itu dan cepat minum obatmu. Dan saya ingatkan, lebih baik masalah ini jangan di perbesar lagi karena ujian menjelang pernikahan itu ada. Jangan hanya gara-gara masalah tadi pernikahan kamu dan Monik gagal. Ingat ada janin yang menunggu pertanggungjawabanmu," ujar Digo sebelum dirinya memilih untuk pergi dari dalam kamar Henry.


Dimana bertepatan dirinya membuka pintu kamar itu, ternyata di depannya sudah ada Monik yang sepertinya berniat membuka pintu itu juga tapi karena keduluan Digo, tangan perempuan itu hanya menggantung di udara.


Monik menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada laki-laki yang berdiri dihadapannya itu. Walaupun sebentar lagi ia dan Henry akan menikah tapi rasa segan kepada Digo masih ada di diri Monik.


Sedangkan Digo, ia membalas hormat Monik tadi dengan anggukan kepala saja sembari berkata, "Segera selesaikan masalah kalian."


Monik hanya bisa menganggukkan kepala, mengiyakan permintaan Digo tadi karena tujuan dirinya ke kamar memang ingin menyelesaikan masalah tadi sekaligus untuk meminta maaf kepada Henry.

__ADS_1


Digo yang melihat anggukan itu pun ia kini kembali berjalan dengan melewati samping tubuh Monik yang masih saja setia menundukkan kepalanya sampai Digo benar-benar menjauh darinya barulah Monik menegakkan kepalanya kembali dengan menoleh kearah belakang sesaat sebelum akhirnya ia masuk kedalam kamar tersebut.


__ADS_2