The Dark Love

The Dark Love
59. Penyesalan Digo


__ADS_3

Setelah Henry dan Diana keluar dari kamar tersebut dengan membawa tubuh Vina yang tentunya di bopong oleh beberapa anak buahnya.


Berbeda dengan Digo yang masih kalang kabut mendengar rintihan kesakitan Sheilla itu.


"Sheilla, saya mohon jangan seperti ini. Saya minta maaf atas semua yang telah saya perbuat kepadamu tadi. Saya berjanji tidak akan melukai kamu entah itu hati ataupun fisik kamu. Tapi saya mohon tenanglah, jangan menakut-nakuti saya dengan keadaan kamu yang seperti ini Sheilla," ucap Digo sembari mengelus punggung Sheilla. Namun setiap ucapan yang selalu keluar dari bibir Digo hanya dibalas dengan rintihan saja dari perempuan itu.


"Arkhhhh!" erang Sheilla semakin menguatkan jambakan di rambutnya.


"Hey hey hey stop. Jangan menyakiti diri kamu lagi oke. Lepaskan jambakanmu itu dan cengkram tubuh saya dimanapun yang kamu mau. Supaya saya juga bisa merasakan kesakitan yang tengah kamu rasakan saat ini," ucap Digo sembari melepas paksa tangan Sheilla yang berada di kepala gadis itu sendiri dan ia pindahkan kearah punggungnya sehingga posisi Sheilla sekarang seakan-akan membalas pelukan Digo padahal ia tengah mencakar punggung Digo karena kebetulan laki-laki itu tadi sempat menyingkap bajunya agar Sheilla lebih leluasa melampiaskan kesakitannya kepada Digo.


Sedangkan Digo yang punggungnya sudah mulai mendapat cakaran dan cengkraman kuat dari Sheilla pun ia hanya diam saja. Bahkan kini ia tengah memberikan kecupan di kepala Sheilla.


"Disini kan yang sakit?" tanya Digo. Lalu setelahnya ia kembali memberikan kecupan bertubi-tubi di kepala Sheilla.


"Habis ini sakitnya hilang, oke," ucap Digo sembari mencoba melihat wajah Sheilla yang ia tenggelamkan di dada bidangnya itu.


Dan saat ia bisa melihat wajah Sheilla yang sangat pucat dengan air mata yang terus keluar membuat Digo dengan cepat kembali memeluk tubuh perempuan tersebut dengan sangat erat.


"Maafkan saya. Maafkan saya, Sheilla," sesal Digo. Dan hal yang tak pernah siapapun duga, kini laki-laki yang sangat jarang menangis dan hanya menangis jika berkaitan dengan sahabat kecilnya itu kini air mata Digo menetes disebabkan karena melihat Sheilla kesakitan seperti saat ini.


Henry yang tadi berniat untuk masuk kedalam kamar bosnya kembali untuk memberitahukan kondisi Sheilla karena ia kira situasi didalam sana sudah kondusif pun ia urungkan saat dirinya sudah berada diambang pintu itu. Ia tampak terkejut namun setelahnya keterkejutan itu terganti dengan seulas senyuman.


"Sepertinya dia sudah menemukan pengganti Yura. Karena selama ini dia akan mengeluarkan air matanya hanya saat mengenang Yura saja. Tapi lihatlah sekarang, dia menangis karena Sheilla. Dan semoga dengan Sheilla, dia bisa menghilangkan semua bayang-bayang tentang masa lalunya itu," gumam Henry mengintip kegiatan bosnya yang masih mencoba menenangkan Sheilla hingga tepukan di bahunya membuat dirinya terperanjat kaget. Lalu setelahnya ia menolehkan kepalanya kearah belakang dimana disana sudah ada dokter Shofie.

__ADS_1


"Kenapa kamu disini? Kamu sedang tidak berniat mengganti profesi kamu kan dari seorang tangan kanan tuan Digo menjadi seorang perampok?" ujar Shofie yang membuat Henry mencebikkan bibirnya.


"Enak saja kamu. Aku tidak akan pernah menggantikan profesiku itu apalagi menggantinya dengan profesi yang lebih rendah seperti yang kamu tuduhkan tadi," ucap Henry.


"Lagian kamu juga kenapa berdiri disini tanpa berniat masuk kedalam sih? Dan apa yang kamu lakukan itu benar-benar sangat menghalangi jalan siapapun yang akan masuk kedalam kamar tuan Digo termasuk aku sendiri. Jadi lebih baik kamu segera pergi dari sini. Ahhhh tapi tunggu sebentar, tuan Digo ada didalam kan?" Henry tampak berdecak sebal sembari menggeser posisi berdirinya tadi.


"Kamu mau masuk kedalam kan? Jadi untuk apa kamu bertanya dia ada didalam atau tidak jika kamu nanti akan tau sendiri jawaban dari pertanyaanmu tadi," ujar Henry yang membuat Shofie mencebikkan bibirnya. Namun setelahnya, ia bergegas masuk kedalam kamar yang pintunya tadi sudah di buka oleh Henry.


Dan saat dirinya melihat pemandangan didepannya membuat Shofie segera membuka pintu yang masih terbuka sedikit itu dan kembali keluar yang membuat Henry heran sendiri.


"Kenapa keluar lagi? Kamu sudah tau sendiri kan kalau di dalam kamar itu ada Digo." Shofie tampak menganggukkan kepalanya.


"Lha terus tunggu apa lagi segera masuk kembali sana!" perintah Henry yang langsung membuat Shofie menggelengkan kepalanya.


"Ck, kamu tidak akan mengganggu mereka karena justru dengan kehadiranmu, kamu bisa membantu Digo untuk menenangkan Sheilla. Dia dari tadi terus merintih kesakitan dan apa kamu memiliki obat pereda sakit? Supaya rasa sakit yang tengah Sheilla rasakan saat ini sedikit menghilang. Karena terus terang saja selain Digo, aku pun merasa kasihan kepada Sheilla. Jadi cepat tangani dia sebelum terjadi apa-apa dengan perempuan itu," ucap Henry sembari mendorong pelan pundak Shofie agar Dokter perempuan itu kembali masuk kedalam. Namun saat Shofie ingin membuka pintu itu, ia menghentikan aksinya lalu ia menolehkan kepalanya kearah Henry yang langsung ditanggapi dengan alis yang terangkat satu.


"Kenapa?" tanya Henry kala dia melihat wajah memelas dari Shofie.


"Temani aku masuk kedalam. Aku tidak berani jika harus masuk sendiri ke kamar tuan Digo untuk saat ini," ujar Shofie.


"Imbalan?" tanya Henry.


"Astaga kamu masih saja meminta imbalan jika diminati tolong oleh orang lain?"

__ADS_1


"Memangnya apa yang salah? Jika kamu tidak mau ya sudah," balas Henry yang berhasil membuat Shofie menghela nafas pasrah.


"Baiklah-baiklah. Aku setujui permintaan kamu itu. Tapi imabalan itu akan aku berikan setelah kita memeriksa keadaan Nona Sheilla," ujar Shofie yang diangguki setuju oleh Henry.


"Ya sudah tunggu apa lagi, segara lah masuk. Aku ada di belakangmu," ucap Henry.


Dan setelahnya kedua orang itu kini telah berada didalam kamar Digo. Dimana saat mereka masuk kedalam kamar itu hal pertama yang bisa mereka lihat adalah sikap lembut yang Digo berikan kepada Sheilla.


Sedangkan Digo yang sudah benar-benar kewalahan menghadapi Sheilla pun ia mengedarkan pandangannya sebelum matanya itu bertatapan dengan mata Shofie. Dan tanpa mengucapakan sebuah kata, Digo kini melambaikan tangannya kearah Shofie, tanda jika ia menyuruh Shofie untuk mendekat kearah dirinya.


Shofie tampak melirik kearah Henry yang kini tengah menganggukkan kepalanya, seakan-akan ia tengah berkata, "Semua akan baik-baik saja dan pergilah."


Dan hal tersebut membuat Shofie kini menghela nafas panjang sebelum dirinya melangkahkan kakinya mendekati Digo dengan rasa takut yang menyelimuti dirinya.


Dan setelah dirinya sampai, belum sempat dirinya bertanya terlebih dahulu, Digo justru sudah memberikan perintah kepada dirinya.


"Lakukan apapun yang bisa membuat Sheilla tenang. Tapi jangan sampai membuat dia semakin kesakitan dan jangan sampai membahayakan nyawanya," ujar Digo yang hanya bisa diangguki oleh Shofie.


"Dan segera lakukan apa yang saya perhatikan tadi sekarang juga," ucap Digo lagi.


"Baik tuan. Nona Sheilla akan saya tangani sekarang juga," tutur Shofie. Lalu setelahnya dengan pergerakan cepat dan cekatan, Shofie menyiapkan apa yang ia butuhkan mulai dari obat pereda rasa sakit dan obat penenang. Dan setalah kedua obat tadi telah siap, dengan cepat Shofie menyuntikkan dua cairan obat tadi ke tubuh Sheilla secara bergantian dengan jarak waktu tertentu.


Dan hanya butuh hitungan beberapa menit saja setelah kedua obat tadi masuk kedalam tubuh Sheilla, akhirnya tubuh Sheilla tampak melemas sebelum ia benar-benar tenang sekarang. Digo yang melihat Sheilla sudah tenang pun ia kini menghela nafas lega dengan memberikan kecupan cukup lama di kening Sheilla tanpa mempedulikan jika didalam ruangan itu bukan hanya ada dirinya dan Sheilla saja melainkan ada dua orang yang kini tengah menggerutu dan mengumpati Digo didalam hati.

__ADS_1


__ADS_2