
Henry tampak menghela nafas panjang. Ia sudah memperkirakan jika peluru yang masuk kedalam lengan Monik cukup dalam dan memang harus di operasi. Tapi yang ia takutkan kalau Monik melakukan operasi dan nanti akan di beri obat bius, apakah tidak berpengaruh dengan janin yang tengah istrinya kandung saat ini? Ia memang tidak ingin kehilangan Monik begitu juga dengan calon anaknya.
Diana dan Shofie yang sedari tadi menunggu persetujuan dari Henry pun ia menatap kearah Digo dan Sheilla yang membalas tatapan mata mereka dengan gedikkan dibahu. Dimana hal tersebut membuat kedua dokter itu menolehkan kepalanya kearah Monik yang menahan rasa perih dan panas yang menjalar di tubuhnya.
Monik yang tau tatapan mata dari kedua Dokter itupun ia berdecak sebelum dirinya kini angkat suara, "Henry! Hentikan keterbengongan kamu itu. Dan cepatlah sadar, disini aku membutuhkan persetujuan darimu karena jika aku yang mengiyakan, dokter Diana maupun dokter Shofie tidak akan menanganiku karena takut denganmu!" ucap Monik yang benar-benar sebal dengan suaminya. Dalam keadaan genting seperti ini sempat-sempatnya Henry bengong sendiri. Dan Monik yang tengah dilanda kesakitan, melihat Henry seperti tadi, ingin sekali ia membuang suaminya ke sungai Amazon, tak peduli jika ia akan menjadi janda setelahnya. Monik sudah keburu dongkol dengan Henry.
Sedangkan Henry yang mendengar ucapan dari Monik tadi akhirnya ia tersadar dari lamunannya. Kemudian ia berucap, "Kalau dia melakukan operasi, apakah tidak akan membahayakan janin yang ada di perut dia?"
Diana dan Shofie tampak tersenyum melihat kekhawatiran yang terpancar dari mata Henry.
"Tidak sama sekali tuan. Jadi tuan tenang saja. Saya bisa menjamin keselamatan janin yang ada di rahim nyonya Monik," jawab Diana yang membuat Henry mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau memang begitu lakukan. Tapi jika nanti terjadi sesuatu ke Monik ataupun ke calon anak saya, nyawa kalian yang akan menjadi gantinya," ujar Henry yang diangguki oleh kedua dokter tersebut. Toh mereka juga tidak akan gila melakukan hal yang akan membahayakan nyawa pasiennya. Dan gertakan yang di ucapkan oleh Henry tadi sudah menjadi makan sehari-hari untuk mereka berdua karena Digo sering kali melakukannya. Jadi mereka berdua tidak ada rasa takut sedikitpun mendengar ucapan dari Henry tadi.
Setelah Henry mensetujui Monik untuk di operasi, kedua dokter itu langsung bergegas menyiapkan semua peralatan yang akan mereka gunakan. Dan operasi yang masih bisa dibilang operasi kecil itu akan mereka lakukan di mansion ini yang tentunya tetap diawasi oleh ketiga pasang mata siapa lagi jika bukan Digo, Sheilla dan Henry.
Ditengah operasi itu berlangsung, pintu kamar tersebut di ketuk dari depan oleh seseorang yang membuat ketiga orang yang tengah duduk di sofa didalam kamar tersebut menolehkan kepalanya kearah sumber suara.
__ADS_1
"Biar aku saja," ujar Sheilla berniat menemui seseorang yang ada di depan kamar tersebut. Namun saat dirinya ingin beranjak dari tempat duduknya, niatnya itu dihentikan oleh Digo yang memegang tangannya.
"Kamu duduk saja disini. Biar aku saja yang keluar," ucap Digo. Ia takut jika orang yang tengah mengetuk pintu itu berniat untuk mencelakai seseorang yang ada di dalam kamar ini. Jadi daripada Sheilla kenapa-napa nantinya, ia memilih untuk mengorbankan dirinya jika memang niat orang di depan kamar itu jahat.
Sedangkan Sheilla yang dicegah pun ia hanya menganggukkan kepalanya. Dimana anggukan kepala itu membuat Digo langsung berdiri dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar tersebut. Dan saat Digo sudah membuka pintu itu, ia cukup bisa menghela nafas lega kala orang yang ada di balik pintu kamar tersebut adalah Rivan. Entah kenapa dengan anak buahnya yang satu ini Digo sangat yakin jika dia bukanlah penghianat seperti Bomi.
Digo keluar dari dalam kamar tak lupa ia menutup pintunya kembali.
"Ada apa?" tanya Digo yang sudah berhadapan langsung dengan Rivan.
"Maaf menggangu waktu tuan. Saya kesini ingin memberikan beberapa barang yang saya dan anak buah tuan yang lain temukan di saku pakaian yang di kenakan oleh Bomi dan juga yang kita temukan didalam kamar dia," ucap Rivan dengan menyerahkan beberapa barang yang cukup mencurigakan untuknya. Tak lupa selain barang mencurigakan yang ia temukan, ia juga membawa dompet serta ponsel milik Bomi.
"Untuk saat ini hanya itu saja tuan. Kami juga tengah mencari barang mencurigakan lainnya di gudang," ucap Rivan yang membuat Digo mengerutkan keningnya. Tunggu dulu, kenapa Rivan dan anak buahnya yang lain menggeledah gudang? Apakah ada seseorang diantara mereka yang tau sesuatu tentang Bomi? Dan yakinlah Digo saat ini tengah mencurigai laki-laki yang kini berada dihadapannya.
Digo menatap lekat mata Rivan sembari ia berucap, "Apa kamu tau sesuatu, Van?"
Rivan yang mendapat pertanyaan itu pun ia tampak menghela nafas berat sebelum ia menganggukkan kepalanya. Masih ingat bukan dengan kejadian saat Rivan sakit hati dan memilih untuk menyendiri di gudang yang sama dengan gudang yang Bomi gunakan tadi setelah mensabotase CCTV. Nah dari saat itulah Bomi yang mengajaknya untuk memusnahkan tuan dan nyonya di mansion ini, Rivan sudah curiga dengan Bomi. Dan selama beberapa hari ini ia juga selalu mengawasi Bomi.
__ADS_1
Sedangkan Digo yang melihat anggukkan kepala dari Rivan pun ia mengepalkan kedua tangannya. Urat-urat dilehernya pun juga terlihat, bertanda jika ia saat ini tengah marah. Ia sangat marah kepada Rivan karena ia pikir Rivan tengah menyembunyikan sesuatu kepadanya. Namun ia tak boleh gegabah sampai harus menghajar Rivan. Ia harus menahan amarahnya itu karena ia belum tau alasan Rivan menyembunyikan sesuatu tentang Bomi kepadanya.
Sehingga dengan ia menahan emosinya itu, Digo menghela nafas kasar.
"Katakan apa yang kamu sembunyikan dari saya mengenai Bomi!" perintah Digo.
"Tuan belum membaca pesan saya dan email saya?" tanya Rivan yang membuat Digo mengerutkan keningnya.
"Pesan dan email?" Rivan menganggukkan kepalanya.
"Setelah saya memberitahu tuan tentang adanya racun di gelas Bomi, saya juga mengirimkan pesan dan email ke tuan. Pesan dan email itu adalah hal-hal apa saja yang selama ini saya ketahui dari Bomi setelah saya mencurigai dia dan mengikuti dia selama beberapa hari ini," ujar Rivan. Bukannya ia tak ingin menjelaskan secara langsung, tapi ia hanya tak ingin membuang waktu tuannya hanya untuk mendengar ceritanya yang ia yakini jika dirinya menjelaskan secara langsung akan memakan waktu mungkin 24 jam lamanya. Jadi lebih baik biarkan tuannya itu memeriksa pesan dan emailnya saja. Toh apa yang sudah ia kirimkan kepada Digo sudah sangat lengkap bahkan ada beberapa video kelakuan Bomi.
Sedangkan Digo, ia dengan cepat merogoh ponselnya yang berada di saku celananya. Dan saat ia menyalakan layar ponselnya, ia bisa melihat ada beberapa notifikasi dari Rivan.
"Maaf saya baru tau jika kamu mengirim pesan dan email ke saya. Saya akan menyiksanya dan silahkan lanjutkan pencarian barang bukti berikutnya. Saya tunggu di kamar ini," ujar Digo yang diangguki oleh Rivan.
Digo yang melihat anggukkan kepala itu pun ia segara berbalik arah, ingin masuk kembali ke kamar tadi. Tapi belum juga tangannya memutar kenop pintu, suara Rivan kembali terdengar.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya tuan dan maaf karena saya sudah lancang. Saya hanya ingin bertanya bagaimana kondisi nyonya Monik sekarang?" tanya Rivan dengan takut-takut bahkan ia saat ini menundukkan kepalanya.