
Sepertinya yang direncanakan kemarin jika pernikahan Monik dan Henry tak jadi di batalkan. Henry memilih nekat melaksanakannya saat ini juga mengingat usia kandungan Monik akan terus bertambah yang otomatis perut Monik nantinya akan menjadi besar dan disitu pasti akan menjadi buah bibir para maid di mansion tersebut.
Dan kini Henry telah duduk berhadapan langsung dengan penghulu yang ia datangkan langsung dari tanah kelahirannya. Ia hanya perlu menunggu kedatangan Monik dan wali yang akan menikahkan mereka berdua.
Sedangkan Monik, perempuan yang di dampingi oleh Sheilla tampak gelisah. Dimana hal tersebut membuat Sheilla yang terus memperhatikannya ia kini angkat suara.
"Nik, mau sampai kapan kamu disini terus menerus? Kehadiran kamu di tunggu banyak orang termasuk Henry lho. Ayo ah kita keluar sekarang juga. Kamu juga tidak perlu khawatir tentang wali kamu. Henry kan pernah berkata kalau semuanya sudah beres di tangani olehnya. Jadi kamu tidak perlu khawatir ya. Siapa tau wali kamu juga sudah datang," ujar Sheilla mencoba untuk menenangkan Monik. Ia tau apa yang tengah membuat Monik saat ini gelisah seperti ini. Jika bukan masalah wali dia. Siapa yang tidak gelisah coba jika hubungan dirinya dan keluarganya tidak pernah akur apalagi dengan sang ayah, si laki-laki yang sangat menorehkan luka dalam di hatinya hingga membuat dirinya sempat ingin bunuh diri sebelum ia memilih untuk kabur dari jeratan keluarga toxicnya itu. Jadi sangat mustahil jika ayahnya jadi wali untuknya.
"Siapa She yang mau jadi waliku? Semua orang di keluargaku mereka sangat membenciku. Aku takut Henry menyewa wali untukku hanya untuk berpura-pura menjadi ayahku dimana hal itu membuat pernikahan kita tidak akan sah," ucap Monik. Sebenarnya bukan hanya kali ini saja Monik selalu khawatir dengan hal tersebut tapi perempuan itu sudah sejak dirinya tau hamil ia sudah memikirkan itu semua. Karena terus terang saja dia dulu tidak mempunyai keinginan untuk menikah. Tapi ternyata takdir berkata lain, Henry justru mau bertanggungjawab dan menikahinya.
Sheilla mengelus punggung Monik yang duduk disebelahnya itu sembari berkata, "Jika Henry sudah berkata semuanya beres di tangannya maka apa yang ia katakan itu benar adanya. Dan aku yakin Henry tidak akan menyewa orang lain menjadi wali nikah kalian berdua. Kamu tau sendiri kan Henry bisa melakukan berbagai cara agar ayahmu atau salah satu saudaramu mau menjadi walimu. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi ya. Dan lebih baik kita segera keluar sekarang."
__ADS_1
Monik tampak terdiam sesaat, sepertinya perempuan itu tengah menenangkan dirinya sendiri terlihat dengan ia selalu menghela nafas sebelum ia akhirnya menganggukkan kepalanya. Dimana hal tersebut membuat Sheilla tersenyum lalu perempuan itu berdiri lebih dahulu kemudian tangannya terulur kehadapan Monik yang langsung dibalas oleh Monik.
Monik yang sudah berdiri dengan tangan yang saling bertautan dengan Sheilla pun, Sheilla langsung membawa tubuh Monik untuk segera keluar dari kamar Monik juga Henry. Namun sebelum Sheilla membuka pintu, ia sempat berkata, "Hari ini adalah hari bahagiamu, jadi tersenyumlah. Tidak boleh bersedih ataupun cemberut seperti tadi nanti dedek bayinya ikut cemberut lho."
Monik yang mendengar Sheilla yang mencoba menghiburnya pun ia tersenyum. Ia membenarkan ucapan dari Sheilla tadi, harusnya ia bahagia bukan karena sebentar lagi akan menjadi istri dari seorang Henry yang perlahan menghilangkan traumanya dulu dan seharusnya ia juga tidak boleh bersedih mengingat ia tidak boleh terlalu stress yang tentunya akan berakibat fatal ke janin yang tengah ia kandung saat ini.
Sheilla yang melihat senyuman dari Monik pun ia segera membuka pintu kamar tersebut. Dan masih dalam posisi yang sama yaitu dengan saling bergandengan tangan dengan Monik, Sheilla menuntun Monik menuju ke lokasi acara. Dimana kedatangan mereka berdua mengalihkan semua perhatian orang-orang disana tak terkecuali dengan Digo maupun Henry. Dua laki-laki itu sangat kagum dengan kecantikan Sheilla dan Monik. Sebenarnya tak hanya dua laki-laki itu saja yang sudah jelas-jelas memiliki Monik dan Sheilla, melainkan para anak buah Henry dan anak buah Digo pun juga sama, mengangumi kecantikan dua perempuan tersebut.
Sedangkan disisi lain, Sheilla kini menempatkan Monik untuk duduk disamping Henry yang tak berkedip menatap calon istrinya itu hingga membuat Monik yang di tatap merasa risih sendiri. Tapi saat Sheilla sudah menjauh darinya, Monik menepuk pelan paha Henry yang membuat laki-laki itu kini mengerjabkan matanya.
"Jangan lihatin aku kayak gitu. Aku malu," bisik Monik yang tentunya ia tujukan kepada calon suaminya itu.
__ADS_1
Sedangkan Henry, laki-laki yang selalu mengumbar kemesraannya itu, ia tak segan-segan melingkarkan salah satu tangannya di pinggang Monik, menarik tubuh wanitanya agar mendekat ke tubuhnya sebelum dirinya berbisik, "You look so beautiful. Aku terpesona dengan kecantikanmu yang semakin hari semakin nambah."
Monik yang mendengar pujian dari Henry, ia tampak tersipu malu apa lagi saat ia tau banyak pasang mata yang melihat kearah mereka berdua. Dan karena Monik sudah tidak kuat menahan gombalan yang di lakukan oleh Henry, ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka berdua.
"Sudah-sudah jangan memujiku lagi karena tanpa kamu kasih tau pun aku juga sudah tau kalau aku ini cantik dari lahir. Dan daripada kamu membahas tentang kecantikanku lebih baik kita membahas tentang wali yang akan menikahkan kita berdua. Jadi mana walinya? Kok belum datang?" tanya Monik diakhiri dengan ia menggigit bibir bawahnya.
Henry yang mendapat pertanyaan dari sang calon istri pun ia tampak melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya itu sebelum ia berucap, "Tunggu saja. Sebentar lagi wali pernikahan kita akan segera datang. Kamu boleh hitung dari 10 mulai dari sekarang karena aku yakin sebelum kamu selesai berhitung wali kita sudah ada disini."
"Ck, gak ah aku tidak mau menghitung seperti yang kamu suruh tadi. Biarkan saja jika wali kita akan datang cepat atau lambat yang penting kita hari ini jadi menikah," ujar Monik. Namun lain dikata lain pula di hati. Pasalnya setelah ia melihat anggukkan kepala dari Henry untuk menimpali ucapannya itu, Monik menghitung mundur seperti perkataan dari Henry tadi.
Dan tepat pada hitungan satu, suara seseorang yang sangat familiar masuk kedalam indra pendengaran Monik. Dimana suara itu berkata, "Maaf saya terlambat!"
__ADS_1