The Dark Love

The Dark Love
133. Tuduhan


__ADS_3

Mama Ciara dan Papa Devano tampak berdehem kala ucapan dari Kiya tadi masuk kedalam indra pendengarannya itu.


"Ehemmm, maaf-maaf Mama sama Papa tadi tidak sengaja menyebutkan nama Yura. Karena terus terang saja, kekasih Al ini matanya sangat mirip dengan mata Yura," ucap Mama Ciara yang membuat Digo langsung menatap tepat di kedua mata kekasihnya itu.


Dan benar saja binar mata Sheilla hampir sama dengan binar mata Yura dulu, dan kenapa Digo baru menyadarinya sekarang setelah sang Mama memberitahukan dia tadi.


Sedangkan Kiya yang ikut penasaran pun ia kini melangkahkan kakinya mendekati Sheilla dan Digo. Dan setelah ia sampai di dekat kedua orang itu, dengan tidak santainya Kiya mendorong tubuh Digo hingga membuat tubuh Abangnya itu bergeser sedikit menjauh dari hadapan Sheilla.


"Ini bocah, aku pites juga lama-lama," geram Digo namun ucapannya itu hanya dianggap angin lalu saja oleh Kiya karena dirinya saat ini tengah fokus melihat kearah mata Sheilla itu, sebelum...


"OMG! Beneran dong apa yang dikatakan sama Mama tadi kalau mata Kakak ipar sama dengan mata almarhum Kak Yura!" teriak Kiya dengan heboh hingga membuat Digo dengan cepat menarik tubuh Sheilla lalu menutup telinga kekasihnya itu agar tak rusak akibat teriakkan dari sang adik.


"Kiya!" peringat Mama Ciara yang di balas cengiran oleh kiya,.


"Hehehe kelepasan Ma. Tapi kenapa bisa kebetulan sama seperti itu ya?" tanya Kiya yang masih terheran-heran.


"Itu namanya sudah jodohnya Abang kamu yang selalu ditakdirkan kenal dengan seorang perempuan yang memiliki tipe mata yang sama. Udahlah tipe mata itu tidak penting karena yang lebih penting sekarang tentang kamu berdua," ujar Mama Ciara sembari menunjuk kearah Digo dan Sheilla sebelum dirinya mendekati keduanya.


Sheilla yang takut pun ia langsung menundukkan kepalanya, tak berani menatap kearah Mama Ciara ataupun Papa Devano. Bahkan ia sudah pasrah jika akan terkena amukan dari orangtua kekasihnya itu, bahkan ia juga sudah pasrah jika nantinya dia akan di usir dari manison ini dan hubungannya dengan Digo terpaksa harus kandas begitu saja karena terhalang restu dari keluarga Digo. Ia sudah siap akan hal itu karena dirinya sadar jika ia tidak setara bibit, bebet dan bobot dengan Digo.

__ADS_1


Mama Ciara yang sudah dihadapan Digo dan Sheilla, tangannya langsung bergerak untuk menjewer telinga Digo.


"Aws Ma, sakit. Ampun. Al mohon lepasin jewerannya Ma," erang Digo sembari memegangi tangan Mama Ciara berusaha untuk melepaskan jeweran itu.


"Tidak akan Mama lepasin jeweran ini, walaupun sampai telingamu ini lepas. Lagian buat apa punya telinga jika tidak mendengarkan nasehat dari Mama. Mama kan sudah bilang Al, kalau kamu mau memiliki keturunan itu harus dengan cara yang benar. Nikah dulu baru boleh buat keturunan. Tapi kamu malah mengabaikan nasehat Mama dan kamu sudah mengambil start terlebih dahulu sebelum kalian menikah. Ya Tuhan Al, nyebut, astagfirullah," ucap Mama Ciara yang merasa jika dirinya gagal menjadi seorang ibu. Dan mungkin inilah yang di rasakan oleh Mamanya dan ibu mertuanya dulu.


Digo yang mendengar penuturan dari sang Mama pun ia mengerutkan keningnya, bahkan ia sudah tak memberontak lagi.


"Maksud Mama apa? Terus terang saja Al tidak paham dengan ucapan Mama tadi," ujar Digo.


"Kamu jangan pura-pura tidak tau ya Al. Kamu sudah melakukan hubungan badan dengan kekasih kamu ini kan? Siapa tadi nama kamu, nak?" tanya Mama Ciara dengan nada suara yang kembali lembut saat berbicara dengan Sheilla.


"Kamu sudah berhubungan badan dengan Sheilla kan? Dan dari perbuatan kalian berdua itu sampai melahirkan seorang anak. Dan dimana anak kalian itu, sekarang?" tanya Mama Ciara yang membuat Sheilla langsung menegakkan kepalanya.


"Maaf nyonya. Tapi---" Mama Ciara yang mendengar ucapan dari Sheilla tadi, ia langsung memberikan tatapan tajam kearah Sheilla yang membuat perempuan itu kembali mendudukkan kepalanya.


"Panggil saya, Mama jangan Nyonya. Kamu mengerti Sheilla," ujar Mama Ciara yang membuat Sheilla terkejut, tak menyangka dengan ucapan Mama Ciara yang baru saja ia dengar itu. Ia kira Mama Ciara memberikan tatapan tajam kepadanya gara-gara ia tadi lancang membuka suaranya tapi ternyata wanita paruh baya itu tidak suka jika ia memanggilnya dengan sebutan Nyonya.


Sedangkan Digo, ia tersenyum kala mendengarnya sebelum senyumannya itu luntur kala sang Mama semakin mengencangkan jewerannya tadi.

__ADS_1


"Mama tanya sedari tadi kenapa kalian tidak menjawab? Dimana anak kalian? Jangan bilang kalau kalian membuang anak yang tak berdosa itu. Astaga, Mama tidak habis pikir sama kalian, perbuatan kalian itu sudah sangat berdosa tapi kenapa kalian malah menambah dosa dengan membuang anak kalian!" marah Mama Ciara.


"Ma, Mama salah paham. Al akui kalau Al dan Sheilla tidur didalam satu kamar dan satu ranjang yang sama tapi kita berdua tidak melakukan hal yang kelewat batas. Kita tidak berhubungan tubuh Ma. Kita hanya tidur bersama begitu saja. Kita juga belum memiliki anak. Semua yang Mama katakan itu salah besar. Al juga gak gila kali Ma sampai harus merusak anak orang. Kalaupun Al suka sering khilaf, tapikan Sheilla selalu mengingatkan Al untuk tetap tau batasan Ma. Jadi mau bikin baby gimana kalau Sheilla saja menolak," ujar Digo yang sangat masuk akal dipikirkan kedua orangtuanya itu. Hingga akhirnya membuat jeweran Mama Ciara itu terlepas yang membuat Digo kini menghela nafas lega dan sebelum dirinya terkena jeweran lagi, ia memilih untuk bersembunyi dibelakang tubuh Sheilla.


"Apa yang kamu ucapkan tadi tidak membohongi Papa sama Mama kan Al?" tanya Papa Devano memastikan.


"Astaga. Untuk apa Al bohong Pa. Kalau Papa gak percaya kita ke dokter sekarang, tes keperjakaan Al. Al yakin 100% kalau Al masih perjaka ting-ting," ujar Digo yang membuat Sheilla kini menolehkan kepalanya kearah sang kekasih yang berada di belakangnya itu dengan kerutan di keningnya.


"Tes keperjakaan? Memangnya ada?" tanya Sheilla penasaran.


"Entahlah aku pun juga tidak tau, sayang. Sudahlah tidak apa-apa siapa tau mereka langsung percaya," jawab Digo dengan suara lirihnya yang hanya dibalas helaan nafas panjang oleh Sheilla sebelum perempuan itu kembali menatap kearah kedua orangtua Digo yang tampak terdiam, memikirkan ucapan dari anaknya tadi.


"Lagian siapa sih yang ngasih tau berita hoax itu ke Mama sama Papa?" tanya Digo heran melihat Mama dan Papanya tadi yang baru saja sampai tapi sudah membuat heboh juga menuduhnya yang tidak-tidak itu.


"Kiya. Tadi malam dia telepon Mama, memberitahu jika kamu memiliki kekasih dan kekasihmu itu akan melahirkan sekarang juga."


"Ya ampun Ma, Pa. Kalian berarti tengah di bohongi oleh Kiya," ujar Digo yang membuat kedua orangtuanya kini kembali memancarkan aura kemarahannya sebelum keduanya dengan serempak menolehkan kepalanya kebelakang dimana mata mereka langsung tertuju kearah Kiya yang sekarang tengah diam-diam untuk kabur.


"Adzkiya!" teriak Mama Ciara dan Papa Devano yang membuat Kiya mengentikan langkahnya dan dengan cengiran serta jari tangannya yang membentuk huruf V dia berkata, "Peace Ma, Pa," ucapanya sebelum dirinya lari sekencang-kencangnya menuju ke kamarnya dan mengunci kamar itu dengan kunci manual agar kedua orangtuanya atau Digo tidak bisa menyusul dirinya dan memberikan hukuman kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2