The Dark Love

The Dark Love
167. Terbongkar


__ADS_3

Tak hanya Bian saja yang sangat terkejut mendengar ucapan dari Digo tadi melainkan Franda pun juga sama. Wanita paruh baya tersebut juga membeku di tempatnya berdiri saat ini.


Sedangkan Digo yang melihat kedua orang disampingnya itu tidak berkutik pun ia kini berdiri dari duduknya.


"Kenapa kalian berdua tampak ketakutan seperti ini? Apakah kalian mengenal seseorang yang merupakan ketua dari Los Asteriscaz atau Beautiful Aster ini? Atau jangan-jangan kalian berdua bersekongkol dengan tuan Robert? Atau malah Uncle Bian lah si pemilik nama Robert itu?" ucap Digo dengan menatap tajam kearah kedua orang di hadapannya saat ini.


Dimana ucapannya itu membuat keduanya langsung tersadar. Lalu setelahnya Franda angkat suara.


"Apa yang kamu katakan ini Al? Siapa Robert itu? Kita berdua tidak mengenal seseorang yang memiliki nama Robert itu? Kita takut karena kamu melihat kita seakan-akan kamu mau membunuh kita berdua. Kita tau Al, kita salah terutama Aunty yang menjadi gara-gara Sheilla masuk rumah sakit. Tapi Aunty tidak melakukan apapun kepada Sheilla. Aunty tidak berniat jahat apapun dengan dia. Aunty juga tidak mau semua ini terjadi. Jadi hentikan jangan sangkut-pautnya Robert-Robert itu kepada kita berdua. Kita tidak tau siapa orang yang kamu maksud itu," ujar Franda yang diangguki setuju oleh Bian.


"Apa yang Aunty kamu katakan ini benar Al. Kita tidak tau siapa orang yang kamu maksud itu dan apa itu beautiful aster atau Los Asteriscaz?" timpal Bian yang membuat Digo justru mengangkat salah satu alisnya.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Untuk apa kita berbohong," jawab Bian dengan mantap.


"Jika begitu. Jelaskan apa maksud dari isi map ini," ucap Digo dengan menarik map yang sedari tadi bersembunyi dibalik punggung dan tertutup oleh baju yang ia kenakan itu. Lalu setelahnya ia melempar tepat di dada Bian. Dimana lemparan Digo tadi membuat Bian langsung menangkap map tersebut.

__ADS_1


Dan setelah map itu berada di tangannya, mata Bian dan Franda terbuka lebar saat melihat map tersebut.


Sedangkan Digo yang melihat ekspresi terkejut dari dua orang di depannya itu untuk yang kesekian kalinya, ia kini terkekeh.


"Apakah kalian bisa menjelaskannya hah?" sentak Digo yang sudah tak memperdulikan kesopan-santunan di dirinya itu. Semua emosi yang sudah ia tahan sedari tadi sudah siap ia luapkan saat ini juga.


"Jika kalian berdua mau membunuh saya. Bunuh sekarang juga! Saya sudah berada di depan mata kalian berdua dan untuk apa menunda-nunda lagi untuk melenyapkan saya. Bunuh saya sekarang bunuh! Tapi dengan tangan kalian sendiri dan jangan dengan meminjam tangan orang lain. Itu kan niat kalian menyuruh Yoga untuk membunuh saya lewat tangan Sheilla dulu? Dan saya sekarang sudah ada di depan mata kalian. Jadi tunggu apa lagi? Ahhh kalian tidak memiliki senjata untuk membunuh saya? Tenang saja saya sudah menyiapkan senjata untuk kalian berdua," ucap Digo. Walaupun dengan suara datarnya namun terasa sekali amarah yang laki-laki itu pancarkan.


Dan setelah mengucapkan hal tersebut, Digo mengambil dua pistol yang sempat ia ambil di ruang rahasia Bian tadi lalu kemudian ia melempar dua pistol tersebut kearah dua orang tersebut dimana pistol itu berhenti tepat di kaki keduanya.


Ya, pemilik dari Los Asteriscaz atau Beautiful Aster itu adalah mereka berdua. Pemimpin misterius namun sangat di segani oleh komplotan orang jahat alias mafia kecuali Digo dan anak buahnya yang baru tau jika ada mafia dengan nama Los Asteriscaz itu. Dimana pemimpinnya adalah orang terdekatnya sendiri yang justru menginginkan kematiannya.


Bian dan Franda kini saling pandang satu sama lain sebelum pandangan mereka beralih menatap kearah Digo.


Namun saat keduanya mengalihkan pandangannya kearah laki-laki di hadapannya itu, keduanya langsung menelan salivanya dengan susah payah kala tepat di depan kepala mereka masing-masing terdapat pistol yang mungkin akan membunuh mereka berdua nantinya.


"Tapi sayangnya, saya yang akan membunuh kalian berdua terlebih dahulu sebelum kalian menyentuh kulit saya seujung kuku pun," ucap Digo dengan tatapan yang menajam dan kedua tangannya yang membawa pistol tersebut perlahan jari telunjuknya menekan pelatuk pistol tersebut.

__ADS_1


Hingga....


"Al!" teriakan serta dobrakan pintu ruang inap itu membuat Al menghentikan aksinya dengan mengalihkan pandangannya kearah sumber suara.


Dimana teriakan itu berasal dari kedua orangtuanya.


Papa Devano yang melihat aksi anaknya itu dengan cepat ia berlari dan merebut kedua pistol di tangan Digo itu. Sedangkan Mama Ciara yang sempat shock itu ia juga ikut berlari dan memeluk tubuh Digo.


"Apa yang kamu lakukan nak?" ucap Mama Ciara yang membuat Digo tetap menutup mulutnya. Bahkan laki-laki itu tak membalas pelukan dari sang Mama.


"Jangan melakukan hal itu lagi nak, Mama mohon," sambung Mama Ciara yang justru membuat Digo kini terkekeh. Sebelum dirinya melepaskan pelukan dari sang Mama secara paksa.


"Kenapa saya tidak boleh melakukan hal itu kepada seseorang yang mengancam nyawa saya? Ahhhh saya tau karena kalian berdua juga ikut terlibat dalam perencanaan kematian saya kan? Heh, lucu sekali bukan jika di pikiran secara logika orangtua yang harusnya menjaga anaknya dan menginginkan anaknya terus hidup di dunia ini dengan sehat. Orangtua saya yang sangat berjasa ini justru menginginkan kematian saya. Kalau begitu kenapa kalian tidak membunuh saya saat saya baru lahir ke dunia ini dulu dan baru merencanakan pembunuhan saat saya sudah dewasa? Kenapa?!" Geram Digo yang tak habis pikir kenapa kedua orangtuanya juga ikut dalam rencana yang disusun oleh Bian dan istrinya itu.


Jika ditanya kecewa? Tentu saja Digo kecewa. Siapa yang tidak kecewa coba jika orangtua yang selalu ia sayangi dan ia menganggap jika mereka juga menyayangi dirinya juga, namun secara diam-diam orang yang sangat-sangat ia sayangi dan ia lindungi setengah mati justru menginginkan dia lenyap dari dunia ini. Benar-benar sangat rumit hingga tak bisa Digo percaya. Namun ia harus percaya karena ini lah kenyataannya. Kedua orangtuanya sudah berpura-pura peduli dengannya, berpura-pura sayang dengannya yang berakhir menusuk dia dari belakang dan kedua orang yang juga sudah ia anggap sebagai orangtua kedua untuknya menginginkan kematiannya.


Tapi yang membuat Digo terus berpikir sedari tadi, kenapa mereka tidak membunuh dirinya sejak dulu saja? Kenapa harus menunggu dia sampai dewasa terlebih dahulu? Apa mungkin tujuan mereka adalah menghancurkan perasaannya, menghancurkan hatinya dan menghancurkan mentalnya terlebih dahulu dan barulah mereka akan memusnahkan dirinya? Jika memang benar, berarti point pertama jika mereka menghancurkan mental Digo, selamat meraka telah berhasil melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2