The Dark Love

The Dark Love
09. Gagal


__ADS_3

Sudah hampir satu jam, Sheilla bergelantungan di atas sana. Terik matahari pun semakin lama semakin panas menusuk ke kulit Sheilla bahkan keringat juga sudah membasahi badannya.


"Apa itu orang tidak ingin pergi dari situ kah? Senggang sekali hidup dia. Gak ada kesibukan sama sekali sehingga dengan santainya dia malah diam, duduk manis sambil menikmati makanan dan minuman. Ck, seperti seorang raja saja," batin Sheilla yang terus menggerutu bahkan tak urung sesekali ia juga mengumpat dan menyumpah serapahi laki-laki yang masih duduk santai dibawah sana.


Lebih menyebalkannya lagi, di samping Digo kini sudah terdapat beberapa makanan serta minuman dingin untuk menemani laki-laki itu yang kini tengah menatap layar laptop di hadapannya. Ahhhh dan jangan lupakan, ada satu anak buahnya yang kini mengipasi dirinya. Sungguh pemandangan itu sangat menggambarkan jika Digo adalah seseorang yang sangat berkuasa di rumah tersebut. Dan hal tersebut membuat dirinya berdesis kesal.


"Ini juga kenapa langit malah terang benderang gini sih biasanya juga mendung. Ck, apa langit sekarang lagi berpihak dengan laki-laki sialan itu? Sepertinya memang begitu," gumam Sheilla dengan helaan nafas.


Matanya yang sedari tadi menatap kearah Digo dengan mulut yang komat-kamit, dengan cepat, ia mengalihkan pandangannya saat Digo kini menengadahkan kepalanya.


"Masih betah disitu?" tanya Digo yang tak dijawab oleh Sheilla.


"Keterdiaman kamu, saya artikan masih," ujar Digo lalu setelahnya ia kembali menatap kearah laptopnya. Sedangkan Sheilla, ia kini memelototkan matanya. Jika ditanya masih betah, ia akan menjawab ia sudah tak kuasa menahan tubuhnya agar tetap bergelantungan seperti orang utan seperti itu. Tapi ia tak ingin kelihatan lemah di depan musuhnya.


Selang beberapa menit setelah ucapan Digo tadi terlontar, terlihat ada sebuah mobil yang memasuki lingkungan rumah tersebut. Lalu setelah mobil itu berhenti, keluar lah Henry dari dalam mobil tersebut.

__ADS_1


Ia mengerutkan keningnya, saat dirinya melihat bosnya itu tengah duduk di luar rumah. Pemandangan yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah Henry lihat sebelumnya. Dan hal tersebut membuat dirinya kini mendekati Digo yang masih saja menatap layarnya dengan tangan yang menari-nari di atas keyboard.


"Bos," panggil Henry yang langsung mendapat lirikan mata dari Digo sebelum laki-laki itu kembali mengalihkan pandangannya kearah layar laptop yang penuh dengan tulisan itu.


"Bos ngapain nongkrong disini? Kenapa gak nongkrong di kantor saja. Dan kenapa tadi bos tiba-tiba batalin semua janji juga meeting hari ini?" tanya Henry beruntun. Ia kembali ke tempat itu untuk mempertanyakan kenapa bosnya itu tidak berangkat ke kantor juga dengan seenak jidatnya dia juga membatalkan semua jadwalnya hari ini. Dan ini juga merupakan kejadian langka pasalnya bosnya itu tak akan pernah absen untuk tidak pergi dari kantor kecuali dirinya harus pulang kampung yang sering dia lakukan satu bulan sekali. Tapi sekarang laki-laki itu tak ada angin tak ada hujan justru melakukan hal yang sangat jarang terjadi pada dirinya.


Digo yang merasa terganggu dengan semua pertanyaan yang Henry tadi lontarkan, ia kini mendengus.


"Lihat atas. Kamu bakal tau jawabnya," ujar Digo tanpa mengalihkan pandangannya.


Henry kembali mengerutkan keningnya dan karena rasa penasaran yang sangat besar, ia kini menengadahkan kepalanya dan saat kepalanya itu sudah menghadap kearah atas, matanya langsung terbuka lebar saat mendapati tawanan mereka tengah bergelantungan di atas sana.


"Cosplay jadi monyet maybe," jawab Digo dengan enteng.


"Ya kali cosplay jadi monyet. Tapi kalau dilihat-lihat memang ada bakat jadi monyet itu orang," ujar Henry dengan kekehannya. Tapi sesaat setelahnya kekehan itu hilang berganti dengan raut wajah yang tampak serius saat ia mengingat suatu hal yang menjadi alasan utama dirinya kembali lagi ke rumah itu. Dan hal tersebut tak luput dari penglihatan Digo. Walaupun mata laki-laki itu sedari tadi terfokus kearah benda canggih itu, tapi ujung matanya masih bisa ia gunakan untuk menatap pergerakan sekitar.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Digo to the point karena ia yakin kepulangan Henry bukan semata-mata hanya untuk memarahi dirinya karena sudah membatalkan semua jadwalnya hari ini melainkan ada suatu hal yang ia yakin itu sangat-sangatlah penting.


"Sepertinya saya tidak bisa mengucapkannya disini," ujar Henry saat melihat kearah sekitarnya.


Digo menganggukkan kepalanya.


"Pindah ke ruang kerja saya," ucap Digo sembari beranjak dari duduknya lalu kemudian berlalu dari tempatnya tadi di ikuti oleh Henry.


Sheilla yang melihat tubuh Digo telah menjauh hingga tak terlihat lagi oleh pandangan matanya, ia kini tersenyum bahagia. Ditambah dengan kedua laki-laki bertubuh besar itu yang tak berselang lama juga ikut pergi dari bawah sana.


"Yesss, kebebasan aku segera datang," ucap Sheilla dan dengan semangat 45 ia melanjutkan aksinya yang tadi sempat berhenti di seperempat jalan. Walaupun tangannya sedikit kesemutan, tapi ia tetap tak menyerah hingga akhirnya ia kini berhasil menapakkan kakinya di atas tanah.


Dan saat dirinya sudah berdiri tegak, ia menatap kearah sekeliling yang tampak sepi tak ada penjagaan sama sekali padahal sang bos tadi sudah melihat jika dirinya akan melarikan diri. Apa jangan-jangan bos itu yang tak lain adalah Digo, sudah mengikhlaskan dan memaafkan kesalahan dirinya yang hampir membunuh laki-laki itu? atau memang laki-laki itu sudah menyerah untuk menunggu dirinya tadi dan memilih untuk meninggalkannya begitu saja dan membiarkan dirinya pergi dari rumah ini? Ahhhh mungkin memang seperti itu, pikir Sheilla dengan gedikkan di bahunya.


"Bodoamat deh mau dia sengaja biarin aku untuk bebas atau tidak, aku tidak peduli karena yang aku pedulikan sekarang adalah keluar dari rumah neraka ini sejauh mungkin dan akan kembali beberapa bulan lagi untuk merencanakan rencana yang sama seperti sebelumnya tapi dengan langkah yang cerdik bukan cara yang bodoh seperti kemarin, huh," gumam Sheilla diakhiri dengan helaan nafasnya sebelum dia membalikan tubuhnya dan berniat untuk segara pergi dari sana sebelum ada seseorang yang menangkapnya.

__ADS_1


Tapi baru juga ia melangkahkan kakinya dua langkah kedepan, tarikan di kerah bajunya membuat tubuhnya mundur kembali. Hingga menabrak sesuatu di belakangnya sebelum ia melihat sebuah lengan kekar melilit lehernya.


"Mau kemana kamu hmmm? Kamu pikir kamu bisa pergi dari sini? jangan harap!" ucapan dari seorang laki-laki yang lengannya tengah melingkar di lehernya itu membuat bulu kuduk Sheilla meremang terlebih lagi, lehernya terasa begitu tercekat saat kalungan tangan itu semakin terasa mengerat di lehernya. Hingga dengan refleks tangan Sheilla kini meremas celana kain yang tengah di gunakan oleh laki-laki tadi yang tak lain Digo sendiri. Dan hal tersebut membuat Digo yang awalnya sudah terlihat kobaran api amarah di matanya dan sudah siap untuk menghabisi orang yang berada di depannya itu, perlahan kobaran amarah itu meredam dan bertepatan kesadarannya kembali, Sheilla sudah memejamkan matanya dengan tubuhnya yang perlahan melemas dan berakhir ambruk tapi untungnya dengan sigap Digo menangkap tubuh Sheilla sehingga tubuh perempuan itu tak langsung terjerembab jatuh menghantam tanah yang sudah mereka jadikan pijakan saat ini.


__ADS_2