
Digo yang sudah memasuki mobil pribadinya dengan Henry sebagai sopir, raut wajah Digo kembali berubah menjadi datar. Dan setelah mobil itu mulai meninggalkan kediamannya, Digo mulai angkat suara.
"Bagiamana perkembangannya?" Henry yang tau pertanyaan itu untuk dirinya pun ia melirik sekilas wajah Digo dari kaca depan mobil itu.
"Masih sama. Dia belum bisa kita temukan. Tapi untuk keluarga nona Sheilla berhasil kita amankan," jawab Henry yang membuat Digo menganggukkan kepalanya. Ada rasa kelegaan didalam hatinya saat mengetahui keluarga Sheilla sudah berada di dalam pengawasannya.
"Terus cari dimana dia berada sampai dia ketemu. Dan untuk keluarga Sheilla tetap pantau mereka. Jangan biarkan seseorang terutama anak buah Yoga mengetahui keberadaan dan melukai mereka," ucap Digo tanpa bantahan.
"Baiklah tuan. Kita usahakan secepatnya bisa menemukan keberadaan mereka," ujar Henry yang kembali fokus kearah jalan didepannya.
Mobil itu terus berjalan hingga akhirnya berhenti disalah satu gedung pencakar langit yang merupakan perusahaan milik Digo, lebih tepatnya milik sang Papa yang sudah berpindah tangan kepadanya.
Dan seperti biasa saat dirinya melewati beberapa karyawan perusahaannya, banyak dari mereka yang menyapa dirinya namun lagi-lagi dia hanya mengangguk saja untuk membalas sapaan mereka tanpa ada senyum sedikitpun yang tersungging di wajah tampannya itu.
"Hari ini kita ada jadwal bertemu klien dari Malaysia," ujar Henry saat mereka berdua telah sampai di ruang kerja Digo. Ya, Henry selain menjadi tangan kanannya dalam membasahi orang-orang yang berniat melenyapkannya, Henry juga merangkap sebagai sopir juga sekertaris di perusahaannya.
"Jam?" tanya Digo.
"Jam makan siang. Di K&Q cafe," jelas Henry yang diangguki oleh Digo.
"Setelah itu apa ada jadwal lain?" Tangan Henry dengan leluasa bergerak di atas tap yang ia bawa, membaca deretan jadwal yang akan bosnya itu kerjakan hari ini.
__ADS_1
"Sudah. Tidak ada jadwal lain selain itu," jawab Henry.
"Baiklah kalau begitu, silahkan mulai bekerja," ujar Digo yang diangguki patuh oleh Henry.
Setelah Henry keluar dari ruangannya, Digo yang sedari tadi berdiri kini tubuhnya ia dudukkan di kursi kebesarannya. Dan dengan helaan nafas panjang, ia mulai menarik satu dokumen yang akan ia periksa nantinya.
...****************...
Disisi lain, Sheilla terasa lemas setengah mati. Kakinya seakan-akan berubah menjadi jeli, tak mau ia pijakkan di lantai itu. Kalau boleh jujur dirinya sekarang sangat lamar mengingat jika sejak kemarin sore ia tak memakan sesuap nasi sama sekali karena pikirannya terus memikirkan bagaimana caranya ia keluar dari rumah ini dan imbasnya saat ini. Sebenarnya tadi pagi bik Nah sudah menawarkan dirinya untuk sarapan terlebih dahulu, tapi sayangnya ia menolak akan hal tersebut karena ia pikir dengan ia menolak sarapan, ia bisa menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Tapi lihatlah karena ulah dirinya sendiri, tubuhnya sudah lemas setengah mati sebelum pekerja dirinya jauh dari kata selesai karena dirinya baru selesai membersihkan lantai tiga dimana di lantai itu hanya ada beberapa ruangan yang terkunci rapat. Dan masih ada dua lantai lagi yang harus ia bersihkan.
Bahkan saking lemasnya, Sheilla terduduk di atas lantai begitu saja dengan wajah pucat.
"Ya ampun Nona," teriak bik Nah kelewat khawatir sembari berlari kearah Sheilla. Sheilla yang mendengar jeritan dari bik Nah itu ia hanya membuka matanya sebentar sebelum kelopaknya mata itu kembali tertutup.
"Astaga Nona kenapa? Nona sakit?" Tangan bik Nah terulur menyentuh kening Sheilla namun yang ia rasakan suhu badan perempuan itu masih normal tidak ada tanda-tanda jika sedang mengalami demam.
"Saya tidak apa-apa bik. Tubuh saya hanya lemas saja," ujar Sheilla dengan suara yang cukup lirih namun masih bisa bik Nah dengar.
"Kok bisa lemas sih Non. Ini pasti efek karena tidak sarapan tadi pagi kan? Nona sih ngeyel kalau di suruh sarapan tidak mau. Kalau kayak gini nanti tuan marah sama saya karena tidak becus ngurus dan ngawasin nona," omel bik Nah yang hanya di balas senyuman oleh Sheilla.
"Nona malah senyum-senyum ih. Bibik bukan lagi bercanda lho Non. Tapi bibik marah sama Nona. Bisa-bisanya mengabaikan makan sedangkan sudah tau kalau tuan memberikan semua pekerjaan maid ke Nona."
__ADS_1
"Bik, saya baik-baik saja kok. Mungkin saya memang lagi lapar saja jadinya lemas seperti ini. Nanti---" belum sempat ucapan Sheilla selesai, bik Nah sudah membawa tangan kiri Sheilla untuk melingkar di leher wanita paruh baya itu dan tangan kanan bik Nah, ia lingkarkan di pinggang Sheilla.
"Sudah-sudah. Jangan bicara lagi. Kita kebawah sekarang dan nona harus segera makan," ucap bik Nah sembari mulai memapah tubuh Sheilla menuju ke lift yang ada di lantai tersebut yang baru Sheilla lihat. Jika saja ia sudah melihatnya dari tadi, ia tak akan menaiki anak tangga yang membikin kakinya hampir patah untuk menuju ke lantai tiga di rumah itu, sialan sekali, batin Sheilla.
Dua perempuan itu kini telah sampai di lantai satu di rumah tersebut. Namun saat kaki keduanya ingin keluar dari pintu lift, tiba-tiba saja kaki Sheilla terasa lemas, tatapan matanya mulai memburam, dan beberapa saat setelahnya ia sudah tak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.
Bik Nah yang berada di samping Sheilla dengan cepat menangkap tubuh ramping perempuan itu yang sekarang sudah pingsan.
"Astaga Nona!" teriak bik Nah histeris sembari menggoyang-goyangkan lengan perempuan tersebut namun tak ada pergerakan sama sekali di tubuh Sheilla hingga membuat dirinya saat ini panik bukan main.
Dan karena teriakan dari bik Nah yang cukup kencang, beberapa anak buah Digo yang menjaga rumah itu secara ketat, berbondong-bondong menghampiri dua perempuan itu.
"Bik Nah ada apa?" tanya salah satu dari laki-laki berbadan besar itu.
"Hiks tolongin Nona. Hiks nona pingsan," ucap bik Nah dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Seluruh laki-laki tadi tampak terkejut, tapi beberapa saat keterkejutannya itu hilang dan berganti dengan mereka membantu bik Nah membawa tubuh Sheilla menuju ke sofa ruang keluarga.
"Tolong panggil dokter," ucap bik Nah saat tubuh Sheilla sudah terbaring diatas sofa panjang.
Salah satu dari mereka menganggukkan kepalanya lalu dengan cepat ia memanggil dokter pribadi Digo. Tapi sayangnya dokter Dinda saat ini tak bisa di hubungi. Jadi mau tak mau karena masalah ini sangat genting, laki-laki tadi bergegas menaiki salah satu motor yang ada di garasi dan mulai melajukan motor tersebut menuju ke salah satu rumah sakit yang tak jauh dari rumah mewah itu untuk mencari salah satu dokter untuk memeriksa keadaan Sheilla.
__ADS_1